
#Flashback ketika hari pembagian kelas
Hari itu adalah hari pembagian kelas untuk seluruh murid Jakarta International School.
Untuk murid baru yang diterima di kelas sepuluh, kertas pembagian kelas diletakkan di GOR. Pembagian kelas MIPA dan IPS pun dipisah supaya lebih mudah untuk mengetahui mereka ada di kelas apa.
Sorakan senang para murid terdengar menggema di dalam GOR yang tidak kedap suara itu. Beberapa bertos ria karena bisa satu kelas dengan temannya, beberapa lagi senang karena bisa masuk ke kelas unggulan.
Untuk murid kelas sepuluh yang naik kelas sebelas dan murid kelas sebelas yang naik kelas dua belas, pembagian kelasnya menggunakan kertas yang ditempel di masing-masing kelas yang akan menjadi kelas baru mereka.
Derap langkah kaki dan langkah lari terdengar beriringan di sepanjang koridor-koridor kelas.
Beberapa murid yang sudah menemukan kelas baru mereka memilih duduk sembarangan di depan kelas. Berbincang-bincang dengan teman baru ataupun teman lama mereka yang menjadi satu kelas. Membuat koridor kelas menjadi ramai dengan celotehan para murid.
Seorang murid perempuan terlihat berjalan pelan sendirian sambil menunduk menatap jalanan di depannya, tidak terganggu dengan kebisingan yang ada.
Poni rata cewek itu terlihat menutupi wajahnya yang terus menunduk. Rambut panjangnya tergerai dan sesekali tersibak angin membuat cewek itu harus membenarkan posisi rambut beberapa kali.
Cewek itu adalah Ayona Talitha Putri.
Yona mendongakkan kepalanya menatap sebuah papan pengumuman di depan sebuah kelas lalu ia melangkahkan kaki ke kelas itu. Kelas XI MIPA 1.
Yona menyeruak diantara kerumunan orang yang berkumpul di papan pengumuman itu. Membuat beberapa orang mendecak kesal karena posisi mereka terdorong ke belakang.
Begitu sampai di depan papan pengumuman, mata bulat Yona langsung menyapu deretan nama yang tertera di kertas yang ditempel pada papan pengumuman itu.
Sampai di nama terakhir, tidak ada nama Yona tertera disana.
Yona menunduk, berjalan keluar dari kerumunan dan pergi menuju ke kelas berikutnya. Kelas XI MIPA 2.
Yona menghela nafas pelan, bibirnya melengkung ke bawah. Sungguh, Yona merasa kecewa dirinya tidak masuk kelas XI MIPA 1.
Yona ingin bisa masuk ke kelas unggulan, setidaknya ia ingin merasakan ada di sekitar orang-orang jenius. Tapi apa daya, mungkin memang Yona tidak sepintar itu hingga bisa masuk kelas unggulan.
Yona meneguk ludahnya dengan susah payah, mencoba membesarkan hatinya yang agak kecewa. Yona menghembuskan nafasnya pelan, mencoba bersabar.
Yona memantapkan langkahnya, segera menyeruak di kerumunan papan pengumuman XI MIPA 2. Kali ini papan pengumuman XI MIPA 2 tidak seramai XI MIPA 1, mungkin karena para murid sudah bisa menebak mereka masuk kelas apa. Jadi, mereka langsung menuju kelas itu.
Kali ini, mata Yona dengan cepat memeriksa nama-nama yang tertera.
Nihil
Yona meneguk ludah sekali lagi, masih mencoba tenang. Lagipula kelas XI MIPA 2 sampai kelas XI MIPA 5 tidak ada bedanya. Setahu Yona untuk kelas selain XI MIPA 1 tidak dikelompokkan berdasarkan nilai, tetapi diacak.
Yona membenarkan posisi tas punggungnya, mulai melangkah kembali ke kelas selanjutnya. Kelas XI MIPA 3.
Posisi kelas XI MIPA 1 sampai kelas XI MIPA 3 ada di dalam satu gedung dan langsung bersebelahan. Selain itu posisi gedungnya juga sangat dekat dengan lapangan dan koperasi sekolah. Ini membuat para murid akan senang jika ada di kelas itu karena aksesnya yang mudah. Jika ada upacara bendera tidak perlu jauh-jauh dan jika ingin membeli makanan hanya perlu ke koperasi yang berbatasan beberapa gedung saja. Itu sangat strategis.
Yona berjalan menunduk, menghindari tatapan murid lain yang sudah nyaman di tempat mereka karena sudah menemukan kelas baru mereka.
Dengan langkah ragu-ragu, Yona melewati gerombolan murid perempuan yang berkerumun di sekitar kelas XI MIPA 3 dan langsung menuju papan pengumuman.
Yona mengambil nafas sebanyak mungkin sebelum membaca deretan nama di depannya.
Telunjuk Yona terulur ke kertas dihadapannya. Mengecek satu persatu nama yang ada disana supaya tidak ada yang terlewat.
Lagi-lagi nihil. Nama Yona sama sekali tidak muncul.
Yona mencuatkan bibirnya kesal. Kelas unggulan, dia tidak masuk. Kelas dengan tempat strategis juga tidak masuk.
"Aish, nyebelin banget," gumam Yona dan mulai berjalan pergi.
Sekarang, dia harus mengecek ke kelas XI MIPA 4 dan XI MIPA 5 yang berbatasan gedung laboratorium Kimia. Yona memanyunkan bibir bawahnya sambil menendang batu kecil di dekat kakinya melampiaskan kekesalannya.
"Woi, apaan, anjing!"
Yona yang mendengar suara ketus itu tersentak, mata bulatnya melebar dengan mulut menganga.
Seorang cowok terlihat mengumpat di tempatnya karena ia terkena batu yang ditendang Yona. Cowok itu mengambil batu yang tadi mengenai wajahnya dan melempar batu itu jauh-jauh dengan kesal.
"Santai aja kali. Kalo kena muka gue gimana?"
Seorang cowok terlihat tersenyum miring sambil memberikan tatapan tajam ke arah cowok yang melempar batu tadi. Sementara cowok yang tadi melempar batu menggerak-gerakkan bibirnya, mengomel.
"Batu itu yang salah, njir!"
Cowok itu mengumpat lagi.
Yona menegang, takut ketahuan jika dialah yang menendang batu itu.
Yona menggigit bibir bawahnya sejenak, mencoba tenang dan berpikir. Apa sebaiknya ia kabur saja? Pasalnya di depan Yona sekarang bukan cuma dua cowok melainkan tujuh cowok tinggi yang terlihat menakutkan bagi Yona.
Ada dua orang yang duduk di kursi kayu, dua orang lagi bersandar di dinding lab Kimia, dua orang berdiri sambil bersedekap, dan satu orang yang duduk bersimpuh di lantai.
Yona tidak bisa melihat wajah mereka semua karena posisi mereka yang membelakangi Yona, tapi Yona pikir tidak akan baik-baik saja jika ia tetap disitu.
Yona membalikkan badan, berjalan dengan berjinjit supaya tidak menimbulkan suara yang akan membuat tujuh cowok didepannya tersadar.
Tapi, sebuah suara serak mengagetkan Yona
__ADS_1
"Eh, Yona? Yona, kan?"
Yona tersentak kaget. Dengan gerakan patah-patah, dia membalik badannya ke arah suara yang memanggilnya.
"Beneran Yona toh? Udah ketemu kelasnya? Kelas apa?"
Cowok jangkung yang menyapa Yona itu berjalan mendekat. Yona mendongakkan kepalanya menatap cowok jangkung yang kini berjarak tiga langkah darinya itu.
"Lah, Lucas? Ngapain lo disini?"
Mulut Yona ternganga sejenak, tapi kemudian langsung tersenyum riang, merasa lega bertemu salah satu teman sekelasnya dulu.
"Biasa, cuma kumpul sama anak basket"
Lucas menunjuk kumpulan cowok-cowok tinggi yang ada di belakangnya dengan telunjuk.
Yona mengangguk-angguk mengerti. Pantas saja muka-muka mereka tidak asing untuk Yona, ternyata mereka anak basket.
"Mau gabung?" Tanya Lucas memajukan diri dan tersenyum miring.
Yona menatap Lucas tajam. "Yakali gue gabung. Pala lo kapan-kapan dipake gih. Udah kelas sebelas tahu."
Yona menunjuk-nunjuk Lucas dengan telunjuknya. Mengomel dengan nada agak mengejek. Sementara Lucas malah tertawa keras, menepuk keningnya sendiri membuat Yona mengatupkan mulutnya tak mengerti.
"Iya, Bu. Iya, maafkan saya karena tidak pandai," kata Lucas sambil menyatukan kedua telapak tangannya meminta maaf dengan nada di buat-buat.
Yona melengoskan wajahnya dan mendengus sebal membuat Lucas malah makin tertawa lebar karena merasa berhasil mengerjai temannya itu.
"Aih, Bu Guru marah? Maaf, Bu." Lucas tersenyum lebar. Ia mengangkat salah satu kakinya dengan kedua tangan menjewer telinganya. Pura-pura melakukan hukuman yang biasanya dilakukan seorang murid jika nakal.
Yona melirik sekilas yang kemudian dia malah menjitak kening Lucas karena geram. Lucas tertawa lagi dan menurunkan kaki serta tangannya. Yona mencibir sebal lagi.
Mendengar kebisingan yang ada diantara kedua orang di depan mereka, para pemain basket jadi penasaran dan ikut mengelilingi Yona membentuk setengah lingkaran.
"Bahas apaan nih? Ketawa-ketawa segala," tanya seorang cowok bermata sipit.
"Hoi, tawa lo ngeri tau," kata seorang cowok berahang tegas sambil bergidik ngeri.
"Kenalin, gue Wowon, kelas XI MIPA 3"
Wowon dengan percaya diri mengulurkan tangannya ke arah Yona, mengajak berkenalan.
"Baru ketemu, woi!"
"Buaya kembali beraksi!"
"Ngenggg ngenggg!!!"
"Pemimpin para buaya memang beda!"
"Moga ceweknya gak mau"
"Mbak, jangan mau sama buaya ya. Dia mah semua cewek diembat"
"Betul, mbak. Mending sama saya aja. Aman deh"
"Aman-aman, pala lo!"
Para pemain basket rusuh begitu saja, terus berkata cepat tanpa bisa Yona cerna. Yona menolehkan kepalanya ke kanan-kiri, melihat para cowok basket yang terus menyahut satu sama lain. Yona meneguk ludah, situasi ini tidak menyenangkan.
Lucas yang menyadari tatapan bingung Yona jadi tertawa tertahan. Ia agak maju, "woi, udah. Dianya jadi bingung nih."
Para cowok basket langsung terdiam, mereka dengan serentak memandang Yona yang bergerak-gerak kikuk.
Yona menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal, merasa malu juga jika ditatap para cowok tampan yang jadi cowok paling banyak diincar banyak cewek. Apalagi tinggi badan para anak basket yang sangat berbanding jauh dengan tinggi Yona. Yona terlihat begitu kecil diantara para cowok jangkung disekelilingnya.
"Oke, lebih santai. Nama gue Wowon." Wowon menjulurkan tangannya lebih santai kali ini. Tidak lupa dengan senyuman andalan yang selalu membuat para cewek terpesona.
Yona membalas jabatan tangan dari Wowon dengan agak canggung sambil tersenyum kecil.
"Kenalin, gue Hoshi," kata seorang cowok bermata sipit sambil melambaikan tangannya.
"Gue Mingyu." Cowok berahang tegas itu menunjuk dirinya dengan jempol sambil tersenyum miring.
"Nah, kalo gue Jaemin." Kali ini seorang cowok dengan rambut yang agak berantakan menjulurkan tangannya. Yona menjabat tangan cowok itu sambil tersenyum sekilas.
"Kalo yang lagi duduk dan gak tertarik itu June sama Nino. Yang kanan itu June, yang kiri itu Nino."
Lucas memperkenalkan dua orang yang masih tetap di tempatnya, tidak tertarik dengan keributan yang ada dan malah sibuk bermain ponsel.
Yona melongokkan kepalanya, melihat cowok yang ditunjuk Lucas.
Mata bulat Yona melebar dengan mulut menganga kecil. Tatapan Yona terpaku pada seorang cowok di sebelah kiri yang terlihat menyandarkan bahunya ke tembok dibelakangnya dan sibuk memencet layar ponselnya.
Tampan. Itu yang langsung terlintas di kepala Yona saat itu.
"Sekarang kenalin nama kamu dong!"
Wowon memajukan dirinya ke arah Yona sambil mengulurkan tangannya, tapi Yona sama sekali tidak meresponnya. Tatapan Yona masih terus terpaku pada cowok yang jauh didepannya.
__ADS_1
"Na.........Yona!" Panggil Lucas menyadarkan Yona yang terbengong.
Yona mengerjap, menggelengkan kepala, menyadarkan dirinya dari lamunan.
"Eh? Kenapa?" Tanya Yona linglung sendiri dan menolehkan wajahnya ke arah Lucas.
Lucas tersenyum jahil. "Suka sama yang mana lo? June atau Nino?" Tanya Lucas dengan nada berbisik.
Mata Yona melebar dengan pipi yang langsung bersemu merah. Ia mencuatkan bibir kecilnya, merasa malu dipergoki menatap cowok basket sampai segitunya.
Lucas yang melihat wajah merah Yona langsung tertawa kembali, gemas sendiri dengan ekspresi Yona.
"Woi, gue dikacangin," kata Wowon sebal sambil menyedekapkan tangannya di depan dada.
"Dunia serasa milik berdua." Mingyu sudah bernyanyi-nyanyi dengan tak jelas sambil sesekali berdehem dengan berlebihan.
"Apalah daya Wowon yang bagaikan lalat." Jaemin tersenyum mengejek ke arah Wowon yang tidak biasanya tak dihiraukan seorang cewek membuat Wowon mengumpat tertahan.
Sementara Nino ditempatnya mendongakkan kepala. Ia merasa agak terganggu dengan kebisingan yang ada. Alis Nino terangkat sebelah, memandang seorang cewek mungil yang dikelilingi para cowok basket dan terlihat kikuk.
Yona menggigit bibir. "Nama gue...."
"Jangan gangguin cewek melulu"
Perkataan Yona terpotong begitu saja karena Nino yang datang mendekat dan menyeruak diantara kerumunan yang mengelilingi Yona. June mengekor di belakang Nino, hanya ikut melongok dari sela-sela yang ada dan tidak berminat ikut campur.
"Jangan gangguin cewek terus. Gak capek apa?" Nino berkata sekali lagi, memandang satu persatu teman sesama pemain basketnya itu.
Yona menatap Nino tak percaya. Mulutnya menganga dengan wajah yang tiba-tiba bersemu merah. Iris mata kecoklatan Yona terlihat berbinar-binar menatap cowok tampan didepannya itu.
Jaemin berdehem, "persaingan makin sengit, bung!" Katanya memanas-manasi diakhiri suara-suara tidak jelas yang ia buat.
"Hm, benar sekali. Kira-kira siapa yang akan menang?" Hoshi menimpali sambil mengepalkan tangan dan menjadikannya mic.
"Apa kabar dengan bung Wowon? Apakah masih hidup?" Mingyu kali ini ikut menjadikan kepalan tangannya sebagai mic sambil menatap Wowon yang masih diam.
"Heh, Nino main nyerobot ae!" Wowon berkacak pinggang, menatap Nino yang terlihat tak peduli.
Nino mendengus sejenak, tidak mempedulikan Wowon. Ia menyipitkan matanya, melihat nama yang tertera di baju seragam Yona.
"Ayona Talitha P?" Tanya Nino mengeja nama di baju seragam Yona.
Yona tersentak ketika Nino mengeja namanya. Entah kenapa wajahnya kembali bersemu merah dengan jantung berdegup kencang.
"Disebut namanya aja udah deg-degan. Astaga, gue," batin Yona merutuk pada dirinya sendiri.
"Ayona Talitha Putri?" Tanya Nino lagi mengingat-ingat.
Yona mengangkat kepalanya tapi kemudian mengangguk patah-patah dengan pipi yang masih memerah.
"Ah, lo masuk XI MIPA 5. Gue tadi liat nama lo disana." Nino menjentikkan jarinya, ingat pernah melihat nama lengkap Yona di papan pengumuman kelas XI MIPA 5.
Mulut Yona menganga sejenak dan kemudian dia tersenyum.
"Astaga, dia tahu nama gue padahal baru ketemu? Jodoh emang gak kemana!!!!!"
Yona memasukkan bibirnya ke dalam. "Makasih," katanya lirih.
"Gue juga kelas XI MIPA 5. Gue anterin aja yuk, daripada ntar ketemu buaya lagi," ajak Nino dengan menekankan kata buaya dan melirik ke arah teman-temannya.
"NGENGG!!!!"
"BRUM BRUM!!!"
"Ternyata Nino sudah mengisi bensinnya, gaes"
"Oh, sungguh sayang sekali Wowon"
"Eya-eya. Mbaknya jangan baper mbak"
"Mbak pegangan mbak pegangan. Awas jatoh, ntar sakit"
Yona kembali menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Ia mendongak menatap Lucas. "Gue duluan," katanya singkat dan mulai melangkahkan kakinya mengikuti Nino yang sudah berbalik dan menuju kelas XI MIPA 5.
Lucas mengangguk satu kali dan tersenyum kecil dengan tawa yang hampir menyembur jika tidak ia tahan. Sementara para anak basket terus berkoar-koar tidak jelas menyoraki drama yang ada dengan Wowon yang tersenyum masam karena merasa ditolak.
June bersedekap di tempatnya sambil menatap Nino yang berjalan menjauh. Entah kenapa June merasa sikap Nino agak berbeda dari biasanya. Kenapa Nino tiba-tiba mau mengantar Yona yang bahkan baru ia temui hari ini?
Yona berjalan pelan dan makin menundukkan wajahnya, menyembunyikan pipinya yang entah sudah semerah.
"Baru ketemu dan langsung dianter kaya gini? Beruntung banget gue. Jodoh didepan mata!!!"
Yona tersenyum kecil. Tidak masuk kelas unggulan ataupun kelas strategis pun tak apa, yang penting ketemu jodoh. Yona menggigit bibirnya, makin merasa malu tak karuan.
Lucas yang terus mengamati langkah Yona dan Nino tersentak, ia teringat sesuatu. "Na!!"
Yona yang mendengar namanya dipanggil jadi menghentikan langkahnya dan berbalik, begitu juga dengan Nino yang ada di depan Yona.
"Jangan baper ya, Na. Dia emang baik sama semua orang"
__ADS_1
#Flashback off
Dan begitulah. Hanya sesederhana itu pertemuan Yona dan Nino. Tidak ada hal-hal yang mencolok. Tidak perlu muluk-muluk. Karena terkadang, pertemuan yang sederhana, membawa dampak yang begitu besar di kesudahannya.