
Merlyn pergi ke Rumah Jay. Diwaktu bersamaan, Carlos melihatnya. Karena tak mau dicurigai olehnya, ia menghajar tiga orang pria yang menjaga Rumah Jay.
"Jay!" Sapa Merlyn bingung.
"Kenapa kamu kemari? Apa Jonathan yang menyuruhmu?" Tanya Merlyn.
"Iya. Aku disuruh kemari untuk mempermudah pekerjaanmu." Elaknya.
"Lihatlah, aku sudah membereskan mereka untukmu!" Ujar Carlos.
"Kamu memang pintar. Tetapi.. kau tampak aneh." Bisik Merlyn. Ia merasakan ada keanehan dalam diri Carlos.
"Bukankah kau harus kembali? Aku yakin, Tuan sangat mencemaskanmu. Aku akan mengurus sisanya." Ujar Carlos. Ia tak boleh membiarkan Merlyn mencoba memperdayainya. Karena Carlos sangat mengenal wanita itu.
"Tetapi sayangku tidak akan senang kalau pekerjaan ku belum bersih."
"Aku tak melihat Jay. Seharusnya, sebentar lagi ia akan kemari. Sebaiknya, kita harus berhati-hati."
"Kau mencemaskanku atau mencemaskan dirimu? Aku heran, hari ini kita tampak seperti musuh, bukan seperti kawan."
"Merlyn, aku tidak ada niatan untuk mengkhianati Tuan, jadi lebih baik kamu tidak perlu curiga padaku."
"Benarkah?" Merlyn mendekat. Ia menyentuh wajah Carlos sambil menatapnya.
"Seharusnya, kamu tahu apa yang terjadi dengan Jay. Bukankah sayangku mengirim mu kemari karena Jay?" Bisik Merlyn.
"Kau tak bohong padaku, kan? Aku bisa membuatmu jujur padaku." Bisik Merlyn lagi. Carlos berusaha sadar sepenuhnya. Ia tak boleh terperangkap dengan perkataan Merlyn. Karena perkataan wanita itu mampu membius siapapun yang mendengarnya.
"Sebaiknya kita lakukan bersama untuk rencana ini." Carlos menjauhkan Merlyn dari dirinya. Merlyn tahu Carlos berusaha menghindarinya.
"Aku tahu kau pasti memperdaya Jay." Terka Carlos. Ia berpikir, jika Jonathan memanggil Merlyn, itu pasti untuk membuat Jay tak berdaya. Hanya saja, ia tak tahu rencana apa yang Merlyn pakai untuk Jay.
"Aku akui kau pintar." Ucap Merlyn.
"Baiklah, ayo kita lakukan bersama!" Ujar Merlyn menyerah. Ia masuk kedalam lalu mencari seseorang disana. Carlos tak mengerti apa alasan Merlyn ke kediaman Jay, ia terus menelusuri permainan apa yang sedang dimainkan oleh wanita itu.
"Kenapa kau diam saja? Katamu kita bekerja sama?" Ucap Merlyn.
"Atau jangan jangan kamu tidak tahu apa yang harus kamu lakukan?" Merlyn semakin mencurigai Carlos. Carlos memutar otaknya untuk mencari jawaban yang tepat. "Jika dilihat dari sikap Merlyn, tampaknya dia bukan mencari barang atau benda" Batin Carlos. "Mungkinkah, dia..." Batinnya lagi.
"Kau masih bingung sekarang?"
__ADS_1
"Tidak! Kita harus mencarinya bersama."
"Apa kamu tahu apa yang kita cari?" Tanya Merlyn sambil tersenyum sinis.
"Anna kan?" Terka Carlos.
"Kamu kira aku tidak tahu?" Ucap Carlos, ia bisa membaca ekspresi wajah Merlyn. Dia sudah mengenal lama wanita ini, bahkan sebelum mereka bekerja untuk Jonathan. Tak heran, terkadang Carlos bisa membaca rencana Merlyn.
"Baiklah, ayo kita mencari Anna!" Ujar Merlyn. Carlos berpura-pura tak mengetahui dimana keberadaan Anna. Ia tidak ingin dicurigai kalau dia dan Jay bekerjasama. Carlos terus mencari Anna pada ruangan yang salah.
"Sepertinya aku menemukan gadis itu." Ujar Merlyn.
"Tunggu!"
"Ada apa, Carlos?"
"Setelah kamu memperdaya Jay, apa kamu memiliki rencana lainnya?"
"Kau akan tahu besok."
"Katakan padaku, apa yang akan kamu lakukan padanya besok!"
"Apa kamu berada dipihak Jay? Kenapa terus mendesakku?"
"Dia tidak akan. Karena aku sudah mengatur semuanya dengan baik." Ujar Merlyn. Tak lama, Merlyn melihat Anna yang tubuhnya terpasang dengan infus.
"Kasihan dia. Andai saja dia tidak terlahir sebagai Anna, mungkin nasibnya tidak akan begini." Ujar Merlyn.
"Ayo kita bawa dia!" Ujar wanita itu lagi.
*****************************
Jay mengusap kedua mata nya, ia terbangun dalam keadaan setengah telanjang. Hanya bagian bajunya saja yang terlepas, tetapi tidak pada bagian yang lainnya. Itu artinya, Merlyn dan Jay tidak melakukan sesuatu yang buruk. Merlyn juga bukan typikal orang yang mudah memberikan tubuhnya pada siapa saja. Tugasnya hanya untuk menggoda pria, tetapi bukan untuk melakukan sesuatu yang tak senonoh. Ia tahu batasannya.
Jay menatap sekelilingnya dengan aneh. Ia merasa asing dengan Apartemen, tempat yang saat ini ia berada. Jay berdiri menatap kaca, tak disangka ia menemukan catatan yang ditempel disana."Semalam, kau terlihat sangat tampan. Aku menyukainya." Jay mengacak-acak rambutnya. Ia tak mengingat apa-apa kejadian semalam. Dia bahkan tak berharap membuat kesalahan yang membuatnya dia menyesal. Dibalik pikirannya yang kalud, ponselnya berdering, memecah kesunyian.
"Halo!"
"Kau dimana sekarang?"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, Carlos. Ketika aku bangun, aku sudah berada di Apartemen yang bukan milikku.
__ADS_1
"Itu pasti ulah Merlyn. Kau pasti bingung sekarang." Ujar Carlos.
"Merlyn? Siapa dia?" Tanya Jay. Lalu, ia teringat pada sosok Sharon yang terakhir ia lihat.
"Satu hal yang pasti, Merlyn adalah pacar Jonathan. Dan dia membawa Anna."
"Apa kau bilang?"
"Dia bukan wanita biasa. Berhati-hatilah!"
"Aku terpaksa membiarkan Merlyn membawanya karena aku tidak ingin mereka tahu kalau kita bekerjasama."
"Baiklah. Aku mengerti. Kau dimana sekarang?" Tanya Jay.
"Dan ada satu hal lagi yang gawat."
"Apa itu?"
"Lihatlah, berita!" Ujar Carlos. Jay menyalakan Tv. "Seorang CEO dari Perusahaan J Group, Jay Brayden, dia meninggalkan acara ulang tahun Perusahaannya untuk menghabiskan satu malam dengan seorang wanita. Diduga wanita itu adalah pacar gelapnya yang tak ingin orang tahu." Ujar penyiar Tv tersebut. Dalam tampilannya, Jay menggandeng tangan seorang wanita dalam sebuah Apartemen yang wajahnya tak terlihat. Karena kesal, Jay mematikan remote tv, lalu membanting benda tersebut.
"Jonathaan! Meerlyn! Beraninya kalian mempermainkanku!" Teriak Jay frustasi. Jay bergegas kebawah untuk turun. Tak disangka, ia malah mendapatkan sambutan hangat dari para wartawan yang berdiri mengerumuninya.
"Apa benar Anda memiliki pacar gelap?" Tanya salah seorang reporter.
"Apa benar jika selama ini Anda menyembunyikan keberadaannya karena beda status sosial?" Tanya Reporter lainnya. Tak hanya itu, berbagai macam Reporter menanyainya secara bertubi-tubi. Jay memilih bungkam dan menghindar dari mereka.
****************************
Sementara itu, Merlyn menyiapkan sejumlah foto dirinya bersama Jay. Ia sudah memastikan kalau wajahnya tak terpampang. Ia menggigit jari-jarinya. Ia yakin, Jonathan akan puas dengan kinerjanya. Lalu, ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang disana.
"Halo!"
"Halo sayaaang...!!"
"Kinerjamu bagus. Aku suka itu."
"Aku udah menambahkan bonusnya loh. Kamu pasti tidak akan berpaling dariku kali ini." Ujar Merlyn.
"Lakukan sesukamu. Aku hanya ingin melihat Jay tak berdaya." Jonathan menyeringai.
"Malam ini, mari kita merayakannya, sayang!" Seru Merlyn.
__ADS_1
"Tentu. Aku akan menunggumu ditempat biasa." Ucap Jonathan. Jonathan memutuskan panggilan mereka. Ia tertawa, tak sabar melihat raut wajah Jay saat ini.
Disisi lain, Jay melihat sejumlah dokumen yang ia dapat dari Carlos. Ia tak tahu harus mempercayai apa yang ia lihat atau tidak. Disana tertulis sejumlah informasi mengenai Jonathan. Sekarang ia baru mengerti, kenapa Jonathan menargetkannya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan pada iblis seperti Jonathan.