Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Awal dari Kebebasan


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Darion telah sampai. Pria itu membukakan pintu mobil untuk Zion, kemudian Zion menggendong Anna yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Tuan muda, biarkan saya menggendongnya. Luka Anda masih belum pulih."


"Tak perlu. Aku tak bisa membiarkan kekasihku digendong pria lain." Zion berjalan tanpa mempedulikan rasa sakitnya. Darion mengangguk mengerti, namun ia berada tak jauh dari Zion.


Zion melihat Wilson yang duduk di salah satu kursi sofa dengan mata terpejam. Karena merasakan kehadiran Zion, Wilson membuka mata. Pria tak muda lagi itu mengkerutkan kening, ketika melihat Anna dalam gendongan Zion.


"Kakek menungguku?"


"Dasar, bocah nakal!" Wilson melempar bantal Sofa kearah Zion. Beruntung, lemparan tersebut meleset.


"Ka..Kakek..Kenapa kau tega begitu menyambut cucumu sendiri?" Zion memasang tatapan puppy eyes nya.


"Pria yang tak bisa menjaga dirinya sendiri bukanlah pria sejati. Kamu harus ingat itu!" Seru Wilson, tatapannya tak lepas dari Zion.


"Yah, mana ku tahu, Kek, kalau mereka menggunakan cara licik untuk menangkapku." Elak Zion.


"Lalu, sekarang kau membawa seorang gadis pulang kesini? Ckckck..."


"Dia adalah Anna, Kek. Biarkan dia tinggal disini, ya, Kek..." Zion memohon pada Wilson.


"Baju apa yang dia pakai? Jangan bilang, kalau kamu menculiknya?" Wilson mengkerutkan kening melihat gaun pernikahan yang dipakai Anna.


"Ah, itu..."


"Darion, jelaskan padaku apa yang terjadi!" Teriak Wilson.


"Ssst.. Kakek jangan teriak teriak! Kalau Anna bangun gimana, Kek?"


"Ehn..." Anna membuka mata dan melihat dirinya berada dalam gendongan Zion.


"Zi..Zion.."


"Sayang.. Kau sudah bangun?"


"Baguslah kalau dia sudah bangun! Itu artinya, dia bisa pergi dari tempat ini."


"Kalau Kakek tidak suka dia ada disini, aku juga akan pergi dari Rumah ini."


"Ka..Kamu mengancam.."


"Sudahlah, Zion, tidak apa-apa. Turunkan aku!" Anna mencoba mengerti akan situasi yang terjadi.


"Baiklah." Zion tak punya pilihan lain.


"Nama saya Anna, Kakek." Anna menunduk kan kepala dengan sopan. Ia juga mengulas senyuman tipis.


"Kek, tolong biarkan dia istirahat disini malam ini saja. Ini sudah malam, Kakek."


"Apa perlu aku bersujud?"


"Kau ini... tadi mengancamku, lalu sekarang malah bersujud didepanku?"


"Zion.. Biarkan aku pulang, ya... Aku tidak mau merepotkanmu. Dan juga.. aku bingung sebenarnya apa yang terjadi disini." Anna tersenyum tipis.


"Ah, merepotkaan!" Seru Wilson.

__ADS_1


"Cepat siapkan kamar untuknya tidak lebih dari lima menit!" Seru Wilson. Dua Asisten Rumah Tangga bergegas mengantarkan Anna ke salah satu Kamar Tamu. Zion bernafas lega.


"Kau juga tidurlah!"


"Terima kasih Kakek." Ucap Zion tulus.


"Eh, tunggu!" Wilson menahan Zion ketika ia hampir mendekati tangga.


"Darion, periksa lagi luka nya!"


"Baik, Tuan."


"Kakek tahu kalau aku terluka?"


"Sekecil apapun darimu, aku selalu tahu."


"Bilang saja, kalau Kakek tahu dari Darion. Ckckck..." Gumam Zion, namun masih terdengar oleh Wilson. Wilson tersenyum melihat Zion. Dalam hitungan detik, Darion dan Zion pergi ke kamar Zion.


"Kenapa sih Kakek tidak menyuruh Dokter untuk merawatku, kenapa malah menyuruhmu?" Tanya Zion, ketika duduk pada kasurnya. Darion tak menjawab, ia membisu sejenak.


"Tuan Muda tidak perlu khawatir! Saya sudah biasa menangani luka-luka seperti ini."


"Saya sudah selesai mengganti perbannya, Tuan Muda. Sebaiknya, Tuan Muda jangan terlalu banyak bergerak, atau terlalu sering terkena air, agar luka lekas sembuh." Ucap Darion.


"Baiklah, tante cerewet." Darion tersenyum mendengar panggilan barunya.


*******************************


Keesokan harinya...


Zion keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Anna. Ia melihat seorang Asisten Rumah Tangga dan menanyakan tentang Anna. Zion terkejut, saat mendengar Anna bersama Kakeknya. Zion menuruni tangga dengan tergesa-gesa, ia tak mau sesuatu buruk terjadi pada gadis tersebut.


"Saya juga tak menyangka ternyata Zion begitu..."


"Anna!" Panggil Zion. Ia berlari kearah gadis itu sambil memeluknya.


"Zion?"


"Kamu tidak apa-apa kan? Tidak terluka, kan?" Zion mengkhawatirkan Anna sambil melirik kearah Wilson.


"Apa? Kau menuduhku kalau aku akan melukainya? Aku tidak sekejam itu. Dasar, kau ini!" Seru Wilson. Zion bernafas lega. Anna tersenyum.


"Kakekmu bukan orang jahat, dia tak ingin kamu terluka dan salah jalan. Dia sangat mengkhawatirkanmu."


"Dan juga... Kakekmu telah menceritakan semuanya."


"Ehem.." Wilson berdehem sembari menggenggam tangan kanan, lalu tangan tersebut mendekatkan kebibirnya.


"Hei, Zion! Kamu harus banyak belajar darinya. Dia berpikir lebih dewasa daripada yang kubayangkan."


"Jadi, sekarang Kakek merestui aku dengan Anna?"


"Kapan aku bilang kalau aku tak merestui kalian berdua." Wilson melipat tangan didepan dada nya.


"Oh ya, sampai mana ya, kita tadi, Na?" Wilson mengalihkan perhatian.


"Aish.." Zion mengacak-acak rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Ah, ya, tentang kecerobohan Zion, Kakek."


"Jadi, sekarang lagi bahas aku, ya?"


"Mau jelek-jelekkin tentang aku? Jelekin aja terus.."


"Sekalian aja aku tidak usah dianggap." Zion membuang muka, seraya duduk disebelah Anna.


"Hahaha.. Lihat kan, Na, bagaimana dia merajuk?" Anna tersenyum melihat kelakuan Zion.


"Rayu aku, gitu, sayang." Zion merajuk kembali. Gadis itu memberi kode pada Zion.


"Apa yang kamu bilang? Aku tidak mengerti." Ucap Zion, Anna menendang kaki Zion hingga ia merasa kesakitan.


"Awww... Sekarang, kamu bisa tendang kakiku, ya.. Annaa..."


"Permisi, Kakek." Ucap Anna, ia menjauhkan diri dari Zion.


"Annaaa kamu mau kemana setelah menendangku? Kemarilah, sayang!" Zion mengejar Anna. Wilson menggelengkan kepala melihat kelakukan mereka. Perlahan, ia tersenyum.


"Zion terlihat bahagia bersama gadis itu. Mereka cocok satu sama lain. Apa aku yang terlalu berpikir banyak?" Batin Wilson. Ia menyandarkan kepalanya pada Sofa, lalu menarik nafas.


"Asalkan Zion bahagia, apapun akan aku lakukan." Batin Wilson lagi.


"Tetapi.. Bagaimana dengan ini.." Wilson mengambil sebuah foto dari dalam sakunya. Ia melihat foto tersebut dengan wajah yang tak bisa dideskripsikan. Tak lama, ia mengambil ponsel, lalu menelepon seseorang yang ia kenal.


"Halo, Tuan!"


"Darion, bagaimana pergerakan sekarang?"


"Masih aman, Tuan. Sepertinya pria itu sedang merencanakan sesuatu dengan orang lain."


"Sesuatu?"


"Tuan, jangan khawatir! Hal itu tak ada hubungannya dengan Tuan Muda."


"Baiklah. Terus pantau orang itu."


"Baik, Tuan." Ucap Darion. Wilson menutup telepon. Darion melihat seseorang yang ia kenal.


"Marinka? Apa yang dia lakukan disini?" Ucap Darion dalam hati. Ia tak sengaja melihat Marinka didalam mobil Jonathan.


Dibalik itu, Jay tak sengaja mendengar dari ucapan Carlos yang mengatakan kalau Merlyn sedang hamil. Ia mengepalkan kedua tangannya. Carlos tak mengerti apa yang dipikirkan Jay, ia merasa ada yang disembunyikan dari pria tersebut. Tanpa berpikir panjang, Jay pergi mencari Merlyn.


"Merlyn, angkat teleponmu!" Gumam Jay. Ia menghubungi Merlyn berkali-kali, akan tetapi wanita itu tak mengangkatnya. Jay setengah frustasi, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak peduli dengan pengemudi mobil lainnya yang merasa terganggu dengan kehadiran mobilnya. Jay tak tahu harus kemana mencari Merlyn. Carlos menelepon Jay, namun pria itu menolak panggilan tersebut. Jay memukul setir sesekali karena apa yang ia lakukan tak ada hasil.


Satu jam berlalu, namun Jay tak mendapatkan petunjuk apa-apa. Rasa khawatir dalam dirinya terus membara. Ia mengambil ponselnya, lalu menghubungi Chris.


"Halo, Tuan!"


"Halo, Chris! Cepat lacak keberadaan Merlyn, sekarang!"


"Baik, Tuan." Chris segera melakukan apa yang diperintahkan Jay. Chris memiliki kenalan dalam melacak seseorang dengan cepat. Tanpa waktu lama, Chris mendapatkan posisi Merlyn. Ia memberitahukan hal tersebut pada Jay. Pria itu, Jay menuju ketempat yang dituju tanpa memikirkan hal lainnya. Dalam hitungan belasan menit, Jay sampai pada tempat tersebut.


"Seharusnya, disini tempatnya. Tetapi, dimana Merlyn?" Gumam Jay, ia mencari Merlyn pada salah satu gedung yang tak terawat. Jay mengelabuhi beberapa orang yang menghadangnya. Ia tak punya banyak waktu untuk menghabiskan mereka semua. Ia memiliki firasat buruk terhadap Merlyn. Jay membuka pintu dan seketika itu, ia melihat Merlyn dengan wajah pucatnya.


Jay melihat seorang wanita menodongkan senjata kearah Merlyn. Dor.. Dor.. Jay terkejut mendengar suara pistol tersebut.

__ADS_1


"Tidaaaaak... Merlyyn!" Teriak Jay. Ia melihat Merlyn bersimbah darah. Merlyn tersenyum melihat Jay, sebelum kesadarannya menghilang.


"Merlyyyyn...." Jay berlarian kearah Merlyn. Apa yang terjadi dengan Merlyn?


__ADS_2