
Anna terbaring lemah dalam sebuah ranjang berukuran standard. Ia tak sadarkan diri. Seorang pria tersenyum puas dengan apa yang ia lihat. Sementara itu, seorang dokter menatap Anna sedih. Sebagai seorang dokter, ia bisa melihat sekaligus merasakan pasien yang membutuhkan pertolongan. Hal itu bisa ia rasakan, saat melihat Anna.
"Dia sudah mati. Karena saya adalah dokter, saya akan membawanya ke Kamar Mayat." Ucap dokter bernama Ray.
"Baiklah. Aku rasa dia sudah tidak berguna lagi." Pria itu memberikan kode pada anak buahnya. Mereka membawa Anna beserta dr. Ray ke sebuah Jurang.
"Kalian sudah berjanji untuk melepaskan saya. Kenapa malah begini?" Ujar dr. Ray.
"Sudah, Diam saja! Jangan berisik!" Seru salah satu anak buah dari pria tersebut. Mereka menarik dr. Ray secara paksa.
"Aku tidak boleh mati. Aku harus hidup." Batinnya sambil melirik Anna. Ia tak tega melihat Anna tak berdaya.
"Aku... aku akan melakukannya sendiri. Aku akan melompat dari Jurang ini. Dan... Aku juga akan membawanya bersamaku. Bagaimana?" Ujar dr. Ray. Mereka tampak berpikir sejenak. Lalu, mereka melihat jurang yang berada dihadapan mereka sangat dalam.
"Baiklah." Ucap salah satu diantara mereka.
"Tanganku, biarkan terlepas juga! Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya tidak ingin merasakan kaki dan tanganku diikat, sebelum aku mati." Ucapnya meyakinkan. Mereka saling menoleh satu sama lain. Dan akhirnya, permintaan dr. Ray disetujui. Dokter Ray menggendong Anna. Ia menatap mereka secara bergantian. Mereka tak melepaskan pandangan terhadap dr. Ray dan Anna.
Ketika ia melompat sambil menggendong Anna, mereka tersenyum puas. Mereka beranggapan, kedua orang itu mati karena tak mungkin bisa lolos darisana. Mereka meninggalkan tempat tersebut. Nasib kedua orang itu, tergantung usaha dr. Ray untuk menyelamatkan dirinya dengan Anna. Ia bergelayut pada ranting pohon agar tak jatuh. Mereka tak boleh mati agar perjuangan dr. Ray tak sia-sia. Takdir berpihak pada mereka. Dokter Ray berhasil melewati masa-masa sulit.
Ia berusaha naik, lalu mendorong Anna terlebih dahulu. Setelah itu, ia menyelamatkan dirinya. Langkahnya tergesa-gesa. Ia segera memeriksa denyut nadi Anna. Beruntung, ia masih merasakannya. Dari awal, ia tak ada niatan untuk membunuh Anna karena posisinya sebagai seorang dokter. Ia tahu, nyawa keluarganya dalam taruhan, tetapi ia tak bisa membunuh orang yang tak bersalah demi menyelamatkan keluarganya. Karena itu, ia tak menyuntikkan cairan berbahaya terhadap Anna. Ia hanya membius Anna lewat suntikan.
Tak butuh waktu lama bagi dr. Ray berdiam diri untuk berpikir. Ia segera mencarikan Rumah Sakit terdekat. Saat itu, ia melihat Rumah Sakit besar yang namanya tak asing. Dokter itu tersenyum, lalu berlarian sambil membawa Anna.
"Cepat, bawa gadis ini! Keadaannya tidak bisa diremehkan." Seru dr. Ray. Para perawat serta seorang dokter menindaklanjuti untuk segera memeriksa Anna.
"Denyut nadinya lemah. Sepertinya, tidak bisa ditunda lagi." Ucap seorang dokter. Tak berlangsung lama, mereka langsung membawa Anna. Saat pemeriksaan, dokter menemukan ada keanehan dalam tubuh Anna.
"Cepat hubungi dokter bagian jantung, sekarang juga!" Seru seorang dokter bernama Jessica. Dua orang perawat melakukan apa yang diperintahkan oleh dr. Jessica. Tetapi, sayangnya dua dokter jantung izin cuti dan saat dihubungi, mereka tak bisa. Mereka semakin panik. Kepanikan mereka, mengundang perhatian dr. Ray.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kalian tampak gelisah." Tanya dr. Ray.
"Apa Anda seorang dokter?" Tanya perawat. Ia melihat dr. Ray yang menggunakan seragam dokter.
"Benar, saya adalah dokter. Ada apa?" Tanya dr. Ray. Salah satu perawat menjelaskan tentang kondisi Anna. Dokter Ray mengerti apa yang harus ia lakukan.
"Berikan saya wewenang! Saya adalah dokter bagian jantung." Seru dr. Ray. Dua orang perawat saling menoleh. Sesaat, dr. Jessica tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
"Kalian kenapa diam saja? Pasien dalam keadaan darurat. Pasien ini harus segera ditangani." Ujar dr. Jessica.
"Tetapi, dok..."
"Saya yang akan bertanggung jawab dalam hal ini." Tegasnya. Mereka mengangguk. Ia bergegas ke dalam Ruangan yang telah disediakan untuk Anna. Saat dr. Ray memeriksa keadaan Anna, ia tak sengaja melihat Anna membuka mata. Tatapan itu tampak lemah.
"Nona, kau harus kuat, ya. Apapun yang terjadi, obat yang bisa menguatkanmu hanyalah keinginanmu yang kuat untuk sembuh." Ujar dr. Ray. Anna mengedipkan mata, menandakan mengerti. Ia seakan lupa dengan wajah dr. Ray yang memberikan suntikan padanya. Ia memikirkan hal-hal yang baik agar membuat dirinya tak terpuruk.
"Bagus." Puji dr. Ray.
"Baiklah." Ujar dr. Jessica. Para perawat serta kedua dokter memindahkan Anna kedalam Ruangan yang lebih besar. Disanalah, dr. Ray yang dibantu oleh dr. Jessica serta para perawat melakukan pengobatan terhadap Anna. Waktu berlangsung cukup lama. Berkali-kali, cucuran keringat membasahi wajah tampannya. Tetapi hal itu tak mengurangi semangatnya untuk membuat Anna pulih kembali.
Dentangan waktu telah berlalu, tak terasa langit terlihat cerah. Sejuta senyuman menyambut pagi yang baik. Wajah yang gemilang, mengisi kehampaan hati sejenak. Anna terbangun dari mimpi yang begitu panjang. Ia berkeliling untuk menikmati sinar mentari yang menghangatkan kulitnya. Anna memejamkan mata sambil tersenyum. Tak berlangsung lama, ia melompat-lompat sambil tertawa keras.
"Aaaaagh!" Teriak Anna senang. Ia seakan memperoleh hidup yang baru. Ia tak peduli dengan pandangan orang-orang disekitarnya. Ia bertingkah seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Tingkahnya terus ia lakukan. Tak terasa, seorang dokter menatapnya sambil tersenyum.
"Kamu tampak senang." Ucap dr. Ray.
"Ka...Kamu.." Anna tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kesadarannya telah pulih, ia mengingat kembali wajah dr. Ray yang menyuntiknya sewaktu ia dibawa ke tempat yang tak ia kenal.
"Kamu yang..."
__ADS_1
"Benar. Aku yang menyelamatkanmu. Apa kamu berpikir seorang dokter akan membunuhmu?"
"Aku kira, aku sudah mati dan tak bisa melihat apa-apa lagi. Aku hanya kaget, ketika merasakan tubuhku lebih sehat, saat aku terbangun."
"Terima kasih telah menolongku." Ucap Anna dengan tulus. Dokter Ray menjawabnya dengan senyuman.
"Aku tak sabar untuk menemuinya." Senyuman merekah dari bibir manisnya. Ia menutup mata, merasakan perasaan yang mendalam ketika memikirkan Zion.
"Kamu terlihat bahagia."
"Beberapa hari lagi, kamu boleh pulang. Kamu pasti senang."
"Banyak hal yang ingin kulakukan, ketika aku sembuh dari penyakit ini."
"Kalau begitu, berhati-hatilah."
"Jangan sampai terluka lagi!" Ujar dr. Ray.
"Lalu bagaimana dengan keluargamu?" Anna ingat, seorang pria mengancam dr. Ray untuk membunuh anak dan istrinya kalau tak menyingkirkan Anna.
"Aku akan mengurusnya sendiri. Jaga dirimu baik-baik." Dokter Ray meninggalkan Anna sambil tersenyum. Dokter Ray bersikap tegar. Ada perasaan bersalah yang menyelimuti Anna. Ia berharap, tak ada sesuatu yang buruk terjadi pada dr. Ray. Ia berpikir, dr. Ray adalah dokter yang baik. Jika dirinya menjadi dr. Ray, ia pasti memilih untuk menyelamatkan orang yang dia cintai daripada menyelamatkan orang yang tidak ia kenal.
Sementara itu, Jonathan mendengar Anna yang menghilang, membuatnya tak bisa tenang. Ia menyalakan mobil, lalu pergi untuk mencari Anna. Tanpa ia sadari, sepasang mata telah menperhatikannya. Ia tersenyum, lalu menghubungi seseorang.
"Halo! Ada apa?" Ucap seorang pria di balik sana.
"Jonathan telah pergi, Tuan. Sepertinya, dia tahu kalau Anna telah menghilang."
"Bagus, terus pantau perkembangan di Rumah itu. Jangan sampai ada yang mencurigaimu, kalau selama ini kamu bekerja untukku!" Ujar pria tersebut.
__ADS_1
"Tuan tidak perlu khawatir. Mereka tidak akan mencurigaiku sebagai mata-mata disini." Ucapnya sambil tersenyum.