Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Penantian


__ADS_3

"Apa kamu bisa menembakku?" Ejek Jonathan.


"Kamu bahkan tidak bisa memegang pistol dengan benar." Seringai Jonathan. Jay berusaha merebut pistolnya dari tangan Zion. Akan tetapi, Zion menekan pelatuk. Ia hampir mengenai Jonathan, jika bukan Jay yang menghalanginya.


"Kamu! Jangan menggangguku!" Seru Zion.


"Kamu sangat payah memegang pistol." Gerutu Jay.


"Biar aku saja!" Zion tak peduli. Ia tetap mengarahkan pistol itu kearahnya.


"Aku akan mengajarkan, bagaimana cara memegang pistol." Ujar Jonathan sambil tersenyum miring. Kemudian, ia mengarahkan pistol kearah Zion sambil menekan pelatuk. Jay mendorong Zion untuk menyelamatkannya, sehingga arah peluru tersebut tak mengenainya.


"Jangan mati konyol!" Seru Jay. Ia mengambil senjata nya kembali dari tangan Zion. Lalu, ia menembak Jonathan. Arah tembakannya meleset dikarenakan Jonathan menghindar.


"Kamu bahkan gak bisa mengenainya." Ucap Zion. Ia merebut kembali pistol dari Jay. Kali ini, ia yakin, ia bisa mengenai Jonathan. Zion menatap Jonathan. Lalu, ia menekan pelatuk. Dor.. Dor.. Dor.. Zion tersenyum, saat tembakan itu mengenai lengan kanan Jonathan.


"Sekarang, kau kena!" Seru Zion. Bau darah menyengat melalui lubang hidung Jonathan.


"Hanya kebetulan saja." Ucap Jonathan terlihat santai.


"Kamu masih saja sombong!" Zion menggerakkan kakinya dengan cepat hingga mengenai wajah Jonathan. Pria itu merintih kesakitan.


"Hahahaha... Ternyata aku meremehkanmu." Jonathan menekan pelatuk sekali lagi. Tetapi tertahan, saat Zion menyingkirkan senjata Jonathan menggunakan kakinya. Lalu, Zion mengambil benda tersebut.


"Sekarang, senjatamu ada padaku." Zion merasa bangga akan kemampuan yang ia miliki. Akan tetapi, wajah Jonathan tak terlihat kecewa. Ia seakan menghina Zion. Saat Zion menggunakan pistol milik Jonathan, kedua tangan Jonathan terangkat keatas.


"Baiklah. Aku menyerah." Ucap Jonathan. Jay merasa ada yang Jonathan sembunyikan.


"Berhati-hatilah! Sepertinya dia punya rencana lain." Tutur Jay.


"Aku tahu." Ucap Zion.


"Kita damai, oke?" Ujar Jonathan sambil menyeringai. Zion dan Jay saling menoleh. Mereka tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jonathan.


"Aku terluka. Aku tidak bisa bertahan lama." Ucap Jonathan. Dia mencari celah diantara kedua pria tersebut. Tak lama, Zion mengembalikan pistol Jay. Saat mereka lengah, Jonathan mengambil satu senjata dari saku yang satunya, lalu menembak kearah mereka. Jay menghindar, namun peluru itu mengenai Zion. Luka sobek mengenai kaki Zion. Tak berlangsung lama, tembakan Jonathan dibalas oleh seseorang. Kali ini, Jonathan terluka pada bagian dada. Ia merintih kesakitan.

__ADS_1


Zion mencari tahu siapa yang membantunya. Ia melihat seorang pria memegang pistol dengan bekas luka diwajahnya. Pria itu menunduk kearah Zion. Tetapi, Zion tak mengenalinya. Ia yakin, pria yang membantunya berhubungan dengan Wilson.


"Tuan muda!" Sapa Darion. Wajah dan sorotan matanya sangat tegas, seperti seorang ksatria. Darion melihat luka robekan Zion. Luka itu cukup dalam. Lalu, ia mengambil sesuatu dibalik jaket yang ia kenakan. Ia mengeluarkan kotak berwarna putih. Saat membukanya, kotak itu berisi peralatan medis, diantaranya terdapat jarum dan benang. Bukan jarum dan benang biasa, melainkan kedua benda itu khusus dipakai saat menutup bagian luka yang terbuka.


"Bertahanlah, Tuan muda! Ini pasti sakit." Ujar Darion. Ia membersihkan terlebih dahulu luka Zion. Lalu, menjahit luka tersebut dengan terampil. Kecepatan yang dimiliki oleh Darion, mencengangkan siapapun yang melihatnya. Zion menahan rasa sakit yang ia derita sekaligus memuji keterampilan yang dimiliki oleh pria tersebut.


"Apa kau seorang dokter?" Tanya Zion.


"Bukan."


"Lalu kenapa kamu bisa menjahit lukaku dengan baik?"


"Hanya keterampilan saja." Ucapnya santai.


Sementara itu, Jonathan masih bisa bergerak setelah mendapat tembakan dari Darion. Jay memuji daya tahan tubuh Jonathan yang bisa bertahan hingga detik itu. Jonathan menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk melawan Jay. Akan tetapi, Jonathan terlalu lemah. Ia berkali-kali terjatuh. Jay tampak kasihan melihat perjuangan Jonathan. Tetapi Jay takkan mengalah padanya. Ia tak punya pilihan lain, selain membiarkan Jonathan menderita sendiri.


Jay masuk kedalam pintu Gudang yang beraroma tak sedap. Dia seakan mau muntah, saat hidungnya bersentuhan dengan aroma tersebut. Kalau bukan demi menyelamatkan Anna, Jay tidak akan memasuki daerah itu. Jay memperhatikan seluruh isi Gudang tersebut, hanya berisi barang-barang yang tidak dipakai. Ketika diperhatikan sekali lagi, ia merasa ada yang mengganjal didalam hatinya. Ia memperhatikan tumpukan kardus dengan posisi yang tak biasa. Ketika ia memindahkan semua tumpukan kardus tersebut, ia melihat pintu yang berukuran mini.


Jay berjongkok sambil berjalan, saat memasuki pintu tersebut. Karena ukuran pintu lebih kecil darinya, berkali-berkali kepala Jay terbentur. Ia tak peduli akan rasa sakitnya. Semakin lama berada disana, Jay mendapatkan titik terang. Kakinya bisa ditegakkan, tanpa harus berjongkok lagi. Ia berjalan, lalu tatapannya beralih pada seorang gadis yang terbaring lemah dengan selang infus yang melekat pada tubuh gadis tersebut.


"Anna..." Batinnya. Anna terlihat seperti seorang Puteri yang menunggu sang Pangeran untuk membangunkannya. Jay menggendong Anna, tetapi ia agak kesulitan untuk membawanya. Jay mencari cara agar bisa leluasa membawa Anna darisana. Ia tak tahu ada jalan rahasia lagi. Sebenarnya, Gudang itu menyimpan sejuta rahasia yang tidak diketahui oleh orang lain.


"Zion!"


"Aku tak sengaja mendengar suara tembakan dari arah sini, aku mengira ada orang lain lagi yang mencoba menculik Anna."


"Tempat ini menarik juga." Ujar Zion. Perlahan, ia menatap Anna yang terbaring lemah dalam dekapan Jay. Wajah pucat yang selalu ia rindukan. Zion tersenyum kecut, ketika melihat tubuh Anna yang kian mengerucut. Dalam hitungan detik, ia mencium kening Anna. Jay membiarkan Zion.


"Sini, aku akan membawanya." Ucap Zion.


"Tidak bisa. Aku yang akan merawatnya." Tolak Jay.


"Aku bisa merawatnya sendiri." Ujar Zion.


"Biarkan aku saja." Jay tak mau mengalah.

__ADS_1


"Dia adalah pacarku, sekaligus calon istriku." Tegas Zion.


"Kamu tak lihat kakimu terluka? Kamu mau Anna terjatuh karena rencana bodohmu itu?" Ujar Jay. Zion berpikir, apa yang dikatakan Jay ada benarnya.


"Baiklah." Zion menyerah. Ketika mereka keluar darisana, Jonathan sudah tidak ada. Darion mengatakan ada seseorang yang tiba-tiba membawanya, ketika mereka lengah.


"Terima kasih, Jay. Mulai saat ini, Anna akan menjadi urusanku." Ujar Zion.


"Darion, tolong bawa dia!"


"Siap, Tuan muda."


"Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?" Tanya Jay.


"Perjanjian apa?"


"Kondisi Anna sudah tak memungkinkan lagi untuk bisa bertahan lebih lama. Jalan satu-satunya untuk membiarkan dia bersamaku. Aku sudah menemukan seorang Professor yang terbaik untuk mengobati Anna. Hanya menunggu jadwal antrian dari dokter tersebut.


"Tetapi..."


"Zion, aku tahu kamu tidak rela melihat kekasihmu bersama pria lain. Tetapi ini semua demi Anna."


"Kalau kamu tidak percaya padaku, kamu bisa mengecek handphone ku sendiri." Jay mengambil ponsel yang berada di saku, lalu membuka kode sandi yang melekat pada ponselnya. Setelah itu, ia memberikan pada Zion. Pria itu melihat berbagai WhatsApp serta daftar orang-orang yang dihubungi oleh Jay. Ia menemukan catatan Rumah Sakit, yang berhubungan dengan Anna.


"Bagaimana? Kau percaya padaku sekarang?"


"Baiklah. Tetapi jangan pernah sesekali untuk membohongiku." Zion menatap tajam kearah Jay.


"Aku mencintai Anna, jadi tak mungkin aku menyakitinya." Ucap Jay. Zion menatap Anna. Kemudian, ia mencium kening Anna dengan tulus.


"Aku akan membiarkan kalian bertemu, saat Anna sudah pulih." Ucap Jay.


"Sayang, aku yakin sebentar lagi kita akan bersama. Aku tidak akan membiarkan siapapun untuk melukaimu, termasuk Jonathan." Batin Zion.


"Darion, ayo kita pergi!"

__ADS_1


"Siap, Tuan muda." Zion tak rela meninggalkan Anna. Ia berjalan sambil melihat Anna hingga masuk ke dalam Mobil. Sedangkan Jay, ia tersenyum.


"Zion, saat Anna berada ditanganku, aku tidak akan membiarkan siapapun untuk bersamanya, termasuk dirimu." Jay memiliki rencana terselubung, selain menyembuhkan Anna.


__ADS_2