Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 48 Salah Paham


__ADS_3

Anna berjalan mondar-mandir tak tenang. Hati dan pikirannya sama kacaunya. Zion memeluk Anna, ia menenangkan kekasihnya. Tak lama, Chris datang dan melihat mereka.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Carlos. Anna tak bisa berkata apa-apa.


"Semua terjadi begitu saja," ucap Zion ambigu.


"Apa maksudmu? Kalian tidak ada hubungannya dengan ini, kan?" terka Chris. Ia menatap tajam.


"Ini salahku. Seharusnya, aku tak memperlakukan dia seperti itu. Aku hanya kesal," sesal Anna.


"Kenapa menjadi salahmu? kamu tak salah, sayang. Semua sudah terjadi," ujar Zion. Ia tak tahu siapa yang menembak kaki Jay. Tetapi, ia menebak itu ulah Darion.


"Tidak. Aku yang salah. Aku tahu aku tidak pernah menyukainya, tetapi aku menyakitinya dengan kejam. Aku..."


"Aku bilang, itu bukan salahmu. Bukan kamu yang menembak kakinya. Kalau kamu ingin menyalahkan, aku juga salah dalam hal ini."


"Kenapa kamu yang salah?" tanya Anna.


"Ya, itu karena... aku.."


"Permisi," ucap dokter bernama Daniel. Ia keluar dari ruangan, tempat Jay dirawat.


"Dokter bagaimana keadaannya?" tanya Chris.


"Tulangnya bisa dibenarkan?" Anna semakin cemas.


"Untuk saat ini, kami hanya berharap yang terbaik bagi pasien."


"Terbaik apanya? Bilang yang benar!" bentak Chris.


"Untuk pasien sendiri tak ada masalah. Tak lama, pasien akan sadar. Tetapi.."


"Tetapi apa dokter?" tanya Anna.


"Saya tak bisa menjamin dengan kakinya," ujar dokter Daniel. Anna syok. Tubuhnya hilang kendali, Zion menangkap dengan cepat.


"Sayang... Kamu tidak apa?" Segurat kecemasan tampak diwajah Zion.


"Aku..."


"Ini semua gara-gara kalian!" teriak Chris. Ia menodongkan pisau, namun, berhasil ditangkap Darion.


"Mau cari gara-gara?" Darion mengambil pistolnya. Ia bersiap-siap untuk menekan pelatuk.


"Darion, berhenti!" seru Zion. Darion menuruti Zion.


"Hahaha.. Jadi, ini cara kalian menghancurkan orang? Aku juga bisa menghancurkan kalian. Lihat saja!" seru Chris.


"Tunggu! Saya belum memberitahu yang sebenarnya," ucap dokter Daniel.


"Apa masih bisa diperbaiki?" tanya Zion.


"Bisa. Tetapi butuh waktu. Dan bukan disini tempatnya."


"Maksud dokter?" tanya Chris.


"Kirim dia ke Luar Negeri. Disana ada salah satu dokter yang hebat. Dia bisa menangani masalah seperti ini."


"Baiklah.. Kita bisa kesana," ucap Chris. Dia sedikit lega.

__ADS_1


"Aku akan mengaturnya kesana," ujar Zion.


"Tidak semudah itu," timpal Anna. "Aku takut, Jonathan akan merencakan sesuatu. Dia lebih licik dari yang kita bayangkan," ujar Anna.


"Begini saja, soal dokter itu, akan menjadi urusan Darion," tegas Zion.


"Aku tidak setuju. Bagaimana aku bisa mempercayai kalian?" tanya Chris.


"Aku yang menjaminnya," Carlos tiba-tiba datang.


"Kamu disini?" tanya Anna.


"Kamu kenal dengannya, sayang?"


"Ah .. itu aku mengenalnya secara gak langsung," terang Anna.


"Hai, Anna, kita bertemu lagi!" Carlos mengulas senyuman indah.


"Hai juga!" balas Anna.


"Ini bukan saatnya saling menyapa," Chris mendengus kesal.


"Mari kita mulai rencana kita selanjutnya!" ujar Carlos. Ia menyeringai.


°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°


Wajah Merlyn lebih segar daripada sebelumnya. Kini, ia tak lagi terbaring lemah. Ia duduk sambil mengelus perutnya, seraya tersenyum. Ia tak sabar menanti kedatangan buah hatinya, walau ia harus menunggu berbulan-bulan.


"Apa Jay baik-baik saja, ya? Hingga sekarang, Carlos belum memberiku kabar." ucap Merlyn dalam hati. Wanita itu tahu tentang kondisi Jay dari Carlos. Ia yang menyuruh Carlos mengirim mata-mata untuk Jay. Merlyn tak mau terjadi hal buruk terhadap pria itu. Pikirannya teralihkan, saat seseorang membuka pintu.


"Merlyn!"


"Menurutmu, aku gak bisa mencarimu?" Jonathan menyeringai.


"Mau apa kamu?" Merlyn terlihat panik. Tubuhnya bergetar hebat. "Jangan kira, aku takut denganmu!" ucapnya.


"Kamu bilang kalau aku adalah ayah dari anak itu. Anggap saja, aku menjenguk kalian."


"Kau anggap aku bodoh? Aku tahu siapa kamu," Merlyn menghela nafas. "Aku yakin kamu kemari untuk mengejekku."


"Kamu tak belajar dari kesalahanmu, Merlyn? Aku bingung dengan wanita sepertimu. Padahal, kalau kamu tidak bermain-main denganku, sekarang kamu bisa menikmati segala yang kamu inginkan. Dan aku juga tidak akan mengusikmu," Jonathan berjalan mendekati Merlyn. Ia menyentuh dagu wanita tersebut.


"Jangan membuatku tertawa! Kamu yang memulai ini semua, bukan aku!" teriak Merlyn. "Dasar iblis!" Wanita itu menampar Jonathan.


"Aku sudah sering mendengar istilah itu," ucap Jonathan santai. Merlyn tertawa.


"Kau bangga dengan itu? Bahkan seekor binatang lebih berharga dari dirimu," Merlyn tak kenal takut.


"Sudah cukup, kamu merendahkanku! Dasar, wanita mu****n!" Jonathan menarik rambut Merlyn. Merlyn tertawa keras. Seketika itu, Jonathan terdiam. Ia tak bisa berkutik.


"Kamu lupa, ya, dengan kemampuanku, sayangku Jonathan?" ujar Merlyn. "Kemampuan hipnotisku masih sama seperti dulu," ujar Merlyn. Jonathan tak bersuara. Entah kenapa bibirnya kelu. "Kamu ingin memainkan sebuah drama yang menarik?" bisik Merlyn. Wanita itu tersenyum sinis. Ia menghela nafas sesaat. "Tolong... Tolong aku..." teriak Merlyn. Dalam waktu bersamaan, Jonathan terlepas dari pengaruh Merlyn.


"Ada apa teriak-teriak?" tanya dua suster yang mendengar teriakan Merlyn.


"Pria ini menyakitiku. Aku.. benar-benar..." Merlyn mengeluarkan air mata palsunya. Jonathan mengepalkan tangan sambil tertawa.


"Kamu menang kali ini, Merlyn!" Jonathan pergi dari hadapan Merlyn. Wanita itu tersenyum puas.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya salah satu diantara dua suster.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit syok."


"Sepertinya kita harus lapor polisi," ucap seorang suster lainnya.


"Tidak perlu. Aku rasa, tidak akan berani kesini lagi," ujar Merlyn sambil tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu kami akan pergi." Dalam waktu bersamaan, Carlos datang.


"Anda darimana saja?" tanya seorang suster.


"Ah, itu ..."


"Anda harus memperhatikan istri Anda lagi."


"Istri?" Carlos tersenyum. Merlyn tertawa.


"Baiklah. Aku akan menjaga istriku dengan baik," ucap Carlos sambil tertawa kecil. Dua suster itu pergi darisana.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Carlos.


"Jonathan datang kesini."


"Apa? Kok bisa? Padahal aku berusaha untuk menutupinya."


"Jonathan licik. Dia pasti menggunakan seribu cara untuk tahu keberadaanku."


"Apa yang dia inginkan?" tanya Carlos.


"Bagaimana dengan Jay?" tanya Merlyn. Ia mengalihkan pembicaraan. Carlos berpikir sesaat.


"Ada apa? Ada hal buruk menimpa dirinya?"


"Itu... Kamu tidak perlu cemas. Pikirkan saja soal anakmu. Dia tidak apa-apa," ucapnya berbohong. Ia tak ingin sesuatu buruk terjadi dengan Merlyn. Tetapi, Merlyn tahu ada sesuatu yang disembunyikan Carlos.


"Carlos!"


"Iya Merlyn?"


"Tidak apa-apa."


"Kamu tidak percaya kalau Jay baik-baik saja?" terka Carlos.


"Hmm."


"Apa kamu menyukai Jay?"


"Hah? Mana mungkin. Aku menganggapnya dia temanku, sama sepertimu.


"Aku tidak yakin."


"Astaga. Kau ini ya... Atau kau yang menyukaiku. Kamu cemburu? Hahaha.. Gak mungkin kan?" ujar Merlyn. Carlos tak bicara. Raut wajah Merlyn mendadak berubah.


"Carlos... Kenapa kamu diam saja? Kamu gak mungkin..."


"Mana mungkin menyukai wanita payah spertimu," celetuh Carlos.


"Kamu menganggapku payah? Kau.." Tiba-tiba perut Merlyn sakit.


"Kenapa? Ada apa? Apa sakit? Aku akan memanggilkan dokter," Carlos panik. Ia mendekati Merlyn.

__ADS_1


"Aku..." Merlyn menatap Carlos. Nafasnya tersengal-sengal.


__ADS_2