Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 63 Masa Lalu (3)


__ADS_3

Rieyu tersadar disalah satu ruangan gelap. Ia tak mengerti kenapa bisa berada disana. Pria itu terluka cukup parah. Kedua tangannya terikat dengan tali. Kedua kakinya juga senasib sama.


Pria itu ingat kalau Pauline sedang menunggunya. Ia sekuat tenaga melepaskan ikatan tersebut, namun hasilnya nihil. Ikatan-ikatan itu terlalu kuat dirinya.


"Ah, sial!" seru nya.


Usaha Rieyu untuk mencari cara melepaskan diri tak sia-sia. Satu jam, kaki dan tangannya berhasil bebas. Nafasnya tersendat-sendat karena cukup lelah untuk melepaskan tali itu.


Saat ia merusak pintu yang mengurungnya, sekelompok pria menghadangnya. Rieyu bertarung melawan mereka, walau jumlahnya tak seimbang. Dengan kondisi luka ditubuhnya, tak memungkinkan dia bisa menang.


Ia tak menyerah. Nama Pauline terlintas dibenaknya. Itu membuatnya semakin bersemangat. Tak peduli sekujur tubuhnya sudah tidak mampu bertahan. Gerakannya semakin menggila. Namun, ia berhasil mengalahkan tiga dari enam orang.


Tiga orang lagi berusaha mengeroyoknya Ia tak boleh kalah. Apapun terjadi, ia harus mengalahkan mereka. Pandangannya kian buram, ia tak bisa melihat jelas mereka karena keringat yang bercucuran membasahi seluruh wajahnya.


Langkah Rieyu terseok-seok, gerakannya semakin lamban. Satu orang menyerang dari belakang. Pria itu mengapit leher Rieyu menggunakan lengannya. Sementara satu orang lagi menendang perutnya. Lalu satu orang lainnya mengikatnya kembali.


Kali ini, Rieyu tak bisa berkutik. Ia kesulitan untuk bergerak. Tiba-tiba, dari kejauhan seseorang datang. Orang itu menembak tiga orang dengan sangat cepat. Rieyu tersenyum karena ada yang menolongnya.


"Rieyu-san!" panggil orang itu dengan khawatir.


"Maaf, aku datang terlambat."


"Karena kamu sudah datang, tolong lindungi anak dan istriku! Istriku sedang menungguku. Anakku masih sangat kecil. Ia sangat polos, wajahnya begitu mirip denganku. Aku ingin kamu..."


"Kenapa aku harus melindungi mereka? Kamu yang harus melindungi keluargamu. Jadi, bertahanlah! Aku akan menyelamatkanmu," ujar nya, seraya menggendong Rieyu yang diletakkan dipunggungnya.


Sebelum tiba di rumah sakit, Rieyu pingsan dan tidak sadarkan diri. Kepedihan, perih, serta rasa lelah bertumpuk jadi satu. Sebelum pingsan, ia tersenyum.


"Pauline, tunggu aku," batin Rieyu.


°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°


Hari telah berganti hari, Pauline cemas karena Rieyu tak ada kabar sama sekali. Hati satu nya mengatakan kalau Rieyu pembohong. Namun, hati lainnya mempercayai Rieyu dan berharap pria itu menemuinya.


Jonathan menggenggam tangan Pauline, ia merasakan ketidaktenangan Pauline.


"Mama tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, sayang," ucap Pauline.


"Mama bohong. Bibir mama pucat," celetuk Jonathan, bibirnya mengerucut.


"Dia memang tidak bisa dibohongi. Dia persis seperti ayahnya," batin Pauline.


"Ini sudah malam. Jonathan tidur, ya?"


"Mama gak tidur?"


"Tidurlah, sayang. Nanti mama akan menyusul."

__ADS_1


"Mama akan tidur sama Jonathan, kan?"


"Iya, sayang," ucap Pauline sambil mengecup kening Jonathan.


"Baiklah. Mama jangan tidur malam malam ya?"


"Oke, sayang," ujar Pauline. Jonathan mengecup pipi Pauline sebelum ia meninggalkannya. "Andai saja, kamu disini. Keluarga kita pasti sudah lengkap," batin Pauline.


°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°


Hari telah berlalu dengan cepat. Pauline gelisah, pikirannya kalud. Waktu lelang tidak lama, Pauline tidak punya pilihan selain menjual tanah yang diberikan oleh Rieyu padanya tempo hari.


Hati Pauline berdetak kencang, saat hari yang ditunggu-tunggunya telah datang. Karena waktu lelang itu malam, Pauline bisa menidurkan Jonathan. Bocah itu mudah sekali terlelap. Tak butuh waktu lama, ia pergi ke tempat lelang tersebut. Disanalah, ia melihat banyak sekali orang-orang yang mengikuti lelang.


"Kamu datang?" tanya Eveline tak percaya melihat Pauline.


"Iya, kenapa? Aku datang dengan caraku sendiri," ucap Pauline dengan ketus.


"Jadi, kamu ya yang mencuri surat selebaran itu?" tuduh Eveline.


"Bukan salahku. Kalian saja yang menjatuhkannya."


"Lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu menang!" seru Eveline dengan suara lantang. Pauline mengelus dadanya, berusaha sabar.


Waktu yang ditunggu-tunggu telah datang. Pauline tidak sabar untuk menawarkan benda yang bisa mengubah hidupnya.


"Baik. Harga akan di mulai dengan harga 1 juta," ucap pemandu acara lelang itu.


"Enam juta!" seru wanita berkacamata.


"Se..Sepuluh juta!" ujar Pauline gugup.


"Dua belas juta!" ucap Pauline dengan lantang. Ia tak rela kalau kunci itu berada ditangan Pauline.


"Lima belas juta!" seru yang lainnya lagi yang tak mau kalah.


"Du..Dua puluh lima juta!" ucap Pauline.


"Hah? Dua puluh lima juta? Darimana ia mendapatkan uang sebanyak itu?" batin Eveline. "Sayang, ayo tawar yang lebih tinggi. Jangan mau kalah!" bisik Eveline.


"Bisa gak kamu diam? Aku tidak akan kalah," ucap Robert. Ia kesal dengan desakan Eveline.


"Sepertinya aku akan menang?" tanya Pauline pada dirinya sendiri.


"Tiga puluh juta!" seru Robert.


"Em..Empat puluh juta!" ujar Pauline yang sedang berusaha keras.


"Apa? Empat puluh juta? Eveline, kita mengalah saja."

__ADS_1


"Gitu aja kok nyerah?"


"Kita tidak punya uang sebanyak itu. Ini saja sudah uang terakhir yang kita miliki," bisik Robert.


"Ah, sial! Kita dikalahkan oleh wanita itu," ucap Eveline emosi.


"Baik. Harga akan ditutup dengan harga empat puluh juta," seru orang itu.


Pauline lega bisa menang. Akhirnya jerih lelahnya gak sia-sia. Wanita itu mengambil kunci yang ia inginkan.


"Dengan begini, Rieyu tak lagi bersusah payah dalan pekerjaan itu," batin Pauline.


"Sayang, kita gak bisa tinggal diam. Apa kamu mau kita hidup miskin terus?" ucap Eveline.


"Gak mau. Aku ingin kaya. Tetapi bagaimana caranya?"


"Curi kunci itu!" bisik Eveline.


"Apa? Kalau ketahuan bagaimana?"


"Aduh, dasar suami bodohku! Kabur dong setelah mencurinya. Kabur sejauh mungkin."


"Resikonya terlalu besar."


"Pikirkan soal hidup kita kedepannya, sayang. Aku gak mau hidup begini terus," bisik Eveline lagi.


Tak ada pilihan lagi, Robert mencuri kunci itu dari Pauline. Wanita itu teriak histeris karena bendanya telah dicuri, namun daerah yang sepi, tak banyak orang mendengarnya.


Pauline menjerit histeris. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ia mengejar namun, langkahnya terhenti. Kedua kakinya sakit karena dipaksakan untuk berlari. Belum lagi, jarak Robert dengannya sudah begitu jauh.


"Bagaimana ini? Aku sudah mempertaruhkan hidupku demi harta karun itu. Rieyu, apa yang kita lakukan? Dimana kamu Rieyu?" batin Pauline.


Hati Pauline kacau, ia tak bisa berpikir jernih. Bahkan tak ada kabar Rieyu sama sekali. Ia tak tahu pria itu udah hidup atau mati. Wanita itu gelisah.


Jonathan merasa kasihan melihat kegelisahan Pauline. Bocah itu memeluk untuk menenangkannya. Namun, Pauline tak luluh, kegelisahan batinnya lebih bergejolak ketimbang pelukan hangat Jonathan.


Setiap cara ia lakukan agar kunci itu kembali. Ia telah menghubungi polisi, namun hingga sekarang mereka tak memberikan hasil.


Tanpa ia sadari, kecemasan Pauline berangsur-angsur satu bulan. Wanita itu tak nafsu makan. Jonathan menyadari akan itu. Ia melakukan sedikit pekerjaan rumah, seperti goreng telur, bahkan menyapu lantai.


Pauline tak kunjung membaik. Bahkan ia sakit, Jonathan merawat mama nya dengan isakan tangis yang pecah. Bocah itu tidak sanggup melihat Pauline menderita.


Entah berapa banyak air mata yang ia teteskan, tetapi saat ini ia ingin menghentikan waktu. Waktu agar Pauline bisa kembali seperti sebelumnya. Andai saja dia memiliki kemampuan seperti di film.


Kenyataan tak seindah dunia fana yang sulit untuk diterima. Pada akhirnya, Jonathan kehilangan ibunya dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Bocah itu menangis histeris. Dan saat itu, ia tidak mempercayai adanya Tuhan.


Tanpa ia sadari, ia berada disisi ibunya selama tiga hari tanpa makanan yang masuk kedalam mulutnya. Bocah itu memikirkan Pauline sepanjang hari. Hingga ia tak sengaja bertemu tentang lembaran kertas yang membicarakan tentang lelang itu.


Jonathan mengepalkan tangan erat, ia tahu kematian ibunya ada hubungan dengan lelang itu. Semenjak lelang itu, Pauline terlihat aneh. Itu yang ia pikirkan.

__ADS_1


"Ma... Apa gara-gara ini mama begini? Mama bangun dong, jangan terbaring begini. Mama berjanji akan mengajak Jonathan jalan-jalan, kan? Ma, bangun," teriak Jonathan. Bibirnya kelu, tak ada harapan lagi untuk menyelamatkan Pauline hingga orang itu datang.


Disanalah ia datang dan menyebut dirinya Rieyu. Pria itu yang melatih Jonathan hingga menjadi sosok yang kuat dan kejam. Jonathan yang masih polos seketika berevolusi sebagai monster yang siap melahap musuhnya.


__ADS_2