Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 54 Taktik


__ADS_3

Awan tak terlihat dalam balutan kegelapan. Kesunyian menguasai segalanya dalam waktu lama. Jalanan terlihat sepi, hanya beberapa lampu kendaraan yang tampak kemilau. Tepat pukul 23:59, banyak orang terlelap dalam mimpi, membawa mereka ke alam yang tak bisa mereka kendalikan.


Namun, tak terjadi pada salah seorang lelaki tampan yang tidur tanpa selimut walau Ac menyala. Pria itu tak terbenam dalam dunia mimpinya. Ia menghabiskan waktu tidurnya dengan tenang. Kesunyian disekelilingnya membuat Marinka masuk ke kamar Zion. Wanita itu mengamati gerak-gerik Zion. Cukup lama, namun ia tersenyum karena merasa tak ada gangguan.


Marinka mengambil pistol yang ia sembunyikan dari balik baju. Tatapannya tajam. Kali ini Jonathan bangga, itu apa yang ia pikirkan. Seringainya semakin terlihat, ketika jarinya bersiap-siap menekan pelatuk itu.


"Tidak semudah itu, kamu ingin melukainya, Marinka," bisik Darion. Marinka tak menyangka Darion berada dibelakangnya tanpa ia sadari. "Letakkan senjatamu atau kepalamu akan terpisah dari anggota badanmu!" ucap Darion dengan mempelankan suara.


"Pantas saja aku sempat curiga, kenapa jam segini aku tak melihat para asisten rumah tangga yang berjaga," celetuk Marinka sambil menarik sudut bibirnya.


"Kamu pikir, kita lengah walau tengah malam begini? Ini adalah waktu yang pas bersembunyi untuk memata-matai seseorang sepertimu," ujar Darion. Pria itu tak meregangkan pistolnya sedikit saja.


"Aku akui kamu lebih pintar dari apa yang kubayangkan. Namun, tetap saja aku selalu didepan dalam segala hal," ucap Marinka, melirik dengan tatapan licik.


"Apa maksudmu?" tanya Darion dengan kening berkerut.


"Menurutmu? Aku sudah menyiapkan rencana kalau aku gagal. Meski kamu membunuhku, itu percuma saja."


"Kamu memang licik, Marinka. Tetapi, jangan pernah menyombongkan dirimu hanya karena kamu bekerja dengan Jonathan. Bagiku, saat ini kamu sudah game over."


"Oh, ya? Kamu pikir kalau aku gagal membunuhnya, siapa yang akan dirugikan selanjutnya?" senyum Marinka licik, walau hanya sesaat.


"Jangan jangan..." Darion ingat satu nama. Dan ia tak tahu siapa yang harus ia pilih.


"Darion, aku bocorkan ke kamu, kalau aku sudah pasang kejutan disisi Tuan besarmu," ujar Marinka. Darion menegang. "Kamu harus memilih, siapa yang ingin kamu selamatkan. Orang ini atau dia? Sekarang, pilihan ada ditanganmu!"


"Kamu..." Darion hampir menekan pelatuk, akan tetapi niatnya terhenti. Ia tak ingin kehilangan Tuan yang telah lama ia abdi. Namun, ia tak ingin membiarkan Zion mati, walau ia hanya melayaninya seumur jagung. Segala pikiran berkecamuk.

__ADS_1


"Wah.. Wah.. Ternyata aktingku berhasil juga, ya," Zion terbangun dengan senyuman lebar.


"Kau..," Marinka tak menyangka Zion daritadi pura-pura tidur. Jangankan Marinka, Darion saja tak tahu apa yang direncanakan Zion.


"Kenapa? Kaget ya?" Kini, giliran Zion yang mengarahkan pistol yang ia sembunyikan. Dor.. Dor.. Dor.. Tiga suara tembakan mengenai pelipis Marinka. Wanita itu tersenyum sinis.


"Kamu.. Rencanamu.. akan gagal.." desis Marinka. Darion membiarkan Marinka tergeletak dilantai dengan bersimbah darah.


"Tuan muda, bagaimana dengan..."


"Jangan cemas! Semuanya telah diatur dari awal. Bom yang terpasang dikamar Kakek sudah dijinakkan."


"Saya lega mendengarnya," Darion menghela nafas.


"Apa kamu pikir aku sebodoh itu?"


"Sudahlah. Urus saja dia! Sekarang aku ingin tertawa bersama Kakek di kamarnya," Zion melompat dari tempat tidur seperti remaja melompat tembok dari ketinggian beberapa meter. Darion masih mencerna apa yang Zion katakan.


°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°


Kerutan tampak jelas disekitar wajah Robert. Pria itu begadang sambil memeriksa setiap dokumen yang dikerjakan Jonathan. Sejak Anna menceritakan kecurigaan Jonathan padanya, ia tak bisa menutup mata dan mengabaikan hal itu. Pria itu mengenal Anna dengan baik. Meskipun seringkali memperlakukan anak satu-satunya dengan buruk.


Anna adalah sosok yang tegas dibalik kelemahan fisiknya. Robert akui itu. Bahkan beberapa kali ia kalah beradu strategi dengan putrinya. Tak hanya itu, pria baya itu mengingat ketegasan serta tatapan dari Anna sewaktu gadis itu menyuruhnya tak mempercayai Jonathan. Robert memang menaruh kepercayaan pada pria yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri, tetapi entah kenapa ada sesuatu dalam hatinya yang janggal.


Ia berkali-kali menepis akan perasaan itu, namun kata-kata Anna tak lepas dari benaknya. Hingga kini Robert mencari tahu apa yang terjadi. Anehnya, ia tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kepalanya berdenyut ringan. Ia memejamkan kedua mata untuk berpikir sejenak. Satu menit, ia ingat satu orang yang tiba-tiba terlintas dalan benaknya. Nama itu hampir terlupakan olehnya. Walau samar, ia tak ingin membiarkannya.


Tiga tahun yang lalu, Robert mengerjakan proyek besar, sayangnya seseorang membocorkan rencana itu pada pihak lawan. Saat itu, Robert tak tahu harus berbuat apa. Untuk mengubah semua itu tak mudah. Dalam waktu bersamaan, Jonathan datang pada waktu yang tepat. Ia memimpin presentasi tanpa lembaran kertas. Dengan wawasan yang dimiliki Jonathan saat itu, membuat semua orang kagum. Karena itu, mereka menang dan Robert bangga dengan Jonathan.

__ADS_1


Yang jadi pertanyaannya, pihak lawan yang me-copy ide mereka tiba-tiba meninggal secara misterius. Api yang membakar mereka, menyisakan satu orang yang berhasil selamat. Saat di wawancarai oleh media, ia bungkam dan berteriak histeris. Wanita itu mengasingkan diri dan memilih pergi ke Rumah Sakit Jiwa. Mengingat itu, Robert yakin kalau semua itu bukan kebetulan. Tak peduli selarut apa saat ini, Robert memilih meninggalkan kediamannya.


Dalam setengah jam, Robert sampai pada Rumah Sakit Jiwa yang ia pikirkan. Namun ia terhalangi oleh petugas disana. Karena bukan jam untuk berkunjung, Robert diminta untuk kembali lagi pada pagi hari. Ia tak kehabisan ide. Pria itu memberikan sejumlah uang, petugas tersebut tergiur. Petugas itu diam-diam membiarkan Robert masuk dalam pengawasannya. Tak lama, mereka sampai pada salah satu ruangan khusus. Kamar itu dibuka dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara.


Robert tak sabar, langkahnya dipercepat. Disana, ia melihat seorang wanita yang berdiri, seraya melamun dengan tatapan kosong. Robert menghela nafas. Petugas memberikan isyarat pada pria itu agar tak terlalu lama. Petugas tersebut menunggunya diluar kamar. Sementara itu, Robert memegang pundak wanita tersebut. Wanita itu menoleh. Seketika, tatapannya berubah.


"Apa kamu masih ingat aku, Sherly?" tanya Robert pada wanita yang merupakan CEO dari V group terdahulu.


"Kamu..."


"Sherly, ini aku Robert. Kamu masih ingat?"


"Tidak mungkin! Pergi sana! Pergi!" Sherly teriak histeris. Beruntung, ruangan tersebut kedap suara, teriakan Sherly tak akan kedengaran diluar.


"Hei, Sherly tenangkan dirimu! Setidaknya, beritahu apa yang terjadi waktu itu," Robert tak menyerah. Ia menenangkan wanita yang seusianya itu.


"Pergi kamu!" Sherly menutup telinga. "A.. Api, do..dokumen itu... Di.. dia yang.." gumam Sherly, sembari menunjuk keatas.


"Apa kamu bilang? Katakan padaku dengan jelas!" seru Robert, seraya memegang kedua pundak Sherly agak sedikit menekan dengan kuku.


"Anakmu. Jangan percaya dia!" ucap Sherly dengan lancar.


"Maksudmu Jonathan?" tanya Robert. Sherly tak menjawab. Ia berteriak histeris lagi.


"Pe..perrgi! Pergi sa..sana! Ja..ngan dekati aku!" perilaku Sherly tak normal. Ia melempar bantal ke wajah Robert. "Da..Dasar pembunuh! Pe..Pergi sana! Iblis! Pergi!" seru Sherly.


"Satu pertanyaan terakhir, apa dia juga yang memberikan salinan dokumen dari perusahaanku?" tanya Robert. Sherly tak menjawab. Wanita itu tersenyum gila. Tatapannya tak wajar. Pada waktu yang sama, petugas yang berada diluar tadi, masuk tanpa suara.

__ADS_1


"Tuan, waktu Anda habis. Anda segera keluar dari tempat ini." ujarnya. Robert menghela nafas. Ia sedikit kecewa, tetapi ia menemukan satu titik. Ia berpikir, Jonathan berhubungan dengan keluarga dan perusahaannya.


__ADS_2