
Sesosok gadis cantik berdiri didekat jendela. Ia menatap kosong. Lambat laun, ia sedikit menarik nafas. Ponselnya yang bergetar, memecah keheningan sesaat. Ketika menatap layar ponsel, itu hanyalah notifikasi kalender. Hari ini adalah hari terakhir, ia mengajar beladiri seseorang. Tak terasa, sebulan telah berlalu begitu cepat bagi Terra.
Seharusnya, ia senang karena terbebas dari tingkah kekanakan Zion. Entah kenapa, hari ini ia tak bersemangat. Zion juga tak menghubungi nya. Segala kepenatan hadir dalam pikirannya. Lalu, ia memilih untuk rebahan sejenak. Terra memejamkan mata sambil memikirkan setiap kejadian bersama Zion. Perasaan yang ia rasakan begitu hangat dan nyaman. Ini adalah pertama kali, hatinya terus bergelora. Selama ini, ia hidup bukan dengan kemauannya. Ia juga tak tahu apa impiannya.
Ibu Terra selalu mengatur segala kehidupannya tanpa harus memikirkan apa yang akan ia lakukan. Terra bukan seorang anak yang pembangkang, tetapi dia bosan hanya menjadi anak yang penurut. Ia ingin kebebasan yang dimiliki oleh gadis lainnya. Tetapi apa daya, jika takdir selalu berkebalikan dengan keinginannya. Selain itu, ibu Terra selalu memaksanya untuk mengatur perjodohan. Ia tak perlu mengurus pekerjaan atau hal lain. Cukup menjadi istri yang baik dari keluarga yang berada, serta menjadi ibu Rumah Tangga.
Tetapi itu semua menjadikan sosok Terra tak bisa bersosialisasi dengan baik. Ia berpikir untuk mengikuti jejak dari Ayahnya, Leonard. Sosok ayah yang tegas, berwibawa, serta tak menuntut sesuatu. Ia ingin kuat seperti Ayahnya. Dan ketika ia mengajar Zion beladiri, ia seperti memiliki harapan baru. Akan tetapi, ibu Terra selalu menolak ketika Terra bergelut pada dunia tersebut, karena berpikir seorang gadis haruslah anggun dan lembut. Gadis yang anggun akan menciptakan keluarga yang harmonis serta memiliki kehidupan yang terjamin. Tetapi apa itu mungkin?
Terra selalu berkelakuan buruk setiap ia dijodohkan. Tak heran, kalau perjodohannya selalu gagal. Terra kesal melihat mereka bermuka dua. Mereka menatap Terra seakan memuja, tetapi perilaku mereka saat dibelakangnya seperti binatang. Beberapa diantara mereka, hanya memandang status dari keluarga Terra yang baik, tetapi tak bisa melepaskan wanita lain. Ada juga yang memanfaatkan wajah cantik Terra sebagai status saja. Tetapi diluar sana, tak bisa melepaskan hobi buruk mereka. Dan masih banyak yang lainnya, membuat gadis tersebut memasang tatapan galak saat bertemu dengan orang seperti mereka.
Karena merasa bosan berkutik di Kamar, ia memilih keluar untuk menghirup udara segar. Terra menggunakan pakaian casual, sesuai dengan gayanya daripada menggunakan dress. Dress membuatnya tak bebas, ketika berada diluar. Terra memilih duduk pada salah satu minimarket. Ia meneguk salah satu minuman favoritnya. Tatapannya mengitari seorang pria bertopi hitam yang terlihat mencurigakan. Tak berlangsung lama, Terra membayar minuman itu, lalu ia mengikuti pria tersebut.
Pria bertopi sengaja menabrakkan diri pada orang yang diincarnya. Kemudian, ia mengambil handphone atau dompet mereka. Terra menggelengkan kepala, saat melihat jelas aksi kejahatan pria tersebut.
"Mencuri, ya?" Ucap Terra, saat melihat aksi seorang pria yang mendekati target. Pria itu menoleh, tetapi ia berusaha tenang.
"Gak kok." Pria itu tersenyum.
"Aku hanya ingin melihat model celananya yang bagus. Aku tak pernah melihat celana sebagus itu." Elaknya. Terra tersenyum melihat pria tersebut pintar berkilah.
"Ooo...Tetapi tepat didepanmu itu butik ternama. Sepertinya, dia membeli dari butik itu. Lalu, kenapa kamu tak kesana saja?" Sindir Terra. Pria itu tersenyum kecut. Tak tahu harus berbuat apa, langkahnya tak stabil. Ia melarikan diri, lalu Terra mengejarnya dan menendang punggung pria tersebut. Pria itu merintih kesakitan. Ia melihat banyak orang berlalu lalang tetapi tak memperhatikannya. Pria itu membenturkan kepalanya sendiri hingga berdarah.
"Tolong! Tolong, aku! Ada seseorang yang ingin membunuhku." Seru pria tersebut. Terra tak percaya apa yang pria itu lakukan terhadapnya.
"Eh, bu...bukan aku yang melakukannya. Dia melakukannya sendiri. Aku hanya..."
"Sudah ngaku saja, kamu ingin membunuhnya. Mana ada seorang pembunuh mengaku kejahatannya sendiri." Seru seorang pria berkacamata.
"Seret aja ke Kantor Polisi!" Seru seorang gadis berambut pirang.
"Aduuh... Sakit... Kepalaku sakit... Dia itu bukan wanita. Dia itu pria yang menyamar menjadi wanita. Aku gak tahu, kenapa dia tega melakukan ini terhadapku." Ucapnya sambil menyentuh kepala. Ia tersenyum diam-diam.
__ADS_1
"Hei, kamu..."
"Udah hajar saja! Dasar pembunuh!" Seorang wanita berambut cokelat menarik rambut Terra.
"Ini salah paham. Bukan aku yang melakukannya."
"Tak tahu malu." Seorang pria memukul wajah Terra, hingga lebam.
Prok... Prok... Prok... Suara tepukan menghentikan mereka sejenak. Ia tersenyum melihat apa yang berada dihadapannya sambil menggelengkan kepala. Sosok itu adalah Jay.
"Wah, menarik untuk dilihat!"
"Kamu temannya, ya?" Tanya seorang wanita berambut pirang. Terra menoleh, memberikan kode pada Jay.
"Bukan. Aku tidak mengenalnya." Jay tersenyum. Wajah Terra tampak kesal, mengetahui Jay sengaja tak membantunya.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan untuk mengebiri pembunuh ini!" Seru seorang pria botak. Terra terus memberikan kode pada Jay untuk menolongnya. Jay tersenyum.
"Tetapi... ada CCTV di mobilku yang merekam kejadian yang sebenarnya." Ujar Jay. Mereka berhenti. Jay menatap pria yang berpura-pura menjadi korban tersebut. Tak berlangsung lama, Jay memperlihatkan rekaman pada mereka. Disana merekam seluruh kejadian yang sebenarnya termasuk gerak-gerik yang mencurigakan dari pencuri tersebut. Mereka tak bisa berkata apa-apa, ketika melihat rekaman tersebut. Antara percaya atau tidak, mereka menatap tajam kearah pria yang pintar berkilah tersebut. Pria itu tak punya pilihan lain selain melarikan diri. Tetapi, mereka mengejar pria tersebut.
"Nona, harusnya kamu berterima kasih padaku." Ujar Jay.
"Karena mempermainkanku? Aku sudah banyak melihat pria sepertimu." Ucap Terra membuang muka. Ia terus melangkah.
"Kamu tahu daritadi disana, tetapi hanya menjadi penonton saja. Lalu, ketika wajahku terluka, kamu baru menolongku. menurutmu aku harus berterima kasih pada orang sepertimu." Kedua bola mata Terra berputar, ia jengah. Jay hanya tersenyum melihat tingkah laku Terra.
"Aku hanya ingin melihat situasinya. Apa itu salah? Ujung-ujungnya aku juga membantumu." Ujar Jay. Tetapi Terra berpura-pura tak mendengar, ia tak menghentikan langkahnya. Jay menggelengkan kepala. Terra berjalan serampangan, tiba-tiba bunyi klakson mobil menyadarkannya sesaat.
"Nona, masuklah! Tidak baik untuk berjalan sendiri." Seru Jay, ia tak tega melihat Terra.
"Tidak. Aku terbiasa untuk berjalan."
__ADS_1
"Apa kamu tidak punya uang untuk naik Taxy atau semacamnya?" Tanya Jay. Mobilnya mengikuti langkah Terra.
"Kenapa? Kamu mengira aku semiskin itu?"
"Kamu tampak bukan orang yang berada."
"Selain kamu tadi pria yang menyebalkan, ternyata kamu juga pria mata duitan?" Ucap Terra.
"Bukankah uang adalah segalanya?" Tanya Jay. Langkah Terra berhenti.
"Tetapi uang tak bisa membeli kebebasan. Andai bisa..." Ia menoleh kearah Jay. Pria itu turun dari mobil.
"Darah! Di wajahmu ada darah."
"Kamu berpura-pura bodoh atau kamu memang baru menyadarinya?" Terra semakin kesal. Jay melemparkan jaketnya pada Terra.
"Cepat lap pakai itu! Mataku sakit melihat darah." Ujar Jay.
"Dasar, pria ini. Menyebalkan. Lebih menyebalkan daripada Zion." Batin Terra.
"Udah, ya." Jay pergi meninggalkan Terra.
"Aku harap tidak bertemu denganmu lagi." Ucap Terra. Akan tetapi, tanpa sengaja, ia melihat pria mencurigakan yang mendekati mobil Jay. Dengan sekali tendangan, ia menghajar pria tersebut. Mobil Jay berhenti, ketika melihat Terra berada dibelakang mobilnya.
"Nona, ada apa?" Tanya Jay.
"Orang ini sepertinya mengikutimu." Ucap Terra. Jay turun dari mobil. Ia memutar kedua bola mata.
"Sepertinya aku tahu siapa yang menyuruhnya." Jay berpikir Jonathan adalah dalangnya. Ia tersenyum, Terra bergidik merinding seketika melihat senyumannya.
"Nona, Aku suka cara mu menghajarnya." Ucap Jay sambil tersenyum.
__ADS_1
"Didunia ini banyak orang jahat. Berhati-hatilah." Terra meninggalkan Jay.
"Nona, terima kasih telah menghajarnya untukku." Ucap Jay. Terra berpura-pura tak mendengarkan. Dia terus melangkah meninggalkan Jay. Pertemuan mereka datang secara tak sengaja. Disaat, Anna berada didalam genggaman Jay, Terra datang kedalam kehidupan Jay. Akankah takdir mempermainkannya?