
Mobil sedan berwarna hitam terparkir manis di tempat parkir yang telah tersedia di sebuah Mall. Seorang pria membukakan pintu mobil, disanalah pria berkacamata hitam mengenakan setelan hitam turun dari mobil.
Beberapa orang turun dari mobil, membungkukkan kepala, menunjukkan sopan santun mereka padanya. Mereka adalah bodyguard yang selalu menemani pria itu.
Kehadiran mereka membawa dampak luar biasa pada pengunjung mall tersebut. Mereka berbisik-bisik seraya membungkukkan kepala mereka tanpa mereka sadari.
Mereka seolah tahu siapa pria itu padahal mereka tak mengenalnya. Dari segi penampilan saja sudah terbaca kalau pria itu bukanlah pria biasa, apalagi ada sekitar enam orang bodyguard yang mengelilinginya.
"Ternyata mall di negara ini seperti ini," ucap pria itu dengan angkuh.
"Apa anda tidak puas, tuan besar?"
"Tidak juga. Beli Mall ini. Dan buatlah kesepakatan pada mereka. Jika mereka menolak, hancurkan tempat ini!" seru pria itu dengan kejam.
"Baik, tuan besar," ucap salah satu tangan kanan nya. Ia membawa dua orang untuk membicarakan pengambilan alih Mall itu.
Kehadirannya membuat seorang pria tersenyum. Ia berjalan dengan ditemani tiga orang pria di sisinya. Mata mereka saling bertemu, saling tersenyum, dan segala trik sudah terpasang diotak mereka.
"Nakashima Rieyu?" sapa seorang pria paruh baya.
"Lama tidak berjumpa ya, Wilson!"
"Benar. Mungkin sekitar tiga tahun?" ujar Wilson sambil mengerutkan kening. Ia sangat fasih berbicara bahasa jepang.
"Hahaha. Kamu tidak pernah berubah Wilson. Sama seperti dulu."
"Hahaha. Kamu juga. Mau minum teh bersama?"
"Boleh. Ayo!" Rieyu memberikan kode pada bodyguard-bodyguard nya untuk tetap tenang.
"Apa yang membuatmu kemari, Rieyu?" tanya Wilson menghilangkan bahasa formal nya. Kedua nya duduk di salah satu tempat yang bagus untuk bercengkerama.
"Kamu memang tak pandai berbasa-basi," ucap Rieyu, seraya menarik sudut bibirnya.
"Aku hanya penasaran, apa yang dilakukan oleh pria hebat sepertimu di negara ini? Tidak mungkin jika tidak memiliki alasan tertentu," celetuk Wilson, menyipitkan kedua matanya.
"Aku ingin membeli Mall ini. Aku menyukai saat melihatnya."
"Itu seperti sifatmu yang selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu."
"Hahaha. Kamu sangat mengenal sifatku."
"Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal pria hebat sepertimu?" senyuman merekah dibibir Wilson.
"Aku dengar kalau cucumu sudah ditemukan. Bagaimana dia sekarang?" tanya Rieyu.
__ADS_1
"Kamu seperti seorang ayah yang mengenalkan putrimu pada cucuku."
"Hahaha. Sayangnya, aku tidak memiliki anak perempuan. Andai saja aku punya, mungkin kita bisa menjadi besan."
"Hahaha. Kamu benar. Bagaimana dengan bisnismu di negara ini? Ingin melebarkan sayapmu?"
"Aku berencana membuka cabang di negara ini. Sudah saat nya kan, aku menunjukkan diri di depan banyak orang?"
"Jadi, kamu akan berfokus pada bisnis di negara ini?"
"Kenapa? Apa kehadiranku membuatmu gelisah, Wilson? Kalau aku akan menjadi saingan terbesarmu?" ujar Rieyu, seraya bibirnya tersenyum dengan licik. Wilson menahan agar tak tersinggung dengan kata-katanya. Ia bersikap tenang. Mungkin, dia sudah terbiasa menghadapi orang seperti Rieyu.
"Mana mungkin? Sudah saat nya negara ini memiliki orang hebat sepertimu. Dan sudah saatnya pria sepertiku pensiun dari pekerjaanku. Aku sudah terlalu tua untuk berurusan yang tidak sesuai dengan umurku," ucap Wilson sambil menyindir halus. Rieyu tersenyum berusaha tenang, walau para bodyguard nya ingin bergerak.
"Benar. Sudah saatnya kau pensiun. Aku bisa mengurus semua yang sudah kamu miliki selama ini. Anggap saja, ini hadiahku sebagai rekan lamamu. Bukankah cucumu juga membutuhkan pengalaman panjang untuk meneruskan usahamu?"
"Lidahmu begitu tajam, Rieyu. Kamu pikir cucuku bodoh yang tak mengerti apa-apa tentang bisnisku? Hahaha. Kau ini ada ada saja."
"Hahaha. Benar juga. Aku lupa kalau cucumu itu sangat hebat."
"Kapan kapan aku bisa mengenalkanmu pada cucuku, Rieyu. Dia itu pria yang baik hati."
"Aku akan tunggu waktu yang pas. Aku jadi tidak sabar menunggu hari itu," ucap Rieyu sembari menyipitkan kedua mata nya.
"Wilson, aku akan membuat neraka yang bagus untukmu. Sehingga kamu tak bisa keluar dari jebakan yang kubuat sendiri. Aku pastikan itu dengan mataku sendiri," batin Rieyu.
"Tetapi aku harus hati-hati dengannya. Dia bukan pria yang mudah untuk dikecoh. Dia lebih berbahaya daripada Jonathan. Meski umurnya jauh dibawahku, aku tidak boleh meremehkannya," batin Wilson.
"Selama rencanaku berjalan lancar, tak sulit bagiku untuk menghancurkan Wilson. Hanya saja, dia sedikit mengganggu kalau menggunakan semua kemampuan yang ia miliki," batin Rieyu.
Mereka saling menatap, memiliki pemikiran masing-masing. Akankah mereka menjadi kawan? Atau justru menjadi lawan yang seimbang?
°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°
Jonathan berdiri kaku melihat seseorang dihadapannya. Ia tak mengira kalau pria itu menemui nya. Pria itu tersenyum miring.
"Kenapa melihatku begitu? Kamu tidak suka bertemu dengan ayahmu?" tanya pria itu.
"Apa yang membuat ayah kemari? Sudah kubilang, semua sudah kususun dengan sangat rapi, ayah tidak perlu khawatir!"
"Aku berubah pikiran," ujarnya sambil duduk dikursi.
"Ayah!" Jonathan terlihat kesal karena rencananya akan diganggu.
"Kenapa? Aku juga punya hak untuk membantumu kan? Menurutmu, ayah tidak tahu kalau kamu memiliki kesulitan di negara ini?"
__ADS_1
"Hanya satu langkah saja, aku bisa mendapatkan Ax group. Dan tidak ada yang bisa mengalahkanku. Jadi, ayah hanya tinggal duduk diam saja."
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan? Satu tahun? Satu bulan? Atau bahkan bertahun-tahun?"
"Tidak lama lagi. Ayah hanya perlu menonton kejatuhan Ax group."
"Aku paling tidak suka menunggu. Itu hal yang membosankan. Aku juga bisa membereskan segalanya dalam sekejab."
"Tidak, ayah! Sudah kubilang, aku akan menggunakan caraku sendiri."
"Baiklah. Setelah semua ini selesai, ikutlah ayah ke Jepang."
"Buat apa?"
"Apa kamu lupa siapa ayah?"
"Baiklah. Tetapi aku punya satu syarat."
"Katakanlah, apa itu?"
"Aku ingin membawa Anna bersamaku."
"Kamu gila?"
"Ayah, aku..."
"Dia adalah anak dari musuhmu, orang yang membuat ibumu terbunuh. Kamu lupa ya?"
"Ayah..."
"Apa aku bersusah payah untuk melatihmu agar bisa cinta cintaan dengan perempuan itu? Apa kamu sudah lupa apa yang mereka perbuat pada ibumu? Jonathaaan, sadarkanlah dirimu!" seru nya. Marahnya terlihat memuncak.
"Aku tidak akan lupa ayah! Bahkan setiap hari, kebencianku tak berkurang sedikitpun. Aku tidak akan lupa! Aku hanya..."
"Jangan bodoh! Apapun alasannya, ayah tak pernah sudi kamu membawa gadis itu. Pilihannya hanya satu, kamu harus bunuh dia."
"Ayaaaaah!"
"Kenapa? Kalau kamu tak bisa membunuhnya, aku akan menyuruh Zeus untuk melakukannya. Tidak sulit bagi dia."
"Biarkan aku membunuhnya. Tolong jangan suruh Zeus untuk melakukan hal itu."
"Inilah baru anakku. Aku tidak bisa melupakan kematian ibumu. Dia wanita yang sangat aku cintai. Aku tidak rela ia mati sia-sia," ujar nya.
"Aaagh, sial! Kenapa Ayah malah membawa Zeus? Aku harus melakukan sesuatu," batin Jonathan.
__ADS_1