Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 46 Hilang


__ADS_3

Anna jengah melihat kedua pria merebutnya. Jay tak peduli apa yang dipikirkan gadis itu. Ia ingin bersama Anna kembali. Namun, Zion tak juga melepaskan genggaman Anna yang mengikat. Anna berada ditengah-tengah mereka.


"Kamu tidak pantas untuknya. Dia pantasnya untukku," ucap Jay.


"Jangan berkhayal! Kamu yang merebutnya dariku," ujar Zion tak mau mengalah.


"Aku hanya ingin mengambil istriku."


"Istrimu? Jangan bermimpi! Dia tidak pernah mencintaimu," Zion kesal. "Kamu yang memaksanya untuk menikahimu."


"Aku menikahinya karena kita telah ditemukan oleh takdir. Takdir yang mengikat kami berdua," celetuk Jay.


"Gak salah? Buat apa mengejar seseorang yang tidak mencintaimu? Lebih baik, cari saja gadis yang mencintaimu dengan tulus."


"Aku menginginkan Anna. Bukan yang lain. Dari awal dia adalah milikku," Jay menatap tajam. Ia tak bisa mengalah pada rivalnya.


"Kamu membuatku tertawa. Lebih baik kamu pergi, sebelum aku menghabisimu."


"Kamu yang seharusnya pergi. Kali ini, aku tidak akan mmebiarkanmu menang dariku," Jay mengambil pistol dari balik pakaiannya. Ia mengarahkan pistol itu pada rivalnya.


"Jay hentikan! Apa yang kamu lakukan?" seru Anna. Ia tak mau Zion terluka karena ulah Jay.


"Anna, ayo kita pergi! Kamu tidak mau, kan Zion mati ditanganku?"


"Jay! Kamu selalu menggunakan akal licik untuk mendapatkanku. Kamu tidak ada bedanya dengan Jonathan," tukas Anna.


"Jangan samakan aku dengan Jonathan! Dia melakukan hal keji demi tujuannya. Kalau aku melakukan apapun hanya demi kamu," ujar Jay.


Dilain sisi, Darion menyiapkan senjata yang selalu ia bawa. Pria itu mengikuti Zion untuk melindungi nya. Darion menarik pelatuk, jika Jay melukai Tuan nya itu. Ia menunggu waktu yang pas untuk menyingkirkan Jay. Sorotan mata nya tajam.


Disaat Darion sibuk pada targetnya, seorang wanita menodongkan pistol dari arah belakang. Wanita itu tersenyum.


"Darion! Kita bertemu lagi."


"Marinka!"


"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu dengan cara ini," celetuk Marinka.


"Apa kamu kesini untuk menargetkan Zion?" tanya Darion, sembari menyipitkan kedua mata.


"Kalau iya kenapa? Aku hanya ingin menembaknya dengan tenang, tetapi malah bertemu disini denganmu."


"Marinka, aku tidak akan membiarkan rencanamu berhasil."


"Lalu siapa yang akan cepat menurutmu? Pria yang disana, kamu, atau aku?" tantang Marinka.

__ADS_1


Dor.. Dor.. Dor.. Jay terluka karena tembakan Darion. Setelah itu, ia menembak Marinka, namun meleset. Zion tak mengerti akan suara tembakan itu. Ia punya kesempatan untuk membawa pergi Anna darisana. Luka tembak yang berada dikaki Jay tak membuatnya menyerah. Ia memegang kaki Anna agar gadis itu tak pergi.


"Tolong jangan pergi, Anna!" ucap Jay dengan suara lemah.


"Kamu masih tidak menyerah, ya?" Zion menarik Anna lebih keras. Ia tak mau menyerah akan gadisnya.


"Jay, biarkan aku pergi. Kita memang tidak berjodoh," ucap Anna lembut.


"Kalau kamu membiarkanku pergi, aku janji akan memaafkanmu atau apa yang kamu lakukan selama ini," ujar Anna.


"Tidak! Kamu adalah milikku. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu."


"Kalau begitu, aku harus menggunakan cara yang lebih kasar," Anna mengulas senyuman. Ia memberi kode pada Zion untuk melepaskannya, Zion menurutinya.


Anna memutar kakinya. Genggaman yang melekat pada kakinya terlepas. Jay mencoba melakukan sekali lagi untuk menahan Anna. Gadis itu menghindar, lalu pergi meninggalkan Jay. Zion tersenyum, sebelum punggungnya menghilang dari hadapan Jay.


Sementara itu, Darion dan Marinka terlibat dalam pertarungan yang sengit. Mereka sama-sama kuat dan tak mau mengalah. Marinka menggunakan kemampuannya untuk menipu Darion berkali-kali, tetapi segala rencana busuknya diketahui Darion. Pria itu tak mudah dikelabuhi.


"Marinka, jangan berpikir bisa menggunakan cara yang licik! Daridulu aku tidak pernah lupa dengan semua gerak-gerikmu dalam bertarung."


"Aku lupa kalau aku selalu meremehkanmu," Marinka menatap tajam. "Daridulu kita sudah ditakdirkan menjadi musuh. Kau ingat? Berkali-kali kita bertemu dalam situasi yang tidak mengenakkan."


"Kau benar. Andai saja kita ditakdirkan menjadi teman, kita bisa menjadi sekutu yang hebat."


"Teman? Hahahaha... Aku bukan orang baik yang bisa sepertimu setia tanpa memiliki tujuan."


"Kenapa? Kamu takut sekarang?"


"Bukan. Tetapi aku prihatin akan nasib negara ini kalau dua iblis seperti kalian menyatu."


"Kamu harus memperhatikan dirimu sendiri. Kamu lupa, ya, gimana Jonathan? Sekali kamu melawannya, kamu akan menjadi musuh selamanya."


"Kau tahu prinsipku, kan, Marinka?"


"Prinsip? Pria berdarah dingin sepertimu memiliki prinsip hidup? Aku kira kamu hanya seekor a***g yang selalu patuh dengan majikanmu."


"Prinsipku selalu bertolak belakang denganmu. Setidaknya, aku tidak pernah bekerja untuk iblis seperti kalian," ujar Darion. Tatapan tajamnya tak lepas dari Marinka. Ia menodongkan pistol. Marinka menyeringai. Wanita itu tak pernah takut apapun.


"Aku sarankan Marinka, jangan bekerja sama dengan orang seperti Jonathan. Aku hanya kasihan melihatmu karena sewaktu-waktu kamu bisa dibuang kalau kamu sudah tidak berguna lagi."


"Kita lihat saja siapa yang akan dibuang nantinya. Aku akan menyiapkan kuburanmu besok."


Darion merasa ada yang aneh. Ia berpikir Marinka memiliki rencana lain. Ia kembali mengingat Zion. Pria itu meninggalkan Marinka. Ia sibuk berlarian dan mencari tahu dimana keberadaan Zion.


"Bodoh.. Kau tidak tahu apa-apa tentangku," Batin Marinka.

__ADS_1


Darion menelepon Zion berkali-kali, namun tak ada jawaban darinya. Pikiran Darion kacau, ia tak tahu harus mencari kemana. Seketika itu, ia melihat Jay berusaha meminta pertolongan darinya.


"Maafkan aku," ucap Darion. Ia meninggalkan Jay. Pria malang itu tak tahu harus kemana untuk mencari pertolongan. Kakinya yang sakit menjadi halangan untuk bangun.


"Butuh pertolongan? Kamu seperti pria yang malang," ujar Marinka. Ia menjulurkan tangannya. Jay mengingat Marinka adalah suruhan Jonathan.


"Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu kamu akan membunuhku."


"Baiklah. Kalau kamu tidak mau, kamu akan membusuk disini selamanya. Toh, disini sepi gak ada orang lain," ujar Marinka. Ia berbalik badan.


"Tunggu! Tolong, aku!" Jay tak punya pilihan, selain meminta tolong pada musuhnya. Marinka tersenyum sinis.


"Aku tahu ini semua tidak gratis. Cepat beritahuku, apa maumu!?"


"Aku tidak sekejam itu membunuh orang yang sudah dilukai orang lain. Aku murni menolongmu."


"Aku tidak percaya. Aku sudah hidup puluhan tahun, kamu wanita tidak ada bedanya dengan Jonathan, bahkan kamu bisa lebih berbahaya darinya."


"Kamu tidak ingin tahu dimana keberadaan gadis itu?"


"Apa maksudmu? Katakan yang jelas!" Jay marah, ia mencengkeram kerah Marinka.


"Kamu pria mesum yang mencengkeram kerahku." Jay menghela nafas. Ia melepaskan cengkeramannya.


"Katakan padaku, dimana dia!? Apa yang kamu lakukan padanya?"


"Aku gak yakin."


"Apa maksudmu? Katakan lebih jelas!"


"Aku hanya disuruh Jonathan untuk memberi pelajaran pada Zion, tetapi aku tidak diberi perintah untuk melindungi Anna."


"Apa?"


"Kamu tahu apa artinya itu?" Marinka tersenyum puas.


"Lalu maksudmu dia..."


"Kamu harus menyelamatkan dia, sebelum terlambat."


"Antar aku kesana, sekarang!"


"Tetapi kakimu masih terluka."


"Aku tidak peduli."

__ADS_1


"Aku terharu. Kamu tidak menghargai nyawamu hanya karena seorang gadis yang gak pernah mempedulikanmu," ujar Marinka. Ia menyentuh dagu Jay. Entah apa yang direncanakan Marinka, tetapi wanita itu berbahaya. Wanita itu sedikit berbeda dari Jonathan. Namun, kedua nya sama-sama kejam.


__ADS_2