Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Kebenaran (Jonathan)


__ADS_3

Keesokan hari, Jay memutuskan untuk menemui Jonathan. Carlos mengatakan kalau Jonathan berada di Apartemennya. Akan tetapi, ia malah bertemu dengan Merlyn saat wanita itu keluar dari Apartemen Jonathan. Merlyn tersenyum sinis, saat melihat Jay. Jay membalasnya dengan senyuman lebar.


"Halo, sayang! Ternyata kita bertemu lagi." Ujar Jay pura-pura senang akan kehadiran Merlyn.


"Ah, Jay. Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi."


"Apa kamu merindukan wajah tampanku ini, nona Sharon?" Bisik Jay. Merlyn merasakan nafas hangat Jay ditelinganya. Lalu, Jay mendekatkan dirinya pada wajah Merlyn. Merlyn tersenyum sinis.


"Kau ingin menggodaku? Coba saja kalau kamu bisa!" Ucap Merlyn santai.


"Aku ini pria dengan sejuta pesona. Tak sulit bagiku untuk mendapatkan wanita menjijikkan sepertimu." Bisik Jay. Kemudian, ia menjauhkan dirinya dari Merlyn. Jay menyeringai.


"Apa kamu tidak bercermin dengan apa yang kulakukan denganmu terakhir kali?" Ujar Merlyn tersenyum lebar.


"Aku jadi kasihan denganmu. Aku takut rencanamu akan gagal kali ini dan membuat kekasih iblismu itu tak bisa berbuat apa-apa denganku." Tukas Jay.


"Oh ya? Aku ingin lihat seberapa hebatnya kamu membuat sayangku marah. Tetapi sebelum itu, aku akan membuatmu tersiksa seperti di Neraka." Raut wajah Merlyn berubah. Ia sedikit kesal dengan Jay.


"Aku akan menantikannya." Jay menyeringai. Tiba-tiba ia sengaja menjatuhkan sesuatu.


"Oops... Tanganku tiba-tiba tergelincir." Ucap Jay sambil tersenyum.


"Aku jadi penasaran apa isi dari dalam sini." Ujar Merlyn. Ia mengambil benda yang dijatuhkan oleh Jay. Merlyn mengambil umpannya.


"Lihat saja! Kamu pasti terkejut setelah melihat itu." Jay menantikan ekspresi Merlyn.


"Apa ini?" Merlyn kaget saat melihat apa isi dari dua lembar kertas yang dijatuhkan Jay.


"Ini... Kenapa ada hasil DNA? Jonathan dan Anna bukan sedarah. Ini gak mungkin."


"Jonathan memusuhiku karena aku mendekati Anna. Itu menandakan kalau Jonathan tidak benar benar mencintaimu."


"Dan dia hanya memanfaatkan kemampuan yang kamu miliki dan tubuhmu." Seringai Jay.


"Tidak mungkin! Dia tidak pernah mencintai wanita lemah itu! Kamu ingin membuat hubunganku dengan sayangku jadi berantakan."


"Apa kamu bisa memastikan kalau Jonathan sungguh mencintaimu? Aku kasihan melihat seorang wanita yang mencintai iblis seperti dia. Kamu mencintai pria yang salah, Merlyn."


"Jangan memprovokasiku, Jay!"


"Kenapa kamu tidak mencoba kemampuanmu padanya? Atau kamu terperdaya dengan sikap manisnya?"


"Dia adalah iblis. Bukan manusia. Dia juga menghalalkan segala cara untuk menghancurkanku. Dia hampir membunuhku. Mangkanya dia menggunakanmu untuk menghancurkanku. Sekarang kamu mengerti, kan, seberapa jahatnya sayangmu itu?" Jay mencoba menyadarkan Merlyn. Sebenarnya, dia merasa kasihan dengan wanita itu.


"Diam! Aku masih percaya sayangku tidak mungkin melakukan hal itu padaku. Dia hanya bermain-main dengan gadis lemah itu. Aku sangat yakin."


"Kita lihat saja nanti, siapa yang benar dalam hal ini." Ujar Jay. Ia mengambil dua lembar kertas yang berada ditangan Merlyn. Lalu, ia pergi untuk menemui Jonathan. Merlyn tak berkutik. Ia terus berharap kalau Jonathan mencintainya dan tidak memanfaatkan apa yang ia miliki.

__ADS_1


Sementara itu, Jay menatap intens Jonathan. Ia melempar hasil test DNA pada pria tersebut. Jonathan mengambil itu.


"Hebat! Kamu bisa melakukan hal yang tak bisa kubayangkan." Ujar Jonathan. Ia tersenyum miring.


"Kamu harus berterima kasih padaku karena aku tidak membocorkan hasil itu pada media. Seperti yang kalian lakukan padaku sebelumnya."


"Jay, aku rasa kamu belum cukup jera untuk melawanku."


"Aku tidak akan menyerah! Aku akan mendapatkan Anna bagaimanapun caranya. Dia adalah milikku." Tegas Jay.


"Aku akan membunuh siapapun yang mencoba melawanku apalagi mengambilnya dariku. Dia adalah Ratuku. Dan aku adalah Rajanya. Aku tidak ingin siapapun didunia ini memilikinya, selain diriku." Ujar Jonathan. Tiba-tiba dia mengambil pistol dari dalam sakunya, lalu mengarahkan pistol tersebut kearah Jay.


"Kamu harus lenyap, Jay!" Seru Jonathan.


"Hentikan!" Teriak Merlyn. Ia menatap Jonathan tak percaya. Selama ini, ia selalu melakukan apapun untuk pria itu, tetapi Jonathan malah tak sungguh-sungguh mencintainya.


"Merlyn?" Jonathan kaget saat melihat Merlyn. Ia mengira kalau Merlyn sudah pulang. Merlyn berjalan kearah Jonathan. Wanita itu menamparnya. Jonathan tak bergeming. Namun, ia menatap Merlyn.


"Kau jahat! Kamu benar-benar jahat!" Merlyn memukul-mukul dada Jonathan. Tetapi, kemudian dia mencium pria itu dengan berlinang air mata. Jonathan membalas ciuman Merlyn. Mereka bahkan tak mempedulikan kehadiran Jay disana.


"Ah, mataku jadi sakit melihatnya." Jay meninggalkan mereka. Ia membiarkan keduanya menyelesaikan urusan mereka sendiri. Saat berjarak satu meter, ia mendengar suara seperti pecahan. Jay langsung mendobrak pintu Apartemen Jonathan. Ia melihat Merlyn menggenggam pecahan vas hingga tangannya berdarah.


"Hei, apa yang kamu lakukan? Kau gila ya?" Jay menjatuhkan pecahan itu ke sembarang tempat. Jay melihat Jonathan seakan tak peduli. Seumur hidup Jay, ia tak pernah sampai memperlakukan wanita seperti itu. Karena kesal, ia memukul wajah Jonathan.


"Ayo kita pergi darisini!" Jay menyampirkan jas pada pundak Merlyn. Ia merobek lengan kemejanya, lalu membalut luka Merlyn. Wanita itu membisu. Hanya bekas air mata yang tersisa diwajah cantiknya. Jay menuntun Merlyn ke mobilnya. Sepanjang jalan, Merlyn tak bersuara. Jay melirik Merlyn. Ia prihatin dengan keadaan yang dialami oleh wanita tersebut. Karena hening, ia menyalakan musik.


I probably want to do it, too


Tell me how you really feel


Is it real, real for you?


I can't get you off my mind


I think about you all the time


But maybe I'm the only one


Maybe you're just having fun


Jay mematikan musik. Lagu yang dibawakan Sasha Sloan berjudul Hurt menambah suasana hati Merlyn kian memburuk. Lagu itu mengisahkan tentang perasaan Merlyn yang sesungguhnya.


"Ada yang ingin kamu lakukan?" Tanya Jay.


"Turunkan aku disini."


"Hah? Disini? Kamu tidak ada niatan untuk bunuh diri?"

__ADS_1


"Mati atau tidak itu bukan urusanmu. Setelah kedua orang tuaku meninggal, aku menjalani kehidupanku begitu buruk. Aku berusaha untuk berjuang mendapatkan uang yang banyak. Dan tak sengaja aku bertemu dengan Jonathan di Jepang. Pria itu memperlakukanku dengan baik. Dia memberiku segalanya yang kubutuhkan. Saat itu, aku memberikan segalanya untuk dia. Dia terlihat sangat mencintaiku. Dia begitu hangat. Dan aku berpikir hidup dan matiku hanya untuk dia. Tetapi sekarang... Aku bahkan..." Deraian air mata mengalir dipelupuk mata Merlyn. Jay menepikan mobilnya. Kemudian, ia menepuk pundak Merlyn.


"Aku bahkan tak sanggup untuk hidup lagi. Bagiku, dia lah segalanya. Tetapi sekarang, dia tak lebih memandangku sebagai alat." Tutur Merlyn. Jay mencoba menjadi pendengar yang baik.


"Apa aku ini jelek?"


"Tidak. Kau sangat cantik."


"Tetapi kenapa dia memanfaatkan wajahku untuk memikat para pria?"


"Apa aku tidak sexy?"


"Setiap wanita memiliki pesona nya sendiri."


"Itu bukan jawaban yang kuinginkan. Kamu sama sekali tidak menghiburku." Merlyn kembali menangis. Jay bingung apa yang akan ia lakukan. Ia menarik nafas.


"Sekarang, apa yang ingin kamu lakukan? Mau mati? Kau itu sangat bodoh jika melakukan hal itu."


"Menurutmu kalau kamu tidak ada didunia ini, dia akan menangisimu?"


"Aku yakin dia pasti berpesta ria dengan wanita lainnya."


"Kau ini menghiburku atau menyindirku?" Merlyn terlihat jengkel.


"Kamu sama sekali tidak mengerti perasaan wanita." Merlyn membuang muka.


"Pantas saja kamu tidak bisa mendapatkan gadis itu."


"Hei, jaga sikapmu! Kau ini, ya!"


"Tetapi memang benar, kan?"


"Hibur aku gitu. Dasar tidak peka!" Gerutu Merlyn.


"Aissh! Turun dari mobil! Kamu ini cerewet sekali."


"Antarkan aku."


"Kamu benar-benar wanita labil."


"Kalau kamu gak mau, bilang daritadi." Ujar Merlyn. Ia menutup pintu mobil dengan keras. Jay mengacak-acak rambutnya.


"Baiklah. Ayo. Aku akan antar kamu." Jay menggenggam tangan Merlyn dengan lembut.


"Terima kasih, sayangku. Kamu memang pria yang mengerti diriku." Merlyn mengedipkan kedua mata nya.


"Jangan menggodaku! Hatiku untuk satu orang didunia ini." Jay memutar kedua bola mata. Sekilas, ia tersenyum padanya.

__ADS_1


"Benarkah? Aku ingin lihat seberapa setiamu padanya." Ujar Merlyn. Ia menyeringai.


__ADS_2