
Rambut Anna tergerai sempurna. Senyumnya mengembang. Tatapannya tajam, namun memiliki tekad yang kuat. Semangatnya tak luntur dari dirinya. Jiwanya berkoar-koar, beriringan dengan aura nya yang tajam. Tekad yang dimilikinya, menggelitik Terra, ia tak menyangka hanya dalam dua hari, Anna menguasai lebih yang ia bayangkan. Ia kagum pada sosok Anna.
"Apa kamu yakin, ini pertama kalinya, kamu belajar beladiri?" Tanya Terra.
"Benar. Ini pertama kalinya untukku."
"Ini sangat menyenangkan." Anna terlihat senang.
"Aku tak pernah melihat seseorang menguasai beladiri secepat ini." Ucap Terra, ia tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Anna tersenyum.
"Aku penasaran akan sesuatu." Tanya Anna tiba-tiba.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Berapa lama kamu mengenal Zion?" Tanya Anna.
"Tidak lama. Mungkin berkisar lebih dari satu bulan."
"Ada apa?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin tanya itu saja."
"Benar juga. Aku tidak perlu mencemaskan mereka, kan?" Batin Anna.
"Latihan kita masih belum selesai." Ucap Terra, akan tetapi Anna tak menggubrisnya. Door.. Suara pistol, mengejutkan Anna. Terra menekan pelatuk kearah yang berbeda.
"Kaget? Ayo, latihan! Jangan melamun!" Ujar Terra.
"Karakternya sedikit kejam, bukan type Zion. Zion tak mungkin menyukainya." Batin Anna, ia menggelengkan kepala.
"Pegang ini!" Terra memberikan sebuah pistol.
"Kita latihan menggunakan senjata?" Tanya Anna.
"Iya."
"Kali ini, kamu harus fokus."
"Baiklah. Aku juga ingin memperdalam menembak."
"Bagus."
"Aku akan mengajarimu cara yang termudah."
__ADS_1
"Hentikan!" Seru Zion, tiba-tiba ia datang. Pria itu menatap tajam.
"Zion, kenapa kamu kemari?" Tanya Anna.
"Kamu tidak boleh mempelajari hal berbahaya itu."
"Kenapa? Aku hanya ingin melindungi diri dari orang-orang jahat." Ujar Anna.
"Tetapi, aku tak sanggup melihatmu memegang senjata, sayang."
"Apa salahnya? Aku bukan Anna yang dulu, Zion." Anna tak mempedulikan Zion. Namun, Zion memeluknya.
"Sayang, dengarkan aku! Pistol, pisau, atau sejenisnya merupakan hal berbahaya. Aku tidak ingin, kamu terluka, ketika berkecimpung didunia seperti itu."
"Dan.. aku adalah pria. Tugas seorang pria adalah melindungi gadis. Terlebih lagi, kamu adalah satu-satunya gadis yang aku cintai. Jadi, tolong jangan membuat aku khawatir, ya? Hmm?" Zion mempererat pelukannya. Ada rasa sakit didada Terra, melihat kemesraan mereka.
"Tetapi, Zion, Ini bukan pertama kalinya untukku. Aku pernah belajar menembak sebelumnya." Ucap Anna.
"Siapa orang itu? Katakan padaku!"
"Kamu mungkin tidak mengenalnya."
"Siapapun itu, aku tidak suka itu." Tatapan Zion berbeda dari biasa yang Anna kenal. Kali ini, pria itu kesal. Anna menyentuh dagu Zion, ia ingin mengecup bibirnya, karena ada Terra, ia mengurungkan niat tersebut. Ia memilih menyentil hidung Zion hingga memerah.
"Gimana? Tidak buruk, kan, sayang?" Ucap Anna. Ia menembak batu berukuran kecil tepat sasaran. Zion mengacak-acak rambutnya. Ia semakin kesal karena Anna keras kepala.
"Sudahlah, biarkan saja dia." Sahut Terra.
"Terra!"
"Aku bisa melihat kemampuannya. Aku rasa, dia sanggup bertahan dalam situasi yang sulit."
"Aaaaggghh!" Zion mengacak-acak rambutnya lagi.
"Tuan muda, Anda disini. Saya mencari Anda."
"Ada apa?" Zion sedikit membentak. Darion bersikap tenang.
"Tuan masih belum selesai latihan." Ujar Darion.
"Zion, bukannya kamu harus kembali?" Ucap Anna. Zion menatap Anna tak lama. Setelah itu, ia berpaling dari hadapannya.
"Darion, Ayo, kembali latihan!" Ujar Zion dengan nada keras.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Darion berjalan disebelah Zion, menyeimbangkan langkah kaki Zion.
************************************
Anna terbaring pada rerumputan hijau. Entah berapa lama ia terbaring, ia cukup lelah, sehingga tak mendengar suara tiupan angin yang menusuk telinga. Terra tidur disebelahnya, menikmati langit biru yang indah. Berselang beberapa menit, Zion datang, melihat Anna yang tertidur lelap. Seakan mengerti, Terra menjauhkan diri dari Anna. Hati nya tak bisa menerima mereka bersama, namun apa daya dia bukanlah siapa-siapa. Dia tahu akan posisinya. Apapun terjadi, ia tak boleh lemah.
Zion menatap Anna dalam diam. Ia masih kesal dengan sikap Anna, namum ia tak membenci gadis yang ia cintai. Tanpa berpikir lama, Zion meletakkan jaket untuk menutupi Anna agar tak kedinginan. Lalu, menatap Anna kembali sambil tersenyum. Ia memperhatikan setiap inchi wajah gadis tersebut, membuatnya tak bosan. Tak lama, Zion meletakkan lengannya dibawah kepala Anna, lalu membawanya kedalam dekapannya.
Aroma Anna terasa dihidung Zion, ia memejamkan mata, mengikuti suara detakan jantungnya yang kian meracau. Sesekali, pria itu mencium kening Anna dengan lembut. Ia menatap kembali wajah Anna, membiarkan hatinya bergemuruh. Entah sejak kapan ia jatuh hati pada Anna, namun sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu, ia tak bisa mengalihkan pandangan pada yang lainnya.
Ia tak pernah lelah berada disisi Anna. Cintanya yang tulus memberikan dirinya kekuatan untuk terus bersama Anna. Semakin lama, perasaan tersebut sulit ia kendalikan. Rasa cinta yang ia miliki tak pernah padam, tak peduli apapun yang terjadi. Tanpa terasa, waktu bergulir begitu cepat, Anna terbangun, dan sedikit kaget melihat Zion disampingnya.
"Zion!" Panggil Anna. Ada rasa sedikit bersalah dalam dirinya.
"Aku tidak menyangka kamu disini." Perasaan sedih menyelimuti Anna.
"Maaf." Anna menunduk.
"Kamu mungkin membenciku, tetapi aku melakukan semua ini, demi dirimu. Aku tidak mau dianggap lemah, dan juga tak mau menyusahkanmu. Aku ingin terus berada disisimu, bukan hanya sebagai pasanganmu, tetapi juga orang yang melindungimu."
"Zion, aku.."
"Dasar, gadis bodoh!" Zion mengetuk hidung Anna.
"Mana mungkin aku membencimu? Aku hanya kecewa dengan keputusanmu." Zion tersenyum, seraya mengecup kening Anna. Anna merasakan sentuhan hangat pada keningnya. Gadis itu memejamkan mata.
"Kamu beneran mau berciuman denganku disini?"Bisik Zion menggoda Anna sambil menunjuk bibir gadis tersebut. Ia mencubit lengan Zion karena malu.
"Aaaggghh, Sayang, sakit!"
"Sakit, ya? Sini aku obati dulu!"Anna mendekati Zion, kini ia berada diatas pria tersebut. Ia menarik dagu Zion perlahan. Detak jantung Zion tak stabil. Anna tersenyum.
"Aku hanya bercanda, sayang." Usil Anna. Ia menjauh, namun Zion menarik Anna cukup kuat, sehingga gadis itu tak bisa lolos darinya. Zion tersenyum, lalu merasakan sensasi hangat pada bibir Anna. Cukup lama, Zion melepaskan bibirnya.
"Mau lagi?" Goda Zion.
"Ogah." Wajah Anna memerah. Zion tersenyum melihat Anna yang salah tingkah.
"Mau kemana, sayang?" Tanya Zion, senyuman tak lepas dari bibirnya.
"Ke Bulan!" Anna mempercepat langkahnya. Zion tertawa akan perilaku Anna.
"Huh, dasar Zion! Tidak bisakah dia tak membuat jantungku copot?" Gumam Anna. Sementara itu, Zion tak berhenti memikirkan Anna, membiarkan kedua telapak tangannya dilipat, kemudian diletakkan dibawah kepala. Ia merasakan gerakan angin yang menyengat. Nama Anna tak pernah lepas dari hatinya. Nama itu selalu ada sampai ia mati dan tak pernah lelah untuk memikirkannya. Ia terlalu mencintai gadis terebut.
__ADS_1