Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Duel (2)


__ADS_3

Jay memandang Anna dalam diam. Saat ini, hatinya bersenandung ria melihat Anna yang tampak ceria. Ia menarik Anna kedalam dekapannya, saat ia menyetir. Anna terpaksa membiarkan Jay melakukan hal yang tak ia sukai. Anna menginginkan sesuatu dari Jay.


"Jadi kamu sudah menetapkan hatimu padaku, Anna?"


"Aku..."


"Ada apa? Kamu ingin meminta sesuatu dariku?" Jay tak sebodoh itu. Ia tahu dengan perubahan sikap Anna. Tak lama, Anna sadar dengan sikapnya yang konyol. Ia membetulkan posisi duduknya. Ia berpikir sikapnya tak ada bedanya dengan wanita murahan.


"Maaf."


"Lebih baik menolakku, daripada kamu menerimaku dengan sikap mu yang begini."


"Kamu tampak aneh."


"Sebenarnya, aku ingin menemui pacarku." Ujar Anna.


"Kamu sudah punya pacar?" Tanya Jay. Aura wajahnya tampak kecewa.


"Namanya Zion, pria yang waktu itu bertemu denganmu."


"Zion? Ah, maksudmu dia." Jay ingat seorang pria yang bisa membuat Anna tersenyum waktu itu.


"Aku ingin menemuinya. Aku sangat merindukannya."


"Maaf, tetapi aku gak bisa membawamu kesana."

__ADS_1


"Kalau begitu, turunkan aku disini! Aku ingin menemuinya sendiri." Anna nekat untuk keluar dari mobil. Jay menepikan mobil nya. Akan tetapi, Anna tak bisa keluar karena pintu mobil dalam keadaan auto lock.


"Jay! Tolong buka pintunya!" Teriak Anna.


"Aku berubah pikiran. Mulai sekarang, kamu adalah milikku." Ucapnya. Ia memutar arah mobilnya.


"Kau gila! Jay, kemana kita pergi?" Teriak Anna. Akan tetapi, Jay tak menghiraukannya. Ia mengemudikan mobil dengan kencang, Anna takut dengan sikap Jay yang gila. Dibalik ketakutan Anna, sebuah mobil berada dibelakang mobil Jay. Jay melihat mobil itu terus mengikutinya. Pria itu tersenyum. Ia menambah kecepatan pada mobilnya. Tak mau kalah, mobil yang berada dibelakang Jay, berhasil menyamainya. Keduanya seimbang. Mobil yang mengikuti Jay berusaha agar mendahului, namun Jay tak mengalah. Ia terus tak menurunkan kecepatan. Jay semakin gila. Pria yang mengikuti Jay juga terlihat gila. Keduanya menyeringai. Jay melihat mobil yang mengikutinya berhenti. Ia tak peduli. Ia terus melaju. Tanpa ia sadari, sebuah jet terbang diatasnya, seseorang menembak kearah mobil Jay menggunakan snipper. Jay kehilangan arah. Mobilnya tak seimbang. Ia melihat Anna kehilangan kesadaran, namun ia tak menyadari kapan Anna pingsan. Melihat hal itu, Jay mulai sadar. "Astaga, apa yang sudah aku lakukan?" Batin Jay. Ia mengurangi kecepatan pada mobil, namun ia mencari celah agar posisi mobilnya tertutupi dengan kendaraan lainnya. Akan tetapi, orang tersebut tak peduli, ia malah menembaki semua kendaraan, hingga oleng. Melihat beberapa kendaaran hancur disekeliling mobilnya, ia menepikan mobilnya, lalu menghentikan mobil tersebut. Tak lama, seorang pria turun dari Jet menggunakan parasut sambil memegang snipper. Mata Jay membelalak lebar tak percaya siapa pria yang daritadi menembakinya.


"Jonathan?" Batin Jay. Ia turun dari mobil. Jonathan mengarahkan snipper kearah Jay sambil mengulas senyuman. Akan tetapi, Jay tak sebodoh yang dipikirkan Jonathan. Ia menelepon seseorang.


"Jalankan rencana A." Ujar Jay di telepon. Jonathan tak mengerti pada sikap Jay yang terlihat tenang, namun ia tak peduli. Ia mengarahkan snipper pada Jay. Ketika Jonathan menekan pelatuk, tiba-tiba ponsel Jonathan berdering. Jonathan tetap tak peduli, namun ponselnya terus berdering tanpa henti.


"Bukankah kamu harus menerima telepon dulu, biar tidak menyesal?" Ujar Jay. Jonathan dengan berat hati menerima panggilan teleponnya.


"Maaf, tuan, gudang utama terbakar. Sepertinya ada bom sekitar sini. Kami tidak bisa menyelamatkan barang-barang yang ada disini." Ungkap seseorang disana.


"Apa kau bilang?" Jonathan melihat Jay yang tertawa.


"Jadi ini ulahmu, ya? Tidak buruk juga." Gumam Jonathan.


"Tidak, Tuan. Ini bukan ulah saya." Seorang pria tersebut mengira Jonathan menuduhnya.


"Lakukan apa saja yang kau bisa. Aku akan segera kesana." Ucap Jonathan, tak lama ia memutuskan panggilan.


"Hebat, kau! Tahu darimana aku memiliki gudang utama?"

__ADS_1


"Tak sulit bagiku menemukan tentangmu. Aku penasaran apa isi didalam gudang itu, sehingga wajahmu tampak pucat. Mungkin kamu harus kehilangan beragam barang dari aksi kejahatanmu."


"Jangan merasa menang dulu! Kamu gak akan bisa menang melawanku. Saat orang lain belajar berjalan, aku belajar menggunakan pistol dan segala senjata tajam." Ujar Jonathan. Ia memutar kepalanya.


"Oh, ya? Aku jadi takut. Sekarang, adikmu berada dalam genggamanku. Apa kamu tak peduli dengannya?"


"Aku hanya perlu menyingkirkanmu." Ucap Jonathan. Ia menembaki Jay menggunakan snipper. Karena Jay menghindar, ia terkena pada bagian lengan kanan.


"Menurutmu aku tidak bisa membunuhmu, walaupun kamu bersama adikku?" Wajah Jonathan berubah. Ia tak tenang seperti biasanya.


"Hahahaha... Inilah wajah yang ingin aku lihat. Akhirnya, kamu menunjukkan nya."


"Jonathan, aku tahu kalau aku tidak bisa menyamaimu dalam bermain senjata, namun, aku bisa mengalahkanmu dalam taktik." Ucap nya. Ia menahan rasa sakit yang membara.


"Coba saja, kalau kamu bisa! Hari ini, aku akan mengakhiri riwayatmu." Ujar Jonathan. Jay tak peduli. Ia mengulur waktu untuk menunggu ponselnya yang berdering. Waktu yang ditunggu-tunggu Jay datang, ponselnya berdering. Tak lama, ponsel milik Jonathan juga ikutan berdering.


"Kamu harus periksa lagi, ponselmu."


"Kali ini apa rencanamu? Menurutmu kamu bisa menghentikanku? Itu tidak akan terjadi." Jonathan menekan pelatuk nya lagi dan mengarahkan pada kepala Jay.


"Bunuhlah aku! Tetapi kamu akan menyesal setelah membunuhku. Aku sudah menyuruh seseorang untuk mencari bukti kejahatanmu dan sekarang bukti itu akan dikirim pada seluruh media sosial. Meskipun aku mati, cepat atau lambat dunia ini akan tahu tentang kebusukanmu. Coba saja, kalau kamu tidak percaya!" Ujar Jay. Selama Carlos bekerjasama dengannya, ia tak khawatir akan apapun. Carlos memiliki akses pada beberapa kawasan yang dimiliki Jonathan. Hal itu dimanfaatkan oleh Jay untuk menyerang titik kelemahan Jonathan. Dia yakin kali ini, Jonathan tak bisa berkutik lagi. Seperti yang ia duga, Jonathan menghela nafas. Ia menurunkan senjatanya, lalu membaca pesan whatsApp dari anak buahnya, ia tampak kacau.


"Baik, sekarang kamu menang. Tetapi tunggu saja, selanjutnya. Aku akan menghancurkanmu." Ujar Jonathan. Ia pergi. Jay tersenyum bangga.


"Akhirnya..." Jay lega, namun tubuhnya terjatuh. Sebelum ia kehilangan kesadaran, ia menghubungi Carlos. Carlos datang memenuhi panggilannya. Ia melihat Jay bersimbah darah. Dan tak sengaja ia juga melihat seorang wanita didalam mobil Jay tanpa kesadaran. Carlos memasukkan Jay kedalam mobilnya. Lalu, ia mengendarai mobil pria tersebut. Sementara itu, Jonathan kesal. Tak disangka, ia terlalu meremehkan Jay. Kali ini, ia akan menghancurkan Jay berkeping-keping. Dalam pemikirannya, ia memikirkan sebuah nama. Nama itu hampir terhapus dari ingatannya. Ia yakin, Jay takkan bisa berkutik lagi.

__ADS_1


__ADS_2