
Hawa dingin merasuk kedalam pori-pori kulit Zion. Tubuhnya terkulai lemas. Darah segar membasahi wajah tampannya. Tak hanya itu, sekujur tubuhnya penuh dengan luka. Akan tetapi, Zion berjuang untuk bertahan hidup. Ia tak boleh kalah dengan siksaan yang berada di depannya. Akan tetapi, Zion tak bisa menyembunyikan rasa sakit yang ia derita. Ia meringis kesakitan sekaligus menjerit, dikala berbagai luka robekan memenuhi kulit nya. Sesekali, ia menatap tajam pada pria yang menyiksanya. Pria itu tersenyum, melihat Zion tak berdaya. Orang itu ingin menyiksa Zion hingga mati. Dia bukan sosok pria yang memiliki belas kasihan. Dia adalah pria yang haus akan darah. Dan sosok tersebut adalah Jonathan.
Jonathan membalaskan dendam pada Zion karena telah mengusiknya, sejak terakhir kali mereka bertemu. Ia tak terima dengan kekalahan yang ia alami tempo hari. Karena itulah, ia memilih untuk melakukan hal buruk terhadap Zion. Zion berkali-kali memuntahkan darah dari dalam mulutnya, Dalam hatinya, ia menyumpahi Jonathan dengan setiap kata-kata yang tak pantas untuk diucapkan. Tak lama, ponsel milik Jonathan berdering, Jonathan menghentikan aksinya seketika. Zion tersenyum. Setidaknya, hal itu meringankan penderitaan Zion.
"Halo! Ibu, ada apa?" Tanya Jonathan. Dia menyembunyikan nadanya yang dingin dan tetap tenang saat menerima telepon dari Eveline.
"Kamu dimana sekarang?"
"Aku sedang mencari Anna, Ibu." Elak nya. Tetapi tak sepenuhnya yang ia katakan salah, karena sebelum ia menyiksa Zion, ia berkeliling mencari Anna.
"Tak perlu. Sekarang pulanglah, Jo. Anna sudah pulang."
"Apa? Anna sudah pulang? Bagaimana dengan keadaan dia sekarang?"
"Kamu tak perlu mencemaskannya. Dia baik-baik saja. Dan, dia membawa kabar baik, saat kembali kemari."
"Kabar baik apa?"
"Anna menyetujui untuk menikah dengan Jay. Mereka terlihat cocok satu sama lain." Ucap Eveline. Jonathan menyeringai. Ia berpikir, dirinya telah meremehkan Jay. Tak lama, ia melirik Zion.
"Lalu, apa Jay ada disana?"
"Ternyata, kamu bisa menebaknya, Jo." Eveline tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan segera pulang." Ucap jonathan. Lalu, ia memutuskan panggilan.
"Kau beruntung." Bisik Jonathan pada Zion. Zion tak bergeming. Sorotan mata Zion terlihat lemah, memperlihatkan kondisinya yang kian memburuk.
"Awasi dia!" Titahnya pada ketiga anak buahnya. Setelah itu, Jonathan kembali ke Rumahnya.
***********************
__ADS_1
Jonathan menatap seorang gadis cantik yang tersenyum kecut padanya. Gadis itu adalah Anna. Jonathan memeluk Anna dalam diam. Namun, ia merasa ada keanehan dalam diri Anna. Tak biasanya, Anna bersikap dingin terhadapnya.
"Anna, apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Jonathan. Belasan detik, Anna tak berbicara. Anna tetap duduk manis.
"Anna, apapun yang terjadi, pria dihadapanmu ini bukanlah kakakmu, dia adalah pria jahat yang ingin menghancurkan keluargamu." Ucapnya dalam hati. Ia meyakinkan dirinya sambil menatap Jonathan.
"Anna!" Panggil Jonathan sambil menepuk kedua pundak Anna. Gadis itu tak bergeming. Ia terbalut dalam pemikirannya.
"Ehem..." Suara Jay memecah keheningan keduanya. Jay tersenyum sambil menatap Jonathan.
"Aku ingin memperkenalkan diri secara resmi sebagai suami dari adikmu, Anna." Jay menyodorkan tangan, Jonathan menyambut tangan Jay dengan menggenggam tangan Jay dengan erat. Jay juga menggenggam erat tangan Jonathan. Keduanya saling menyeringai.
Sementara itu, Anna melihat kedua pria tersebut tak bersahabat. Entah kenapa, baru kali ini, ia menyadari kalau mereka saling bermusuhan. Anna berpikir, selama ini ia terlalu lugu, sehingga tak menyadari setiap keanehan yang berada dihadapannya. Hal itu, memicunya untuk tertawa. Setiap mata memperhatikan Anna. Mereka bingung dengan sikap Anna. Terlebih lagi, Jay dan Jonathan yang melepaskan tangan mereka masing-masing.
"Maaf, aku hanya terlalu bersemangat untuk pernikahanku." Anna memaksakan senyumannya.
"Kalau kalian bisa berakting hebat didepanku, maka aku juga bisa melakukannya." Ujarnya dalam hati.
"Sudahlah. Yang terpenting saat ini, kamu baik-baik saja." Ucapnya sambil mengusap kepala Anna.
"Soal pernikahanmu dengan Jay. Apa itu.."
"Tak ada alasan khusus, Kak Joe. Aku ingin menikahinya." Senyuman melekat pada bibir Anna.
"Kenapa tiba-tiba?" Jonathan merasakan ada sesuatu yang tak ia ketahui. Ia menatap Anna, lalu melirik Jay. Akan tetapi, Anna menggenggam kedua tangan Jonathan sambil tersenyum, ia meyakinkan jika tak ada sesuatu terjadi padanya.
"Entah siapa yang harus aku lawan terlebih dahulu, tetapi mulai sekarang, siapapun yang berani menyakiti Zion dan keluargaku, mereka semua adalah musuhku. Mulai detik ini, aku akan melindungi mereka." Ucap Anna dalam hati.
"Jo, tak ada alasan kan, untuk tak menyetujui pernikahan mereka?" Tutur Eveline. Ia memandang Jonathan dan Anna silih berganti.
"Tenang, Ibu, Kak Joe sangat menyayangiku sebagai adiknya. Dia pasti ingin aku bahagia bersama pria yang aku cintai." Ujar Anna. Sudut bibir nya naik.
__ADS_1
"Benar, kan, Kak Joe?"
"Anna, kenapa kamu memilihnya? Apa Kakak tak cukup baik untukmu?"
"Apa maksud Kakak? Kak Joe adalah Kakakku. Jadi, tak mungkin kita terus bersama. Aku juga ingin melihat Kak Joe bahagia bersama wanita yang Kakak cintai." Ujar Anna. Senyuman tersungging pada bibir manisnya. Jonathan menghela nafas.
"Tetapi..."
"Pernikahan sudah diputuskan. Mari, kita umumkan tanggal Pernikahan mereka!" Sahut Robert. Ia tak ingin suasana di Kediamannya semakin keruh. Jonathan menyeringai. Ia harus melakukan sesuatu untuk menggagalkan pernikahan mereka.
"Baiklah." Ucap Jonathan. Ia terpaksa menyetujui keputusan mereka. Beberapa detik kemudian, Jonathan duduk didepan Jay.
"Saya rasa, waktu yang baik untuk pernikahan ini adalah minggu depan." Ucap Jay.
"Aku tidak setuju. Itu terlalu cepat." Sahut Jonathan.
"Tetapi, bukankah semakin cepat akan lebih baik?"
"Jay, aku rasa kamu harus selesaikan dulu skandalmu itu, sebelum menikah dengan Anna." Ujar Jonathan. Jay tersenyum.
"Apa kamu ingin menggunakan kelemahanku untuk menjatuhkanku, Jonathan? Itu tak mungkin terjadi." Ucap Jay dalam hati.
"Aku dengar, beberapa Perusahaan Asing menempatkan Perusahaanmu dalam Blacklist mereka. Bagaimana kau mengatasi hal itu?" Jonathan menyeringai.
"Kak Joe tak perlu khawatir. Ketika Jay menunjukkan seberapa rasa cintanya terhadapku, aku yakin para media lebih mempercayai kisah cinta didepan mata, dibandingkan rumor yang tak mendasar. Bukankah begitu, sayang?" Ucap Anna. Anna memiliki rencana tersendiri untuk memanfaatkan skandal Jay. Ia harus membantu Jay dalam hal ini. Setidaknya, ia ingin menjauhkan diri dari pengaruh Jonathan. Setelah itu, dia akan mengurus Jay.
"Anna benar. Aku tak tahu, calon istriku ini sangat pintar. Mari, kita tunjukkan kemesraan kita didepan awak media!" Ucap Jay. Tangan Jay merangkul Anna dari arah samping. Anna ingin menyingkirkan tangan tersebut. Namun, ia harus bersabar akan rencana besarnya. Jika tidak, apa yang ia rencanakan, akan sirna seketika.
***************************
Jay memanggil para wartawan untuk menjadi saksi atas rencana pernikahannya bersama Anna. Anna mengenakan atasan putih shiffon tanpa lengan yang dikombinasikan dengan rok hitam bermotif bunga berwarna merah. Penampilan Anna terlihat elegan. Jay berkali-kali tak melepaskan pandangannya terhadap Anna. Ia tersenyum sambil menggenggam tangan Anna, ketika mereka turun dari mobil. Mereka dikelilingi oleh para Wartawan. Jay menatap Anna, lalu tiba-tiba ia mengecup bibir Anna. Anna kaget. Ia ingin mendorong Jay, akan tetapi setiap kamera menyoroti mereka.
__ADS_1
"Turuti saja, kalau kamu ingin aku melepaskan Zion." Bisik Jay. Ia menatap Anna, lalu kembali mencium bibir Anna.