Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Gejolak


__ADS_3

Carlos membawa Anna ke tempat persembunyiannya selama ini. Tak ada yang tahu tentang tempat itu. Anna tak mengerti apa yang Carlos rencanakan. Tetapi dia yakin, kalau Carlos bisa menjadi rekan yang baik untuknya. Ia melihat Carlos mengeluarkan kotak persenjataan. Kotak itu berisikan berbagai senjata dari yang teringan hingga terberat. Carlos mengeluarkan sebuah pistol berukuran kecil. Lalu, ia melemparkan pistol tersebut kearah Anna.


"Itu untukmu. Dan ini untukku." Ujar Carlos. Ia mengambil sebuah pistol yang ukurannya mirip dengan pistol yang berada ditangan Anna.


"Tak mudah untuk menggunakan senjata. Apalagi digunakan oleh gadis sepertimu." Sindir Carlos.


"Kamu meragukanku? Tetapi kenapa memberikannya padaku?"


"Hanya ingin mengetahui kehebatan dari seorang gadis yang memiliki fisik lemah sepertimu."


"Fisik lemah? Sepertinya, kau tau banyak tentangku."


"Kenapa? Apa kamu menyerah karena takut padaku?" Ucap Carlos. Tatapan mata Carlos tajam.


"Kalau aku takut, kenapa kamu ingin bersekutu denganku? Aku rasa, kamu tak suka bersekutu dengan orang penakut." Senyuman tersungging pada bibir manisnya. Carlos tertawa mendengar jawaban Anna. Ini pertama kalinya, ia bertemu dengan gadis yang semenarik Anna.


"Apa aku salah? Kenapa kamu malah tertawa?" Sindir Anna. Ia menyeringai.


"Kata-katamu sungguh hebat. Aku ingin tahu, apa kemampuanmu sepintar seperti perkataanmu?"Ucap Carlos. Ia mengarahkan pistol yang ia pegang, pada sebuah papan yang telah tersedia, kemudian ia menekan pelatuk. Suara pistol memekikkan gendang telinga mereka.


"Sekarang giliranmu!" Seru Carlos. Gadis itu tersenyum sambil menatap tajam pada Papan tersebut. dor.. dor.. dor... Carlos tersenyum, ketika melihat peluru mengenai Papan.


"Bagaimana? Aku tidak seburuk itu, kan?" Anna tersenyum senang.


"Apa ini pertama kalinya kamu menembak?"


"Benar. Ada apa? Apa kamu tak puas dengan itu?"


"Pantas saja banyak pria tergila-gila denganmu, itu karena kamu adalah gadis yang cerdas."


"Kenapa? Apa kamu berniat tertarik denganku?"


"Aku tidak ada waktu untuk tertarik dengan gadis sepertimu."


"Baguslah. Aku juga tak ada waktu untuk menerima cintamu." Ujar Anna. Carlos tertawa dalam hati. Ia semakin menyukai cara berpikir Anna.


"Apa kamu ingin mencoba benda ini?" Carlos menunjukkan snipper pada Anna.


"Ini tak mudah seperti yang kau bayangkan, Anna." Anna menjawab dengan senyuman manis.


"Tetapi... Aku rasa, tak sekarang benda ini berada ditanganmu." Carlos menyimpan kembali snipper miliknya. Anna tersenyum. Ketika Anna mengingat kembali, setiap nada-nada Carlos yang keluar dari bibirnya, Anna yakin tentang Carlos.


"Aku terus berpikir tentang suaramu yang tak asing. Tak mudah bagiku untuk mengingatnya kembali. Tetapi, bukan berarti, itu sulit untuk diingat."


"Lalu, apa yang kamu pikirkan tentang suaraku?"

__ADS_1


"Penculikan? Pembunuhan?"


"Jadi, kamu tahu kalau aku adalah seorang pembunuh?"


"Apa kau orangnya yang ingin membunuh Zion?" Terka Anna. Carlos tersenyum.


"Kenapa kamu berpikir aku yang membunuhnya?"


"Bukankah, waktu itu Jay yang menyuruhmu menculik Zion?" Tanya Anna.


"Aku bukan type orang yang lupa akan segalanya. Jadi, katakan padaku dimana Zion sekarang!" Anna mengarahkan pistol kearah Carlos.


"Anna mengira kalau Jay yang menyuruhku untuk menculik Zion? Jadi, dia tidak tahu kalau Zion adalah cucu dari seorang miliader?" Batin Carlos.


"Kenapa kamu diam saja? Kamu tak takut kalau peluru ini bisa menembus isi kepalamu?" Tatapan mata Anna tajam.


"Lakukan saja! Aku rasa kamu cuman menggertakku. Bukankah kamu membutuhkanku untuk menggali informasi tentang Jonathan?" Ujar Carlos. Anna menurunkan pistol yang ia pegang.


"Kamu tahu, aku tidak akan membunuhmu. Dasar menyebalkan."


"Kenapa kamu tidak menanyakan Jay langsung? Kenapa bertanya padaku?" Ucap Carlos. Anna menghela nafas.


"Terima kasih atas pistolnya." Ucap Anna. Ia hendak meninggalkan Carlos.


"Mau kemana?"


"Pak, tolong turunkan Saya di kedai kopi itu!"


"Baik, nona." Ucapnya lembut. Anna turun untuk menemui Jay. Ia melihat Jay membayar kopi yang Jay pegang. Anna menatap tajam pada Jay, saat pria itu secara tak langsung melihatnya. Jay kaget, ketika melihat sosok gadis yang ia cari selama ini.


"Anna!" Seru Jay. Ia mengusap kedua mata untuk membuktikan, ia tak bermimpi melihat Anna. Gadis itu tak peduli dengan sikap Jay. Anna menatapnya dengan tajam.


"Kamu benar, Anna? Kamu.. Bagaimana denganmu sekarang? Apa masih merasakan sakit? Aku akan menghubungi dokter untuk..."


"Tidak perlu. Jantungku sudah tidak apa-apa. Aku bertemu dengan dokter yang bisa menyembuhkanku." Ujar Anna.


"Aku senang mendengarnya."


"Oh ya, kamu mau minum apa? Aku akan memesankan minuman untukmu."


"Tidak perlu. Kebetulan, ada sesuatu yang harus kutanyakan padamu."


"Baiklah. Ayo, kita duduk dulu!" Ujar Jay. Jay secara acak memilih tempat duduk. Anna duduk di hadapan Jay.


"Kamu terlihat sehat." Ucap Jay sambil tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih atas perhatianmu."


"Kamu yakin tak mau minum sesuatu?"


"Aku tak mau berbasa-basi. Jay, sewaktu aku terbaring lemah, aku mendengar kamu menculik Zion. Katakan padaku, dimana dia sekarang?" Tatapan mata Anna tajam. Jay menyeringai, seakan memiliki rencana terselubung dalam benaknya.


"Aku akan memberitahumu. Tetapi ada satu syarat."


"Syarat? Apa itu?"


"Menikahlah denganku."


"Menikah? Jay, cinta tak bisa dipaksakan. Meskipun kita menikah, aku tak bisa memberikan hatiku padamu."


"Takdir tidak ada yg tahu, Anna. Sekarang, kamu bilang tidak. Tetapi bagaimana kalau bertahun-tahun selanjutnya kita selalu menghabiskan waktu berdua? Cinta bisa karena terbiasa. Kamu bisa mencintaiku karena sering menghabiskan waktu bersamaku, sama halnya kamu dengan Zion yang telah lama bersama."


"Cinta tak sesederhana itu, Jay. Aku tidak percaya akan pepatah itu. Bagiku, hanya Zion, pria yang kucintai dalam hidupku." Tegas Anna.


"Aku adalah pria yang menjadi takdirmu dan Zion hanyalah masa lalumu."


"Terserah apa yang kamu pikirkan. Aku juga akan melakukan apa yang kuinginkan." Anna mengambil pistol dari dalam saku, kemudian ia mengarahkan pistol tersebut pada Jay.


"Beritahu padaku dimana dia, atau..."


"Tembak saja! Daripada kamu menembak kepalaku. Lebih baik tembak aku disini." Ucap Jay, ia mengarahkan pistol ke arah jantungnya.


"Ayo tembak, Anna!"


"Kamu mencobaiku. Kamu pikir aku tak bisa menembakmu?" Tatapan Anna mengarah pada pelatuk yang ingin ia sentuh.


"Kamu akan lihat, apa yang akan terjadi pada Zion kalau aku mati."


"Kenapa kebanyakan para pria mengancam seseorang sepertiku?" Anna mendengus kesal.


"Menikahkah denganku, Anna. Dengan begitu, aku akan melepaskan Zion." Senyuman merekah pada bibir Jay.


"Kamu tak punya pilihan lain, Anna." Ujar Jay. Anna memijat pelipisnya. Kemudian, Anna menatap Jay.


"Apa ada pilihan lain, selain menikah denganmu?"


"Aku hanya ingin kita menikah." Ucap Jay.


"Baiklah. Mari, kita menikah!" Ujar Anna tanpa ekspresi, sementara itu, Jay menatap Anna dengan perasaan bahagia.


"Anna, sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku selamanya." Bisik Jay. Dibalik keterpaksaan Anna terhadap Jay, Zion terbangun dalam keadaan yang terikat. Ia tak tahu dimana dia berada. Diwaktu yang bersamaan, seseorang membuka pintu untuk menghampiri Zion. Zion sedikit terkejut, siapa yang ia lihat. Pria yang menatap Zion membawa tongkat baseball. Pria itu menyeringai.

__ADS_1


"Zion, kamu harus mati." Bisiknya.


__ADS_2