
Sesosok pria tak berdaya. Ia tersungkur lemas. Sorotan kedua mata nya tampak pasrah. Tubuhnya susah untuk digerakkan. Ia mengalami kesulitan karena beberapa tulang nya patah. Jay tak tega melihat pemandangan yang memilukan. Ia ingin orang itu jera dan mengatakan yang sesungguhnya.
"Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu untuk melubangi ban mobilku?" Tanya Jay.
"Aku sendiri yang melakukannya."
"Jangan memaksaku untuk berbuat lebih kasar dari ini!"
"Sudah kukatakan semua. Aku tidak berbohong.
"Berapa orang itu bayar untuk membuatmu bungkam? Aku bisa membayarmu lebih." Ucap Jay.
"Aku tidak dibayar siapa siapa. Gadis itu juga sudah mati."
"Apa katamu? Gadis yang mana?"
"Merry." Ia menatap Jay sambil tersenyum lebar.
"Kau gila, ya?" Emosi Jay memuncak. Tiba-tiba ia mengeluarkan pistolnya yang selalu ia sembunyikan.
"Sebenarnya, aku tidak doyan membunuh orang, tetapi aku paling tidak suka seseorang sepertimu." Jay menekan platuk dan mengenai tembok. Jay tidak membunuhnya, hanya menakut-nakuti nya saja.
"Bayangkan saja jika pistol ini terkena wajahmu." Senyum Jay merekah. Ketika ia menarik platuknya lagi, pintu didorong paksa oleh seseorang. Jay menoleh.
"Siapa kau? Beraninya... Chris?" Jay kaget saat melihat Chris tak berdaya.
"Tu...Tuan." Tutur Chris. Ia terjatuh lemah.
"Hei, apa yang terjadi denganmu?" Tanya Jay.
"Astaga, darahmu begitu banyak." Ucap Jay. Tatapan mata Chris semakin lama semakin menghitam. Kesadarannya menghilang.
"Aku akan menyelamatkanmu." Tuturnya. Tatapannya beralih pada pria yang membawa Chris.
"Siapa kau? Apa kamu yang melukai anak buahku?"
"Aku hanya membalas apa yang kalian lakukan pada adikku." Tatapannya tajam.
"Adikmu? Apa maksudmu?" Kening Jay berkerut. Ia tak mengerti.
"Jangan pura-pura tidak mengerti! Kaulah yang membunuh adikku, Merry. Kamu harus merasakan penderitaan yang Merry alami." Terang pria tersebut.
"Tunggu! Tunggu! Kau salah paham. Aku sama sekali tidak memerintahkan dia untuk membunuh Merry. Buat apa aku membunuh adikmu? Sama sekali tidak masuk akal." Ujar Jay.
"Kalau bukan kamu, lalu siapa yang membunuh adikku? Bentak Pria itu.
"Percayalah, bukan aku yang melakukannya! Coba pikirkan, siapa yang paling diuntungkan, jika adikmu mati!?" Ujar Jay lagi.
"Tidak mungkin orang itu." Ucapnya.
"Tidak mungkin kalau dia yang melakukannya. Aku tahu kamu marah karena aku yang telah melubangi ban mobilmu. Namun itu semua tak sepadan dengan nyawa adikku. Dia tidak ada hubungannya dengan itu." Dia mengepalkan kedua tangannya.
"Aku tidak segila itu membunuh orang gara-gara merusak ban mob..."
"Tunggu sebentar, kau bilang apa barusan!?Kamu yang melubangi ban mobilku? Kalau kamu yang melubangi, lalu siapa orang itu?" Tanya Jay. Ia menunjuk pria yang berada dibelakangnya.
"Hahahaha..." Pria itu tertawa lebar. Jay kesal. Sementara itu, kakak Merry tampak bingung.
"Jadi kamu berpura-pura menjadi dirinya untuk mengelabuhiku?" Tanya Jay. Pria itu diam. Senyumnya tak lepas dari bibirnya.
__ADS_1
"Cepat katakan padaku!" Jay kesal. Namun, pria tersebut tak menjawab.
"Sekarang kamu mengerti kan, kalau aku tidak membunuh adikmu?" Ucap Jay pada Kakak Merry. Ia tak mengerti alasan apa yang membuat adiknya mati. Karena kesal, kakak Merry mengambil pistol yang berada di genggaman Jay. Lalu, ia menekan pelatuk dan mengarahkan pistol itu kearah pria tersebut.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Tanya Jay. Ia tak menyangka, jika pria didepannya nekat melakukan hal seperti itu pada orang lain.
"Kalau memang orang itu pelakunya, dia tidak akan mungkin mengakui apapun sampai mati."
"Maksudmu, dia sudah siap mati? Dia tidak peduli dengan nyawanya sendiri?"
"Benar."
"Orang gila macam apa yang menyuruhnya melakukan hal itu?"
"Aku tidak tahu namanya. Tetapi, aku ingat wajahnya.
"Yang jelas, dia tinggi, tidak trlalu kurus, tetapi tidak terlalu gemuk. dia tidak pakai kacamata, dan.. dia memakai cincin pada jari kelingkingnya.
"Cincin?" Jay memutar otaknya.
"Jonathan? Mungkinkah dia?" Batinnya. Jay ingat saat makan malam bersama Anna dan keluarganya. Ia melihat cincin yang melekat pada kelingking Jonathan."
"Jadi ini semua perbuatan Jonathan? Hahaha.. Bedebah itu. Berani sekali memainkan diriku!"
"Sekarang aku mengerti. Dia sengaja menyuruhmu melubangi ban mobilku, saat aku tertidur. Ketika aku mencari tahu siapa pelakunya dan menemukan Merry ada hubungannya denganmu, dia menyuruh seseorang untuk menyingkirkan Merry. Kemudian, ia menyuruh pria itu untuk berpura-pura menjadi dirimu. Namun, Jonathan tak mengira, kamu datang ke Rumah Merry. Namun, kamu menyalahkan kematian adikmu pada diriku. Tetapi, apa alasannya dia menyuruhmu untuk melubangi ban mobilku?"
"Aku tidak tahu pasti. Tetapi aku mendengar sepertinya ini berhubungan dengan seorang wanita."
"Wanita? Wanita yang mana? Ah, sudahlah. Yang penting saat ini, aku sudah tahu siapa orang gila yang mempermainkanku."
"Oh ya, namamu siapa?"
"Carlos? Baiklah. Kamu sudah membuat anak buahku tak berdaya. Meskipun dia di obati, pemulihannya akan lebih lama. Jadi, aku ingin kamu menggantikan posisinya."
"Baiklah. Aku hanya ingin nyawa Jonathan. Aku tidak ingin yang lain." Ucap Carlos.
"Tetapi kau ingat, Carlos, lain kali jangan membunuh siapapun tanpa seizin dariku! Aku hanya tidak ingin ada kematian didepanku.
"Kau lemah."
"Apa katamu?"
"Kalau hanya menggertak saja tak cukup. Orang itu gila. Dia selalu memiliki rencana untuk membunuh siapapun tanpa ampun. Untuk mengalahkannya, kamu harus menjadi lebih gila dari dia agar bisa memenangkan pertarungan ini."
"Aku tidak setuju dengan kata-katamu. Mungkin, dia menggunakan tangannya untuk mengalahkan lawan. Tetapi, aku memakai otakku untuk mengalahkannya." Jay tersenyum.
"Aku sudah punya rencana untuk Jonathan. Sebaiknya, kamu urusin mayat pria ini. Aku akan membawa Chris ke Rumah Sakit. Setelah itu, kamu kembalilah ke Jonathan seolah tidak terjadi apa-apa. Ingat, jangan sampai dia mencurigaimu!"
"Baiklah."
********************************
Anna terbangun dari tempat tidurnya. Ia berjalan mencari seseorang, namun Lisa datang dan menghampiri nya.
"Nona, ada apa?"
"Aku mencari Parta."
"Parta minta izin untuk pulang kampung, nona." Jelas Lisa.
__ADS_1
"Kenapa mendadak?"
"Dia mengunjungi anak nya yang sakit."
"Kenapa gak ada yang memberitahuku?"
"Karena kami tidak ingin mengganggumu." Jawab Jonathan. Ia datang sambil tersenyum.
"Ada apa? Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?"
"Aku hanya ingin ambil hp ku."
"Hp mu rusak parah. Susah untuk membetulkannya." Terang Jonathan. Ia mendekati Anna sambil mengusap kepalanya.
"Bukankah kamu harus istirahat?" Bisik Jonathan sambil tersenyum miring.
"Dia pasti sangat bosan disini." Tiba-tiba Jay datang.
"Hei, kau sangat tidak sopan! Kamu datang begitu saja." Ujar Jonathan.
"Apa yang salah? Anna adalah calon istriku. Dan Rumah ini cepat atau lambat juga jadi milikku." Ucap Jay, ia menyeringai.
"Jay, kamu..."
"Dan kamu harus jaga sikapmu, sebelum adikmu yang imut mengetahui semua perbuatan burukmu." Bisik Jay. Jonathan tersenyum. Ia terlihat tenang.
"Aku ingin lihat seberapa jauh kamu melangkah untuk mengancamku." Bisik Jonathan.
"Aku tidak mengancammu. Aku hanya memperingatimu." Bisik Jay.
"Sepertinya kau tak puas dengan hadiah kecil yang sudah aku berikan padamu." Bisik Jonathan. Jay berpikir hadiah yang dikatakan oleh Jonathan adalah ban mobilnya yang dirusak.
"Hadiahmu sungguh imut sekali. Aku jadi ingin memberimu hadiah." Bisik Jay.
"Kalian kenapa? Daritadi bisik bisik?" Tanya Anna. Keningnya berkerut.
"Kami berdiskusi soal pernikahan kita." Ujar Jay tersenyum sambil memeluk Jonathan dari samping.
"Bukankah begitu, kakak ipar?"
"Adikku saja belum menerimamu. Mana mungkin sebagai seorang kakak menyetujui permintaanmu yang konyol." Ujar Jonathan.
"Anna, kamu pasti bosan disini, kan? Gimana kalau kita jalan-jalan?" Ujar Jay lembut tanpa mempedulikan Jonathan. Ia memegang kedua tangan Anna sembari tersenyum padanya.
"Anna harus banyak istirahat. Kau tak tahu ya, jika kondisinya semakin lemah?" Ujar Jonathan.
"Kamu ini sangat perhatian dengan adikmu." Ujar Jay
"Perhatianmu... tidak seperti kakak pada umumnya." Bisik Jay pada Jonathan. Jonathan tercengang, namun ia berusaha untuk tenang.
"Sudahlah, aku gak apa-apa, Kak. Aku juga butuh hiburan sebentar."
"Gimana kalau kita pergi nonton saja, Jay?" Ucap Anna. Ia punya rencana lain dibandingkan harus pergi nonton bersama Jay.
"Baiklah, my Queen." Tutur Jay. Senyumnya merekah sembari melirik pada Jonathan.
"Kalau begitu, gak ada yang bisa kakak lakukan. Kamu harus hati-hati." Ujar Jonathan.
"Baiklah." Ucap Anna. Jay memegang tangan Anna. Ia senang bisa menghabiskan waktu bersamanya. Sementara itu, Jonathan menatap keduanya sambil tersenyum sinis. Dia menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Ikuti mereka!" Ujar Jonathan dalam teleponnya.