
Jay terbaring, segala mimpi bergelayut dibawah alam sadar. Ia berkeringat, bibirnya pucat. Tak ada keindahan yang terpancar pada wajah tampannya. Nafas Jay tersengal-sengal. Dalam hitungan menit, ia terbangun dalam aura yang mencekam. Ia menatap sekitarnya.
"Hanya mimpi," pikir Jay. Detak jantung ia kendalikan dengan cukup sempurna. Berselang beberapa waktu kemudian, ketidaktenangan kembali mengusik dirinya. Ia mencabut selang infus, meninggalkan aroma kamar Rumah Sakit yang menusuk hidung.
Jay melihat sesosok wanita terbaring lemah dengan selang infus. Ia menatap wanita tersebut sambil menatap sedih. Ada perasaan bersalah yang membebani hatinya. Sepasang mata indah Jay menatap sesuatu yang ia cemaskan. Ia mengelus perut wanita itu secara perlahan.
"Merlyn, maafkan aku," ucapnya sedih.
"Jay! Kamu disini?" Tanya Carlos. Ia datang tanpa Jay sadari.
"Hmm," jawab Jay malas.
"Tenang, Jay. Merlyn yang aku tahu, bukanlah wanita lemah. Sejauh ini, ia berjuang melawan segala relung belung yang menyiksanya. Dia pasti akan baik-baik saja."
"Kau benar," ucap Jay.
"Sepertinya, bayi itu memiliki keinginan kuat untuk bertahan, sama seperti ibunya," ujar Jay kembali.
"Jay, aku ingin tanya sesuatu."
"Apa itu?"
"Apa kamu ada hubungannya dengan bayi Merlyn? Aku bisa melihat kamu lebih mencemaskan bayinya ketimbang Merlyn.
"Aku..."
"Jay.. Carlos..." Merlyn memanggil kedua nama itu dengan suara lemah.
"Merlyn... Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa sakit?" Tanya Carlos. Merlyn menggeleng lemah.
"Terima kasih," lirihnya. Ia tersenyum sambil mengedipkan kedua mata.
"Justru kami yang berterima kasih karena kamu masih hidup dan bisa bertahan sejauh ini," ujar Jay. Merlyn tersenyum tipis.
"Istirahatlah! Jangan sampai kamu keluar kemanapun! Dan jangan bertindak konyol yang membahayakan nyawamu," ucap Jay. Merlyn sedikit terharu akan kebaikan Jay. Wanita itu tak menyangka, Jay menunjukkan sisi baiknya yang tak ia ketahui.
"Ehem...," deheman Carlos, mengembalikan segala pikiran Merlyn.
"Jay..." panggil Merlyn
"Ya? Ada apa Merlyn?"
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Merlyn.
"Kenapa kamu malah memikirkanku? Pikirkan saja soal dirimu dan bayimu."
"Jay benar. Kamu harus fokus dengan keadaanmu. Apalagi, kamu tidak sendirian, ada bayi di perutmu," sahut Carlos.
__ADS_1
"Aku tahu. Aku hanya merasa bersalah disini," Merlyn menunduk sedih.
"Setidaknya aku..."
"Sudahlah, Merlyn. Tak perlu diingat. Hal itu akan membuat hidupmu kian tersiksa," celetuk Jay.
"Masalah Jonathan biar akan menjadi urusan kami berdua. Kamu tak perlu memikirkan baji**** seperti dia," ujar Carlos mencoba memberi ketenangan Merlyn.
"Terima kasih kalian telah menjadi teman terbaikku," Merlyn mengulas senyuman indah.
"Mulai sekarang, aku akan belajar menjadi wanita yang lebih baik lagi bersama anak ini," ucapnya sambil mengelus perut.
"Baiklah. Karena kamu sudah tidak apa-apa, aku akan pergi," ucap Jay.
"Mau kemana?" Tanya Carlos.
"Aku harus mengembalikan segalanya yang hilang dariku," tegas Jay. Sorotan matanya tajam.
"Tetapi, kamu barusan pulih," ucap Merlyn cemas.
"Sekarang aku merasa tak apa-apa. Aku harus pergi."
"Carlos, disini dulu ya, jaga Merlyn."
"Apa maksudmu mengatakan begitu? Tanpa kamu mengatakannya pun, aku pasti menjaga Merlyn dengan baik," celetuk Carlos. Ia memutar kedua mata. Jay menepuk pundak Carlos, seraya meninggalkan tempat itu.
"Ah, sudahlah. Bukan urusanku," batinnya lagi.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Anna menutup mata merasakan tiupan angin yang menggetarkan jiwanya. Lipstik merah yang menghiasi bibirnya ikut merasakan sejuknya udara saat ini. Bibir Anna tersenyum melihat sosok yang ia tunggu-tunggu. Zion melambaikan tangan, sembari tak sabar memeluk Anna.
Langkahnya cepat untuk meraih Anna dalam dekapannya. Baru saja mereka bertemu sehari yang lalu, namun rasa rindu tak tertahan menyelimuti mereka berdua. Zion menatap manis sambil mengecup kening Anna.
"Ayo, sayang! Kita pergi," celetuk Zion. Ia menggandeng Anna, walau jarak mobil tak lebih dari satu meter. Zion membuka pintu mobil depan, seraya memasangkan sabuk pengaman untuk gadis yang ia cintai. Hati Anna melayang-layang, ia tak sanggup bertahan dalam cinta sejatinya.
Sepanjang jalan Anna tersenyum bahagia. Sesekali, Zion melirik Anna dalam perasaannya yang mendalam.
"Istirahatlah dulu, sayang. Perjalanan masih panjang," ucap Zion.
"Aku ingin menatap wajahmu terus hingga kita tiba," ujar Anna.
"Sekarang kamu belajar gombal ya?" Zion menarik Anna dalam bahu kokohnya. Ia mengusap rambut Anna, seraya mengecup keningnya dengan lembut.
"Udah, sayang, fokus menyetir dulu. Entar kalau terjadi sesuatu dengan kita, gimana?" Ucap Anna khawatir.
"Tenang, aku adalah pria yang akan melindungimu. Aku rela terluka demi kamu, sayang," ucap Zion.
__ADS_1
"Sekarang, lihatlah siapa yang gombal!?" Anna mendengus kesal.
"Aku gak gombal, sayang. Aku serius, loh," ucap Zion tak terima.
"Kalau kamu gak percaya, kamu bisa buktikan sendiri."
"Tidak usah. Aku tidak ingin melihatmu terluka karenaku," Anna menatap Zion sedih.
"Nah, sekarang kita sudah sampai!" Seru Zion. Anna melihat sebuah danau dengan udara yang sehat tanpa adanya polusi disekitarnya. Gadis itu tersenyum.
Ia merentangkan kedua tangannya kesamping sambil menutup mata, merasakan sapuan angin yang merasuk kedalam pori-pori kulitnya. Zion tersenyum, ia memeluk Anna dari arah samping, kepalanya bersandar pada bahu Anna.
"Sayang.." Anna menoleh, ketika Zion memanggilnya. Pria itu tersenyum, seraya menggendong Anna dengan santai. Anna terkejut, tetapi tak bisa menyembunyikan pipinya yang merah.
"Zioooon..."
"Kebetulan sepi disini. Jadi, mari kita..." Zion membawa Anna berputar-putar, ia tak melepas Anna sama sekali.
"Zion, aku pusing."
"Aduh, apa aku terlalu keras berputar-putarnya?" Zion melepakan Anna secara perlahan. Wajahnya diselimuti kecemasan. Ia mendekati Anna, lalu memeluk gadis itu.
"Maaf, sayang. Lain kali, aku tidak melakukan ini lagi," sesal Zion. Anna menatap Zion. Bibirnya melebar, meraut senyuman yang indah.
"Gimana? Sudah baikan, sayang?"
"Lumayan. Tetapi..."
"Tetapi apa? Katakan padaku kalau kamu masih sakit! Aku akan mengantarkanmu ke Rumah Sakit," Zion menatap sedih Anna yang memandangnya.
"Tangkap aku, sayang..." Anna berlarian kecil mengelilingi permukaan Danau yang dangkal. Zion menghela nafas, kemudian mengejar Anna.
"Kamu membohongiku ya, sayang?"
"Lihat saja, kamu akan menyesal!" Seru Zion.
Ia menangkap Anna dengan memeluk pinggang gadis itu. Suara kicauan burung menjadi simbolis melihat kedua orang itu dimabuk asmara. Mereka takkan mengetahui takdir kedepannya seperti apa. Segala hal buruk atau baik akan menunggu mereka di masa depan.
Sepasang mata melihat mereka berdua dengan perasaan berkecamuk. Ia mengepalkan kedua tangan dengan hati yang terkoyak. Sorotan matanya tajam. Ia berjalan menghampiri mereka. Pria itu menarik Anna, seraya tersenyum mengejek pada rivalnya.
Zion mengepalkan tangan, ia memukul pria tersebut, namun pria itu mampu menahan Zion. Segala kemarahan tampak pada wajah tampan Zion.
"Aku hanya mengambil apa yang sudah menjadi milikku," ucap Jay. Ia menyeringai.
"Milikmu? Kamu yang merebutnya dariku. Dari awal, Anna sudah ditakdirkan bersamaku."
"Hahaha.. Lihat saja, kali ini siapa yang menang!" Seru Jay. Anna tak bisa berkutik. Jay semakin mempereratnya.
__ADS_1