
Setiap kenangan indah tak bisa dilupakan tanpa segala sesuatu yang pasti. Kenangan tak membuat hati terasa hampa. Semua kesedihan tertutupi oleh hati yang berwarna. Anna, sosok gadis yang merasakan itu. Gadis itu menikmati kebebasannya dikasur. Ia berguling-guling tanpa beban dihatinya. Ciuman Zion terngiang-ngiang dalam benaknya.
Ia tak bisa melupakan momen indah itu. Namun, ia berpikir kembali, kenapa Zion menciumnya tanpa memberikan penjelasan apapun. Hatinya bergemuruh. Tetapi, hal itu dilupakan sejenak, Anna sibuk membaca chatting an Zion. Jantungnya seakan meledak, melihat tulisan manis dari Zion. Ia tak peduli menghabiskan berjam-jam untuk membaca setiap chat yang masuk dari WhatsApp nya. Namun, ia tak bisa membalasnya. Ia tak tahu harus bagaimana.
May 2, 2020
Anna, gimana kabarmu? Saat kamu sakit, kamu tidak lupa untuk minum obat, kan? Aku gak mau kamu sakit. Kamu sakit, sudah membuat hatiku terluka.
Anna... kamu lagi sakit ya? Aku jadi cemas.
Anna! Kamu sungguh sakit?
Anna... jangan membuatku khawatir terus! Aku tidak bisa tidur memikirkanmu.
Panggilan tak terjawab (10)
Yesterday
Anna, aku merindukanmu.
Sayang...
Anna... Anna... sayang
Sayang...
Aku m.
Pipi Anna bersemu merah sambil memeluk guling.
"Dia bilang sayang? Astaga.. Kenapa, Zion mendadak romantis begini?Apa yang harus aku lakukan?" pikir Anna.
"Kenapa dia tidak wa aku lagi? Kenapa hanya 'Aku m' ? Apa maksudnya?" pikiran Anna semakin kacau. Jantungnya berdetak tak karuan. Ia memikirkan pria itu.
Anna membuka laptop. Ia ingin mencari tahu lewat internet 'apa arti ciuman'. Ia berharap tak menemukan sesuatu yang membuatnya meledak. Namun, ternyata ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sebuah ciuman dapat menyatakan banyak perasaan, antara lain: cinta, gairah, kasih sayang, rasa hormat, salam, dan persahabatan. (Sumber: Wikipedia)
"Persahabatan? Ah, yang benar saja! Jadi hanya itu? Zion, bodoh! Dia sudah mencuri first kissku, dan dia malah menganggap ciuman itu sebagai persahabatan? " Anna tak tenang. Ia menelepon Zion, namun Zion tak mengangkatnya.
"Ah, jadi sekarang kamu tak mengangkat telepon ku, ya! Oke, mari kita lihat siapa yang bisa bertahan!" Anna menghela nafas.
Satu jam telah berlalu, Anna tak melihat ponselnya berdering. Anna tak ingin menjadi wanita murahan. Ia menunggu telepon dari Zion, ia tak ingin meneleponnya lagi. Dua jam telah berlalu, Anna semakin kesal. Ia tak mendapat telepon dari Zion. Anna menghela nafas lagi. Lalu, ia meletakkan handphone pada tas miliknya. Ia keluar dari kamarnya.
"Parta!"
"Iya, nona?"
"Siapkan mobil!"
"Nona mau kemana malam-malam begini?"
"Menghajar seseorang," Anna tersenyum sinis sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°
Sesampai nya di Apartemen Zion, Anna berkacak pinggang. Lalu, Ia mengatur nafas agar stabil. Ia menyuruh Parta untuk pulang. Firasatnya mengatakan, ia akan lama berada di Apartemen Zion. Setelah itu, Anna menekan bell. Tak berlangsung lama, Zion membuka pintu.
"Zion, Kamu..." tiba-tiba Zion memeluk Anna. Perasaan Anna campur aduk. Ia kesal, sekaligus ia sangat merindukan Zion.
"Aku merindukanmu. Aku berpikir, aku tak bisa melihatmu lagi," bisik Zion dengan suara lemah. Anna merasakan kulit Zion yang berbeda. Ia memeriksa kening pria itu.
"Kamu demam. Kenapa tak memberitahuku?"
"Maaf."
"Apa kamu sudah minum obat?" tanya Anna. Zion menggeleng.
"Kamu bodoh ya? Sudah tahu sakit, malah gak minum obat," kesal Anna.
"Kalau begitu, aku akan membelikan obat untukmu."
"Gak perlu. Tetaplah disini. Aku ingin kamu tetap berada disisiku," ucap Zion, ia tersenyum lemah.
"Apa kamu sudah makan?"
"Belum."
"Tunggulah disini! Aku akan membuatkan bubur untukmu," ujar Anna. Tak lama, Anna mencari dapur dan menemukannya. Tak sulit untuk menemukan dapur Apartemen yang kecil. Seumur hidupnya, ia tak pernah memasak. Ia tak tahu bagaimana cara membuat bubur. Sementara itu, Zion menatap Anna dari kejauhan.
Anna mencari resep dari handphonenya. Karena ini pertama kali ia membuat bubur, butuh waktu lama ia menyelesaikan hal itu. Anna terlihat lelah, namun ia tak boleh menyerah. Ia mencicipi bubur yang ia buat. Merasa cukup puas, ia memberikannya pada Zion. Zion tersenyum, saat lidahnya bersentuhan dengan bubur.
"Hambar."
"Maaf. Biarkan aku membuatnya lagi."
"Tidak perlu. Ini cukup," ujar Zion, sembari menarik Anna dengan sisa tenaga yang ia miliki dan menempatkan Anna dalam pangkuannya.
Anna tak bisa bergerak. Tak tahu harus berbuat apa. Ia juga tak bicara. Tak butuh waktu lama bagi Zion untuk menghabiskan bubur. Ia menyingkirkan mangkuk tersebut, lalu menggenggam tangan gadis itu. Kepala Zion bersandar pada leher nya. Anna merasakan nafas Zion yang hangat. Tanpa disadari, ia menutup mata. Zion mencium pipi gadis tersebut. Anna membuka mata karena kaget. Ia menoleh. Ia menatap intens mata Zion. Lalu, ia menutup mata dan mencium bibir Zion. Anna hanya ingin mengikuti kata hatinya saja. Saat ini, hatinya menginginkan Zion.
"Sekarang, kita impas," Anna mengelak. Dia sendiri yang menginginkan untuk mencium Zion, terlepas dari Zion adalah temannya.
"Impas?"
"Waktu itu, kamu menciumku. Jadi, sekarang aku menciummu."
"Hanya itu?" tanya Zion kecewa.
"Tentu saja. Bukankah kamu menciumku karena persahabatan kita?" tanya Anna. "Aku tahu itu, kau tidak perlu menjawab." Anna menjawab pertanyaannya sendiri. "Sebenarnya, aku marah. Itu adalah ciuman pertamaku. Seharusnya, kamu memperlakukanku dengan pelan-pelan," celotehnya.
"Anna, aku..."
"Aku tahu. Aku tahu. Kamu pasti ingin bilang kalau kamu menyesal telah menciumku, bukan? Jangan khawatir, aku memaafkanmu. Meskipun tanganku terasa gatal," ujar Anna, memotong ucapan Zion. "Andai saja sekarang kamu tidak sakit, aku sudah menonjokmu. Pukulanku cukup hebat dan..," belum menyelesaikan ucapannya, Zion membungkam mulut Anna melalui ciuman.
"Kau sudah selesai bicara, sayangku?" sudut bibir Zion naik.
__ADS_1
"Ka...Kamu..." Anna kaget.
"Apa ini hobimu untuk menciumku? Apa bibirku seperti kafein buatmu?"
"Lebih dari itu."
"Hah?"
"Sekarang dengarkan aku, nona sayang!"
"Aku tahu kita sudah berkenalan lama, tetapi bukan berarti aku menciummu karena persahabatan kita."
"Apa itu rasa hormat?"
"Hah?" Zion mengerutkan keningnya.
"Dari sumber yang aku baca, ciuman itu berarti cinta, gairah, kasih sayang, rasa hormat, salam, dan persahabatan. Kalau bukan persahabatan, kamu menciumku karena rasa hormat? Kamu bahkan lebih tua dariku, apa tidak salah jika kamu menghormatiku?" bicara Anna semakin kacau. Zion menepuk jidatnya.
"Hahaha.. Kau memang bodoh, ya..."
"Berhenti tertawa! Aku tidak sebodoh itu. IQ ku tinggi, bahkan IQ kak Jo lebih rendah dibawahku. Jadi, bisa dikatakan aku ini jenius," terang Anna. Ia mendengus kesal. Zion tertawa lagi.
"Baiklah...Baiklah... kamu memang tidak bodoh, tetapi...sangat payah dalam sebuah hubungan."
"Berhenti mengejekku! Itu yang aku temukan di Internet. Jadi, jangan salahkan aku."
"Nona yang cantik, aku akan membisikkanmu sesuatu tentang arti ciuman yang sesungguhnya."
"Aku..." Zion belum menyelesaikan kata-kata nya, namun handphone Anna berdering.
"Tunggu sebentar! Ini dari Kak Joe," Anna melepaskan diri dari pangkuan Zion.
"Halo, iya kak?"
"Dimana kamu?" suara Jonathan dingin.
"Aku... di rumahnya Merry," elak Anna. Ini pertama kali, ia berbohong pada kakaknya..
"Merry? Sekretaris Ayah?"
"Iya benar, Kak. Maaf, Kak, sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini," ujar Anna. Ada kecurigaan didalam diri Jonathan. Ia berpikir, adiknya sedang menyembunyikan sesuatu.
"Udah, ya, Kak. Kami sedang menonton, sekarang. Dah," Anna memutuskan sambungan teleponnya. Ia menghela nafas. Zion memandang Anna dengan senyuman. Ia menarik gadis itu dalam pelukan.
"Anna, aku mencintaimu. Ini yang ingin aku katakan," wajah Anna memerah. Ia bungkam seribu bahasa. Meskipun Anna tak bicara, Zion tahu Anna memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Bolehkan Aku menciummu?" tanya Zion.
"Sejak kapan kamu meminta ijin dariku?"
"Kalau begitu, mulai sekarang bibirmu adalah milikku," bisik Zion.
__ADS_1