Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Titik Terang (3)


__ADS_3

Anna mencoba sebisa mungkin untuk bertahan. Ia juga rutin minum obat. Karena itu, tubuhnya lumayan bertenaga. Ia bangun dari ranjangnya. Infus yang terpasang pada tubuhnya, sudah terlepas kemarin karena desakan dari Anna. dr. Steven menganjurkan jika Anna tidak boleh melewatkan untuk minum obat karena kondisi tubuhnya tidak bisa dikatakan lebih baik.


Anna memandang kearah jendela. Ia menghela nafas. Ia terjebak dalam pikirannya. Tak tahu harus bagaimana. Selain ia ingin bertemu dengan Zion, masih banyak yang ingin ia lakukan. Salah satu nya adalah kematian Jerry. Jerry memberikan petunjuk pada Anna disaat terakhir. Ia tak mengerti apa yang dimaksud dengan kalimat Jerry yang terakhir. Yang mengatakan, ia harus berhati-hati pada iblis. Ia sungguh tak mengerti iblis apa yang dimaksudnya.


Anna memejamkan kedua mata. Saat ia tak bisa berpikir jernih, ia selalu memejamkan mata. Hal itu yang diajarkan Zion padanya dulu. "Zion, aku ingin memelukmu." Batin Anna.


"Anna, kenapa kamu bengong?" Tanya Jonathan. Ia berjalan menghampiri Anna.


"Kak, aku takut." Ucap Anna. Jonathan tersenyum. Ia memeluk gadis itu.


"Anna, ingat kondisimu. Ketakutanmu bisa memicu hal yang lebih buruk lagi. Sebaiknya, jangan terlalu dipikirkan."Ujar Jonathan, ia mengusap kepala Anna, namun perlahan ia melepas pelukannya.


"Aku mengerti." Ucap Anna. Kali ini, ia menuruti perkataan Jonathan. Ia kembali beristirahat. Sedangkan, Jonathan menyelimuti Anna dengan selimut sambil tersenyum padanya. Ia mengusap rambut Anna secara perlahan. Tatapannya beralih pada wajah Anna yang terlihat tenang saat tidur. Ia sangat suka melihat Anna yang tenang dan penurut.


********************************


Zion menatap Wilson dengan senyuman. Kali ini, Wilson tak berkutik lagi untuk melawannya dalam permainan Billiard. Sejak sekolah, Zion sangat menyukai permainan tersebut. Saat itu, dia pernah menang sebanyak 21 kali dalam sehari. Itu membuatnya percaya diri, dan banyak orang menjuluki nya sebagai 'The King of Billiard". Saat itu dan hingga sekarang belum ada yang bisa menang melawannya.


"Aku menang." Ucap Zion bangga.


"Hanya selisih 1 poin. Apa yang patut dibanggakan?" Ujar Wilson, tak mau mengalah.

__ADS_1


"Bilang saja kalau Pak Tua merasa malu bisa dikalahkan oleh anak muda seperti ku. Benar, kan?" Ujar Zion menyindir.


"Bagaimana kalau bermain lagi? Aku pastikan aku akan menang."


"Gak ada bedanya, Pak tua. Aku itu tidak terkalahkan."


"Dasar, bocah sombong!" Sebenarnya, ia merasa tertantang karena selama ini belum pernah ada orang yang berhasil menandinginya dalam permainan billiard. Meskipun usia nya tak muda lagi, namun pikiran dan tenaga nya masih matang. Dia berpikir, kehadiran Zion mampu menggelitik hati dan pikirannya. Sebenarnya, ia hanya tidak mau kalah.


"Kalau begitu, sesuai perjanjian, kau akan mengabulkan tiga permintaanku." Ujar Zion.


"Lakukan apa saja, selain kamu ingin kabur dariku."


"Hanya itu? Gak ada sesuatu yang lain?"


"Gak ada. Kan masih satu permintaan. Dua permintaan lainnya, aku akan memikirkan nya lagi." Senyum tersungging pada bibir Zion. Kali ini, ia ingin menghubungi Anna. Ia sangat merindukan sosok itu.


"Baiklah. Tetapi, jangan coba-coba kabur dariku. Kau mengerti?"


"Siap, kakek Wilson yang terhormat." Ucap Zion. Ia tersenyum.


Berselang waktu sekitar sepuluh menit, mereka tiba pada kediaman Wilson. Wilson menyerahkan ponsel milik Zion. Zion tampak senang. Hatinya berbunga-bunga.

__ADS_1


Saat ia membuka handphone nya, banyak sekali panggilan tidak terjawab dan WhatsApp yang tidak ia baca dari berbagai orang. Karena semakin merindukan sosok Anna, ia membaca WhatsApp dari Anna. Namun, ekspresinya mendadak berubah. "Apa? Anna ingin putus dariku? Dia pasti marah karena tidak hadir saat itu. Ia pasti menungguku lama." Batinnya kecewa pada diri sendiri.


Ada keinginan untuk menghubungi nomor Anna. Disaat yang bersamaan, Parta, Supir pribadi Anna menyerahkan handphone gadis tersebut pada Jonathan karena Anna masih istirahat. Ponsel Anna sudah dibetulkan dan kembali seperti sedia kala. Akan tetapi, ponsel tersebut mendadak berdering. Jonathan melihat nama 'Zion' pada layar tersebut. Karena kesal, ia mematikan handphone Anna, lalu membuangnya ke tempat sampah.


Parta kaget saat melihat hal itu. Tatapan mata Jonathan tajam, seakan mengintimidasi Parta. Parta diam sembari menunduk. Ia tak berani berkomentar apapun. Ia takut. Dari sekian keluarga di rumah itu, hanya Jonathan, sosok yang paling ditakutinya. Entah kenapa bisa begitu. Ia selalu bisa merasakan hawa dingin yang mengelilingi Jonathan. Dan hawa dingin itu berubah menjadi senyuman iblis. Parta merasa, saat ini ia berada di genggaman Jonathan.


Sedangkan disisi lainnya, telepon Anna yang tak bisa dihubungi, membuat Zion semakin mencemaskan gadis tersebut. Ia berjalan mondar-mandir sambil menelpon Anna berkali-kali. Jawaban tetap sama. Ia merasa putus asa. Ia menatap WhatsApp milik Anna, disana Anna tak membuka aplikasi chatting tersebut selama berhari-hari. Zion semakin tak bisa berpikir jernih. Ia takut terjadi sesuatu pada Anna. Karena terdesak, Zion melihat sekelilingnya, terbesit dalam pikirannya untuk melakukan tindakan nekat. Asalkan ia melihat Anna baik-baik saja, membuat hatinya tenang. Jika tidak, ia akan menyesal seumur hidup.


"Bisakah aku meminta buah? Terserah buah apa saja. Aku sangat ingin makan buah." Ucap nya pada salah satu asisten rumah tangga di rumah itu.


"Tetapi... biarkan aku saja yang mengupasnya." Ujar Zion.


"Baiklah." Wanita tersebut mengambil apa yang diminta oleh Zion. Ia tak curiga sama sekali karena Zion bersikap biasa saja. Tak lama, ia datang membawa apa yang dibutuhkan olehnya.


Zion tersenyum. Ia mengupas apel menggunakan pisau. Namun, ia sengaja mengenakannya pada jari nya. Dan sayatan pisau tersebut cukup dalam mengenai jari Zion. Zion menutup mata. Setelah itu, ia teriak. Semua orang heboh saat mengetahui tangan Zion berdarah, kecuali Wilson. Wilson yang tak ada pada kediamannya, menjadi kesempatan bagus untuk melarikan diri dengan triknya yang konyol. Saat para pengawal membawa nya kerumah sakit, saat itu Zion berlari disetiap koridor rumah sakit tersebut.


Para pengawal bingung kearah mana pergi nya Zion. Mereka memilih untuk berpencar. Zion tersenyum lebar, dan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyamar. Ia mengambil beberapa kain perban, lalu membalut tangannya yang berdarah karena darah tersebut terus menetes. Setelah itu, Zion mengambil jas salah satu dokter. Ia berjalan, tangannya sengaja dimasukkan pada saku jas tersebut. Ia berjalan dengan santai seakan tak terjadi apa-apa. Tak ada yang curiga sama sekali. Akan tetapi, suara tepukan tangan membuat langkah Zion terhenti.


"Hebat, kau bocah. Kau bahkan berani melukai dirimu sendiri untuk berusaha kabur dariku." Ujar Wilson. Ia berada tepat dihadapannya. Saat Zion bingung bagaimana Wilson menemukannya, ia melihat tulisan serta foto Wilson disana. Ia menyadari, jika rumah sakit itu adalah milik Wilson. Zion hanya bisa tertawa lebar.


"Astaga pak tua itu, berapa banyak usaha yang ia miliki?" Gumam Zion sambil menarik nafas.

__ADS_1


__ADS_2