
Rencana Jonathan berhasil. Ia memenangkan proyek itu, namun disisi lain ia juga mempergunakan dana perusahaan demi kepentingannya sendiri.
Setelah itu, ia menjual informasi Ax group pada perusahaan lawannya. Untuk meninggalkan bukti, ia membunuh saksi yang mengetahui rencananya. Dengan begitu, tak ada yg curiga.
Terlebih lagi dana perusahaan yang ia ambil juga disamarkan sebagai dana proyek yang ia tangani. Ia sangat ahli dalan hal ini.
Ia pernah melakukan itu dulu. Ketika perusahaan hampir bangkrut, ia berpura-pura menyelamatkannya. Jonathan sok jadi pahlawan. Dan kali ini, ia menggunakan cara yang sama. Ia sangat yakin, tak ada yg tahu akan perbuatannya.
Namun tujuan sekarang berbeda dari yang dulu. Kali ini, tujuannya selain mendapatkan perhatian atau kepercayaan dari Robert, ia menggunakan kesempatan itu untuk bisa mengendalikan Anna.
Disisi lain, Robert tak menyangka masalah datang pada perusahaannya. Data perusahaannya tiba-tiba dicuri dan itu persis seperti beberapa tahun yang lalu.
Robert sudah menebak apa yang terjadi setelahnya. Ia mencari Jonathan. Robert mengatakan kalau datanya hilang dan itu akan merugikan perusahaan apalagi beberapa klien tiba-tiba memutuskan kerjasama terhadap Ax group.
"Jonathan, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Robert, memancing Jonathan.
"Aku tidak menyangka kenapa bisa jadi seperti ini? Mungkinkah ada pihak yang sengaja menjatuhkan Ax group? Mungkin pihak itu tidak senang karena kita telah memenangkan proyek itu?" ucap jonathan, berpura-pura tidah tahu apa-apa. Robert memijat pelipisnya
"Ayah terlihat lelah, apa ayah baik-baik saja?" tanya Jonathan pura-pura perhatian.
"Akhir-akhir ini kesehatanku sangat menurun. Aku tidak tahu berapa lama aku harus bertahan lagi."
"Ayah tenang saja. Lebih baik ayah istirahat saja. Pikirkan soal kesehatan ayah. Aku tidak mau sampai ayah sakit."
"Lalu apa yang harus aku lakukan saat ini? Kalau aku menyerah, bagaimana nasib perusahaan ini, istriku atau Anna?"
"Ayah tidak perlu cemas, aku akan membantu ayah."
"Bagaimana caranya?"
"Aku tahu kalau aku bukan anak kandung dari ayah dan ibu. Aku sangat berterimakasih pada kalian yang sudah merawatku selama ini. Sudah seharusnya aku membalas kebaikan kalian. Aku akan menggantikan posisi ayah."
"Maksudmu, Jonathan?"
"Nikahkan aku dan Anna, ayah."
"Kamu..."
"Ayah, tidak ada solusi yang lain lagi. Ini adalah cara yang terbaik. Aku berjanji bukan hanya menjaga Anna, tapi aku akan menjaga perusahaan ayah agar tak terjadi hal seperti ini."
"Apa kamu ingin aku menjual Anna? Bagaimana bisa kamu tumbuh sebagai pria yang jahat? " batin Robert. Hatinya terlalu pilu.
"Ayah jangan terlalu lama berpikir. Aku hanya ingin terbaik buat kita semua. Bukannya aku ingin menukar Anna dengan perusahaan. Tetapi, aku ingin melindungi kalian semua. Aku sangat mencintai Anna. Dan aku tidak akan mengecewakan kalian. Aku sayang kalian."
"Baiklah. Kita akan membicarakan ini dirumah dan menunggu Anna untuk menyetujui rencanamu."
"Baik, ayah."
"Jonathan, sudah saatnya aku mengakhiri perbuatan jahatmu," batin Robert.
°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°
Anna duduk di depan cermin kamarnya. Ia mempercantik dirinya. Untuk melepaskan rasa gugup, ia tersenyum lebar. Anna menghela nafas sesaat.
__ADS_1
"Akhirnya, hari ini tiba juga. Aku akan membuka topengmu yang selama ini kau simpan rapat rapat, Jonathan," batin Anna.
Perlahan, ia menuruni tangga dengan anggun, menunjukkan setiap pesona yang ia miliki. Jonathan terkesima melihat kecantikan yang dimiliki Anna. Gadis itu tersenyum sambil berjalan kearah Jonathan.
"Kamu begitu cantik, Anna," puji Jonathan.
"Ayah sudah menceritakan semuanya padaku. Aku rasa, mungkin ini jalan terbaik buat kita berdua," ucap Anna.
"Aku senang akhirnya kamu mau membuka hatimu buatku," ujar Jonathan, seraya menggenggam tangan Anna. "Aku akan membuatmu bahagia," ucap Jonathan lagi.
"Kak sampai kapan kakak akan seperti ini? Buka saja topeng yang selama ini kakak simpan!" timpal Anna sembari melepaskan tangan Jonathan.
"Apa maksudmu, Anna?"
"Kak, aku menghormati kakak selama ini. Kenapa kau tega ingin menghancurkan keluarga ini? Apa salah kami? Apa kak?!" teriak Anna emosi.
"Kamu membuat kami kecewa. Tidak kusangka, anak yang kami banggakan justru menusuk kami seperti ini. Kamu bukan manusia. Hatimu seperti iblis," celetuk Robert.
"A..Aku tidak mengerti arah pembicaraan kalian. Aku selalu menyayangi kalian seperti keluargaku sendiri," ujar Jonathan berpura-pura.
"Jonathan, ibu kecewa denganmu. Kamu sudah menipu kami semua. Padahal ibu sangat menyayangimu, teganya kamu melakukan hal itu selama bertahun-tahun. Kamu sungguh...," Eveline tak kuasa menahan isak tangisnya. Ia terlalu sedih. Wanita itu kecewa pada Jonathan.
"Ibu aku sangat menyayangimu. Ayah juga. Anna. Semua dari keluarga ini, aku sangat menyayangi kalian. Aku..."
"Sayang? Jangan membuatku ketawa, Jonathaan! Kamu sudah merenggut kebahagiaanku! Orang tuaku yang begitu mempercayaimu. Kamu memanfaatkan itu semua agar orang tuaku tak pernah menyayangiku sebagai putri mereka. Kalau kamu sayang sama aku, kamu tidak akan tega melakukan hal itu agar orang tuaku tidak menyayangiku. Kamu mengambil semua kasih sayang mereka terhadapku. Mereka yang tulus padamu, kamu manfaatkan dengan segala tipu muslihatmu selama ini. Kamu manusia berhati iblis!" teriak Anna.
Air mata Anna tak bisa dibendung lagi. Luka batinnya terlalu pilu ia rasakan. Pikirannya sangat kacau. Kepercayaannya dia terhadap Jonathan sudah tidak ada lagi. Ia sangat membenci pria itu.
"Hahahaha... Aku tidak menyangka ternyata kalian menjebakku seperti ini. Hahahaha," ujar Jonathan. Ia tampak gila.
"Hahahaha. Lalu sekarang apa? Kalian akan melaporkanku pada polisi? Semua sudah terlambat!"
Door...Door... Suara tembakan terdengar jelas di telinga Anna. Dari awal Jonathan menyimpan pistol dibalik saku nya.
"Ayaaaah....!"
"Apa yang sudah kau lakukan Jonathaan?" teriak Eveline. Ia menangis melihat suaminya bersimbah darah.
"Inilah yang kuinginkan daridulu, membunuhnya."
"Jonathaaan kau..." teriak Anna.
"Tanya saja pada dia, apa yang sudah ia perbuat pada ibuku. Kalau bukan karena dia, ibuku tidak mungkin mati."
"Apa? Ayahku membunuh orang?" tanya Anna tak percaya.
"Ti..Tidak mungkin. A..Aku tidak pernah mem..membunuh siapaaapun," ucap Robert dengan suara kacau.
"Sayang, tetap kuat. Jangan tinggalkan aku!" ucap Eveline penuh dengan air mata.
"Apa kamu tidak salah Jonathan? Kamu ingin membalaskan dendam ibumu pada orang yang salah?"
"Aku tidak pernah salah. Aku masih ingat dengan jelas. Ibuku, Pauline... Gara-gara dia, ibuku mati."
__ADS_1
"Pa..Pauline?" Eveline kaget mendengar nama itu.
"Na..Nama itu.." Lirih Robert dengan suara pelan.
"Ada apa ini? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Anna berdiri kaku.
"Aagh..." Robert menjerit kesakitan.
"Sayang, aku mohon jangan mati. Sayang, bertahanlah."
"Ibu, bawa ayah darisini. Biar aku yang mengurus Jonathan."
"Anna, kamu... Maafkan ibu selama ini. Ibu selalu membuatmu menderita."
"Ibu..."
"Ibu berjanji, ibu akan menyayangimu dengan tulus. Memperlakukanmu dengan penuh kasih sayang. Maafkan, ibu, Anna. Ibu sudah menjadi ibu tidak berguna untukmu."
"Pegang janji ibu. Meski ibu sudah memperlakukanku tidak baik, tetapi kau tetaplah ibuku. Aku tidak bisa membencimu," Anna menangis begitu deras.
"Anna..."
"Cepat bawa ayah, ibu! Keselamatan ayah nomor satu."
"Anna, berjanjilah pada ibu, kamu akan baik-baik saja."
"Ibu tidak perlu cemas. Sebentar lagi akan ada yang datang," ucap Anna. Eveline bernafas lega. Ia pergi membawa Robert yang sudah tidak sadarkan diri.
"Anna, kamu..."
"Aku akan membunuhmu, Jonathan! Kamu sudah berani melukai ayahku."
Anna menendang wajah Jonathan, membuat Jonathan kaget seketika. Dengan brutal, Anna menendang, memukul. Segala cara ia lakukan untuk menyerang Jonathan.
"Sejak kapan Anna memiliki kemampuan beladiri?" batin Jonathan.
Jonathan menghindar dari setiap pukulan atau tendangan Anna. Tetapi bukannya menyerah, ia tetap menyerang Jonathan hingga serangannya berhasil mengenai pria itu. Ketika itu, Anna merebut pistol dari tangan Jonathan.
"Sekarang aku akan membunuhmu Jonathan. Kamu m...," tiba-tiba ada seseorang yang datang dari arah belakang. Pria itu menyuntikkan sesuatu pada leher Anna.
"Badanku aneh. Aku merasa sekujur tubuhku ada yang menekanku. Aku..." batin Anna. Ia tak sadarkan diri.
"Zeus, kamu..."
"Tuan besar yang memerintahkanku. Dia sudah tahu kalau akan begini. Cepat pergi darisini! Tidak ada waktu lagi, tuan."
"Agggh.... sial," teriak Jonathan frustasi.
"Cepatlah atau mereka akan menangkapmu!"
"Anna, bertahanlah!" batin Jonathan. Ia tak punya pilihan selain melarikan diri.
Sementara itu, Zion datang bersama Darion, Terra, bahkan polisi. Ia kaget melihat Anna tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Anna, bangunlah! Sayang, maafkan aku datang terlambat," lirih Zion tenggelam dalam kesedihan.