Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Harapan


__ADS_3

Anna berangsur-angsur pulih, setelah ia berada di Rumah Sakit selama berhari-hari. Tak ada keanehan yang ia rasakan pada tubuhnya. Ia tampak sehat. Karena ini adalah hari terakhirnya berada di Rumah Sakit, ia pergi ke Ruangan administrasi untuk menyelesaikan biaya yang belum ia bayar. Tetapi, karena ia tak membawa uang, ia menelepon Jonathan untuk menjemputnya. Tiga kali panggilan dari Anna tidak terjawab. "Mungkin kakak sibuk?" Batinnya.


"Maaf, bisakah Anda menunggu sebentar saja? Saya akan menelepon seseorang untuk menyelesaikan biaya administrasinya."


"Atas nama siapa?" Tanya seorang wanita berbadan dua dengan ramah.


"Anna." Ucapnya. Wanita itu memeriksa nama Anna pada layar komputernya.


"Biaya administrasi Anda telah terbayarkan." Senyum merekah dibalik bibirnya yang cantik.


"Dibayar sama siapa?" Setahu Anna, ia belum menghubungi Ayah atau Ibu nya, hanya Jonathan yang ia hubungi. Pikiran Anna berkecamuk.


"Disini tertulis, Raymond Reinhard."


"Sepertinya ada yang salah. Ini..."


"Tidak ada yang salah, nona." Sahut dr. Ray. Ia menghampiri Anna sambil tersenyum.


"Dokter!"


"Kamu sudah mau pulang, ya?" Tanya dr. Ray.


"Benar. Itu..." Anna tak sengaja melihat name tag yang berada di pakaian dokter Ray. Disana tertulis, Raymond Reinhard.


"Ja...Jadi Raymond Reinhard adalah dokter?"


"Benar. Saya bisa dipanggil Ray." Sejuta senyuman mendarat pada bibir manisnya.


"Ke... Kenapa? Ki.. Kita bahkan tidak saling mengenal."


"Saya tak punya pilihan. Saat itu, kondisimu tak bisa diremehkan. Kalau saya meminta persetujuan dulu dari keluargamu, saya tak menjamin, sesuatu yang baik terjadi padamu. Karena itu, saya memilih untuk menjadi walimu dan membiayai segala pengobatanmu selama disini.


"Terima kasih banyak, dokter. Suatu saat nanti, saya akan membalas kebaikan Anda."


"Tidak perlu. Kamu hanya perlu istirahat dan jangan memikirkan apapun."


"Dokter Ray tak perlu khawatir. Lihatlah, saya terlihat sehat sekarang!" Ucap Anna sambil melompat-lompat ringan.


"Tetapi kamu harus tetap berhati-hati. Tak ada yang tahu kedepannya." Ucapnya mengingatkan Anna.


"Kalau ada sesuatu yang aneh dalam tubuhmu, segera periksa ke Rumah Sakit yang terdekat." Ucap dr. Jessica. Ia datang menghampiri Anna.


"Terima kasih, dokter." Tutur Anna sambil menundukkan kepala.


Setengah jam telah berlalu, Anna memanggil Taxy untuk menuju ke Rumahnya. Ia duduk manis sambil membuka kaca mobil. Lalu, ia menutup mata, mengeluarkan tangan, membiarkan kesejukan mengalir melalui pori-pori kulitnya. Tak terasa, Taxy yang Anna naik, posisinya tak jauh dari Rumahnya. Tak berlangsung lama, ia melihat mobil Jonathan yang berpapasan dengannya. Ia menyapa Jonathan, tetapi pria itu terlalu fokus, sehingga tak menyadari kehadiran Anna. Ia berpikir sejenak.

__ADS_1


"Pak, bisakah Anda berbalik dan mengikuti mobil itu?" Tanya Anna. Apa yang telah merasuki Anna, sehingga ia lebih memilih mengikuti Jonathan, daripada kembali ke Rumahnya.


"Baik." Supir itu mengikuti mobil Jonathan hingga berhenti disuatu tempat. Anna tak mengenal tempat tersebut. Tak lama, Jonathan turun dari mobil. Ia berhenti pada salah satu Restaurant Jepang. Jonathan masuk kedalam Restauran tersebut. Anna ingin mengejutkan Jonathan, tetapi kehadiran sosok lain, mengurungkan niatnya. Jonathan duduk, menatap tajam kearah pria yang duduk dihadapannya. Anna memilih duduk dibelakang Jonathan.


"Ada apa kamu mencariku lagi? Apa kamu ingin, aku mencarikan seseorang untuk memalsukan proyek itu lagi?" Tanya pria yang berada didepan Jonathan.


"Proyek? Proyek apa maksudnya?" Batin anna tak mengerti. Ia mengernyitkan dahi.


"Kamu ingin mencari orang sebodoh dia untuk mengacaukan rencanaku?" Jonathan tersenyum miring.


"Kamu tahu, orang itu belum menyelesaikan tugasnya, tetapi malah langsung kabur seperti seorang pengecut."


"Orang seperti dia, tak pantas untuk bekerja denganku."


"Dan kamu tahu, gara-gara tingkahnya yang bodoh itu, aku menyuruh seseorang untuk melenyapkannya." Ujar Jonathan. Ia mendengus kesal. Anna tak percaya apa yang ia dengar. "Apa ini kakakku? Dia tak mungkin telah... Tidak mungkin. Ini tidak mungkin." Batin Anna. Ia menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, orang seperti apa yang kamu inginkan?" Tanya pria tersebut. Jonathan tersenyum.


"Pelelangan. Buat saja pelelangan agar menarik perhatian Ax Group. Saat terjadi pelelangan, aku ingin Ax Group menghabiskan uangnya untuk pelelangan yang palsu."


"Jadi, kamu ingin menggunakan cara yang hampir mirip seperti Jerry waktu itu?" Tanya pria tersebut. Bibir Anna bergetar. Ia tak menyangka, sosok lembut Jonathan yang selama ini ia tahu, ternyata itu semua adalah palsu. Jonathan sebenarnya, berada dihadapannya saat ini. Anna ingin menghampiri Jonathan, tetapi seseorang menariknya sambil membungkam mulutnya dari belakang.


"Jangan bertindak bodoh!" Bisik seorang pria yang membungkam Anna. Anna merasa, ia tak asing mendengar suara itu. Tak lama, dia menarik Anna agar semakin menjauh dari Jonathan.


"Baiklah. Pergilah sesuka hatimu! Kamu akan menyesal karena tidak akan mengetahui siapa sebenarnya kakakmu itu." Ujarnya. Ia berlalu lalang meninggalkan Anna.


"Tunggu! Anda mengenal Kakak Saya? Maksudku, Kamu mengenal Kakak ku?" Tanya Anna. Anna mengubah perkataannya yang formal, menjadi informal. Pria itu tersenyum. Lalu, ia berbalik.


"Aku sangat mengenalnya. Mungkin kita bisa menjadi sekutu yang baik." Senyumnya merekah.


"Katakan padaku, semua hal yang kau ketahui tentang kakakku!" Anna mencengkeram baju pria tersebut.


"Dari bagian mana? Banyak hal yang tidak kamu ketahui, Anna."


"Kamu tahu namaku. Siapa kamu sebenarnya?"


"Ingat baik-baik, namaku adalah Carlos!" Bisik Carlos.


"Dan aku adalah orang yang ingin membunuh Kakakmu." Bisiknya lagi.


"Membunuh Kakakku? Jadi, kamu adalah..."


"Apa kamu pernah mendengar pepatah, musuhnya musuh adalah teman? Aku mengatakan ini, karena tujuan kita sama." Ucap Carlos.


"Tergantung seberapa banyak dosa yang dimiliki Kakakku terhadapku atau kedua orang tua ku." Ujar Anna, ia menyeringai.

__ADS_1


"Kalau aku mengatakan Kakakmu bukanlah Kakak kandungmu, kamu percaya padaku?" Ungkap Carlos.


"Ceritakan padaku semuanya, sebelum kesabaranku habis!"


"Kamu harus lihat ini." Carlos memberikan ponselnya pada Anna. Gadis itu melihat isi ponsel Carlos.


"Apa ini?"


"Aku merekam beberapa kejahatan yang dilakukan oleh Kakakmu."Ucap Carlos.


"Termasuk... fotonya bersama dengan Jerry." Bisik Carlos. Anna memperhatikan foto-foto Jonathan yang bersama dengan Jerry.


"Apa masuk akal seorang anak ingin menghancurkan keluarganya sendiri, kecuali anak itu bukan anak kandung mereka?" Ujar Carlos.


"Lanjutkan!" Ucap Anna.


"Apa kamu tidak mencurigai Jonathan, setiap Perusahaanmu dalam kekacauan, dia datang seperti malaikat untuk menyelamatkan Perusahaan. Itu dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan dari Ayahmu."


"Untuk apa dia melakukan hal itu? Ayah bisa memberikan Ax Group pada Kakakku."


"Menurutmu untuk apa itu? Bukankah kamu sangat pintar? Aku dengar, kamu selalu mengalahkan Jonathan dalam test IQ. Kamu tidak merasa kepintaranmu berkurang, kan?"


"Jangan meremehkanku! Kalau benar apa yang kamu katakan, itu artinya, selama ini Kakakku adalah orang yang sangat mengerikan."


"Dia bahkan lebih mengerikan dari sosok iblis manapun. Dia seperti malaikat, tetapi hatinya iblis. Itu lah dia."


"Sepertinya, kamu sangat membencinya." Ujar Anna.


"Dia sudah membunuh adikku."


"Apa katamu? Membunuh adikmu?"


"Kenapa kamu terkejut? Sudah kubilang, kan, kamu tidak tahu apa-apa soal dia selama ini. Baginya, kamu tak lebih dari boneka yang bisa dia mainkan sepuasnya." Ujar Carlos.


"Kalau aku memetik dari apa yang kamu katakan padaku, Jonathan adalah sosok yang ingin menghancurkan Keluargaku. Selama ini dia berpura-pura sebagai Kakak yang baik, tetapi dia hanyalah seseorang yang mengawasiku selama ini. Membuatku tak berdaya akan sikap manisnya, lalu mendapatkan kepercayaan Ayahku. Tetapi sayangnya, Ayahku tak ingin dia mengambil alih Ax Group. Karena itulah, dia menghalalkan segala cara agar mendapatkan kepercayaan Ayahku dan juga memanfaatkan keadaanku yang lemah. Begitu kan maksudmu?"


"Kamu sepintar apa yang aku dengar." Puji Carlos.


"Meskipun selama aku hidup, aku tak menyukai kedua orang tuaku. Tetapi, bagaimanapun juga, mereka tetaplah orang tuaku. Aku tidak akan membiarkan seseorang menghancurkan keluargaku."


"Tetapi, Anna dengan dirimu yang sekarang, kamu tidak akan bisa menang melawan Jonathan. Dia terlalu beresiko untukmu."


"Aku tahu."


"Aku punya rencana agar kamu bisa menang melawannya." Ucap Carlos sambil menyeringai. Entah apa yang Carlos rencanakan terhadap Anna, ia hanya ingin seorang sekutu yang kuat untuk menghadapi Jonathan. Carlos yakin, kalau keberanian serta tekad yang dimiliki oleh Anna, mampu menghancurkan Jonathan. Kini, saat nya Anna yang beraksi.

__ADS_1


__ADS_2