Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
06- Lebih Penting Siapa


__ADS_3

"Kau terlalu penting. Bahkan dibandingkan diriku sendiri!"


-----


WhatsApp


Lucas: Yona!!!


Lucas: coba tebak!!!


Yona: apa?


Lucas: gue......


Lucas: DAPET NILAI SERATUS!!!!


Lucas: YEYEY!!!!


Lucas: gue terharu T^T


Lucas: anjir gue gak percaya anjirrrr


Yona: santai dong!


Yona: lo juga bisa karena gue kan?


Lucas: cuih


Lucas: ini hasil usaha gue sendiri tau!


Lucas: sekarang gue tau kalau seorang Lucas itu jenius!


Yona: serah


Lucas: sambutlah kedatangan cucu Einstein!!!!


Lucas: HA HA


Lucas: dan gue berarti juga menang dari cewek itu


Lucas: GUE MENANG!!!


Yona: halah, lo mau belajar cuma karena bucin :'(


Lucas: masa?


Yona: _-


Lucas: intinya gue jenius


Yona: bacot banget


Yona: diem!!


Lucas: nanti gue traktir chicken popnya buat dua porsi deh


Yona: beneran?!


Lucas: iya dung :)


Yona: :3


Yona: tumben amat baik (:


Lucas: aku kan orang tampan yang baik hati dan tidak sombong


Lucas: tidak lupa dengan kecerdasannya yang juga luar biasa


Yona: Y


Yona: serah deh

__ADS_1


Yona: yang penting chicken pop dua porsi :3


Lucas: yeu, cewek cuma mikirin makan melulu _-


Yona: :3


Yona: beneran loh ya


Yona: jangan bo'ong! Kalo bo'ong nanti gue bunuh!


Lucas: iya kanjeng ratu


Lucas: mana mungkin hambamu ini berbohong :'(


Yona: oke deh


Yona: gue pegang omongan lo


Lucas: PEGANG AJA PEGANG! GAK PERCAYA BANGET SIH SAMA GUE!!!


Yona: :') jangan marah


Lucas: YYYY


Yona memandangi room chatnya dengan Lucas agak lama dan tanpa sadar sebuah senyum kecil terbit di wajah cantik Yona. Dasar. Lucas tu emang moodboster banget bahkan hanya dengan tingkah anehnya. Asik banget rasanya kalo bisa bikin Lucas emosi, seperti ada kesenangan tersendiri.


"Napa lo senyum-senyum?" Tanya seorang cewek bermata sipit pada Yona dan dengan segera ia mendudukkan dirinya di kursi depan Yona yang memang sedang tidak ada yang menempatinya.


Senyum Yona langsung padam, ia menatap wajah cewek yang berbicara padanya dengan tatapan tajam.


"Apa sih lu? Sirik amat," balas Yona jadi ketus dengan bibir mencuat-cuat kesal.


Arin mencibir kecil. "Kayaknya kita tu emang gini ya?" Tanyanya sambil terkekeh kecil. "Gak pernah bisa akur."


Yona melebarkan matanya, tapi kemudian mengangguk membenarkan. "Iya. Gue juga heran, kalo gak berantem sama lo tuh, rasanya ada yang beda," balas Yona kini mengetuk-ngetuk ujung meja sambil berpikir.


Arin mendecak, lalu menghela nafas pelan dan menatap Yona sekilas dari sudut mata.


"Hn?" Yona melebarkan matanya, antara kaget dan tidak percaya. "Maksud lo?"


"Asik aja gitu punya pacar. Biar ada temennya. Bisa diajak ngobrol," jawab Arin dengan nada serius. "Biar gak terus-terusan sama lo," lanjutnya langsung berubah menjadi sindiran tajam.


Yona mendelik, refleks maju untuk menabok kepala Arin dengan kesal. Tapi, Arin lebih dulu menghindar menjauh hingga tangan Yona tidak bisa menggapainya.


"Gak kena," ejek Arin sambil tertawa nyaring dengan lebarnya.


Yona mencuatkan bibirnya, lalu kembali membenarkan posisi duduknya menjadi lebih rapi meskipun matanya masih menatap Arin tajam.


"Tipe lo yang kaya gimana?" Tanya Yona kemudian dengan lebih pelan dan sabar.


Arin bergumam sebentar, lalu wajahnya langsung cerah seperti mendapatkan pencerahan yang selama ini dinanti-nanti.


"Cowoknya harus ganteng, tinggi, baik sama gue dan perhatian," jawab Arin dengan semangat. "Ya, setidaknya yang mirip sama Chanyeol lah."


Ketika mendengar nama itu, Yona langsung tersedak dan buru-buru mencibir kecil dengan tatapan tajam


"Gue juga mau kali yang kaya Jungkook!" Balas Yona sebal dengan nada ketus dan menyengak.


Ya, gimana lagi, Arin bilang tipe cowoknya mirip Chanyeol, kan Yona jadi emosi! Oppa Korea mah emang tipe cowok ideal semua fangirl kali!!


Arin yang merasa salah bicara langsung meringis kecil hingga matanya yang sipit makin terlihat menghilang tertelan pipinya.


"Yang pasti, gue gak mau jadi galau kaya elo," kata Arin sengaja dengan seringai jahil di wajahnya. "Sejak awal masuk kelas sebelas udah suka, sampai sekarang gak ada kemajuan. Ckckck, miris banget," decak Arin, menatap Yona prihatin.


"Yeu. Kapan-kapan gue bawa golok ah. Biar puas!" Yona mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan sinis ke arah Arin. Emosi Yona jelas tersentil karena Arin telah mengungkit hal yang sensitif bagi Yona.


Arin meringis lagi, buru-buru menggeleng pelan. "Maaf-maaf," katanya walaupun masih dengan tawa geli yang tertahan.


Yona melengos pelan. "Ada kemajuan kok," balas Yona dengan nada percaya diri. "Lo gak tau aja!"


"Ha? Elo? Ada kemajuan sama Nino? Halunya tolong dikurangi ya," balas Arin dengan nada mengejek membuat Yona jelas mendelik tak terima.

__ADS_1


"Buktinya kemarin gue dianter pulang sama Nino," jelas Yona cepat dengan dagu sedikit terangkat.


Arin langsung tertegun. Percaya atau tidak, wajah Arin sekarang terlihat begitu bodoh dengan mulutnya yang menganga.


Yona tersenyum miring. "Gak percaya kan lo?"


"Bentar. Kok bisa?! Gimana ceritanya? Ceritain ke gue lah!" Desak Arin sudah tidak sabaran hingga ia refleks memajukan kursinya dengan semangat.


Yona melengos kecil. "Siapa lo mau tahu segala? Gak mau," jawabnya dengan dengusan kecil. "Tadi kan lo bilangnya gue sama Nino gak ada kemajuan. Kenapa sekarang mau tau?"


Arin berseru protes dengan helaan nafas mencoba sabar. Ia menatap Yona dengan wajah memelas. "Kasih tau gue lah," pintanya dengan kerlingan mata dibuat-buat.


"Gak mau," jawab Yona masih tidak mau mengalah.


"Gue gak bisa tidur kalo lo gak ngasih tau gue," rengek Arin makin memelas dan tangan terkepal saking penasarannya. "Kasih tau gue lah!"


Yona menggeleng tegas ke kanan dan ke kiri. "Bodo amat kalo lo gak bisa tidur," jawabnya tanpa rasa bersalah membuat wajah Arin berubah masam.


Arin mendecak, melengos keras dan menghempaskan punggungnya ke kursi dengan keras. "Iya, iya. Gue mah apa di mata Yona? Cuma cewek biasa yang kebetulan deket! Gak kayak Nino, si pujaan hati!"


Yona melebarkan matanya menatap Arin yang memajukan bibir bawahnya sebal. Tanpa sadar, Yona jadi terkikik geli dengan telapak tangan yang sibuk menutupi tawa menyemburnya.


"Ternyata Arin pengen gue anggap jadi temen toh?" Tanya Yona seakan menyindir dengan alis terangkat sebelah.


Arin mendengus, enggan membuka mulutnya. Ia hanya menyedekapkan tangannya dengan wajahnya yang tertekuk.


Yona kembali terkikik geli melihat wajah Arin, tapi kemudian ia menghela nafas kecil dan tersenyum simpul.


"Iya-iya. Sorry. Lo temen gue, dan temen selalu lebih utama dari gebetan kan?" Tanya Yona dengan senyum tulus dengan bola mata mengerjap perlahan.


Arin mendengus, ia menurunkan tangannya menjadi lebih rileks dan balas menatap Yona tulus.


"Hm. Gue harap posisi gue sebagai temen gak pernah tergantikan. Bahkan meskipun ada cowok yang paling lo suka sedunia ada di sisi lo, lo bakal tetep merduliin gue," balas Arin jadi lebih tenang dengan suaranya yang halus. Garis wajahnya yang tadi menegang kini berubah menjadi lebih lembut.


Yona tersenyum singkat, menepuk pundak Arin pelan. "Dah, ah. Jangan kebanyakan mellow gini," katanya singkat sambil melambaikan tangan enteng.


Arin mengerjap. "Tapi, lo janji bakalan lebih menginginkan gue ketimbang Nino kan?"


"Hm," jawab Yona pendek dengan bergumam saja. "Gue bakal selalu mentingin elo ketimbang.........."


"Kalian liat penghapus gue gak?"


Yona yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya, langsung terpotong oleh suara orang lain. Mulut Yona menganga, seakan mem-pause ucapannya dengan wajah yang bengong.


"Ada yang liat penghapus gue? Warna abu-abu?" Tanya Nino sekali lagi sambil menatap Yona dan Arin bergantian.


Arin menjawabnya dengan menggeleng saja, ia tidak tahu. Sementara Yona sudah memasang wajah aneh dengan mulut menganga kecil, seakan tidak percaya jika yang didepannya adalah Nino. Arin yang melihat ekspresi menyedihkan Yona langsung bergidik dan dengan segera menyikut lengan cewek itu, menyadarkannya.


"Eh?" Yona mengerjapkan matanya beberapa kali setelah Arin menyikutnya dengan sangat keras. "Penghapus? Abu-abu?" Tanya Yona balik pada Nino meski dengan wajah yang bersemu merah.


Nino mengangguk membenarkan. "Lo tahu dimana? Itu punya gue."


Yona menggeleng pelan. "Gue gak tahu. Mau gue bantu cariin?" Tanyanya menawarkan diri dengan senyum merekah semangat.


"Gak usah. Lo sama Arin kan lagi ngobrol tadi. Gue gak mau ganggu," jawab Nino menolak halus dengan senyum kecil balas menatap Yona.


Yona buru-buru menggeleng dan langsung berdiri tegak di samping Nino.


"Gue sama Arin gak ngobrolin hal yang penting banget kok. Lagipula, kan sayang kalo penghapus lo gak ketemu," jawab Yona cepat dengan senyum lebar yang terus terpampang.


"Tapi..."


"Udah, udah. Ayo cari penghapus lo!" Ajak Yona tanpa bisa ditolak dan segera mendorong-dorong Nino paksa membuat cowok itu mau tak mau ikut berbalik.


Arin yang melihat itu jadi mengerjap. "Lah, Na. Kan lo bilang bakalan lebih mentingin gue," katanya protes tak terima dengan bibir bawah maju beberapa senti.


Yona menoleh sekilas ke belakang, ia tersenyum miring ke arah Arin. "O, ya? Kapan gue bilang?" Tanyanya balik tanpa rasa bersalah dan segera melanjutkan langkahnya sambil mendorong Nino ke depan.


Arin yang melihat Yona yang sudah pergi dan sibuk membantu Nino mencari penghapus hanya bisa berseru tertahan. Arin sebenarnya ingin menahan Yona, tapi ia juga gengsi. Kan drama banget kalo Arin merengek pada Yona hanya karena Yona lebih memilih Nino!


"Emang guguk tu anak!" Umpat Arin pada akhirnya sambil menendang udara kosong di depannya penuh kekesalan.

__ADS_1


__ADS_2