
Seorang pria duduk disalah satu kursi dengan tatapan tajam. Pria itu tak sendirian, ia ditemani belasan orang yang duduk di Ruangan yang sama dengannya. Ia memeriksa setumpuk kertas yang berada didepannya.
"Apa hanya ini saja?" Tanya pria tersebut.
"Benar, Pak." Ujar sang Sekretaris.
"Sesuai yang dirapatkan sebelumnya, perlu adanya revisi." Ucap seorang pria berumur 40-an yang merupakan Manager Keuangan.
"Saya rasa tidak ada kesalahan dalam dana yang akan digunakan pada event tersebut. Itu semua tergantung dalam pengelolaan keuangan, apakah bisa mengelolanya dengan baik atau tidak." Ujar Vennie, wanita berkacamata yang merupakan Manager Pemasaran baru pada Perusahaan tersebut.
"Beraninya Manager Pemasaran sepertimu menuduh saya yang bekerja disini selama sepuluh tahun!" Tukas pria itu tak terima.
"Kenapa Anda marah? Saya hanya tak ingin seseorang memiliki dampak buruk pada Perusahaan ini." Sindir wanita tersebut.
"Sudah cukup! Saya akan..."
"Jonathaaaan...." Tiba-tiba Merlyn datang membuka pintu, tanpa mempedulikan banyak orang disekitarnya. Merlyn menatap Jonathan dengan genangan air mata. Jonathan menghela nafas sekaligus bingung dengan kedatangan Merlyn.
"Kau tahu, kalau kamu sangat kejam padaku." Merlyn menangis. Akibat ulahnya, orang-orang disekelilingnya berbisik-bisik sambil melirik kearah Jonathan.
"Maaf, saya rasa rapat akan ditunda. Rapat akan..."
"Kenapa harus ditunda? Semua orang berhak tahu tentang masalah kita." Seru Merlyn. Jonathan tak mengerti drama apa yang sedang dimainkan Merlyn. Ia tetap tenang.
"Maaf untuk semuanya. Sepertinya ini ada kesalahpahaman." Ujar Jonathan. Mereka mengangguk mengerti.
"Salah paham?" Merlyn mendengus kesal.
"Kamu sudah memanfaatkan hatiku yang tulus demi kegilaanmu yang tak berujung, bahkan tubuhku sering kau nodai dengan keji." Isak tangis Merlyn semakin pecah.
"Kalian harus tahu, dibalik topeng yang ia pasang selama ini. Dia bukanlah pria yang baik. Aku telah menyesal bertemu dengannya." Merlyn melempar sebuah benda yang ia ambil dari tasnya. Semua tatapan tertuju pada benda yang dilempar oleh wanita tersebut.
"Aku hamil." Semua orang kaget, tak percaya dengan apa yang dikatakan Merlyn, terlebih lagi Jonathan. Ia diam membisu. Tak lama, ia mengambil ponselnya.
"Halo! Cepat datanglah ke Ruangan Rapat, sekarang. Ada pengganggu disini." Ujar Jonathan pada panggilan ponselnya.
__ADS_1
"Kau pikir, bisa menjatuhkanku semudah ini? Jangan harap!" Batin Jonathan. Namun, Merlyn memiliki akal licik untuk melawan Jonathan. Ia sudah memprediksikan apa yang terjadi sebelum ia bertekad menemui Jonathan.
"Kau mau mengusirku hanya karena aku mengandung anakmu?"
"Kalian bisa lihat sendiri kan, bagaimana sosok Direktur Perusahaan yang kalian banggakan?"
"Inilah sosok yang sebenarnya!" Merlyn tersenyum sinis sambil menatap Jonathan. Jonathan bingung, kenapa satpam yang ia panggil, tak datang juga.
"Nak, lihatlah ayahmu yang tega membuangmu! Dia bahkan tidak pantas disebut sebagai Ayah. Mari, kita pergi darisini!" Ucap Merlyn sambil mengelus perutnya. Merlyn meninggalkan Jonathan.
"Kali ini, aku pastikan, hidupmu berada dalam genggamanku, sayangku." Batin Merlyn. Sementara itu, Jonathan menatap kepergian Merlyn dengan hati yang membara.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Sementara itu, malam pernikahan Jay dan Anna telah tiba. Riasan Anna tampak alami, tak mencolok, namun menonjolkan kecantikan yang dimiliki Anna. Anna memiliki bentuk alis yang rapi serta tak terlalu tipis, sehingga tak perlu menggunakan cukur alis, cukup menggunakan pensil alis serta sikat alis. Begitu juga dengan hidung Anna, Anna memiliki hidung mancung, tak perlu menggunakan contour berlebihan pada hidung. Contour hidung diperlukan agar hidung terlihat mancung, sehingga memiliki bentuk yang ideal.
Akan tetapi, Sang Make Up Artist menambahkan contour pada bagian rahangnya dengan ujung kuas yang menyentuh bawah telinga hingga berakhir pada bawah dagu. Hal itu dilakukan agar menambah ketegasan dalam bentuk wajahnya. Untuk memberikan kesan elegan, ia memberikan warna eyeshadow sesuai dengan warna gaun yang dipakai Anna serta memberikan blush on yang tak mencolok agar sosok feminim dalam diri Anna terlihat. Dan terakhir, lipstik yang digunakan senada dengan warna eyeshadow dan blush on, sehingga terlihat lebih natural.
Setelah sempurna, Anna menatap wajah cantiknya dicermin. Tak terasa, air mata Anna mengalir. Make Up Artist dan Hair Stylist bingung, mereka beranggapan, seharusnya Anna gembira dan ceria. Namun, gadis yang berada dihadapan mereka saat ini adalah gadis malang yang tak bahagia saat dihari Pernikahannya. Karena mengerti tatapan sendu disekeliling Anna, ia menepuk-nepuk bekas air mata menggunakan tissue agar make up nya tak luntur.
"Sepertinya Tuan sudah siap." Ucap Chris, ia tiba-tiba datang dengan senyuman yang khas.
"Chris? Kapan kamu keluar dari Rumah Sakit?"
"Baru kemarin. Saya mendengar kabar di berita kalau Tuan akan menikah, jadi saya kemari." Terang Chris.
"Gimana? Apa kamu sudah pulih sepenuhnya?'
"Tuan, jangan khawatir! Tangan dan kaki ini sangat bertenaga untuk menghajar orang, bahkan puluhan orang sekaligus." Jay tersenyum.
"Kau sudah kembali seperti biasanya."
"Kebetulan, aku punya tugas untukmu."
"Apa itu, Tuan?"
__ADS_1
"Amankan Pernikahan ini jangan sampai pengacau datang, terlebih lagi jika Jonathan yang melakukannya."
"Jonathan? Saya tidak menemukan tanda-tanda kemunculannya."
"Apa kau yakin?"
"Saya sangat yakin, Tuan."
"Kalau begitu, ada dimana dia sekarang?" Gumam Jay.
"Saya akan mencari tahu lagi, Tuan."
"Baiklah." Chris meninggalkan Jay, namun ia berpapasan dengan dua orang pemuda. Mereka masuk ke sebuah Ruangan untuk menemui Jay.
"Permisi. Anda harus segera siap-siap. Waktunya telah tiba." Ucap salah seorang diantara mereka.
"Baiklah." Jay tersenyum. Ia menarik nafas sesaat, sebelum keluar dari Ruangan tersebut. Tak lama, ia bergegas ke salah satu Gereja, tempat dirinya dan Anna menikah.
Penantian panjang Jay terbayar, ketika melihat sosok cantik dihadapannya. Ia menatap Anna tanpa perasaan malu. Anna sengaja tak melihat Jay. Tatapannya beralih kearah yang lain. Mungkin, bagi Jay Pernikahan ini adalah berkah, tetapi bagi Anna, ini merupakan kesialan yang terjadi dalam hidupnya. Akan tetapi, Jay tak berpikir terlalu jauh. Ia hanya ingin menghabiskan seluruh hidupnya bersama Anna.
Tiba saatnya, Jay menggenggam tangan Anna sambil tersenyum. Ia mengira, ia melihat raut wajah Anna yang tak ia sukai. Namun, Anna menunjukkan ekspresi berbeda. Ia tersenyum, seakan tak terjadi apa-apa. Senyuman tak sepadan dengan isi hatinya yang bergemuruh. Jikalau bukan karena orang yang ia cintai, mana mungkin ia mengorbankan kebahagiaannya bersama orang yang tak ia cintai.
"Aku ingin melihatmu tersenyum seperti ini." Bisik Jay sembari tersenyum.
"Aku akan membuatmu bahagia." Ucap Anna.
"Hanya dalam anganmu saja." Sambung Anna dalam hati. Dalam kurun waktu beberapa detik, seorang Pendeta menatap mereka secara bergantian sambil tersenyum. Ibadah Pernikahan berlangsung cukup ramai. Tak lama, Jay dan Anna mengikrarkan janji-janji Pernikahan dihadapan Tuhan, Pendeta, serta semua orang yang hadir ditempat tersebut.
"Saya Jay Lucio mengambil engkau Anna Warren menjadi isteriku, dan berjanji selalu tetap setia mengasihi engkau dalam suka maupun duka, serta tidak akan meninggalkan engkau dalam keadaan mujur ataupun malang. Saya akan memelihara engkau dengan penuh kasih sayang, seperti yang saya wajib perbuat kepada Tuhan Yesus Kristus." Ujar Jay dengan lancar.
"Sa.. Saya Anna Warren mengambil engkau.."
"Zion Wilson sebagai suaminya." Sahut Zion yang tiba-tiba datang tersenyum menatap Anna. Mata Anna tercengang, ketika melihat Zion. Tubuh Anna terkulai lemas hampir terjatuh, Jay ingin menangkapnya, namun, dengan cekatan Zion menarik Anna dalam dekapannya.
"Zi...Zion..." Lirih Anna tak percaya.
__ADS_1
"Maaf, sayang, aku datang terlambat." Ucap Zion, seraya ia melirik kearah Jay yang tak suka akan kehadiran dirinya.