Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 6 Keanehan


__ADS_3

Ketika hati dikecewakan, segala harapan sirna meninggalkan bekas luka yang menyayat hati. Akan tetapi, itu tak berlaku bagi Anna ketika penjaga lapas mengatakan Jerry tak ingin bertemu. Jay meyakinkan para penjaga lapas untuk tak membuat kerusuhan. Pada akhirnya, penjaga lapas mengizinkan, asalkan satu orang yang masuk.


Jay semakin mencemaskan Anna. Ia tak ingin membiarkan gadis itu masuk sendirian, ditambah wajah pucat Anna yang tak memudar. Jay memohon pada penjaga lapas, namun tetap tak diizinkan. Anna memberikan kode agar Jay tak perlu cemas. Ia bersikeras untuk masuk kedalam, walau Jay keberatan. Pria itu menyerah. Siapa yang bisa menghalangi sifat keras kepala Anna? Jay berharap, tak ada hal buruk menimpa gadis itu.


Tatapan Anna tajam, ketika bertemu Jerry. Pria berwajah bre***** dengan tatto ditelapak tangannya, tak membuat hati Anna mengecil. Gadis itu tahu cara menghadapi pria seperti Jerry. Tatapan Anna semakin tajam, seolah menelan hidup-hidup. Tak ada rasa takut diwajah Jerry. Pria itu meremehkan Anna. Semakin lama, gadis itu geram, ia tak bisa menyembunyikan kekesalannya.


Jika diingat kembali apa yang dilakukan Jerry, hatinya meledak. Sesekali, ia ingin mencakar atau menelan pria itu hidup-hidup. Anna mencengkeram kerah baju Jerry, namun pria itu tersenyum sinis. Ia membuang ludah, membuat Anna naik darah seketika. Berhasil membuat Anna kesal, Jerry tertawa puas. Pria ini gila. Anna mempererat cengkeramannya, ia tak peduli Jerry kesakitan. Seketika, ia sadar. Anna melepaskan cengkeramannya, lalu menyeringai.


"Tanganku terlalu kotor untuk orang sepertimu," ujar Anna. "Aku harap, kamu mendekam disini selamanya," bisik Anna.


"Hahahaha... Jadi, kamu mengancamku gadis yang terasingkan, nona Anna?" ungkap Jerry.


"Kamu tahu aku? Aku belum memberitahumu namaku."


"Kemarilah! Mendekatlah kesini! Aku akan membisikkanmu sesuatu," ujar Jerry. Akan tetapi, Anna tak bodoh karena ia tahu berhadapan dengan siapa.


"Apa kamu ingin menggigit telingaku dan membuatku tak berdaya didepanmu? Aku tak sebodoh itu," tegas Anna. Jerry terkejut Anna mengetahui rencananya.


"Hahaha... Ternyata, kau begitu pintar." Kamu melebihi ekspektasiku."


"Kenapa kau tega melakukan hal itu pada perusahaanku?"


"Untuk kesenangan, mungkin."


"Jangan menganggapku bodoh! Kamu boleh membodohi semua orang, tapi tidak untukku. Pasti ada seseorang yang menyuruhmu. Katakan, siapa dia!?"


"Aku bergerak sendiri. Meskipun orang lain menyuruhku, tak ada bukti apapun."


"Maaf, nona waktu berkunjungmu telah habis," kata seorang penjaga Lapas. Anna datang sia-sia. Ia tak menemukan informasi yang ia inginkan. Gadis itu menghela nafas.


"Tolong berikan waktu untuk saya 5 menit lagi!" ujar Anna pada penjaga Lapas.


"1 menit. Tidak lebih dari itu."


"Baiklah," ujar Anna. Karena Anna tak memiliki banyak waktu, ia ingin menanyakan satu hal.


"Apa ada hubungannya dengan orang dalam?" tanya Anna. Ia menarik nafas. "Apa orang itu, orang yang kukenal?" tanyanya lagi. Jerry terpojok. Pria itu berjalan mendekati Anna.


"Seputih merpati, tetapi selicik serigala," bisik Jerry.


"Hah? Siapa maksudmu?" tanya Anna. Jerry mengangkat bahu. Penjaga lapas memperingati Anna lagi. Gadis itu pergi meninggalkan Jerry. Banyak pertanyaan masih melekat dikepalanya. Jay melihat Anna.


"Anna!" panggil Jay. Ia melambaikan tangannya. Anna tersenyum, namun tiba-tiba kepalanya pusing. Semakin lama, pandangannya menghitam. Ia kehilangan kesadaran.


°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°


Saat Anna terbangun, ia merasakan aroma yang menyengat. Ia bisa menebak dimana ia saat ini berada. Seakan dejavu, ia melihat Jay yang berada disampingnya, mencemaskannya.


"Jay!"


"Anna! Bagaimana apa kamu masih sakit?"

__ADS_1


"Tidak. Berapa lama aku tidak sadarkan diri?"


"1 jam," jawab Jay. Anna menghela nafas.


"Tetapi ada masalah."


"Ada apa? Apa penyakitku lebih parah?" tanya Anna.


"Bukan itu."


"Lalu apa?"


"Jerry telah meninggal. Tadi, aku melihat beritanya di hp ku."


"Apa kamu bilang? Bagaimana dan jam berapa ia meninggal?"


"Sekitar setengah jam yang lalu. Dia meninggal bunuh diri."


"Gak mungkin. Ini pasti bohong. Bagaimana bisa..." Anna tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kau sudah mengonfirmasinya?"


"Aku sudah berkali-kali untuk mencari disetiap berita. Hampir semua berita, menayangkan hal yang sama," terang Jay.


"Dia tidak mungkin bunuh diri. Pasti ada dalang dibalik itu," ujar Anna.


"Kalau itu benar, aku rasa ini berbahaya untukmu. Aku ingin kamu keluar dari masalah ini. Biar aku yang mencari tahu apa yang terjadi pada Jerry."


"Anna, dengarkan aku! Kamu harus mementingkan kesehatanmu. Kalau kamu memikirkan terus soal itu, kamu tidak akan bisa menangkap pelaku sesungguhnya."


"Dia benar," timpal seorang pria yang tiba-tiba datang.


"Zion!" Kamu..."


"Kamu merindukanku?" tanya Zion dengan datar.


"Aku tidak. Kenapa harus?" ucap Anna pura-pura. Zion menghela nafas.


"Ada apa?" tanya Anna. Ia mencium sesuatu tak beres dari Zion. "Oh ya, kamu tidak ingin menghiburku? Jerry sudah mati," tanya Anna.


"Ada dia disini untuk menghiburmu," Zion melirik Jay. Sebenarnya, ia tak ingin memperlihatkan kecemburuan nya didepan Anna.


"Kau tak seperti biasanya. Apa ada masalah?" Anna sangat yakin jika ada sesuatu terjadi pada Zion. Zion tak menjawab. "Kamu tahu darimana aku disini? Aku tidak memberitahumu," tanyanya.


"Tadi aku meneleponmu, tetapi dia yang mengangkatnya."


"Aku rasa aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik," ujar Zion. Pria itu bergegas pergi. Perilaku Zion berbeda dari biasanya. Anna sedih.


"Kau menakutiku. Jika ingin marah, marahlah! Jika ingin sedih, menangislah. Jangan seperti ini!" seru Anna. Tak terasa ia meneteskan air mata. Hati Zion teriris, ketika melihat Anna menangis.


"Maafkan aku,"Zion memeluk Anna. Ia membelai rambut Anna yang tampak kusam.

__ADS_1


"Kapan terakhir kali kamu keramas?"


"Mungkin dua hari yang lalu."


"Apa?" Zion mengelap tangan yang bersentuhan dengan rambut Anna. Anna tertawa lepas melihat kelakukan Zion.


"Dasar, nona payah! Lain kali, aku akan pake sarung tangan saat menyentuh rambutmu," celoteh Zion. Anna senang melihat Zion yang kembali seperti sebelumnya. Perlahan, Zion mengusap kepala Anna dengan lembut. Kedua mata mereka saling menatap. Tiba-tiba ada keinginan Zion untuk menciumnya, namun Anna mengetuk kening pria itu.


"Dasar bodoh!" ujar Anna.


"Bukankah kamu harus pergi?" tanya Jay. Ia merasa terganggu oleh kehadiran Zion.


"Aku berubah pikiran. Aku ingin menemani gadis bodoh ini," Zion tersenyum. Kali ini, ia menggenggam tangan Anna dengan segala perasaan yang ia miliki. Anna membiarkannya. Ia sangat merindukan Zion beberapa hari terakhir.


"Dia adalah calon istriku. Jadi, sebaiknya kau pergi," Jay menatap tajam Zion.


"Masih calon istri kan? Bukan istrimu," ejek Zion.


"Kamu!"


"Jadi, jangan berlagak!" Zion seperti merendahkan Jay. Jay tak terima dengan kelakuannya.


"Aku bisa melakukan segala cara apapun agar kamu menghilang dari dunia ini. Apa kamu tak takut padaku?" ancam Jay. Ia mencengkeram kerah baju Zion.


"Benarkah? Kalau aku mati, aku bisa menghantuimu setiap saat dan membawamu pergi bersamaku," Zion tak takut. Ia menatap tajam Jay.


"Zion, tampaknya kamu meremehkanku."


"Tolong berhenti! Jay, bukankah aku sudah bilang, kalau kamu harus memikirkan matang-matang tentang perasaanmu," ujar Anna.


"Aku tahu sekarang kenapa kamu bilang begitu. Aku tidak akan tinggal diam!" Jay membanting pintu, kemudian ia pergi darisana. Zion menggenggam tangan Anna sambil memeluknya.


"Sudah, abaikan saja dia," bisik Zion.


"Aku tahu."


"Kau tidak membawa apa-apa?" tanya Anna.


"Bawa, dong. Aku pasti membawamu sebuah hadiah."


"Mana? Aku tak melihatnya.


"Tutup mata mu."


"Sekarang, buka matamu!"Zion tersenyum. Senyuman Zion terlihat tulus.


"Mana? Ak..." Tiba-tiba Zion mencium bibir Anna secara perlahan. Pikiran, hati, dan seluruh hidupnya, hanya Anna yang ia inginkan. Pipi Anna bersemu merah. Anna terhanyut dalam sentuhan bibir Zion. Perlahan, pria itu melepaskan ciumannya.


"Kau suka hadiahku?"


"Atau aku akan memberikan hadiahku lagi?" Zion tersenyum manis. Anna tak bisa berkata-kata. Jantung nya bergemuruh, seakan mau perang. Zion tersenyum kembali. Anna merasa Zion begitu manis.

__ADS_1


__ADS_2