
Wilson menatap Darion kecewa karena telah kehilangan Zion. Sesekali, ia menghajar Darion dengan kedua tangannya. Darion tak melawan setiap pukulan yang ia terima. Ia menyadari akan kesalahannya. Ia terus menunduk, menyesal karena kelalaiannya dalam menjaga Zion. Ia berpikir, tak seharusnya ia meninggalkan Zion ke Toilet. Ia juga tak menyangka, semua bawahannya terluka terkena tembakan.
"Tuan, Tolong bunuh saya saja!" Seru Darion sambil lututnya ditekuk mengenai lantai dengan kepala yang masih tertunduk. Tatapan Wilson tak lepas dari Darion. Berselang satu menit, Wilson menghela nafas. Ia membalikkan badan, sehingga posisinya membelakangi Darion.
"Aku akan memberikanmu satu kesempatan lagi. Anggap saja, ini adalah hadiah dariku karena kamu telah setia padaku selama bertahun-tahun."
"Jangan pernah berpikir untuk kembali, kalau kamu masih belum menemukan Zion!" Seru Wilson, ia memutar kembali tubuhnya, lalu menatap tajam kearah Darion.
"Saya berterima kasih atas kebaikan Tuan Wilson terhadap Saya. Kali ini, saya pastikan tidak akan kehilangan Tuan Muda Zion." Tegas Darion. Ia tak peduli, jika kedua tangannya ternodai dengan darah. Sosok Darion yang kejam akan menjadi saingan terberat bagi Jonathan.
"Kalau begitu, pergilah!"
"Baik, Tuan Wilson."
*****************************
Keesokan harinya...
Langit cerah dengan sejuta keindahan di Sekelilingnya, tak mampu menggelitik suasana hati dari seorang gadis. Ia berdiri membisu, menatap kosong kearah langit. Ketika ia mengingat kembali apa yang terjadi padanya, ia memandang jijik pada dirinya. Ciuman yang tak ingin ia rasakan dari pria yang tak ia cintai, membungkam hati dan pikirannya setiap menit. Tanpa terasa, pelukan hangat seorang pria mengembalikan kesadaran gadis itu seketika.
"Apa yang kamu pikirkan? Kamu bilang kamu suka keindahan alam. Aku membawamu ke tempat yang memiliki banyak pepohonan, rerumputan hijau, dan langit yang indah." Ucap seorang pria bernama Jay.
"Aku ingin pergi ketempat yang indah bersama orang yang kucintai. Bukan bersamamu." Sindir Anna sambil memutar kedua bola mata. Kemudian, ia melepaskan diri dari Jay. Jay tersenyum. Berjuta-juta penolakan Anna, tak membuat Jay menyerah. Tak peduli, jika Anna selalu memikirkan Zion, karena tak butuh waktu lama bagi Jay untuk bisa memiliki Anna, termasuk perasaan gadis itu.
"Karena sudah cukup lama kita berada ditempat ini, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat kesukaanmu."
"Aku tidak mau. Aku ingin pulang saja." Anna bersikap acuh. Ia melangkahkan kakinya kearah mobil.
"Kamu bilang kalau kamu suka salju. Apa kamu tak ingin kesana?" Tanya Jay.
__ADS_1
"Ini bukan musim dingin. Kamu sedang bermimpi, ya!" Anna tak menghentikan langkahnya.
"Aku punya cara agar kamu bisa menikmati salju." Ucap Jay. Langkah Anna terhenti seketika.
"Kau serius?" Anna tampak senang. Akan tetapi, perlahan, ia tersadar.
"Aku tidak tertarik." Anna kembali bersikap dingin pada Jay.
"Dasar, gadis keras kepala!" Batin Jay sembari menarik nafas.
"Kamu yakin tak mau melihatnya? Kamu bilang ingin membuat bola salju atau melukis namamu diatas salju. Bagaimana kalau kamu tidak memiliki kesempatan itu dalam hidupmu? Apa kamu tidak menyesal?"
"Mungkinkah, kamu lebih suka berciuman denganku saat kembali ke Rumahmu?" Goda Jay. Ia menarik Anna, lalu dua jari Jay menyentuh dagu Anna secara perlahan.
"Atau... Mau berciuman disini?" Bisik Jay.
"Bawa aku untuk melihat salju!" Seru Anna sambil menatap tajam.
"Anna... aku semakin menyukai segalanya tentangmu." Batin Jay.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba ketempat yang mereka tuju. Ketika mereka turun dari mobil, Anna melihat sekelilingnya. Ia tampak bingung. Jay menyadari hal itu, ia menggandeng Anna.
"Kenapa kamu membawaku kemari? Kamu membohongiku?"
"Kamu akan tahu, setelah masuk kedalam, Anna." Ucapnya lembut. Anna terpaksa membiarkan Jay membawanya.
Anna terpanah saat melihat banyak salju di hadapannya. Semua salju itu adalah salju buatan yang dibuat dengan alat khusus. Tanpa berpikir lama, ia menyentuh beberapa salju. Jay melihat Anna menikmatinya. Senyuman Anna melekat pada bibir cantiknya. Anna menutup kedua mata untuk merasakan sensasi dingin pada salju-salju tersebut. Ini pertama kalinya, ia bisa bertahan dalam lingkupan yang dingin. Anna berharap, kenikmatan yang ia rasakan, tak hilang begitu saja.
Setelah ia cukup puas menyentuh salju, ia membiarkan dirinya terbaring diatas salju sambil berguling-guling. Tanpa ia sadari, ia tak sengaja menyentuh sesuatu yang lembut. Ketika Anna melihat apa yang ia sentuh, seekor kucing berwarna putih menggigil sambil menatap wajah Anna dengan tatapan sendu. Ketika Anna melihat kucing terperangkap didalam salju, hal itu mengingatkannya kembali akan dirinya yang terbaring lemah. Tanpa butuh waktu lama, ia menjauhkan kucing tersebut darisana.
__ADS_1
Anna menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, lalu mengusap lembut bagian wajah kucing tersebut. Karena seluruh tubuh kucing yang terlalu dingin, sehingga apa yang dilakukan Anna sia-sia.
"Ada apa?" Jay menatap Anna bingung.
"Ku..Kucing ini.. Kasihan dia. Aku tak tega melihatnya. Aku ingin menyelamatkan kucing ini." Lirih Anna. Jay melihat kesedihan pada wajah gadis tersebut.
"Ikutlah denganku!"
"Kita harus cepat! Aku tak mau kucing ini mati."
"Aku tahu." Ujar Jay.
"Dia takkan mati." Ujar Jay kembali.
Jay mengemudikan mobilnya dengan lebih kencang dari biasanya. Mobil Jay terhenti pada Apartemen yang tak jauh dari lokasi mereka sebelumnya. Anna tak mau bertanya apapun, ia hanya ingin menyelamatkan kucing malang tersebut. Jay membuka pintu Apartemen, lalu langkahnya menuju dapur Apartemen miliknya. Ia mengambil panci, setelah itu menyalakan kompor. Tak lama, ia mematikan kompor. Kemudian, Jay menyentuh air tersebut dengan jari telunjuknya.
Sementara itu, tatapan Anna beralih pada baskom plastik. Ia mengambil baskom tersebut. Jay menuangkan air hangat kedalam baskom tersebut. Lalu, Anna memasukkan kucing itu kedalam baskom yang berisi air hangat. Anna melihat wajah kucing tampak ceria. Gadis itu menghela nafas sesaat. Jay melihat Anna tersenyum lega.
"Terima kasih." Ucap Anna tulus.
"Tidak apa-apa. Masalahmu adalah masalahku juga." Ujar Jay.
"Oh ya, handuknya. Tunggu sebentar!" Jay mengambil salah satu handuk yang paling kecil, lalu memberikannya pada Anna. Anna mengelap kucing itu dengan hati-hati. Anna merasa, Jay tak sejahat yang ia pikirkan selama ini. Anna melirik Jay sesaat. Jay menyadari, Anna meliriknya. Kemudian, Jay memeluk Anna dari belakang. Ia menenggelamkan wajahnya di leher Anna sambil menutup mata. Akan tetapi, Jay merasakan perih pada kulitnya. Kucing yang Anna selamatkan, mencakar kulit Jay hingga terluka.
Jay menatap tajam kearah kucing tersebut. Ia tak menyangka, kucing yang sebelumnya lemah, kini terlihat lebih ganas saat Jay mendekati Anna. Jay berusaha tak mempedulikan kucing tersebut. Ia menyentuh wajah Anna. Anna menyadari, apa yang ingin Jay lakukan terhadapnya. Anna menutup mulutnya. Jay menyeringai.
"Apa kamu ingin melihatku menyiksa Zion?" Bisik Jay. Anna mengepalkan tangannya. Ia berpikir terlalu tinggi terhadap Jay. Anna terlalu lengah, sehingga memberikan kesempatan pada Jay untuk melakukan apa yang diinginkannya. Namun, tak semudah itu. Kucing itu menggigit lengan kiri Jay hingga pria itu merintih kesakitan. Kali ini, gigitannya lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Anna tertawa dalam hati. Ia tak menyangka makhluk kecil yang ia selamatkan, membantunya. Jay hendak menyingkirkan kucing tersebut. Akan tetapi, Anna melindunginya. Ia menatap Jay tajam. Tatapan kucing itu seolah-olah mengejek Jay.
"Ah, kucing sialan!" Batinnya. Karena merasa kondisi kucing itu lebih baik dibandingkan sebelumnya. Anna meninggalkan Jay sambil membawa kucing. Jay mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Anna berhasil mendapatkan Taxy.
__ADS_1
"Terima kasih karena telah menyelamatkanku, kucing." Gumam Anna, saat ia duduk di Taxy.
"Ah, iya, aku belum memberimu nama. Mulai sekarang, namamu adalah Nathan." Ucap Anna sambil tersenyum. Kucing itu tersenyum dengan panggilan baru nya. Tak hanya panggilan baru, kehidupan baru Nathan telah dimulai.