
Cuaca yang cerah dengan awan berwarna biru menambah semangat baru dalam bekerja. Sesosok pria mengenakan setelan kemeja putih yang dilapisi dengan jas berwarna hitam, memberikan daya tarik tersendiri. Ia datang ke Perusahaan miliknya dengan senyuman yang manis. Sosok itu adalah Jay. Semua orang tersenyum sambil menyapanya.
Tak terasa, dalam satu bulan, Perusahaan yang ia kelola berkembang pesat semenjak bekerjasama dengan Ax Group. Tak hanya itu, beberapa investor datang dan menginvestasikan sejumlah uang pada perusahaan miliknya, J Group. Karena itu, ia memanfaatkan acara ulang tahun perusahaannya untuk mengundang berbagai pengusaha.
Ia menggelar rapat dan mengatur setiap orang turut andil dalam acara ulang tahun J Group. Ia berharap, jika acara ini mampu melebarkan sayap J Group agar lebih leluasa. Ia ingin menjadikan J Group satu-satunya Perusahaan yang terbesar diantara Perusahaan yang lain. Tak hanya Jay, Jonathan mengambil kesempatan ini untuk menghancurkan J Group dengan menggunakan Merlyn. Ia memberikan identitas palsu pada wanita itu.
"Sharon? Nama yang bagus." Ucap Merlyn sambil menatap Jonathan.
"Sharon adalah puteri dari Perusahaan MT Group, pemegang saham terbesar pada Perusahaannya. Kebetulan, dia tidak bisa menghadiri acara ulang tahun J Group karena ia berada di Luar Negeri. Bukan itu saja, Jay dan Sharon tidak pernah bertemu. Itu memudahkanmu untuk menyamar menjadi dirinya." Terang Jonathan.
"Sayangku memang hebat." Puji Merlyn, ia mengecup bibir Jonathan.
"Berhati-hatilah padanya! Jangan membuatnya mencurigaimu!"
"Dan ini adalah daftar orang-orang yang harus kau hafal. Ini semua kenalan Jay dan Sharon. Jangan sampai terlewat!"
"Oke sayangku."
"Satu kali gagal, satu tahun kita tidak akan bertemu, Merlyn." Jonathan menyeringai.
"Sayang, jangan khawatir! Aku tidak akan gagal." Ujarnya sambil mengedipkan mata.
*****************************
Acara ulang tahun Perusahaan J Group diadakan di Main Hall J Group. Disana, banyak dari kalangan elit yang menghadiri acara tersebut. Jay terlihat tampan dengan kemeja berwarna merah maroon. Ia tersenyum serta memberi salam pada para tamu yang hadir.
Sementara itu, Merlyn datang dengan dress panjang berwarna kuning yang menunjukkan bagian lekukan tubuhnya yang indah. Sayangnya, Merlyn tak memiliki undangan. Ia melihat begitu banyak orang disekelilingnya yang memasuki pintu masuk Main Hall J Group dengan menunjukkan undangan mereka. Tak hanya itu, empat orang pria bertubuh besar menjaga pintu masuk serta memeriksa setiap undangan tamu. Jika ia berbalik dan menunggu sampai tak banyak orang yang berdatangan, akan menimbulkan kecurigaan pada orang-orang tertentu.
"Sepertinya aku tidak bisa mamakai cara yang biasa." Batin Merlyn. Merlyn mengambil handphone nya. Ia menyalakan lagu dengan suara yang keras untuk mengalihkan perhatian mereka. Sayangnya, para lelaki bertubuh kekar itu tak peduli. Tak berkecil hati, ia menyanyikan lagu seperti yang berada di ponselnya. Suara nya yang melengking indah, berhasil menyita perhatian mereka sekaligus. Dalam hal ini, ia menggunakan kemampuannya untuk mengendalikan alam bawah sadar mereka. Mereka tak bereaksi apa-apa, tatapan mereka kosong.
"Beri aku lewat dong, sayang." Bisik Merlyn pada salah satu penjaga yang berdiri tepat di pintu masuk. Orang tersebut membiarkan Merlyn lewat tanpa menanyakan undangan. Saat Merlyn membuka pintu, ia mematikan suara ponselnya. Dan seketika itu, mereka kembali normal.
__ADS_1
Merlyn berjalan anggun melihat disekitarnya yang tampak ramai. Ia melihat berbagai macam model busana berkelas yang melekat pada tubuh mereka. Ia tersenyum karena dress yang ia pakai, berasal dari salah satu brand ternama. Itu semua berkat dari pemberian Jonathan. Tatapan Merlyn beralih pada Jay. Ia tak menyangka Jay yang ia lihat jauh lebih tampan dibandingkan foto yang ditunjukkan Jonathan padanya. "Boleh juga targetku." Batin Merlyn.
"Hai! Anda pasti Tuan Jay, ya?" Sapa Merlyn.
"Nona siapa?" Tanya Jay bingung.
"Perkenalkan nama saya Sharon. Saya adalah puteri dari CEO MT Group, yang juga merupakan Direktur Utama dari MT Group." Ucap Merlyn dengan ramah.
"Nona Sharon? Ah... Aku mendengar banyak tentangmu. Diusia mu yang begitu muda, menjadi salah satu pemegang saham besar dari MT Group, tidaklah mudah."
"Tuan Jay terlalu berlebihan. Itu semua berkat dari dukungan banyak orang, membuat saya bisa seperti sekarang ini."
"Panggil saja aku Jay. Kita tidak perlu terlalu formal. Sepertinya kita seumuran."
"Kalau begitu, panggil aku Sharon. Aku berharap ada kerjasama diantara dua perusahaan." Ujar Merlyn sambil tersenyum manis. Dibalik senyumannya, tersimpan sejuta taktik yang ia sembunyikan.
"Baiklah, Sharon."
"Setahuku Sharon adalah sosok yang pendiam. Aku tidak menyangka ternyata kamu berbeda dari yang kudengar." Ucap Jay.
"Jonathan benar, Jay bukan orang yang mudah." Batin Merlyn.
"Itu hanyalah rumor. Aku hanya ingin terlihat baik didepan pria baik sepertimu. Aku rasa untuk lebih mengakrabkan diri denganmu untuk kedepannya." Elak Merlyn. Ia adalah wanita yang pandai berakting. Tak sulit baginya untuk berpura-pura didepan orang lain. Namun, Jay tak sebodoh itu. Ia mencium adanya keanehan pada diri wanita tersebut sejak pertemuan mereka.
"Aku akan menemui tamu dulu. Lain kali, kita bisa mengobrol lebih banyak." Ucap Jay. Merlyn sedikit kesal dengan sikap Jay yang tak bersahabat. Akan tetapi, bukan Merlyn namanya kalau ia tak punya cara yang lain.
"Bukankah, ini Tuan Robert dari AX Group?" Tanya Merlyn saat melihat Robert yang sedang berbincang pada Jay. Ekspresi Robert tampak bingung, ia tak mengenal Merlyn. Namun, Merlyn menatap kedua mata Robert untuk masuk kedalam alam bawah sadarnya.
"Ini saya, Sharon, Direktur Utama dari MT Group. Saya harap Anda tidak melupakan Saya." Ujar Merlyn
"Maafkan pria tua seperti saya ini, nona Sharon. Akhir-akhir ini, saya terlalu banyak pikiran, sehingga saya hampir melupakanmu.
__ADS_1
"Jadi, kamu benar-benar Sharon dari MT Group? Maaf, jika aku meragukanmu." Ujar Jay. Merlyn tersenyum dalam hati.
"Itu wajar saja. Tak perlu dimasukkan kedalam hati."
"Sebagai permintaan maaf, bagaimana jika kita bersulang?"
"Baiklah." Merlyn tersenyum. Kedua orang itu bersulang. Lalu, ia menatap Robert lagi dan mengalihkan perhatiannya pada yang lain. Bagaimanapun juga, ia tak bisa terus-menerus membiarkan Robert berada didekatnya.
"Tuan Robert, sepertinya istri Anda mencari Anda." Ucap Merlyn.
"Baiklah. Kalau begitu saya pergi dulu."
"Baiklah, Tuan Robert." Sahut Jay ramah.
"Jay!" Panggil Merlyn.
"Iya Sharon?"
"Mau berdansa denganku?" Merlyn mendekatkan diri pada Jay. Keduanya sangat dekat. Lalu, Merlyn menyentuh pundak Jay secara lembut. Wanita itu tersenyum padanya. Karena pesona yang dimiliki Merlyn kuat, Jay tak bisa menolaknya.
"Baiklah, Sharon." Ucap Jay. Ia berdansa dengan Merlyn dengan anggun. Mereka tampak serasi.
"Berdansa tanpa musik, rasanya kurang memuaskan." Ujar Merlyn. Jay memberi kode pada seseorang untuk menyalakan musik. Sebuah instrument lagu dari Celline Dion, mampu melengkapi dansa mereka dengan indah. Semua mata tertuju pada mereka. Gerakan Merlyn sengaja dilembutkan agar menjerat Jay untuk jatuh kedalam pelukannya. Tatapan mata Merlyn yang tajam, menatap mata Jay dengan gairah.
"Mau minum sesuatu? Aku akan mengambilkannya untukmu." Ujar Merlyn.
"Baiklah." Merlyn mengambil satu gelas wine, lalu mencampurkan sesuatu kedalam minumannya secara diam-diam. Tak lama, ia memberikan minuman tersebut pada Jay.
"Kenapa rasanya begitu panas?" Batin Jay, setelah ia meminum wine. Jay merasakan seluruh tubuhnya panas. Ia berusaha menahannya. Akan tetapi, sentuhan Merlyn pada wajahnya, membuat Jay tak bisa berkutik. Merlyn mendekatkan dirinya, lalu keduanya berciuman.
"Rasanya tidak nyaman berada disini." Bisik Merlyn. Ia membawa Jay ke suatu tempat yang tak jauh dari Main Hall.
__ADS_1
"Saatnya kehancuranmu, Jay." Gumam Merlyn. Jay tak peduli apa yang dikatakan Merlyn. Ia tak kuasa menahan rasa yang tidak nyaman dalam tubuhnya. Godaan Merlyn menjerat Jay lebih dalam lagi hingga pria itu tak bisa menolaknya.