Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 51 Kenangan Pahit


__ADS_3

Anna berdiri didekat pepohonan yang rindang. Hawa dingin menerpanya dalam sekejab. Namun, tak menghentikan langkahnya untuk melihat sekeliling. Tak asing, itu kesan pertama yang ia pikirkan. Ia mencoba mengingat akan kenangan lalu yang terjadi disana. Namun sayangnya, tak menghasilkan apa-apa.


Anna melirik Jonathan sekilas, ia yakin ada sesuatu tentang pria itu. Potongan puzzle yang membuka tentang siapa Jonathan dimasa lalu, tak membuat nya putus asa. Meski berulang kali, kinerja otaknya tak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Ia terus berharap dan tak menyerah.


"Anna!" panggil Jonathan. Pria itu memperhatikan Anna sejak awal.


"Iya kak?"


"Kamu masih ingat tempat ini?"


"Masih," elak Anna. Gadis itu tak ingin Jonathan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Waktu itu kamu sedih karena teman-temanmu menjauhimu. Kamu menangis karena mereka mencuri permen-permenmu. Mereka mengambil permenmu, lalu membuang bungkusnya kearahmu. Tak ada yang bisa kamu lakukan. Saat itulah aku datang untuk menolongmu. Sepertinya, dari awal kita sudah ditakdirkan untuk bersama. Apa kamu ingat itu?"


"Ah... ehn.."


"Aku rasa kamu lupa karena kejadiannya sudah lama," Jonathan menyeringai sambil melirik Anna.


"Kak! Seperti apa aku dimata Kak Joe? Aku ingin tahu," tanya Anna tiba-tiba.


"Kamu adalah gadis kecil yang manis. Meski kamu bukan adik kandungku, namun aku sangat menyayangimu selayaknya seorang Kakak. Tetapi..," Jonathan menghela nafas.


"Tetapi apa?"


"Itu dulu."


"Lalu sekarang? Kak Joe membenciku?" Anna tertawa kecil.


"Aku tidak pernah membencimu."


"Lalu?"


"Aku mencintaimu," Jonathan menatap serius.


"Itu tidak mungkin," Anna tertawa geli mendengarnya.


"Kenapa tidak mungkin? Selama kita bukan saudara kandung, aku rasa gak masalah."


"Sebenarnya, apa yang kamu rencanakan?" batin Anna, menyipitkan mata.


"Anna, aku serius. Aku benar-benar mencintaimu," Jonathan memegang kedua tangan Anna. "Aku ingin kita menikah."

__ADS_1


"Maaf, Kak Joe. Selama ini aku anggap Kak Joe sebagai kakakku dan itu takkan berubah."


"Kamu menolakku?" Jonathan mengkerutkan kening.


"Maaf, Kak. Tetapi itulah kenyataannya."


"Apa itu karena Zion?" Jonathan menarik salah satu sudut bibirnya.


"Bukan dia, Kak," jawab Anna sedikit gugup.


"Aku yakin itu pasti karena dia," batin Jonathan curiga.


"Tidak boleh! Jonathan jangan sampai melukai Zion. Aku tidak akan tinggal diam kalau hal buruk menimpanya," ucap Anna dalam hati. "Kak!" panggil Anna.


"Ada apa?"


"Ayo kita pulang! Aku kemari hanya ingin bernostalgia saja," ucap Anna.


"Kenapa terburu-buru Anna? Kita masih setengah jam disini."


"Aku lupa kalau aku belum memberi makan Nathan," elak Anna.


"Kalau begitu, aku akan menelepon Mira untuk memberi makan Nathan."


"Anna, selama ini banyak pria mencoba mendekatimu. Biarlah hari ini, aku akan menjadi salah satu dari pria seperti itu," ucap Jonathan. Anna tak bisa berkutik. Ia tak tahu harus bagaimana.


Dalam waktu bersamaan, seorang wanita menemani anaknya bermain di tempat itu. Mereka begitu asyik tanpa memikirkan kehadiran Anna dan Jonathan. Namun, nada dering dari ponsel wanita itu menggetarkan jiwa Anna seketika. Entah kenapa, ia tak begitu asing dengan instrument lagu tersebut. Alunan musik piano yang indah tanpa disadari membuka luka lama yang telah lama sirna.


Kepala Anna berdenyut hebat. Ia menatap Jonathan lemah. Pria itu merasakan sesuatu tak beres terjadi pada adiknya. Sesekali, ia menepuk pipi Anna untuk memberikan kesadaran gadis itu dalam mata yang hampir tertutup. Tak membutuhkan waktu lama, Anna tak bisa mengontrol tubuhnya. Ia jatuh kedalam pelukan Jonathan.


°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°


Seorang gadis kecil yang mungil melihat teman-temannya bermain dengan keceriahan diwajah mereka. Wajahnya murung karena mereka tak mau bermain dengannya. Kepalanya menunduk menahan segala air mata yang ingin keluar.


"Lihatlah siapa ini!" seru gadis kecil bermata sipit. Kedua tangannya diletakkan dipinggang, ia menatap tak suka.


"Kenapa masih disini? Ingin main, ya?" ucap gadis kecil lainnya sambil menyeringai.


"Anak lemah sepertimu buat apa disini? Entar malah pingsan. Udah sana pergi!" usir gadis kecil yang memakai sepatu branded.


"Udah, sana pergi!" gadis kecil bermata sipit mendorongnya tak peduli akan perasaan gadis tersebut.

__ADS_1


"Udah, yuuk kita pindah aja mainnya! Aku gak mau melihat wajahnya disini," ajak gadis kecil bersepatu branded. Tak lama, mereka meninggalkan gadis malang itu sendirian. Ia menahan agar tak menangis. Gadis itu berjalan dengan hati yang pilu.


Kehadirannya membuat risih teman-temannya yang lain. Ia tetap berjalan, tak peduli banyak tatapan membencinya. Ia memilih duduk di halaman belakang taman anak-anak. Tak ada seorangpun disana. Saat itulah ia menangis. Semua beban ia keluarkan. Sepuluh menit berlalu, gadis kecil itu menghapus air mata. Ia kembali bangkit dan berusaha tegar.


Semua kepedihannya menjadi perhatian pusat. Seorang bocah laki-laki yang berselisih dua tahun darinya datang menemuinya. Bocah itu tersenyum dan berusaha menghiburnya. Gadis itu tak merespon. Namun, bocah laki-laki itu tak menyerah. Ia berusaha membuat gadis itu tersenyum. Dan usahanya berhasil. Gadis itu terhibur akan kehadirannya.


"Terima kasih," ucap gadis itu dengan suara pelan.


"Asalkan membuatmu tersenyum, aku akan melakukan apapun itu. Kamu jangan sedih lagi, ya?"


"A..Aku tidak bersedih. Siapa bilang aku lagi sedih?" elak nya sambil mengerucutkan bibirnya lucu.


"Kamu begitu menggemaskan," bocah laki-laki itu mencubit pipi gadis tersebut.


"Jangan sentuh pipiku!" ucapnya, pipinya memerah.


"Beginilah harusnya kamu! Kamu harus berontak dan marah! Jangan diam saja atas apa yang mereka lakukan. Lawan mereka!" seru bocah laki-laki itu.


"Melawan mereka?"


"Tentu saja. Jangan biarkan mereka menindasmu!" bisik bocah laki-laki itu. Kata-katanya terngiang dalam benak gadis tersebut. Tanpa disadari bel berbunyi.


Gadis kecil itu berjalan menuju ruang kelasnya. Ia duduk dibangku paling belakang dekat jendela. Kecerdasannya mampu menyerap setiap pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Tak berlangsung lama, sudah waktunya untuk pulang. Ia berjalan menuju gerbang sekolah. Namun, sekelompok anak seusianya mengejek lalu menyeretnya ke suatu tempat.


Gadis itu pasrah atas apa yang mereka lakukan. Mereka membongkar isi tas pink miliknya. Satu kotak permen mereka buka. Mereka tersenyum sambil memakan permen-permen tersebut. Lalu, bungkus permen itu dilempar kearah gadis malang tersebut tanpa belas kasih. Gadis itu tak menangis. Dalam sekian detik, ia mengingat kata-kata bocah laki-laki tadi. Lalu, gadis kecil itu melawan mereka satu persatu. Seolah kerasukan setan, ia tak mengenal dirinya.


Merasa tak terima, mereka mengeroyok gadis itu dengan mendorongnya. Gadis itu hampir terjatuh kedalam jurang, ia menggenggam rerumputan hijau disekitarnya, agar tak jatuh. Mereka terkejut, lalu tiba-tiba seseorang mendorong tangan gadis itu dengan kakinya sambil berbisik, "kau harus mati." Disaat itu, instrument lagu terdengar ditelinga gadis itu. Lalu, semuanya gelap.


Seketika itu, Anna terbangun dalam mimpinya yang cukup panjang. Ia mendapati dirinya berada di Rumah Sakit. Jonathan berada disisinya.


"Anna bagaimana dengan sekarang? Kamu tidak apa-apa?" tanya Jonathan. Anna mengingat jelas tentang mimpi yang barusan ia alami. Meski ia tak mengingat wajah mereka satu-persatu, namun ia tak melupakan suara mereka.


"Aku bermimpi. Aku.." ucap Anna penuh keraguan. Jonathan mengelus rambut Anna.


"Mimpi seperti apa, Anna? Katakan padaku!"


"Aku.. sepertinya ingat tentang peristiwa permen yang mereka rebut," Anna jeda sebentar untuk rileks sejenak. "Seseorang mendorongku. Aku.."


"Aku ingat saat itu, aku disana ingin menolongmu. Tetapi orang itu malah mendorongmu dengan cepat," timpal Jonathan.


"Kak Joe tahu siapa dia?" tanya Anna.

__ADS_1


"Dia berbisik 'kamu harus mati', benar bukan?" bisik Jonathan. Anna menegang.


"Aku tidak ingin menceritakan ini ke kamu. Karena aku tahu, luka ini berat," Jonathan menyeringai. Anna gugup. Dia tak tahu harus berkata apa-apa. Andai saja dia mengenali wajah orang yang mendorongnya. Namun, untuk mengingat itu sangatlah sulit.


__ADS_2