Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
CHAPTER 44 ARTI CINTA


__ADS_3

Dikala senja menanti, seorang gadis duduk termenung seorang diri di Balkon, menatap langit yang mulai gelap. Gadis itu tersenyum, ia memejamkan mata, merasakan sinar hangat yang menyentuh kulitnya.


Ia berharap, akan ada cahaya lainnya, yang senantiasa menerjang hatinya yang sendu. Segala rasa penat didada, hilang tak tersisa, terkikis oleh cahaya yang menaunginya. Gadis itu memiliki ketegaran hati yang tak terbatas.


Gadis rupawan yang membuat para pria tak berkutik. Gadis itu adalah Anna. Anna berharap besok adalah hari baiknya bersama pria yang ia cintai. Meskipun ia tak mau kejadian tempo hari terulang lagi, tetapi biarlah takdir yang membawa mereka bersama.


Anna menghela nafas ketika memikirkan satu nama pria, Zion. Zion telah memperbudak hatinya yang tak bisa ia lepas. Pria itu mampu menghadirkan senyuman dan kesedihan dalam satu waktu. Ia tahu, hatinya terlalu rapuh untuk memikirkan pria tersebut. Tak ada kata yang tak terucap dari bibir manisnya mengenai Zion.


Cintanya tak terbatas, menenggelamkan dirinya dalam hamparan sesaat. Cinta putih yang tertanam dalam hatinya, tak pernah salah. Namun, segala perjuangan ia lakukan, agar mereka bersatu kembali. Anna kembali tersenyum, ia melihat fotonya bersama Zion. Tak pernah lelah untuk terus menatapnya.


Rasa kantuk menguasai dirinya. Ia berdiri, kemudian membasuh wajah. Sensasi dingin menyadarkannya sesaat. Bibirnya tersenyum, memperlihatkan sederet gigi yang putih nan cantik. Anna menghela nafas seketika. Lalu, ia mengambil langkah untuk meninggalkan kamar yang ia cintai. Seorang Asisten Rumah Tangga menyapanya. Anna membalas dengan senyuman yang ramah.


"Nona mau kemana?" tanya Mira.


"Toko Buku. Aku ingin membeli beberapa buku," ucapnya halus.


"Oh ya, aku tidak melihat kakakku. Kemana dia?"


"Semenjak pernikahan nona Anna, saya tak pernah melihat Tuan Jonathan."


"Aneh. Aku harus mencari tahu apa yang direncanakan Jonathan," pikir Anna. Langkahnya meninggalkan Asisten Rumah Tangga tersebut. Ia memanggil supir pribadi lalu memintanya untuk mengantarkan ke Toko Buku.


Sesampai disana, ia berjalan menelusuri setiap lorong yang penuh dengan buku. Tatapannya terhenti pada sebuah buku. Ia mengambil buku tersebut, namun tangannya tak bisa menggapai.


"Mau membeli buku, ya?" ucap seorang pria sambil mengambil buku tersebut. Jantung Anna berirama kencang. Pria itu tersenyum, meletakkan dagunya pada leher Anna.


"Zion...," lirih Anna.


"Aku tahu kamu disini, jadi aku sengaja mengikutimu," ucapnya,  ia tak ingin melepaskan gadis itu begitu saja. Bibir Anna cemberut. Zion tersenyum.


"Hanya ini yang bisa kulakukan untuk melindungimu," bisik Zion. Anna merasakan nafas hangatnyaa telinganya.


"Pe..Pergilah dulu!" pipi Anna memerah.


"Kalau gak mau, gimana dong sayang?" goda Zion. Ia menatap Anna dengan berani.


"Apaan sih... Ya sudah, aku yang akan pergi."


"Coba saja, kalau kamu bisa lepas dariku," ujar Zion.


"Kamu mencobaiku! Baiklah. Jangan menyesal, ya, sayang," ucap Anna. Ia memutar tubuhnya, namun Zion menahan Anna. Tak mudah untuk melepaskan diri dari Zion.


"Ayo, sayang, kamu bisa belajar beladiri dengan mudah, kenapa tidak bisa melepaskan diri dariku!?" Zion terkekeh. Anna kesal.


"Kamu yang memaksaku, ya?" Anna menginjak kaki Zion, karena lengah, ia berhasil meloloskan diri.

__ADS_1


"Sekarang aku menang!" seru Anna.


"Ah, sayang curang."


"Tidak ada yang curang untuk membela diri, sayang," ucapnya, ia tersenyum puas. Zion tersenyum. Lalu, ia menarik Anna dalam pelukannya. Anna merasakan kehangatan yang selalu ia rindukan.


"Zi..Zion.. Ini di Toko Buku."


"Kenapa? Kamu malu, ya? Toh, kita gak berciuman, cuman pelukan saja," ujar Zion. Ia tersenyum manis. Anna tersenyum malu-malu.


"Apaan sih?"


"Disini sepi," celetuk Zion dengan nada santai.


"Lalu.. ka..kamu mau apa?" tanya Anna gugup.


"Cuman bilang disini sepi."


"Hayoo lagi mikir apa?" goda Zion.


"Gak ada. Udahlah, aku langsung pulang saja setelah bayar ini buku."


"Gak cari buku yang lainnya?"


"Gak apa-apa, aku akan selalu menemanimu," senyuman mendarat pada bibir Zion.


"Oh ya, bukankah kamu suka novel berbau misteri, sayang?"


"Kamu masih ingat kesukaanku?"


"Mana mungkin aku lupa. Segalanya tentangmu, aku selalu ingat," ucap Zion. Wajah Anna memerah. Zion menarik Anna kembali dalam dekapannya. Kemudian, ia mencium kening Anna.


"Dan cintaku gak akan luntur sedikitpun," bisik Zion dengan tulus. Anna memasukkan rambut kebelakang telinga, ia terlihat malu-malu.


"Sayang!" panggil Zion.


"Ya?"


"Besok jangan lupa, ya, kencan kita," celetuk Zion.


"I..Iya..," Anna gugup.


"Tidak perlu make up juga tidak apa-apa. Aku suka kamu yang apa adanya," ucapnya tulus. Anna tersenyum.


"Tetapi.. Kalau aku tidak make up, gimana kalau ada wanita lainnya yang menggodamu? Aku ingin menjadi gadis paling cantik, sehingga tak ada satu orang pun yang berani mendekatimu."

__ADS_1


"Tetapi, bagaimana kalau para pria mendekatimu? Aku tak sanggup melihat tatapan mereka."


"Aku bisa menghajar para lelaki," ujar Anna.


"Tenaga pria lebih besar dari wanita, sayang. Aku tidak mau seujung kukumu terluka karena mereka."


"Tetap saja, aku tidak bisa kalau tidak pakai make up.


"Tetapi, sekarang kamu gak pakai make up."


"Ini karena aku hanya membeli buku dan langsung pulang. Aku tidak berpikir bertemu denganmu disini."


"Kalau tahu kita bertemu, aku tadi pakai make up, walau hanya tipis."


"Sudahlah, jangan memandangku begini. Aku tahu, aku aneh kalau tidak pakai make up."


"Kata siapa? Mau wajahmu hancur, aku tetap bilang kamu cantik."


"Kamu tahu kenapa?"


"Memangnya kenapa?"


"Karena cinta tak mengenal apapun, sayang. Kalau aku mencintaimu karena kamu cantik, itu bukan cinta," Zion menggenggam kedua tangan Anna.


"Kamu tahu orang buta?"


"Iya. Lalu?"


"Cinta ibarat seperti itu. Orang buta tak bisa melihat apa-apa, namun ketika dia jatuh cinta, ia tak bisa mengetahui bagaimana wajah orang yang ia cintai, namun hatinya yang bisa merasakannya."


"Itu yang kurasakan sekarang. Meskipun aku memiliki mata, tapi hatiku buta untuk mencintaimu. Aku hanya ingin berada disisimu, menghabiskan waktu denganmu, tak peduli seberapa bahayanya itu, aku tetap mencintaimu." Zion memeluk Anna. Anna tak bisa berkutik. Ia terlalu bahagia untuk bisa merasakan cinta mereka. Anna menenggelamkan wajahnya, seraya menutup kedua mata, merasakan kehangatan yang ia dapatkan.


"Wah, Ibu.. Lihat, mereka sepertinya sepasang kekasih!" ujar seorang anak yang melihat kemesraan Zion dan Anna. Zion melepaskan pelukannya. Kini, wajah mereka semerah tomat karena malu.


"Udah, jangan lihat! Kita pergi saja!" sang ibu menutup mata anaknya.


"Se..Sepertinya tempat ini kurang cocok buat kita," bisik Zion. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"S..Sepertinya be..gitu," ucap Anna gagap.


"Ya sudah, aku akan mengantarmu pulang. Kita lanjut besok. Oke?" Zion mengedipkan salah satu matanya. Anna memukul lengan Zion karena malu.


"Dasar bodoh!" Ucap Anna tersenyum malu-malu, seraya meninggalkan Zion. Pria itu tersenyum sambil melangkah lebih cepat.


"Sayang.. Besok akan menjadi kencan pertama kita yang terindah," batin Zion. Takdir mengikat cinta mereka. Tak ada yang bisa memisahkan, jika Tuhan yang mempersatukan para umatnya. Mungkin banyak gejolak disekitarnya, namun percayalah, takdir akan membawa kembali. Namun, menunggu takdir bukanlah pilihan yang tepat. Berusahalah, dan jangan menyerah, asalkan jalan yang dipilih bukan jalan yang salah!

__ADS_1


__ADS_2