Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 49 Niat Jahat


__ADS_3

Masa lalu tak ada yang bisa mengubahnya, akan tetapi hal yang baru dimasa datang menjadi cerminan agar tak kembali pada titik yang sama. Lalu, bagaimana setiap hal dilakukan tak pernah lepas dari masa lalu?  Setiap mimpi buruk bagaikan tertusuk seribu kepingan kaca. Setiap waktu seolah bergerak mundur dan sulit untuk melangkah maju.


Apa yang terjadi tak ingin terjadi kembali, akan tetapi amarah dan dendam melekat di hati seseorang. Semua impiannya termakan oleh dendam yang tak terbalaskan. Tak ada cita-cita yang ia inginkan menjadi seseorang yang sukses. Hidupnya tak pernah jauh dari noda darah. Setitik darah membangkitkan semangat dalam dirinya.


Sosok itu lebih cocok dikatakan iblis. Ia tak mengenal lawan atau kawan. Siapapun yang menghalangi jalannya, akan meninggalkan nama tanpa memiliki kehidupan yang panjang. Hingga kini, ia tak menyadari apa arti hidupnya. Terkadang, ia bosan dan ingin mengakhiri segalanya.


Namun, apakah itu mungkin, sebelum dendam yang ia tanam dalam hatinya terpenuhi? Ia cukup lelah. Tanpa terasa, matahari mulai terbenam. Pria itu menatap ke luar jendela yang terbuka. Kamar yang cukup luas, tetapi tak seluas hatinya saat ini. Kedua matanya tertutup, seraya menarik sudut bibir. Dok.. Dok.. Dok.. Ketukan pintu tak membuat segala isi benaknya sirna.


"Ada apa?" tanya pria itu, tak sedikitpun berpindah dari posisinya.


"Maaf Tuan Jonathan," ucap Mira sambil membuka pintu kamar Jonathan.


"Iya, ada apa?"


"Tuan ditunggu oleh Tuan Robert di bawah," terang Mira sambil gugup.


"Baiklah," Jonathan berjalan menuruni tangga dengan tenang. Ia mengulas senyuman saat bertemu Robert dan Eveline.


"Ayah! Ibu" panggil Jonathan.


"Kamu kapan datang?" tanya Robert.


"Tadi malam, Ayah."


"Kenapa kamu tidak memberitahu Ayah dan ibumu? Apa kamu tidak menganggap kami sebagai orang tuamu lagi?" sahut Eveline. Nada bicaranya cukup tegas.


"Maaf. Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Aku harus mengurus mereka satu-persatu agar tak merusak citra Perusahaan."


"Rumor tentangmu dan wanita gila yang mengaku mengandung anakmu sudah tersebar dimana-mana," ujar Eveline.


"Ayah dan ibu tahu bagaimana aku. Mana mungkin aku melakukan hal serendah itu," ucap Jonathan, seraya menyeringai. "Masalah itu cepat atau lambat akan mereda. Ayah dan ibu tak perlu khawatir."


"Ayah masih mempercayaimu."


"Ibu sudah menyuruh seseorang untuk mencari tahu keberadaan wanita gila itu."


"Apa? Tidak boleh. Jangan biarkan ibu tahu apapun tentangnya," batin Jonathan.


"Ibu tak perlu melakukannya, jika orang lain tahu, akan berdampak besar pada citra ibu sebagai desainer."


"Tetapi..."


"Ibu tidak perlu cemas. Sebagai anak yang berbakti, aku tidak ingin membuat ibu bersedih," elak Jonathan. Ia berlutut, sembari memegang kedua tangan Eveline. Wanita itu terharu.


"Kamu memang anakku, walau tidak lahir dari rahimku."


"Ini tidak akan lama. Hingga saatnya tiba, aku akan mengambil nyawa kalian," batin Jonathan, seraya tertawa dalam hati.


°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°


Zion termenung dalam diam. Ia menghabiskan berjam-jam melamun sendirian. Pria itu tak memandang indah langit yang cerah dihadapannya. Langit yang indah tanpa terucap menemani Zion secara tak langgsung. Tak lama, ponselnya berdering. Ia melihat WhatsApp masuk dari Anna. Bibirnya tersenyum manis. Beban yang dipikul Zion sedikit berkurang.

__ADS_1


Pria itu merindukan kekasihnya, walau mereka baru bertemu sehari yang lalu di Rumah Sakit. Anna mengajak Zion video call. Zion bahagia mendengar suara lembut Anna yang menenangkan hatinya.


"Kangen ya, ngajakin video call?" ledek Zion.


"Idih, siapa yang kangen siapa. Kamu sendiri yang bilang di wa ingin bertemu denganku," ucap Anna. Dia mengatakan itu untuk menutupi kerinduannya.


"Jadi, kamu gak kangen? Ya udah, aku tutup aja deh video call nya," ucap Zion dengan bibir dimajukan.


"Eh, jangan, sayang. Baru saja dimulai," ucap Anna sedikit kesal. "Iya deh, iya aku kangen," Anna mengalah. Zion tersenyum jahil.


"Nah gitu dong!" ucap Zion. "Sayang, kamu kelihatan kurus. Kamu semalam gak makan, ya?"


"Ehn... itu.. itu.. Aku..."


"Kamu memikirkan Jay lagi?" tanya Zion.


"Sedikit."


"Sedikit kamu bilang? Aku cemburu, loh."


"Lebih tepatnya aku merasa bersalah."


"Sudah kubilang kalau itu bukan salahmu. Dan aku rasa Darion yang menembak kaki Jay."


"Apa? Darion? Kamu yakin?"


"Aku tidak melihatnya waktu itu, tetapi feelingku kuat soal dia."


"Sepertinya begitu, sayang."


"Tetapi aku rasa Darion tak mungkin bertindak gegabah," ujar Anna.


"Maksudmu ada pemicu dia melakukan itu?"


"Meskipun aku tak mengenal Darion, namun saat bertemu dengannya, aku rasa dia pria yang berhati-hati dalam bertindak."


"Apapun itu, aku harus mencari tahu," ucap Zion.


"Sayang!" panggil Anna.


"Iya, sayang?"


"Berhati-hatilah!"


"Kamu juga," ujar Zion. "Jangan lupa untuk istirahat kalau kamu lelah."


"Aku sudah tidak apa-apa. Sejak aku bertemu dokter baik hati itu. Aku tidak bisa melupakannya," goda Anna.


"Ah, sekarang sainganku seorang dokter?" Zion mendengus kesal.


"Dia tampan, tinggi, dan.."

__ADS_1


"Sudahlah. Aku lelah. Kamu istirahatlah," Zion memutuskan panggilannya. Ia terjun bebas ke kasurnya yang empuk. Tak lama, ada WhatssApp dari Anna. Zion mengirim emoticon ngambek. Dalam waktu bersamaan, ponselnya berdering. Disana tertulis Darion.


Zion menyuruh Darion tetap mengawasi pergerakan Jonathan. Tak ada yang tahu kapan Jonathan bergerak. Tetapi, ada yang terus mengusik pikirannya. Pikirannya kacau. Ia turun tangga, lalu ke halaman belakang. Wilson melihat Zion termenung berdiri di atas rerumputan hijau. Pria itu menepuk pundak Zion.


"Memikirkan gadis itu lagi?" tanya Wilson.


"Bukan."


"Lalu? Apa ini soal Jay?" tanya Wilson. Zion menarik nafas.


"Darion menceritakan Jay ke Kakek?"


"Tak ada rahasia diantara kami."


"So sweet. Seperti pasangan yang tidak terpisahkan," ucap Zion sambil tertawa geli.


"Dasar, bocah!"


"Kek!" panggil Zion.


"Ada apa? Kamu ingin aku membantumu?"


"Tidak! Biarkan aku yang melakukan menggunakan rencanaku."


"Berhati-hatilah! Ini bukan seperti di game yang bisa kamu atur lawanmu sesukamu."


"Kakek sebaiknya memikirkan kesehatan Kakek daripada hal ini."


"Ooo.. Kamu ingin menjadi cucu yang berbakti?" Wilson tersenyum. Ia memeluk Zion dengan hangat.


"Lihat kan, aku gak apa-apa! Aku bisa memelukmu erat dibalik badanku yang renta ini."


"Sudahlah, Kakek. Umur Kakek tidak muda lagi. Kakek harusnya istirahat saja dan..."


"Kamu bilang aku udah tua?" Wilson memukul kepala Zion tanpa rasa sakit.


"Aku ini masih muda. Lihatlah, aku bisa melompat-lompat sekarang!" seru Wilson sambil melompat. "Aduuh...Aduh..."


"Ada apa, Kek?" tanya Zion dengan cemas.


"Punggungku..."


"Sudah kubilang kalau Kakek harus istirahat. Ini sudah malam."


"Lalu kamu ingin aku pergi sendiri dalam kondisi begini?"


"Aduh.. serba salah," gumam Zion.


"Baik, Kakek, aku akan mengantarkan Kakek ke kamar."


"Itu baru cucu yang berbakti," ucap Wilson, sembari tersenyum.

__ADS_1


Ia berharap disisa umurnya bisa melihat Zion bahagia dan menikah. Tak ada yang ia inginkan lagi didunia ini. Semua yang ia inginkan sudah tercapai. Seketika, ia memikirkan nama Jonathan. Andai saja tak ada pria jahat itu, mungkin saat ini Zion menikah dan punya anak bersama gadis yang ia cintai. Dan ia berharap, Tuhan memberikan waktu hidupnya sedikit lebih lama lagi.


__ADS_2