Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Satu Malam


__ADS_3

Ketika fajar menyingsing, awan tampak sempurna dengan pesonanya. Tiupan angin yang lembut menyeimbangkan irama jantung. Udara yang segar mampu menyehatkan seseorang dari segala kepenatan hidup. Sesosok pria tengah tertidur pulas. Namun, ia merasakan kesejukan udara dipagi hari melalui celah jendela kamarnya. Kesejukan itu mampu menyadarkannya dari segala aktifitas tidurnya. Jay mengusap kedua mata. Kepalanya berdenyut ringan. Ia ingat semalam dia mabuk. Tetapi setelah itu, ia tak ingat apa-apa. Saat ia melihat sekelilingnya, ia menemukan Merlyn berada disampingnya.


"Ah, sial!" Batin Jay. Ia mengacak-acak rambutnya.


"Ehn...!" Merlyn menggeliat. Ia mengusap kedua mata dan kaget saat melihat Jay terbaring disebelahnya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Merlyn." Saat ia membuka selimut, ia menyadari sesuatu telah terjadi. Ia menutupnya kembali.


"Ini tak mungkin. Aku tidak ingat apapun."Ucap Merlyn.


"Menurutmu aku juga mengingatnya? Aku bahkan tak tahu kenapa harus jadi seperti ini." Ujar Jay frustasi. Merlyn mendengus kesal.


"Bukankah ini salahmu? Kamu adalah seorang pria. Semalam, aku mabuk karena Jo bre****. Dan kenapa kamu malah ikutan mabuk juga?" Merlyn menghela nafas.


"Maaf. Semalam aku memikirkan Anna. Dan aku minum begitu saja tanpa memikirkan apa-apa." Sesal Jay. Ia tak menyangka betapa cerobohnya dia.


"Apa kamu tidak mengingat hal lainnya?" Tanya Merlyn.


"Seingatku, aku hanya melihatmu menangis. Kamu berteriak-teriak mengatakan kalau kamu menyesal bertemu dengannya. Lalu..."


"Lalu apa? Kamu mengingatnya kan?"


"Lalu... kamu menyanyi. Dan menjambak rambutku hingga membuat rambutku rusak.


"Kamu sangat mengerikan saat mabuk. Ckckck..." Jay merinding, saat mengingat kejadian itu kembali.


"Apa aku semengerikan itu?"


"Tunggu! Aku ingat sekarang kalau kamu muntah dibaju ku. Aaagh!"


"Maaf."


"Seharusnya kamu tak muntah sembarangan. Aku... Ah, sudahlah." Jay mengacak-acak rambutnya.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Jay. Ia kaget saat melihat jam pada ponselnya.


"Tinggal satu jam lagi aku harus pergi Rapat."


"Aku tidak ada waktu. Aku buru-buru. Dan kamu... terserah apa yang kamu lakukan." Jay melepaskan selimut yang melekat pada dirinya. Namun, Merlyn melempar bantal kearahnya.


"Jaaay!" Merlyn secara refleks menutup mata. Wajah Jay memerah. Ia memasang tatapan bodoh. Ia salah tingkah, lalu tanpa disadari, tubuhnya terguling dari kasur hingga terjatuh.


"Aw!" Ia merasakan sakit pada sekujur tubuh.


"Hahahaha..." Merlyn tak bisa menahan ketawa. Sedangkan, Jay menahan rasa malu akibat ia terjatuh.

__ADS_1


"Dia sangat lucu. Benar benar polos." Batin Merlyn.


"Duh!" Jay masih meringis kesakitan pada sekujur tubuhnya. Ia merasakan benjolan pada kepalanya."


"Hei, kamu baik-baik saja?" Tanya Merlyn tanpa melihat Jay.


"Aku adalah pria. Aku tidak ingin mempermalukan diriku." Batin Jay.


"Kau tak menjawabnya."


"Jangan melihat kesini!" Jay merasa malu dengan harga dirinya sebagai seorang lelaki. Kemudian, ia segera bergegas ke Kamar mandi. Setelah selesai, ia melihat Merlyn berdiri di depan kamar mandi.


"Astaga, kamu membuatku kaget! Apa yang kamu lakukan?"


"Mana yang sakit?" Tanya Merlyn.


"Kepalaku yang sakit. Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku juga harus..."


"Kamu ini seperti gadis remaja. Sangat cerewet." Merlyn memberikan minyak untuk dioleskan pada benjolan tersebut. Jay tak bersuara. Ia membiarkan Merlyn berbuat sesuka hatinya.


"Nah, sudah." Merlyn tersenyum.


"Ah, itu... itu.. itu..."


"Kalau sesuatu terjadi padamu, katakan padaku!"


"Astaga kau sangat manis, Jay." Merlyn mengedipkan mata.


"Ingat kata-kataku ya? Aku tidak ingin menjadi pria yang tidak bertanggung jawab." Ujar Jay lagi. Ada rasa bersalah yang tersirat pada wajahnya.


"Aduh, iya tenang saja. Udah, sana pergi!"


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Tenang. Aku bisa kabur darisini diam diam. Udah sana buruan!"


"Baiklah." Jay bergegas pergi meninggalkan Merlyn.


"Andai Jonathan semanis dirimu." Batin Jay. Ia tersenyum lebar.


"Astaga, apa yang kau lakukan Merlyn! Ayo, sadarlah!" Ucapnya pada diri sendiri.


******************************


Zion memilih melatih kakinya agar lebih stabil dalam membekukan lawan. Terra dengan setia memberikan pengarahan pada nya. Tetapi, Terra tak segan memberi hukuman pada Zion berkali-kali karena tingkahnya seperti anak kecil.

__ADS_1


"Sudah kubilang, jangan begini! Jika begini terus, tulangmu akan patah sebelum menendang lawan." Seru Terra. Ia melihat posisi kaki Zion sering salah saat mengayun.


"Duh, iya, iya, nenek sihir."


"Dasar!" Terra menjitak kepala Zion dengan lembut.


"Udah ah, aku capek. Istirahat ya?" Jay merebahkan dirinya pada rerumputan hijau.


"Baru setengah jam udah istirahat. Ayo bangun!" Terra menarik Zion, akan tetapi Zion menarik Terra. Karena kekuatan Zion lebih besar darinya, Terra berada diatas Zion. Mereka hampir berciuman, kalau Zion tidak menghindarinya.


"Hahahaha..." Zion tertawa saat melihat Terra tak sengaja mencium rumput. Terra kesal, lalu menendang lutut Zion. Zion menghindar. Kemudian, Terra memanfaatkan kekuatan tangannya, lalu memutar, tetapi Zion malah membanting Terra."


"Duh, maaf, ya, nenek sihir." Zion tersenyum puas. Merasa tak terima, ia mengapit kaki Zion dengan kakinya. Ia menggunakan kekuatannya untuk menjatuhkan Zion. Pria itu terjatuh. Dan seketika itu, Terra tersenyum, lalu mengunci Zion.


"Hei, Terra, jangan pikir dengan teknik kuncimu ini, aku tidak bisa meloloskan diri!" Seru Zion. Kekuatan Zion berubah menjadi lebih kuat, ia bisa melepaskan diri dari Terra. Lalu ia menyerang Terra. Karena tubuh Terra tidak seimbang, ia hampir jatuh. Tangan Zion menahan punggung Terra agar tak jatuh. Saat itulah, Terra merasakan nafas Zion pada wajahnya.


"Duh, berat tahu!" Oceh Zion. Akan tetapi, Zion mendapat pukulan dari Terra.


"Hei, apa yang kamu lakukan pada mataku?"


"Setelah mematahkan tulangku tempo hari, kini kamu malah merusak mataku. Kau tahu mataku ini berharga." Tukas Zion. Terra malah pergi meninggalkan Zion sendirian.


"Ada apa sih dengan nenek sihir itu? Apa dia lagi PMS, ya?" Ucap Zion. Sedangkan Terra menstabilkan nafasnya. Jantungnya berdetak tak karuan. Pipi nya merona merah. Ia berpikir mungkin karena lelah dan dia butuh istirahat. Tetapi jantungnya terus berdegup kencang.


"Apa aku punya masalah jantung? Batin Terra tak mengerti. Tetapi seingatnya, kondisi jantungnya tak pernah memburuk. Disaat Terra tak mengerti akan dirinya, Zion pergi ke Toilet. Saat ia keluar dari Toilet, ia tak sengaja menabrak salah satu Asisten Rumah Tangga disana. Dan saat itulah, ia tak sengaja melihat sesuatu yang jatuh. Dan ia tak menyangka, ketika melihat foto tersebut, hatinya hangat.


"Ma... Maaf, Tuan, saya tak sengaja." Ucap Zora, Asisten Rumah tangga yang menabrak Zion.


"Tidak apa-apa." Tatapan Zion terasa berat meninggalkan foto tersebut.


"Tunggu! Apa foto itu mau dibuang?"


"Tidak. Saya hanya merapikannya ke Gudang. Foto ini sudah lama sekali."


"Biarkan aku menyimpannya." Ucap Zion. Ia menatap sedih kearah foto tersebut.


"Tetapi, tuan..."


"Aku tak tahu kenapa. Tetapi aku ingin menyimpannya." Tangan Zion tak ingin melepaskan foto tersebut. Ia terus menggenggamnya, seakan tak ada satu orang pun yang boleh mengambil itu darinya.


"Baiklah. Anda boleh menyimpannya. Saya permisi dulu." Zora pergi meninggalkan Zion yang termenung sendirian. Zion terus menatapnya sedih. Namun, Terra tak sengaja melihat Zion. Pria itu tampak berbeda. Terra bisa merasakan kesedihan Zion, walaupun ia tak tahu apa yang membuat Zion sedih. Terra menepuk pundak Zion.


"Ada apa? Kamu baik-baik saja?" Tanya Terra dengan lembut.


"Aku juga tidak tahu kenapa. Aku ingin menangis melihat foto ini." Ujar Zion. Terra memeluknya sambil menepuk-nepuk punggung Zion. Terra melihat foto itu sekilas. Foto siapakah itu?

__ADS_1


__ADS_2