
Tetesan air membasahi wajah Marinka. Ada rasa gugup pada batinnya. Ini hari pertama ia menjabat sebagai direktur perusahaan.
Sesekali ia menampar pipinya sendiri, berharap cuma mimpi. Wanita itu selalu memiliki mimpi untuk duduk dikursi direktur dengan sejuntai senyuman khasnya.
Marinka menghembuskan nafas untuk merilekskan diri sejenak. Ketika seseorang masuk, wanita itu tersenyum. Marinka tak peduli siapa dia. Wanita itu berpikir, mungkin ingin buang air kecil atau membasuh wajah di wastafel.
"Marinka, sepertinya kau senang ya menjabat sebagai direktur perusahaan," bisik seseorang itu. Ia berdiri dibelakang Marinka.
"Kau..."
"Kenapa? Kamu lupa dengan suaraku sendiri?" Darion membuka wig perempuan yang menutupi semua rambut aslinya. Dengan penampilan nya sebagai perempuan, tak ada yg curiga itu adalah Darion bahkan Marinka sendiri.
"Darion.. Apa yang kau lakukan disini?"
"Kamu lupa kalau aku selalu mengawasimu."
"Darion, kamu tidak bisa berbuat apa-apa denganku. Karena aku bisa melukaimu kapan saja. Ini adalah wilayah kekuasaanku," mata Marinka melotot tajam. Wanita itu tak pernah takut dengan Darion.
Darion tersenyum melihat Marinka. Ini pertama kalinya Marinka melihat senyuman lebar pria itu.
"Kalau begitu teriaklah, Marinka!" Darion menodongkan pistol, ia meletakkan benda itu didekat dagu Marinka. "Menurutmu siapa yang lebih cepat, teriakanmu atau pistolku ini?" ujar Darion tanpa mengalihkan pandangannya terhadap Marinka.
"Oh ya? Lihat saja, siapa yang bisa keluar darisini hidup hidup!" seru Marinka.
Sikut Marinka menyentuh pistol, ia berusaha agar pistol tersebut jauh dari hadapannya. Darion tak berpasrah diri. Ia mengunci Marinka. Namun gerakan Darion yang ingin mengunci Marinka tak berhasil.
Wanita itu terlalu lincah untuk masuk kedalam perangkap Darion. Marinka tersenyum puas sebelum ia menendang bagian wajah Darion. Akan tetapi, Darion menahan tendangan Marinka.
Keduanya saling beradu didepan wastafel kamar mandi yang ruangannya tak luas. Tak ada yang mengalah. Mereka adalah lawan yang seimbang.
Karena tak ingin kalah, Darion melepaskan sabuk yang terpasang dipinggangnya, melilitkannya dileher Marinka. Wanita itu tak bodoh. Ia menendang bagian ******** Darion.
"Oops.. Aku salah menendang yaa," ucap Marinka disela tawanya.
"Ternyata tenagamu sudah pulih. Aku terlalu meremehkanmu," ujar Darion, seraya menahan sakit yang tak berujung.
"Daripada mengurusku, lebih baik urus saja bagianmu yang itu. Dah," Marinka dengan santai meninggalkan Darion. Pria itu mengepalkan tangan.
"Huh?! Padahal aku hanya memperingatinya saja. Tak ada niatan untuk bertarung dengannya," batin Darion.
°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°
__ADS_1
Pelukan hangat terasa dipinggang Anna. Ia menoleh. Zion mencium rambut Anna dari belakang.
"Aku merindukanmu sayang," bisik Zion. Pria itu tak melepaskan pelukan. Ia membiarkan kepalanya terbenam pada leher Anna.
"Aku juga merindukanmu," ucap Anna tulus. Zion melepaskan pelukannya, lalu ia melangkah untuk menatap wajah gadis yang ia cintai.
Zion mengecup bibir Anna. Merasakan kehangatan yang sudah lama ingin ia rasakan. Anna membiarkan dirinya tenggelam dalam ciuman itu.
Kemudian, Zion melepaskan ciumannya, membiarkan kedua matanya bertemu dengan mata indah Anna. Ia mengusap lembut rambut gadis itu.
"Belum keramas, ya?" tanya Zion.
"Dari sekian pertanyaan, kamu malah tanya itu," Anna memutar mata nya. Ia melepaskan diri dari Zion.
"Ciee yang mulai ngambek."
"Tauh ah," bibir Anna mengerucut. Zion menarik Anna, lalu mencium bibirnya kembali. Anna pasrah.
"Aku kangen sama ngambekmu, rambutmu yang mudah berminyak, dan bibirmu," bisik Zion. Ia mengecup kening Anna lembut. Tatapan mata nya penuh cinta.
"Tetapi kita tidak bisa lama lama, Zion. Bagaimana kalau Jonathan tahu kalau kamu masih hidup?"
"Tetapi aku takut. Kamu lupa Jonathan seperti apa? Aku tidak mau melihatmu terluka. Sebaiknya kita jaga jarak dulu."
"Baru saja kita melepas rindu, kamu suruh aku pergi," tukas Zion kecewa.
"Aku tahu. Aku juga sangat merindukanmu. Banyak hal yang ingin aku lakukan. Sepanjang waktu aku ingin habiskan kencan denganmu. Tetapi aku harus bisa menahannya. Sayang, aku tidak ingin kehilanganmu," Anna menatap Zion sedih. Pria itu menarik nafas sesaat. Ia sadar kalau dirinya egois.
"Maafkan aku, sayang. Aku akan cepat selesaikan masalah Jonathan. Setelah itu, tidak ada yang mengganggu kita."
"Siapa bilang tak ada yang mengganggumu?" celetuk seorang pria yang datang tiba-tiba.
"Haish... Jay!" Zion mengacak-acak rambutnya.
"Kamu lupa, masih ada aku?"
"Jay, kamu...?" Anna kaget kalau Jay masih hidup, ia mengusap-usap kedua matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.
"Aku masih hidup, Anna. Kalau aku mati, Zion tak ada saingan lagi, kan?" timpal Jay yang seakan tau apa yang ada didalam pikiran Anna.
"Dan kamu tahu kalau Jay masih hidup?" tanya Anna pada Zion. Pria itu mengangguk kaku.
__ADS_1
"Lihatlah, betapa jahatnya pacarmu ini, Anna! Dia bahkan tidak memberitahumu."
"Minta aku hajar ya, kamu?" celetuk Zion, ia agak jengkel.
"Lalu kakimu?" Anna cukup terkejut dengan kaki Jay yang sudah tidak ada masalah lagi. Ia melihat Jay berjalan dengan lancar.
"Kakiku sembuh, Anna."
"Baguslah kalau begitu. Lalu, bagaimana dengan perusahaanmu? Bukankah perusahaanmu saat ini..."
"Aku senang kamu mencemaskanku, Anna," senyuman Jay melebar. Zion cemburu melihat Anna memperhatikan Jay.
Zion menggenggam tangan Anna, lalu melotot kearah Jay. Tatapannya seolah ingin membunuh Jay dalam hitungan detik.
"Baguslah kalau kalian sudah berkumpul disini," seru Wilson yang datang secara misterius.
"Kakek?! Ah, sekarang aku tahu, ternyata Kakek yang memberitahu Jay kalau aku dan Anna ada disini?"
"Lalu kenapa?"
"Kakek tahu kan kalau dia itu..."
"Jay bisa menjadi sekutu yang kuat. Dan inilah saatnya melakukan pembalasan yang bagus," potong Wilson.
"Sekutu apanya," gerutu Zion.
"Ah, iya, kakek juga mau bilang. Mulai sekarang, Terra akan menjadi bodyguard pribadi keluarga Wilson," terang Wilson sambil tersenyum. Anna tak percaya apa yang ia dengar. Ia tak suka melihat Terra.
"Bukankah Kakek sudah memiliki bodyguard yang banyak?" ujar Anna tak tenang.
"Kamu benar. Tetapi, dia bukan hanya sekadar bodyguard biasa. Dia ini sudah Kakek uji untuk mengalahkan semua bodyguard kakek. Dan Terra berhasil mengalahkan mereka. Karena itu, Kakek berpikir tak masalah menambah satu orang untuk membantu kita."
"Kakek Wilson benar. Semakin banyak orang yang ingin menghancurkan Jonathan, akan semakin bagus," celetuk Jay. Pria itu bisa membaca situasi yang terjadi. Ia seolah tahu tatapan tak suka Anna saat melihat Terra.
"Menarik juga," batin Jay.
Sedangkan Terra tak bisa berkata apa-apa. Hati dan pikirannya bergemuruh ketika melihat Zion. Detak jantungnya kembali berdetak.
Apa yang diresahkan Anna juga dirasakan oleh Terra. Mereka memiliki hati yang sama untuk satu pria. Jika ingin egois, Terra juga tak ingin membiarkan Zion bersama Anna.
Namun, apakah itu mungkin? Perasaan Zion hanya untuk Anna. Tak ada gadis lain yang bisa membuat pria itu jatuh hati. Memikirkannya saja, tubuh Terra bergetar. Segala hal tak mudah untuk dibayangkan.
__ADS_1