
Satu minggu kemudian...
Zion menunggu kabar dari Jay mengenai pengobatan Anna. Tetapi, jadwal yang ditentukan masih harus menunggu dua minggu lagi. Karena merasa bosan, ia mengajak Darion untuk menemaninya. Darion ditunjuk oleh Wilson sebagai kaki tangan Zion, sejak Zion terluka.
Zion menghabiskan waktunya untuk melihat Danau. Tempat itu adalah tempat pertama kali ia bertemu dengan Anna. Zion terus menatapnya dalam diam. Sesekali ia tersenyum. Darion dengan setia menemani Zion. Ia juga tak mempertanyakan apapun.
"Hei, bicaralah! Kenapa kamu diam saja?" Ujar Zion.
"Saya pikir Tuan Muda memerlukan waktu sejenak untuk melihat Danau."
"Danau ini mengingatkanku pada seseorang." Senyuman Zion tak lepas dari bibirnya.
"Mungkinkah seorang gadis?" Tanya Darion.
"Dia lah cinta pertamaku."
"Cinta bisa membunuh." Ucap Darion datar.
"Benar. Tetapi dengan cinta, hidup seseorang bisa berwarna."
"Tetapi banyak orang terluka karena cinta. Apa mungkin masih bisa dikatakan berwarna?"
"Kau tahu banyak soal cinta. Kamu sering patah hati, ya?" Ledek Zion.
"Tidak akan. Cinta hanya merepotkan."
"Merepotkan karena bisa membuatmu jadi salah tingkah?" Ledek Zion lagi. Wajah Darion memerah. Zion tak menyangka, sosok seperti Darion, bisa terlihat malu-malu.
"Hahahaha... Mukamu lucu. Kamu pasti pernah jatuh cinta."
"Tidak! Dia hanyalah wanita manja yang selalu merepotkan saya. Mana mungkin saya bisa jatuh cinta padanya?"
"Wooaa.. Aku tidak menanyakan wanita mana yang kau cintai. Tetapi, kamu mengatakannya dengan sangat jelas.
"Tu..Tuan Muda! Tuan sudah terlalu lama disini. Sebaiknya, kita kembali saja. Tuan Muda harus banyak istirahat. Kaki Anda masih belum sepenuhnya pulih." Darion mengalihkan pembicaraan.
"Baik.. Baiklah. Kalau begitu, ayo kita pergi ke tempat lainnya!" Zion merasa Darion bisa diandalkan dan menjadi teman baiknya.
"Siap, Tuan." Darion membuka pintu mobil untuk Zion.
"Lain kali, pintunya jangan dibukakan. Biar aku sendiri yang membukanya. Ini sangat menggelikan." Ucap Zion sambil memutar kedua bola matanya.
"Siap, Tuan." Darion menjalankan mobil.
__ADS_1
"Kita mau kemana, Tuan Muda?"
"Kembali saja ke Rumah. Aku ingin melihat Casino."
"Black Casino?"
"Hmm." Zion mengangguk. Darion melajukan mobilnya pada kecepatan sedang. Ia mencari rute tercepat ke tempat tersebut.
"Jangan buru-buru! Santai saja."
"Siap Tuan." Sesampainya disana, Darion membukakan pintu mobil Zion.
"Lagi? Sudah kubilang, jangan dibukakan. Memangnya aku seorang gadis kecil?" Zion jengah dengan tingkah Darion. Tanpa disadari, Darion tersenyum tipis.
"Kau bisa tersenyum juga." Ucap Zion. Raut wajah Darion berubah drastis. Ia memasang tatapan tegasnya.
"Memangnya apa salahnya untuk senyum? Pria yang aneh." Batin Zion.
Sesampai disana, Zion melihat banyak orang menggebu-gebu memasangkan taruhan mereka. Kehadirannya, disambut hangat oleh para pemain. Mereka tahu, Zion bukanlah pria biasa. Zion tersenyum pada mereka.
"Tatapan mereka aneh. Apa mereka tahu kalau aku adalah cucu dari Kakek Wilson?
"Sepertinya mereka tahu, Tuan Muda."
"Pantas saja." Zion mengangguk mengerti.
"Tidak. Aku lebih suka melihat mereka bermain." Ucap Zion sambil tersenyum.
"Kau ingin mencobanya?" Tanya Zion.
"Ah, kau takut kalah, ya?" Ledek Zion.
"Saya tidak pernah kalah dalam berjudi."
"Begini saja, aku akan meminjamkan uang padamu. Kalau kau menang, aku akan menambahkan dua kali lipat dari hasil kemenanganmu."
"Tuan Muda serius?" Darion tampak tertarik akan penawaran Zion.
"Serius dong. Aku kan sekarang cucu dari pemilik Black Casino."
"Tetapi, Darion, kalau kamu kalah, kamu harus membayarku tiga kali lipat dari uang yang kukasih ke kamu. Bagaimana? Setuju?" Zion mengangkat alis berkali-kali.
"Saya setuju, Tuan Muda." Darion yakin ia akan memenangi pertarungan tersebut dan mendapatkan hasil yang diinginkannya.
__ADS_1
"Semuanya dengarkan! Pria ini akan ikut berjudi. Kalau pria ini menang, aku akan traktir kalian semua, tetapi kalau orang ini kalah, dia akan membayar semua taruhan kalian. Setuju?" Seru Zion.
"Setuju!" Seru mereka serempak. Darion tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap Zion.
"Kawan, tunjukkanlah bakatmu!" Ujar Zion sambil tersenyum.
"Saya akan menambahkan satu syarat. Jika saya kalah, kalian harus memberikan 30% dari hasil taruhan kalian yang menang sebelumnya atau setelahnya." Seru Darion. Mereka diam sejenak, sempat berpikir. Zion tersenyum melihat reaksi mereka.
"Ah, sepertinya ini tidak berhasil. Sudahlah, ayo kita pergi, Darion!"
"Lalu bagaimana dengan..?"
"Lihat reaksi mereka! Mereka tidak akan setuju." Ujar Zion.
"Baiklah, Tuan Muda." Ucap Darion terlihat kecewa.
"Tunggu!" Seru seorang pria yang memiliki tato pada seluruh tubuhnya.
"Mari kita bertaruh! Aku akan memenuhi semua persyaratannya. Tetapi hanya aku dan kamu yang bertaruh. Bagaimana?"
"Baiklah. Aku setuju." Ujar Darion. Raut wajahnya berubah. Ia terlihat senang.
"Kalau begitu aku juga ikutan main." Ujar seseorang yang lainnya.
"Aku juga!" Seru seorang yang lainnya. Diikuti oleh sejumlah orang yang berada disana.
"Ini adalah kesempatanmu, kawan! Tunjukkanlah pada dunia!" Seru Zion sambil menepuk pundak Darion. Darion tersenyum. Tak lama, ekspresinya berubah menjadi lebih garang.
"Dasar, mafia labil!" Batin Zion.
*******************************
Hari semakin malam, sesosok gadis cantik mengenakan gaun berwarna merah, semua mata tertuju padanya. Tak sedikit dari pria meliriknya. Tetapi ekspresinya datar. Ia tak tersenyum.
"Terra, senyumlah! Mereka mengira, Ibu dan Ayah memperlakukanmu tidak adil." Gerutu Wanda, Ibu dari Terra. Kemudian, Terra tersenyum.
"Sayang, ingat ya, penampilanmu ini akan sangat berguna untuk kedepannya." Ucap Wanda sambil tersenyum.
"Baik, Mommy." Terra beserta keluarganya diundang dalam Pesta Pernikahan anak dari seorang politikus. Dan kebetulan, mereka mendengar tentang bakat alami yang dimiliki oleh Terra. Mereka meminta Terra untuk bermain biola sambil bernyanyi pada acara tersebut. Tak lama, waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Terra berjalan sambil membawa biola.
Bahu Terra menahan biola, tetapi bahu tersebut tidak boleh terlalu terangkat. Karena membuat biola mudah terpeleset dan tangan kiri ikut menahan berat biola. Jika tangan kiri terbebani oleh biola, maka pergerakan tangan akan kesusahan, saat bergeser untuk mengganti nada dalam memainkan lagu.
Untuk mengatasi agar bahu tak terangkat keatas, siku harus dimajukan, sehingga secara otomatis bahu sedikit maju agar memudahkan dalam menopang biola. Posisi siku tidak boleh bersandar atau menempel pada bagian tubuh, karena akan memperlambat dalam pergerakan tangan. Disarankan, agar menjepit biola tidak terlalu kuat agar dagu tidak sakit. Berhubung, Terra memiliki leher yang agak panjang, bahunya agak kesusahan dalam mengapit biola. Ia menggunakan shoulder rest pada biolanya sebagai aksesoris tambahan.
__ADS_1
Setelah memperhatikan posisi bahu, posisi tangan kiri harus tegak lurus, agar badan biola tidak terlalu menurun. Lalu, telapak tangan kiri tidak boleh menyentuh leher biola dikarenakan akan membuat jemari kaku dan menjadi penghalang, saat tangan kiri bergeser untuk mengganti nada yang lebih tinggi. Setelah itu, tempatkan sisi ibu jari pada leher biola. Pangkal ibu jari tidak boleh menyentuh leher biola, agar mempermudah dalam mengganti nada.
Setelah memperhatikan segala posisi, Terra menggesekkan senar dengan lancar. Ia menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang indah. Banyak mata memandangnya, Terra semakin percaya diri. Mereka yang tersentuh akan biola serta lagu yang ia bawakan, tak ada yang mengira ia adalah sesosok gadis yang berkemampuan beladiri. Mereka mengira, Terra adalah sesosok gadis yang lugu, lembut dan anggun. Sebenarnya, biola bukanlah keinginannya. Itu semua keinginan ibunya. Ia jatuh bangun untuk mempelajari biola sejak masih kecil. Tetapi, Terra bersikap tegar dalam menghadapi segala sesuatu. Ketegaran itu, ia pelajari dari sosok ayahnya yang tegas.