
Matahari telah menyinari daratan hingga lautan dalam hamparan yang luas. Secercah cahaya mendatangkan semangat yang baru, segala kesulitan yang telah terjadi, seakan tenggelam tanpa jejak. Seorang wanita berusia 30-an, merapikan pakaian yang ia kenakan, tak lupa senyuman menghiasi bibir cantiknya.
Wanita itu menghela nafas sesaat, namun tak mengurangi segurat senyuman pada wajahnya. Ia berjalan melewati setiap lantai berwarna putih, menyisakan bayangan yang tak berujung. Wanita itu tiba di sebuah Ruangan, lalu memposisikan dirinya didepan kamera.
"Pemirsa, sebuah gedung yang terbengkalai selama bertahun-tahun, terjadi ledakan bom Sore Kemarin pada pukul 17:00. Ledakan tersebut menewaskan sejumlah orang, termasuk salah satunya merupakan CEO J Group. Kini, polisi mencari tahu apa yang..." Jay mematikan remote tv nya.
"Wah, sekarang aku bisa melihat berita kematianku sendiri." Ujar Jay terkekeh.
"Aku rasa, sebaiknya kamu bersembunyi dulu."Ujar seorang pria berwajah tegas.
"Sebenarnya, aku tidak tahu siapa kamu. Tetapi, terima kasih telah menyelamatkanku."
"Bukan keinginanku untuk menyelamatkanmu."
"Lalu, kenapa kamu menyelamatkanku? Apa ada yang menyuruhmu?" Tanya Jay.
"Kamu akan tahu nanti." Ucapnya, memasang ekspresi datar.
"Oh ya, apa kamu tahu dimana Merlyn?"
"Merlyn?"
"Wanita yang bersamaku."
"Wanita itu." Lirih Darion.
"Dia gak apa-apa, kan?" Jay mencoba bangun, namun tubuhnya masih terasa sakit, akibat reruntuhan dari ledakan tersebut.
"Jangan bergerak! Lukamu belum pulih."
"Tenang saja, wanita itu telah melewati masa kritisnya. Dia berada disebelah." Ucap pria tersebut. Jay lega mendengarnya.
"Lalu bagaimana dengan anak yang di dalam perutnya? Apa selamat?"
"Pulihkan dulu lukamu! Setelah itu, kamu bisa tahu." Ia berbalik badan.
"Tunggu! Tidak bisakah kamu memberitahuku?"
"Kamu mengkhawatirkan bayinya atau ibunya? Kamu terlihat lebih peduli dengan bayinya." Pria itu mengkerutkan kening.
"Itu bukan urusanmu."
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik." Ketika pria itu membuka pintu, tanpa sengaja pria tersebut berpapasan dengan seseorang yang pernah ia temui. Ia menerobos masuk, tak sabar menemui Jay.
"Jay!"
"Carlos? Darimana kamu tahu aku disini?"
"Tidak sulit menemukanmu."
"Banyak orang mengira, aku sudah mati."
__ADS_1
"Aku tahu kamu gak semudah itu bisa mati."
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Carlos.
"Setahuku, kamu pergi setelah mendengar Merlyn hamil." Ucap Carlos. Jay menarik nafas.
"Jonathan memerintahkan seseorang untuk mencelakai Merlyn."
"Beraninya dia.."
"Orang suruhan Jonathan, sangat berbahaya. Bahkan Merlyn tak berdaya didepannya." Terang Jay.
"Aku terlalu lengah terhadap iblis itu." Ujar Carlos. Ia geram.
"Itu bukan salahmu. Dari awal, dia terlahir menjadi pria yang berambisi. Ia tak mempedulikan mana lawan atau kawan. Pria seperti itu, hanya mementingkan nyawa orang lain, daripada mengurus hidupnya sendiri."
"Lalu, apa Merlyn selamat? Aku mendengar dari berita, gedung itu terbakar tanpa tersisa."
"Dia ada di kamar sebelah."
"Istirahatlah!" Carlos berbalik badan hendak meninggalkan Jay, namum tatapannya tak lepas dari seseorang.
"Kamu!"
"Aku rasa, kita pernah bertemu." Carlos mengingat kembali, dimana ia bertemu pria tersebut.
"Sekarang aku ingat, kamu menghajarku ketika aku menjaga pernikahan Jay. Kau kan, itu?"
"Kenapa kamu disini? Kamu mencoba membunuhnya?" Carlos mencengkeram kerah Darion, namun Darion tak bergeming. Ia tak menghiraukan gertakan Carlos.
"Carlos, hentikan!" Seru Jay.
"Tetapi dia sudah..."
"Dia yang menyelamatkanku."
"Tidak mungkin. Aku merasa dia.."
"Sudahlah. Kalau bukan karenanya, aku, Merlyn, dan Chris tewas saat itu."
"Tunggu, apa Zion yang menyuruhmu?" Tanya Carlos.
"Zion? Apa maksudmu?" Jay tak mengerti.
"Aku ingat, dia pergi bersama Zion, lalu menghajarku."
"Apa? Jadi, Zion yang menyuruhmu untuk menolongku?"
"Apa dia mengasihani aku? Kenapa bisa.."
"Jawab pertanyaan kami! Jangan diam saja!" Carlos mempererat cengekeramannya. Akan tetapi, cengkeraman Carlos terlepas, saat Darion menggenggam tangan Carlos. Ia melempar Carlos tanpa ekspresi. Tubuh Carlos bergetar. Itu tak pernah terjadi dalam hidupnya.
__ADS_1
"Jangan menyentuhku!" Ujar Darion, tatapannya tajam. Lalu, ia meninggalkan kedua orang tersebut. Carlos menstabilkan nafasnya yang tak tenang. Jay berkalud dalam pemikirannya.
"Sial!" Seru Carlos. Seumur hidupnya, baru kali ini tubuh dan jiwanya bergetar karena seseorang.
"Abaikan dulu. Kamu bisa mencari tahu nanti."
"Tidak. Dia berhutang padaku. Aku tidak suka seseorang bisa mengalahkanku dalam ekspresi semacam itu." Ucap Carlos.
"Dia pria berdarah dingin. Kamu sulit menghadapinya." Ujar Jay.
"Kamu meremehkanku?"
"Haha.."
"Menurutmu lucu?"
"Dia sudah meremehkanku. Dia pikir siapa?" Carlos memukul tembok, karena kesal.
"Tetapi.. Aku rasa, dia bukan musuh. Dia bisa menjadi sekutu yang kuat buat kita." Ucap Jay.
"Sekutu? Jangan harap. Aku tak sudi." Carlos berdiri, lalu ia berjalan untuk meninggalkan Jay.
"Mau kemana?"
"Aku ingin melihat Merlyn." Carlos menutup pintu, kemudian menuju kamar Merlyn.
Merlyn terbaring tanpa membuka mata. Wanita itu melewati masa kritis, namun ia tak sadarkan diri. Carlos menatapnya dengan wajah sendu. Ia menggenggam tangan Merlyn.
"Merlyn.. Andai kamu tidak bertemu Jonathan, mungkin kamu tidak akan seperti ini." Ucap Carlos.
"Bangunlah, Merlyn! Cerialah seperti dulu, seperti saat kamu masih kecil."
"Dulu, kamu gadis kecil yang polos, tetapi kamu memiliki sejuta keberanian dalam dirimu." Carlos berpikir kembali, sosok Merlyn yang dulu.
Ia mengingat setiap kenangan bersama Merlyn. Namun, ia tak mengira, gadis kecil dalam ingatannya, kini terbaring lemah tanpa kesadaran. Ia tahu, kini, Merlyn berbeda dari yang dulu. Akan tetapi, ia berharap, Merlyn kembali seperti gadis yang ia kenal dulu. Jika diingat kembali perilaku Jonathan, ia tak bisa tinggal diam. Ia geram, kecewa, namun tak tahu berbuat apa.
Akal licik yang dimiliki Jonathan, bisa meruntuhkan rencananya, jika ia tak bisa menyusunnya dengan baik. Namun, ia tak mau nasib Merlyn seperti adiknya. Cukup sekali, ia melihat Merlyn dalam kondisi lemah. Hatinya tak sanggup menerima keterpurukan Merlyn.
"Merlyn.. Mari kita pergi ke Luar Negeri, jika urusan kita sudah selesai! Aku akan menjagamu dan anakmu, walau dia bukan darah dagingku. Aku akan melindungi kalian berdua. Aku janji itu." Carlos tersenyum, ia mengusap kepala Merlyn.
"Merlyn.. Aku tahu aku bukan pria yang sempurna. Aku sudah banyak membunuh orang, tetapi aku berjanji, aku akan menjadi pria senantiasa ada disisimu."
"Tolong, bangunlah, Merlyn!"
"Aku akan menunggumu." Carlos menjauhkan diri dari Merlyn, seraya meninggalkan wanita tersebut.
"Carlos.. Maafkan aku." Merlyn menangis mendengar perkataan Carlos.
Ia tahu daridulu, Carlos bukan pria yang jahat. Carlos tak ada bedanya sama dirinya. Mereka sama-sama tak punya pilihan untuk menjadi orang yang keji. Merlyn kembali menyesal segala apa yang terjadi, akan tetapi ia tak bisa menyalahkan bayi polos tak berdosa. Segala isak tangis ia tumpahkan saat itu.
Jika ingin mengakhiri hidup, itu akan membuat Jonathan senang diatas penderitaan yang ia alami. Nama Jonathan terus bergulir dalam benaknya. Antara kebencian, rasa sesal, dan cinta, ia harus memilih diantara mereka. Jalan hidupnya begitu rumit. Namun, ia tak bisa menyerah akan takdirnya yang buruk. Ia tahu, segalanya bisa berubah. Tuhan masih memberikan kesempatan dia hidup kembali, artinya, dia memiliki harapan baru dalam dirinya.
__ADS_1