
Zeus tiba dengan pistol yang ia genggam. Lawannya menyandera Akiko, terlebih lagi pria itu mengarahkan pistolnya ke kepala Akiko. Zeus semakin geram. Ia tak ingin Akiko celaka.
"Siapa kau? Lepaskan dia!" teriak Zeus. Ia membabi buta.
"Aku akan melepaskannya, asalkan kamu memberikan penawar racun padaku."
"Penawar racun? Jadi, kamu..."
"Cepat serahkan penawar racun itu!"
"Aku tidak membawa penawar itu."
"Bohong. Kamu pikir, aku percaya begitu saja kata-katamu?"
"Aku tidak..."
"Baiklah, jika kamu tidak menyerahkannya.. Dia akan..."
"Kakak..." lirih Akiko, seraya menangis. Sebenarnya, Darion tak mau mengambil jalan ini. Ia terpaksa menggunakan cara ini karena situasinya yang darurat.
"Akiko.. Jangan cemas, kakak akan menyelamatkanmu!"
"Aku terharu mendengarnya. Tak menyangka, sosok pria sepertimu memiliki hati yang lembut."
"Kalian akan membayar hal ini!"
"Seharusnya, kamu berterima kasih padaku karena kami belum membeberkan rahasiamu pada orang itu. Menurutmu, apa yang terjadi, jika dia tahu kalau kamu punya kelemahan? Dan kamu menyembunyikan sesuatu dari dia begitu lama."
"Itu bukan urusanmu! Cepat, serahkan dia padaku!"
"Penawarnya dulu," tawar Darion. Ia tak mau mengalah. Zeus mengepalkan kedua tangan.
"Ambillah!" Zeus melempar plastik kecil yang isinya penawar racun.
Saat itulah Darion mendorong Akiko. Beruntung, Akiko tak terluka karena Zeus cepat menangkapnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zeus. Raut wajahnya terlihat khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Kak," ujar Akiko bernada rendah, namun masih bisa terdengar oleh Zeus. "Maaf, kak," Akiko menunduk sedih. Tak terasa ia meneteskan air mata.
__ADS_1
"Kenapa kamu minta maaf? Kamu tidak salah apa-apa. Kakak yang minta maaf tidak bisa menjagamu dengan baik," ujarnya sambil menghapus air mata pada wajah Akiko
"Andai saja aku lebih berhati-hati. Aku tidak mungkin terjebak."
"Kita sebaiknya cari tempat teraman dulu untuk bicara," ucap Zeus, seraya melihat sekelilingnya.
"Baik, kak."
"Akiko!"
"Iya kak?"
"Jangan jauh dari pandanganku. Tetaplah disisiku," ucap Zeus tampak serius. Akiko tertawa geli dalam hatinya. Ia tahu maksud dari ucapan Zeus. Pria itu ingin melindunginya layaknya seperti seorang kakak.
Mereka bukanlah saudara kandung, namun keduanya saling melindungi, memperhatikan, serta berbagi kesenangan dan kesedihan bersama.
°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°
Zion berjalan mondar-mandir. Ia sama sekali tidak tenang. Wilson menghela nafas melihat ketidaktenangan pria itu. Ia menepuk pundak Zion untuk menenangkannya.
"Bersabarlah!"
"Darion tidak pernah gagal. Percayalah, dia pasti akan mendapatkan penawarnya."
"Kakek, aku sudah tidak mengerti lagi. Aku tidak bisa berpikir jernih, jika Anna...Dia.."
"Zion! Racun yang..."
"Aku tahu apa yang kamu bicarakan, Merlyn! Kamu bilang kalau racun itu tidak mematikan. Tetapi kenapa sampai sekarang, Anna tidak siuman? Kenapa?"
"Berhenti membentaknya! Dia sedang hamil. Kasihan bayinya," celetuk Carlos. Kedua mata nya melotot tajam.
"Zion, bisakah kamu lebih tenang lagi? Aku sudah mengatakan berkali-kali kalau Anna akan baik-baik saja. Kemungkinan buruknya, ia bisa lumpuh. Tetapi aku sangat yakin, saat ini Darion sudah mengambil penawarnya. Percayalah pada takdir bahwa Anna tidak akan apa-apa. Dia adalah perempuan yang kuat," ucap Merlyn. Zion menarik nafas, walau beban yang ia rasakan belum berkurang.
"Tuan muda tidak perlu khawatir, saya telah mendapatkan penawarnya," ujar Darion. Raut wajahnya terlihat lelah.
"Darion! Kamu sudah menemukan penawarnya?" Zion tak sabar ingin segera melihat Anna sembuh.
"Ini, tuan muda," Darion menyerahkan penawar racun pada Zion.
__ADS_1
"Apa itu asli? Dia tidak membohongimu?" tanya Jay.
"Dia adalah pria yang licik. Tetapi, dia akan tepojok jika adiknya dalam bahaya," timpal Merlyn.
"Itu artinya, dia tidak membohongi kita. Dan penawar racun ini asli," ujar Zion.
"Tunggu apalagi? Cepat berikan itu pada puteriku! Aku ingin putriku keluar dari rumah sakit ini. Aku tidak mau melihat dia..."
"Dia akan baik-baik saja dengan penawar ini," ucap Zion. Ia masuk kedalam ruangan Anna setelah mendapatkan ijin dari dokter. Sebab, untuk masuk kedalam ruangan itu harus memerlukan ijin dokter.
Zion melihat wajah Anna yang memucat. Tubuhnya terlihat lebih kurus dibandingkan terakhir kali mereka bertemu. Tanpa sadar, Zion meneteskan air mata. Pria itu menggenggam tangan Anna, lalu mencium tangan tersebut.
Zion memasukkan penawar itu kedalam mulutnya dan berharap Anna pulih. Ia tak sabar melihat senyuman dibibir gadis itu. Tak hanya itu, Zion merindukan Anna yang memarahinya, yang cemburu, yang malu-malu saat berduaan dengannya, terlebih lagi detakan jantung Anna seperti bom meledak.
Memikirkannya saja, tak kuasa menahan segala kesedihan dihati Zion. Pria itu mencium kening Anna dalam diam. Ia tak bisa berkata apa-apa. Biarlah hatinya yang berbicara.
Zion menatap Anna, sudah menunggu cukup lama, namun tak ada reaksi dari gadis itu. Zion takut kalau kehilangan Anna. Ia membangunkan Anna secara perlahan, tetapi tak ada respon.
"Anna...Jangan membuatku takut, please," batin Zion. Ketakutannya memudar, ketika ia memeriksa denyut nadi gadis itu. Anna masih bernafas. Hoeek... Anna muntah secara tiba-tiba. Zion kaget, ia memanggil dokter untuk menyuruhnya memeriksa keadaan Anna.
Zion keluar dari ruangan itu dalam hati yang lega. Setidaknya, racun yang berada ditubuh Anna berhasil dikeluarkan.
"Apa yang terjadi? Anna tidak apa-apa, kan?" tanya Jay. Zion tak menjawab. Ia menatap Jay sekitar tiga puluh detik. "Ada apa? Kamu membuatku takut," Jay mengguncangkan bahu Zion.
"Dia..."
"Ada apa? Keadaan puteriku semakin memburuk?"
"Malah sebaliknya. Anna telah memuntahkan racun," ucap Zion. Senyum mengembang pada bibirnya. Semua orang disana tersenyum senang. Dalam waktu bersamaan, dokter yang memeriksa Anna keluar dari ruangannya.
"Jangan khawatir, dia sudah melewati masa kritis," ucap dokter sambil tersenyum. Mereka tak bisa berkata apa-apa. Hanya senyuman lebar dan hati bahagia yang mereka rasakan.
Waktu bergulir dengan cepat. Tanpa terasa, Anna membuka mata. Cukup cepat ia mengenali disekelilingnya. Ia tersenyum kecut, tak menyangka kembali ke Rumah Sakit. Ia teringat akan kenangan buruknya berada di Rumah Sakit. Rasanya tidak mengenakkan jika hal itu diingat kembali.
"Anna!" panggil Eveline, air mata telah membasahi wajah cantiknya. Wanita itu memeluk Anna. Mereka terhanyut dalam pelukan. Melihat itu, Zion mengurungkan niatnya. Ia memberikan waktu pada mereka. Ia tahu banyak hal yang akan mereka bicarakan.
Hubungan antara ibu dan Anna tak selamanya terpecah belah. Eveline tahu dirinya telah banyak berbuat jahat pada anak semata wayangnya. Kali ini, ia tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Wanita itu sungguh menyesal menyia-nyiakan anak kandungnya demi pria kejam seperti Jonathan.
Andai saja waktu berputar kembali, Eveline tidak akan mengabaikan Anna dan akan memberikan semua kasih sayangnya pada gadis tersebut. Penyesalan seseorang selalu datang terlambat. Tetapi tak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan, asalkan mau bertobat dan tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya.
__ADS_1