Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Titik Terang (1)


__ADS_3

Suasana kota dipenuhi dengan kendaraan bermotor. Terik matahari menciptakan perpaduan yang sempurna dengan sensasi panas yang menggelegar. Beberapa dari pejalan kaki merasakan hawa panas tersebut untuk mempercepat langkah mereka agar kulit mereka tidak terbakar. Beberapa yang lainnya, memilih untuk menggunakan payung atau berdiam diri di tempat yang dingin.


Seorang pemuda nekat berlari sambil bertabrakan dengan para pejalan kaki. Ia memilih tak menggunakan payung. Karena motor yang ia miliki memiliki suatu kendala, ia mengambil jalan manual, dengan berjalan kaki ketempat tujuannya. Sesampai disana, ia memasuki sebuah bangunan yang kokoh, namun kehadirannya menjadi sorotan. Dua orang satpam menahan pemuda tersebut, karena terlihat mencurigakan.


Namun, pemuda itu menunjukkan sebuah kartu berwarna emas yang terdapat barcode. Salah satu diantara dua satpam mengecek barcode yang ada pada kartu tersebut melalui ponselnya. Disana, ia menemukan identitas dan juga foto. Karena foto tersebut sama seperti rupa dari pemuda itu, mereka membiarkannya masuk. Pemuda itu berjalan dengan tenang, seakan ia sudah hafal dengan tata letak dari setiap ruangan. Ia melihat sebuah ruangan khusus CEO, langkahnya terhenti. Ia mengetuk pintu, lalu masuk kedalam ruangan tersebut.


"Permisi, Tuan. Saya sudah mendapatkan informasi yang sesuai anda minta." Ujar pemuda itu.


"Bagus. Jadi, bagaimana hasilnya?"


"Saya menemukan sesuatu yang aneh. Ketika saya mencari pelaku yang menancapkan paku pada mobil anda (baca bagian: 'Disisi nya'), identitasnya tidak diketahui. Saya berpikir, dia adalah seorang penyelundup."


"Penyelundup? Cara yang sempurna untuk menghilangkan bukti. Dia pasti bukan orang yang sembarangan. Sepertinya, aku berhadapan dengan orang yang menarik." Sudut bibirnya naik.


"Saya akan mencari tahu soal ini, Tuan. Saya tahu, meskipun ini rumit, namun saya tahu tempat yang bisa mencari informasi tentang penyelundupan. Berikan saya waktu, Tuan."


"Kau tahu dimana tempat itu, Chris?"


"Saya akan membagikan lokasi tentang tempat itu."


"Baiklah. Sekarang kau boleh pergi!"


"Nanti malam, bawa aku kesana."


"Baik, Tuan." Chris pergi dari tempat itu. Sementara itu, Jay, pria yang berbicara pada Chris membatalkan semua pertemuannya untuk nanti malam. Ia tidak boleh menganggap enteng masalah itu.


*********************************


Malam hari nya...


Mobil Jay berhenti di sebuah mini bar, yang letaknya kurang lebih sepuluh kilometer dari perusahaannya. Ia bersama Chris memasuki mini bar dengan tampilan yang classic."Hanya minibar biasa." Batin Jay.


"Wah, ada pelanggan baru!" Seru seorang wanita bernama Vera. Ia biasa dipanggil Madam Vera.


"Bisa saya bantu, tuan tuan yang tampan? Saya bisa membantu kalian untuk mencari wanita yang kalian butuhkan. Tinggal sebutkan apa ingin kalian..."


"Kami mencari seseorang, nyonya." Ujar Chris, memotong percakapan Madam Vera.


"Panggil saya madam Vera."


"Baiklah, Madam Vera, bisa beritahukan kami tentang pria bernama David?"


"Dia sudah meninggal. Untuk apa kalian mencari tahu tentangnya?" Raut wajah Vera mendadak berubah. Jay merasakan ada sesuatu yang tak beres.

__ADS_1


"Aku dengar dia adalah seorang informan. Bagaimana jika kau memberitahukan pada kami?" Bisik Jay.


"Aku tidak tahu apa-apa soal dia. Pergi sana! Kalian datang ketempat yang salah." Madam Vera kaget saat mereka mengetahui siapa sosok David. Ia takut jika mereka adalah polisi. Bukan takut karena polisi mau menangkap David. Masalahnya, minibar yang ia dirikan adalah illegal. Ia tidak ingin polisi mengetahui itu.


"Chris, bawakan aku beberapa orang untuk menghancurkan tempat ini! Kira-kira dua puluh orang. Jangan sampai ada yang tersisa." Jay tersenyum miring.


"Baik, Tuan."


"Tunggu! Jangan, hancurkan tempat ini! Hanya tempat ini yang menjadi pekerjaanku. Jika kalian menghancurkannya, aku tidak bisa menghasilkan uang apa-apa." Madam Vera bersujud, memohon pada Jay.


"Kalau begitu, beritahukan padaku dimana dia!" Ujar Jay. Lalu, ia berjalan mendekati Madam Vera.


"Sebelum, kamu menyesal." Bisik Jay sambil mendongakkan dagu wanita tersebut. Ia menatap tajam kearahnya sambil tersenyum sinis.


"A...Apa ka..kalian adalah polisi?" Tanya Madam Vera. Ia masih belum pindah dari posisinya yang bersujud.


"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Cepat lakukan saja! Kau ingin tempat ini hancur, ya?" Ujar Jay.


"Ba...Baiklah. A..Aku akan memberitahu kalian." Ucap Madam Vera terbata-bata.


Madam Vera menunjukkan kamar no. 07. Disana ia mengatakan jika David ada didalam.


"Jika berani menipu, kami tidak akan tinggal diam!" Ujar Chris menggertak.


"A...Aku tahu. Tetapi dia didalam kamar sini." Ucap Madam Vera. Chris terlebih dahulu membuka pintu kamar tersebut. Jay berada dibelakang Chris. Mereka masuk dan menemukan seorang pria botak yang bermain-main dengan tiga orang wanita. Keduanya, telah mengerti apa yang ingin mereka lakukan.


"Siapa kalian?" Tanya pria botak tersebut.


"Chris!" Panggil Jay.


"Saya mengerti, tuan." Chris seolah mengerti dengan kode yang diberikan oleh Jay. Ia mendekati pria botak tersebut, lalu menodongkan pisau. Ketiga wanita itu teriak histeris. Mereka kabur begitu saja, tanpa mempedulikan pakaian mereka.


"Berani sekali kalian mengganggu kesenanganku!" Pria botak bernama David tersebut tampak geram.


"Berani kau membentaknya!" Chris semakin dekat kearah David.


"Katakan, apa mau kalian?"


"Beritahu kami soal penyelundup tanpa jejak. Orang itu bahkan tidak teridentifikasi di negara ini." Terang Jay.


"Seorang penyelundup? Ah, mungkinkah itu dia?" Pikir David.


"Kau tahu siapa dia?" Tanya Jay.

__ADS_1


"Aku tidak tahu namanya. Tetapi aku tahu tempat tinggalnya sementara." Ujar David.


"Aku bisa memberitahukan dimana dia berada."


"Kamu mencoba kabur? Jangan harap!" Ujar Jay.


"Tidak! Aku tidak!"


"Chris!" Panggil Jay.


"Baik, tuan." Chris mengerti apa yang ingin dilakukan. Dia mengambil sebuah benda dari saku nya yang selalu ia bawa. Ia mengikat David dengan sangat cepat, seolah-olah dia sudah terbiasa dengan pekerjaan semacam itu.


"Bawa dia!" Seru Jay.


"Baik, Tuan." Chris membawa David. David tak bisa berkutik lagi.


*******************************


Ditempat yang lain, seorang pria mencoba melarikan diri. Namun, beberapa pria memegangnya dan pria tersebut tak bisa berkutik.


"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi darisini!" Seru pria tersebut.


"Lepaskan dia!" Ujar seorang pria paruh baya pada para pengawalnya. Mereka melepaskannya.


"Pak tua, apa kau yang menculikku?"


"Apa kau bilang, pak tua? Hei, bocah, kau harus bicara yang sopan dengan yang lebih tua.


"Kenapa aku harus berbicara yang sopan pada seorang penculik? Biarkan aku pergi dari sini! Aku ingin menemui pacarku."


"Karena aku yang menyelamatkanmu. Dasar, bocah, tidak ada sopan-sopannya!"


"Kau pikir aku bodoh? Kau sendiri yang menyuruh orang untuk membawa ku ke mobil."


"Kau memang ya, bocah tidak tahu terima kasih! Kau harus berterima kasih padaku. Karena bantuanku ini, bisa membuatmu aman. Kau tidak tahu, ya, banyak sekali orang yang ingin mencelakaimu. Jika bukan karena aku, kau sudah berada ditangan mereka."


"Aku tidak perlu perlindungan siapapun, Pak Tua. Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri. Toh, meskipun aku ada ditanganmu atau mereka sama saja."


"Dasar, bocah keras kepala!"


"Namaku bukan bocah. Namaku Zion." Zion mendengus kesal karena berkali-kali dipanggil bocah.


"Kamu juga tidak memanggil namaku dengan be.."

__ADS_1


"Aku tidak tahu kau siapa, tetapi saat ini aku ingin bertemu dengan pacarku. Dia pasti sedang menungguku." Ujar Zion, memotong pembicaraan pria paru baya tersebut. Zion mencari cara apapun untuk keluar dari tempat itu. Ia kebingungan karena tempat tersebut sangat besar, bahkan tiga kali lipat lebih besar dibandingkan kediaman Anna. Ia berjalan kesana-kemari untuk mencari pintu. Namun, pria paruh baya tersebut memberi kode pada pengawalnya untuk segera menahan Zion. Mereka pun menurutinya.


"Lepaskan aku! Lepaskan!" Teriak Zion. Ia terus memberontak. Batinnya mengatakan jika ia akan kesulitan bertemu dengan Anna.


__ADS_2