Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 61 Masa lalu (1)


__ADS_3

Semua berawal ketika Jonathan masih kecil. Bocah itu sangat patuh pada ibu nya. Ia sangat menyayangi ibunya, Pauline. Jonathan memiliki setengah darah dari keturunan Jepang. Ayah Jonathan berdarah jepang.


Namun karena sebuah alasan, ayahnya meninggalkan mereka. Pria itu tak lepas dari tanggung jawab. Ia membelikan rumah untuk mereka tinggalin.


Tetapi, Pauline marah karena ia berpikir suaminya tak mencintainya lagi. Ia berusaha menutup semua akses komunikasi suaminya.


Wanita itu tak pernah menceritakan sosok ayah Jonathan pada anaknya sendiri. Ketika Jonathan menanyakan kemana ayahnya, Pauline selalu menjawab jika ayahnya sudah lama meninggal ketika ia masih belum lahir.


Namun, Jonathan tak pernah luput dari kasih sayang ibunya. Pauline selalu mengajarkan Jonathan hal-hal yang baik. Wanita itu tak pernah memukul Jonathan, walau bocah itu sering melakukan kesalahan.


Pauline melakukan apapun demi kebahagiaan putra semata wayangnya. Jonathan juga tak berpikir membutuhkan figur seorang ayah karena tugas Pauline tak hanya sebagai ibu, ia juga bertindak sebagai ayah untuk Jonathan.


Semua pekerjaan dilalui oleh Pauline. Ia tak peduli sebanyak apapun keringat yang bercucuran. Itu semua demi masa depan putranya.


"Ibu habis pulang kerja ya?" tanya Jonathan.


"Iya, sayang," jawab Pauline, walau ia letih namun rasa letih itu telah lenyap ketika melihat Jonathan.


"Ibu, capek ya? Jonathan pijatin ya?"


"Ibu tidak apa-apa sayang," ucap Pauline. Bibir Jonathan mengerucut lucu. Ia tahu kalau ibunya berbohong mengatakan tidak lelah. "Sudah mengerjakan pr belum?" tanya Pauline, mengalihkan perhatian Jonathan.


"Udah dong."


"Anak pintar. Anaknya siapa ini?"


"Anaknya mama Pauline," ucap Jonathan sambil menunjukkan wajah imutnya.


"Manis banget anak mama ini, ya," ujar Pauline, seraya tersenyum lebar.


"Jonathan ingin selalu menjadi kebanggaan mama. Jonathan ingin melindungi mama."


"Sini peluk dulu, sayang," Pauline memeluk Jonathan dengan kasih sayang. Jonathan merasakan kehangatan yang selalu ia rindukan. "Ya udah, sini mama lihat pr kamu."


"Kalau benar semua, mama harus kabulkan satu permintaan Jonathan, ya?"


"Tentu sayang. Meskipun kamu salah, mama pasti akan kasih apa saja untukmu."


"Mamaku memang yang terbaik," ucap Jonathan sembari mencium pipi Pauline dengan lembut.


Saat itu kebersamaan mereka terpecah karena Pauline mendengar suara bell rumah.


"Tunggu sebentar ya, sayang!" Pauline melihat siapa yang bertamu melalui lubang kecil yang terletak dipintu rumahnya.


"Ma, siapa?" tanya Jonathan yang penasaran.


"Sayang, kamu bisa kekamar?"


"Ada apa, Ma?"


"Ini kan waktunya tidur siang. Jonathan tidur dikamar ya, sayang," ucap Pauline setengah gugup.

__ADS_1


"Baiklah," ujar Jonathan dengan bibir mengerucut. "Apa tamu aneh mama lagi ya? Udahlah. Lebih baik nurut mama saja," batin Jonathan. Ia bergegas ke kamarnya.


Pauline memperhatikan Jonathan dari jauh. Ia memastikan Jonathan masuk kekamarnya. Setelah aman, ia membuka pintu.


"Buat apa kamu kemari?"


"Pauline, apa kau masih marah denganku?" tanya seorang pria tampan menatap sedih Pauline.


"Aku tidak butuh kamu!"


"Pauline sayang, aku..."


"Minggu depan, danaku sudah terkumpul, aku akan pindah dari rumah ini. Dan akan mengembalikan rumah ini ke kamu," celetuk Pauline ketus.


"Bisakah kamu mendengar penjelasanku, Pauline?"


"Penjelasan apa? Penjelasan yang mengatakan kamu tidak memiliki keluarga? Penjelasan kalau kamu akan menikahi perempuan itu? Atau penjelasan kalau kamu akan menceraikanku?"


"Pauline..."


"Aku sudah lelah dengan setiap kebohonganmu. Sebaiknya, kita tidak bertemu lagi," ucap Pauline.


"Sayang, alasan aku melakukan semua itu demi melindungi kalian berdua. Aku tidak ingin kalian terluka karena pekerjaanku yang begitu kotor."


"Lalu bagaimana dengan menikah? Apa itu juga bohong?"


"I..Itu.."


"Sudahlah. Kamu tidak perlu menipuku lagi. Aku sudah muak denganmu."


"Tetapi sayangnya aku sudah tidak mencintaimu lagi," kilah Pauline. Sejujurnya, ia masih memendam cinta yang tulus pada suaminya. Namun, rasa kecewa yang ia miliki terlalu sakit. Ia terpaksa berbohong daripada rasa sakit itu terus tertanam didalam hatinya.


"Aku mencintaimu, Pauline. Dan rasa cintaku tidak akan berubah," pria itu memeluk Pauline dari belakang. Ia meneteskan air mata, ada rasa bersalah yang tak bisa ia ungkapkan. Ia terlalu mencintai istrinya.


"Rieyu..."


"Hmm? Biarkan aku memelukmu, sayang. Aku sangat merindukanmu."


"Kamu bilang mencintaiku, tetapi kamu selalu melukai hatiku. Disaat aku memaafkanmu, kamu berbohong padaku. Dan pada akhirnya kamu akan menikahi perempuan itu," batin Pauline. Air matanya semakin deras mengingat betapa pedihnya itu.


"Aku sangat merindukan Jonathan. Aku ingin menemuinya."


"Dia sudah tidur."


"Jadi, kamu menyuruhnya tidur?"


"Aku tidak ingin dia melihatmu."


"Kamu begitu membenciku. Tetapi aku tahu, kamu pasti sangat mencintaiku."


"Siapa bilang aku mencintaimu... Aku...," Rieyu memotong kalimat Pauline dengan ciumannya. Ia ******* habis bibir menggoda Pauline. Pria itu sangat merindukannya.

__ADS_1


"A..ehmmm," Pauline tak bisa berbicara lagi. Rieyu mengendalikan bibir Pauline. Wanita itu tak bisa menolak. Antara kebencian dan cinta yang ia miliki, tak bisa ia bohongi. Ia masih mencintai pria itu.


Rieyu mendorong tubuh Pauline ke tembok, ia tak melepaskan ciumannya. Bibirnya terus menempel, lalu merambat ke bagian leher Pauline.


Wanita itu merasa ada sesuatu keinginan yang ingin ia lepaskan. Rieyu mengerti Pauline juga menginginkan dirinya. Rieyu tersenyum, lalu menggendong Pauline dengan lembut.


"Ri..Rieyu.. Kita.."


"Kamu masih memikirkan soal pernikahanku dengan dia?" tanya Rieyu. Pauline mengangguk. Pria itu tersenyum. "Kamu cemburu," goda Rieyu.


"Aku tidak. Sudah kubilang kalau aku tidak mencintaimu. Aku sudah membencimu," ujar Pauline. Bibirnya mengerucut.


"Apa ini kamarmu?" tanya Rieyu yang masih menggendong Pauline.


"Bu..Bukan. Itu kamar Jonathan."


"Kalau begitu biar aku melihat wajah tidurnya. Kamu bilang dia sudah tidur," Rieyu melihat wajah polos Jonathan yang terbaring di kasur. Rieyu tersenyum melihat Jonathan. Tiba-tiba Rieyu menurunkan Pauline. Wanita itu apa yang ingin pria itu lakukan.


"Apa yang ingin kamu lakukan?"


"Tentu saja memotretnya. Tunggu sebentar, ya." Rieyu bergegas ke mobil, membawa kamera. Kemudian, ia memotret Jonathan.


"Kamu kurang pintar memotret. Sini, berikan padaku kameranya!" Pauline mengambil kamera Rieyu. Setelah itu, ia memotret putranya dengan tenang.


"Kamu tidak pernah berubah. Daridulu selalu bagus dalam memotret apapun."


"Kamu saja yang payah. Lalu, untuk apa kamu memiliki kamera itu kalau kamu tidak bisa menggunakannya," omel Pauline.


"Aku kangen dengan omelanmu," ujar Rieyu. Pipi Pauline merah, ia tak bisa menyembunyikan fakta tentang perasaannya. Rieyu menggendong Pauline lagi, ia menutup pintu kamar Jonathan.


"A..Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Melanjutkan yang tadi," ucap Rieyu enteng.


"Ri..Rieyu... Kamu.."


"Aku kangen kamu. Kangen semua yang ada dalam dirimu," ucap Rieyu tanpa malu malu. "Ini pasti kamarmu, ya?" tanya Rieyu. Pauline mengangguk.


Pria itu membawa Pauline masuk kedalam kamar itu. Ia meletakkan Pauline di kasur dengan lembut. Jantung Pauline berdegub kencang, seakan itu malam pertamanya bersama sang suami. Mereka sudah lama tidak berhubungan badan. Mungkin saat ini, mereka saling menginginkan.


"Ri..Rieyu.."


"Kenapa? Kamu ingin kita berhenti?"


"Tidak. Aku hanya gugup."


"Aku tahu," Rieyu mengusap kepala Pauline.


Rieyu menyentuh wajah Pauline, menciumnya dengan lembut. Keduanya saling melepaskan hasrat mereka. Hingga mencapai sesuatu yang mereka cari.


Rieyu mencium kening Pauline, ia melihat wanita itu kelelahan. Rieyu meletakkan kepala Pauline dipundak lebarnya.

__ADS_1


"Mungkin, besok saja aku menjelaskan semuanya," batin Rieyu, seraya mengecup bibir Pauline.


Wanita itu sudah terlelap dalam tidurnya. Rasa lelah karena bekerja dengan rasa lelah ia dapatkan melayani suami. Rieyu bukan pria pemaksa yang harus memuaskannya dalam sekejab. Ia pria yang tulus mencintai istrinya. Ia tahu batasan dan selalu mengerti Pauline.


__ADS_2