Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Kekacauan


__ADS_3

Mobil Jay terparkir pada salah satu Rumah mewah yang berada pada kawasan elit. Pintu bergaya Eropa menjadi saksi bisu kedatangan Jay. Senyuman terlukis pada bibirnya, ketika melihat Robert dan Eveline yang menyambutnya dengan ramah.


"Tuan Jay!" Sapa Robert sambil tersenyum.


"Tuan dan Nyonya Robert!" Sapa Jay. Ia mengulas senyuman.


"Silahkan duduk!" Ucap Evelline.


"Begini, sebenarnya saya datang kemari untuk meminta restu kalian. Saya ingin menikah dengan Anna."


"Menikah dengan Anna?" Evelline sempat terkejut dengan permintaan Jay.


"Benar. Saya berpikir untuk mengobati Anna pada salah satu dokter terbaik. Dia bisa menyembuhkan penyakit yang diderita Anna. Dan setelah itu, saya ingin menikahinya."


"Kau memang menantu idaman kami." Puji Evelline dengan seribu akal liciknya. Robert sempat berpikir sejenak.


"Lalu, apa Tuan Jay perlu kami mempersiapkan segalanya dengan baik?" Tanya Robert.


"Tidak perlu. Kalian cukup menjadi saksi bagi pernikahan saya dengan Anna. Saya ingin memanjakan Anna sebagai calon pengantin saya." Ucap Jay.


"Aku tidak setuju!" Seru Jonathan, tiba-tiba ia tak sengaja mendengar percakapan mereka. Ia menuruni tangga. Wajahnya sayu. Warna kulitnya terbilang cukup pucat. Ia masih belum pulih sepenuhnya. Sedangkan Jay, ia menatap tajam kearah Jonathan sambil tersenyum sinis.


"Saya rasa dia keberatan, mungkin tidak ingin kehilangan sosok adik yang berharga."


"Tidak perlu cemas. Jonathan dari dulu sangat menyayangi adiknya. Tak heran, jika ia akan menentang pernikahanmu dengan Anna." Tutur Evelline. Jonathan duduk disebelah Evelline.


"Ibu!" Seru Jonathan dengan suara lemah.


"Kau terlihat tak sehat, Kakak Ipar. Lebih baik, Kakak Ipar banyak beristirahat di Rumah." Sindir Jay. Senyuman tak lepas dari bibir Jay.


"Dia benar. Kamu harus sehat ketika pernikahan Anna." Sahut Evelline.


"Ayah, apa kau setuju?" Tanya Jonathan. Robert terdiam sesaat. Lalu, ia menarik nafas agak pendek.


"Mereka tampak cocok satu sama lain. Ayah rasa tak ada salahnya untuk menikahkan mereka." Ucap Robert.


"Te..Tetapi Ayah."

__ADS_1


"Jo, ibu tahu kamu sulit melepaskan adik semata wayangmu. Ini semua kami lakukan untuk kebahagiaan Anna. Ibu yakin, Jay bisa mendampingi Anna dengan baik." Evelline tersenyum pada Jonathan. Tatapan mata Jonathan tampak tak sehat, ada sesuatu dalam dirinya tidak rela melepaskan Anna. Antara cinta seorang Kakak atau ada keinginan lain yang membuatnya tak bisa melepaskan Anna.


"Aku tidak setuju pernikahan mereka, bukan karena Anna adalah adikku."


"Lalu, kenapa kamu tidak setuju?" Tanya Evelline.


"Apa kamu takut Jay akan merebut Ax Group?" Tukas Robert.


"Sebenarnya... Aku sangat menyayangi Anna. Aku.."


"Ibu tahu kau sangat menyayanginya. Bahkan ibu sempat iri karena kamu tampak tak peduli dengan ibu." Sahut Evelline. Jay ingin tertawa, tetapi tertahan. Kali ini, ia berpikir untuk menang dari Jonathan.


"Tidak! Aku tidak ingin menganggapnya adikku. Aku ingin menikahinya." Ujar Jonathan. Robert dan Evelline kaget secara bersamaan. Keduanya berdiri.


"Apa kamu bilang, Jonathan?" Robert menunjuk Jonathan menggunakan jarinya.


"Itu tidak mungkin!" Seru Evelline. Ia memijat pelipisnya.


"Tetapi itu yang terjadi. Aku mencintai Anna. Jadi...."


"Terkadang cinta dan sayang bisa disalahartikan, Kakak Ipar." Potong Jay.


"Daridulu aku sudah mencintai Anna. Perasaanku padanya tidak akan berubah. Aku bukan anak kandung kalian. Aku masih bisa menikahi Anna." Ujar nya secara spontan.


"Meskipun kalian bukan saudara kandung, tak masuk akal seorang kakak menikahi adiknya. Bukankah begitu, Tuan dan Nyonya Robert?"


"Dia adalah orang asing. Bagaimana kalian membiarkan Anna menikahi pria seperti it?"


"Ayah, Ibu... Lihatlah, aku! Aku adalah bagian dari keluarga ini dan aku juga bisa membantu Ayah dalam mengelola Perusahaan. Apa Ayah mau, orang luar mengambil alih Ax Group? Ayah kenal aku, kan? Tak ada masalah yang tak bisa aku selesaikan. Sedangkan Jay, dia belum berada dalam lingkupan keluarga kita, tetapi sudah memiliki skandal dengan wanita. Aku tak yakin untuk kedepannya." Ujar Jonathan. Jay mengepal kedua tangan. Ia tampak kesal.


"Apa pria ini cocok untuk menjadi menantu dari keluarga kita? Dia sudah menyebabkan banyak masalah. Selain wanita, dia juga sempat kehilangan banyak investor. Apa Ayah mau, Perusahaan kita akan merugi sebanyak itu? Ayah sudah berjuang mengembangkan Ax Group selama ini, lalu bagaimana perasaan Ayah, tiba-tiba Ax Group jatuh dan gak bisa bangun lagi karena pria seperti Jay?" Ujar Jonathan. Tatapan mata Jay terlihat mengerikan, seakan ia ingin melenyapkan mangsa yang berada dihadapannya. Jay tersenyum miring. Tak disangka, Jonathan mengincar kelemahannya, seolah-olah Jonathan ingin menyingkirkannya dari keluarga Anna.


"Saya tahu, saya hanyalah orang luar. Tetapi... coba perhatikan apa pandangan orang lain kalau melihat Jonathan menikahi Anna! Keluarga kalian akan terkena dampak buruknya. Mereka mengira, selama ini terlibat dalam percintaan satu keluarga, Jonathan yang tinggal satu atap bersama Anna selama bertahun-tahun. Lalu, terjadilah gosip buruk mengenai keduanya. Bahkan yang lebih buruknya lagi, akan ada gosip mengatakan, Tuan dan Nyonya Robert membiarkan Jonathan dan Anna tidur bersama, tetapi . Apa kalian mau hal itu terjadi? Saya, Jay, meskipun saya pernah terkena skandal, tetapi hal itu tidaklah benar. Dari awal, saya sudah tertarik dengan Anna. Apa mungkin saya bisa mengkhianati perasaan saya terhadapnya?"


"Saya akan mempertimbangkannya." Ucap Robert dengan tegas.


"Baiklah, saya mengerti. Mari, kita singkirkan dulu masalah ini! Mari, kita fokus dalam pengobatan Anna terlebih dulu!" Ujar Jay.

__ADS_1


"Baiklah." Sahut Evelline sambil tersenyum.


****************************


Waktu yang ditunggu-tunggu telah datang. Jay membawa Anna ke sebuah Rumah Sakit, tempat dokter yang mengobati Anna. Jay tidak sendirian, kali ini Robert dan Evelline datang bersamanya. Sementara itu, kondisi Jonathan yang kurang memungkinkan, ia beristirahat di Rumah. Disana, mereka melihat seorang dokter yang tersenyum pada mereka.


"Apa kalian sudah siap?" Tanya dokter tersebut.


"Kami sudah siap, dokter." Ucap Jay.


"Kamu sudah siap, Anna?" Tanya dokter. Anna mengangguk lemah. Ia berharap, bisa seperti seorang gadis normal lainnya. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah ingin menyelamatkan Zion. Ia masih berpikir kalau Jay yang menculik Zion waktu itu.


"Kalau sudah siap, silahkan tunggu di luar."


"Baik, dokter." Ucap Jay.


"Perawat, tolong bawa pasien ini, ya!" Ujar dokter dengan ramah.


"Baik, dokter." Ucap salah seorang perawat pria bernama Dave. Anna dibawa masuk kedalam Ruangan yang tersedia. Dokter meninggalkan tempat yang ia berada sesaat. Detik-detik pengobatan Anna membuat jantung berdegub kencang. Jay terlihat gugup duduk di salah satu Ruang Tunggu. Tak berlangsung lama, dokter datang, lalu memasuki Ruangan tersebut. Akan tetapi, dalam sekian menit, dokter itu keluar dengan raut wajah yang kacau.


"Pasien menghilang." Ujar dokter tersebut. Jay, Robert, dan Evelline berdiri secara bersamaan.


"Apa?" Mereka kaget.


"Kenapa bisa begitu? Bukankah Anna sudah masuk ke Ruangan itu?"


"Benar. Saya juga tidak tahu kejadiannya. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya." Ucap dokter tersebut.


"Lalu dimana perawat itu?" Tanya Robert.


"Saat saya berada di dalam, perawat itu juga ikut menghilang." Terang dokter.


"Itu tidak mungkin!" Seru Jay.


"Saya akan menyuruh seseorang untuk memeriksa CCTV." Ujar dokter tersebut. Ia pergi meninggalkan mereka. Jay berpikir, ulah siapa kali ini.


"Mungkinkah Jonathan? Aku rasa itu tidak mungkin ulah Jonathan. Lalu, ulah siapa ini?" Batin Jay.

__ADS_1


Sementara itu, seorang perawat membawa Anna keluar darisana. Tak ada yang curiga sama sekali. Pria itu pergi meninggalkan Rumah Sakit. Sesampainya di sebuah Restaurant 'Chinese Food', seorang pria membawanya dihadapan beberapa orang. Salah seorang yang merupakan boss mereka, tersenyum saat melihat Anna terbaring lemah. Lalu, dia mendorong seorang dokter muda ke hadapan Anna.


"Lakukan lah sesuai perintahku! Kalau tidak, kamu akan melihat istri dan anakmu mati." Seru pria tersebut. Lalu, dokter muda itu menyuntikkan sesuatu pada Anna.


__ADS_2