
Seorang pria berkaos merah melayangkan pukulan pada Zion, ia menghindar, lalu Zion memutar tubuhnya, kemudian menendang bagian punggung pria tersebut. Setelah itu, Zion membalikkan badan, ia memukul dagu pria lainnya menggunakan sikut. Pukulannya keras, sehingga pria tersebut merasakan sensasi terbakar pada dagunya. Gerak kaki Zion sangat cepat. Ia memainkan tangan untuk memukul kearah lain, dan kaki untuk menendang bagian yang tak dijangkau oleh tangannya. Gerakan demi gerakan ia layangkan dengan tangkas. Ia sangat cepat. Tak terasa, puluhan orang tumbang hanya dalam waktu dua puluh lima menit. Nafas Zion terengah-engah, cucuran keringat membasahi tiap bagian wajah tampannya. Ia kelelahan, namun tak mengurangi semangatnya dalam mengalahkan lawan.
Wilson menyaksikan aksi Zion sambil berdiri. Ia sengaja mengirim Zion pada salah satu perkumpulan geng untuk melatih kemampuan yang dimiliki oleh Zion. Hanya ini satu-satunya cara agar memberikan efek maksimal pada kemampuan yang ia miliki. Akan tetapi, Wilson belum puas dengan apa yang dilihatnya. Ia melihat, Zion memiliki banyak celah saat bertarung, jika lawan mempunyai kemampuan yang hebat, kemungkinan bisa mengalahkan Zion dengan memanfaatkan celah tersebut. Zion hanya menang dalam kecepatan saja.
"Cukup!" Seru Wilson, saat menyaksikan Zion yang lelah dalam mengalahkan puluhan orang, meskipun masih ada beberapa orang lagi yang belum tersentuh oleh nya. Namun, bisa dilihat jika kondisi Zion tak memungkinkan untuk bertarung.
"Ayo kita pergi darisini!" Ujar Wilson. Zion menjauhi mereka sambil menstabilkan nafasnya. Sedangkan beberapa dari mereka yang belum bertarung melawan Zion, mengejarnya. Akan tetapi, pengawal Wilson berhasil menghadang mereka. Lalu, mereka melanjutkan pertarungan.
"Kau payah." Ujar Wilson saat di mobil.
"Minumlah dulu!" Wilson memberikan sebotol air pada Zion.
"Terima kasih." Zion merasakan kelegaan, saat sejumlah air masuk kedalam tenggorokannya. Nafasnya mulai stabil.
"Aku belum selesai. Kenapa disuruh berhenti?" Ujar Zion.
"Kalau cara bertarungmu seperti itu, kamu akan kehilangan banyak tenaga dan tenagamu akan habis dalam pertarunganmu selanjutnya. Kamu benar-benar payah."
"Banyak celah saat kamu bertarung. Aku akan mencarikan guru yang hebat untuk mengajarimu.
"Guru? Baiklah."
"Besok persiapkan dirimu. Jangan mengecewakanku!"
"Ah, baiklah. Baiklah." Zion terlihat pasrah.
*******************************
Keesokan harinya...
"Kau sudah datang? Ayo, duduklah!" Ajak Wilson. Ia melihat orang yang dinantikannya telah datang.
"Terima kasih, Tuan Wilson." Ucapnya dengan ramah. Ia duduk di Sofa yang tak jauh dari wilson.
"Mana guruku?" Tanya Zion saat melihat Wilson. Pandangan matanya mencari sesosok guru yang sesuai dengan ekspektasinya.
"Apa yang kau cari? Ini adalah gurumu. Namanya adalah Terra." Ungkap Wilson, menunjukkan sesosok wanita cantik yang duduk didekat Wilson.
"Hah? Dia? Dia hanyalah seorang gadis yang umurnya tak jauh berbeda dariku." Ucap Zion yang menerka-nerka.
"Jangan memandang dari penampilan! Dia ini sangat pandai dalam beladiri."
"Ah, yang benar saja!"
"Dasar tidak sopan! Cepat beri salam pada gurumu!"
__ADS_1
"Aduh, kakek tua, ah maksudku kakek wilson, dia adalah seorang gadis. Mana mungkin seorang gadis mengajari teknik beladiri pada pria sepertiku." Ujar Zion. Ia merasa harga dirinya jatuh. Reaksi Terra berbeda. Ia malah menendang lutut Zion dengan keras.
"Hei apa yang kau lakukan padaku? Lihatlah, lututku sakit!"
"Dasar lemah! Gitu saja udah sakit."
"Apa kau bilang?"
"Aku bilang kamu lemah. Aku tidak pernah melihat pria selemah dirimu. Ckckckck."
"Kau!"
"Sudahlah, ayo pergi ke ruang latihan!" Seru Wilson. Langkah Wilson diikuti dengan Zion dan Terra. Zion memasang tatapan membunuh pada Terra. Mereka pergi ke halaman belakang kediaman Wilson. Tempat itu sangat luas untuk dijadikan latihan kedua orang tersebut. Namun, Terra jengah melihat sikap Zion yang santai. Seakan Zion meremehkannya dan tak begitu mempedulikannya.
"Apa ini sikap seorang pria? Berdiri tegak!" Seru Terra.
"Aduh jangan galak-galak dong. Entar gak laku, loh." Ucap Zion, akan tetapi Terra malah menarik Zion, lalu membantingnya.
"Panggil aku guru. Aku adalah gurumu."
"Aish.. Kau ini wanita bukan sih? Tenagamu kuat sekali, tidak seperti wanita pada umumnya. Jangan jangan kamu adalah pria yang menyamar sebagai wanita!"
"Kamu saja lelaki yang terlalu lembek."
"Ayo, bangun! Berdiri!" Seru Terra lagi.
"Masih bengong?"
"Baik, guru." Zion pun berdiri sambil memutar kedua bola mata.
"Sekarang, serang aku!"
"Aku tidak suka pukul wanita."
"Masih ingin membantah?" Terra hendak melakukan sesuatu pada Zion. Akan tetapi, Zion langsung menyerang Terra. Zion melayangkan pukulan tepat di wajah Terra, namun Terra menahan serangannya. Ia membalikkan serangan hingga Zion terjatuh.
"Ayo bangun!"
"Apa hanya ini kemampuan yang kamu miliki?"
"Kau mengejekku ya? Kemarin, aku menghajar puluhan preman dalam waktu dua puluh lima menit. Itu artinya aku tidak selemah itu."
"Mereka hanyalah preman yang tak berguna. Jadi gampang tumbang."
"Aku dengar dari Tuan Wilson, saat menyerang puluhan preman, kamu sudah tidak sanggup bertahan."
__ADS_1
"Mereka saja yang terlalu banyak." Gerutu Zion.
"Kalau begitu, bawakan aku dua puluh galon. Tidak lebih dari dua puluh menit"
"Apa kamu bilang? Galon? Memangnya disekitar sini ada orang yang jualan galon? Untuk apa aku membawa galon sebanyak itu? Kamu mau meminum sekaligus?"
"Disana ada banyak galon. Kamu bisa mengangkatnya." Sahut Wilson, menunjukkan tempat penyimpanan galon yang berada tak jauh dari mereka.
"Kau sudah dengar, kan? Cepat lakukan!" Seru Terra.
"Baiklah. Baiklah. Dasar nenek galak!" Seru Zion. Zion tak bodoh, ia menyuruh diam-diam beberapa pengawal untuk ikut dengannya mengambil galon. Saat disana, Zion kaget karena galon yang berada dikediaman Wilson sangat banyak. "Dasar orang kaya!" Batinnya.
"Bagaimana menurutmu Zion?" Tanya Wilson pada Terra.
"Dia cepat tetapi masih banyak yang harus dipelajari, Tuan Wilson." Ucapnya ramah.
"Apa dia seburuk itu?"
"Maaf Tuan Wilson. Tetapi saya mengatakan iya."
"Ah, bocak tengik itu! Seharusnya dia memperkuat dirinya dari awal."
"Saya akan berusaha untuk menjadikannya kuat. Beri saya waktu satu bulan."
"Aku tahu kamu sangat tangkas menangani hal semacam itu. Sosok wanita pemberani sepertimu lah yang pantas bersanding dengannya. Aku heran dengannya, apa yang dilihat dari wanita lemah itu, dia harus memiliki wanita yang kuat sepertimu. Bagaimana jika aku menjodohkan kalian? Kalian tampak serasi."
"Tuan, saya..."
"Dia itu sangat tampan, meskipun tingkahnya sangat kekanakan. Hanya dioles sedikit saja, dia menjadi pria yang tiada tandingannya. Bagaimana? Kamu setuju denganku?" Wilson menaikkan alis berkali-kali sambil tersenyum memandang Terry. Ia berharap banyak padanya.
"Itu..." Terra tak melanjutkan pembicaraannya, tatapan Terra beralih pada para pengawal yang membawa sejumlah galon.
"Loh, kok kalian yang membawa galon? Mana Zion?" Tanya Terra bingung.
"Aku disini." Sahut Zion. Ia hanya membawa satu galon.
"Kamu bodoh ya, bisa-bisanya kamu menyuruh para pengawal untuk membawa galon? Aku menyuruhmu bukan orang lain."
"Kamu tahu tidak kenapa aku menyuruhmu untuk membawa galon?"
"Tidak tahu."
"Itu karena aku ingin kamu memiliki energi yang kuat. Itu adalah dasar dari beladiri."
"Dasar beladiri itu hanya mempelajari teknik dasar saja, lalu menyerang lawan saat didepan mata." Ujar Zion enteng.
__ADS_1
"Kamu benar, tetapi tanpa energi yang kuat, tidak akan mampu melawan musuh dengan mudah. Hanya melawan segelintir orang saja sudah tidak sanggup melawan yang lain, apalagi jika dihadapkan lebih banyak musuh?"
"Sekarang, ulangi lagi perintahku yang tadi! Jika membantah, kamu membawa tiga puluh galon dalam waktu lima belas menit." Tegas Terra. Zion terpaksa melakukan apa yang Terra suruh. Kehadiran Terra mampu menurunkan harga diri Zion berkali-kali.