Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 56 Pura-pura


__ADS_3

Suara kicau burung terdengar semu, meski sinar matahari sudah berteriak untuk terbit. Sosok wanita cantik nan kejam duduk dengan cahaya ruangan yang redup.


Wanita itu tersenyum pilu. Ia tak menyangka taktiknya yang luar biasa dikalahkan oleh musuhnya yang ia anggap remeh.


"Marinka, kamu bodoh!" serunya pada diri sendiri.


Lagi lagi ia tersenyum, mengejek dirinya yang tidak memiliki rencana cadangan. Tak hanya itu, berkali-kali ia merintih kesakitan. Bibir Marinka robek, wajahnya kusam seolah bukan dirinya.


Sosok pria yang tak asing bagi Marinka datang, ia menatap datar. Marinka membuang muka, ia tahu pria itu sedang menghina dirinya.


"Marinka, kamu masih melihatku dengan angkuh, padahal nasibmu sudah begini."


"Setidaknya aku masih bisa bernafas," ucap Marinka dengan nada yang pelan.


Marinka bisa berbicara karena Darion tak menutup mulut wanita itu seperti di film film. Pria itu membiarkan Marinka berbicara semaunya. Mau teriak pun percuma karena pria itu telah memberikan beberapa robekan pada mulut Marinka, sehingga sulit untuk berteriak.


Langkah Darion semakin cepat. Pria itu mendekati Marinka hingga jarak wajah mereka hanya berselisih 5 cm. Bukan gugup atau gimana, Marinka justru semakin membenci Darion.


Mengejutkan! Darion membuka ikatan Marinka. Wanita itu heran dan tak mengerti apa yang ada didalam pikiran pria itu.


"Pergilah!" bisik Darion.


"Apa kamu Darion yang kukenal?" tanya Marinka. "Atau kamu sudah..."


"Jangan salah paham dulu! Saat kamu diluar, aku akan membuatmu lebih menderita dibandingkan disini."


"Darion! Kau.... Aaagh..," Marinka merintih kesakitan pada bibirnya yang masih terluka.


"Apa yang ingin kamu katakan? Aku tidak mendengarnya," ujar Darion dengan tatapan datar. Marinka muak dengan pria itu yang mempermainkan dirinya.


"A..Aku a..kan membuatmu... me..menderita suatu saat nanti," ucap Marinka terbata-bata. Ia menatap tajam.


"Aku tunggu itu!" seru Darion. "Tetapi sebelum itu, aku tak ingin bosmu melihat wajahmu yang seperti ini. Sepertinya, aku harus melakukan sesuatu."


"A...Apa yang ingin kamu lakukan padaku?" Marinka berusaha berontak, namun apa daya tenaganya hanya 10% dan ia tak bisa berbuat apa-apa.


Darion tersenyum melihat perubahan pada wajah Marinka setelah setengah jam ia melakukan perbaikan pada wajah Marinka. Darion mengambil hp miliknya lalu menyalakan camera.


"Lihatlah dirimu!" seru Darion.


"Ini...," Marinka tak menyangka mendapati wajahnya yang seperti sebelumnya. Bahkan tak ada bekas luka yang melekat diwajah cantiknya.


"Kaget kan?" celetuk Darion. Marinka tetap tak peduli pada pria itu. "Sekarang kamu bebas darisini Marinka!" ujar nya lagi.

__ADS_1


"Kenapa kamu tiba-tiba membebaskanku?" tanya Marinka. Ia berusaha tetap tenang walau rasa ngilu robekan bibirnya tetap ada. "Apa bosmu tahu soal ini?" Marinka tersenyum miring.


"Apa kamu tidak lihat CCTV disebelah sana?" ujar Darion. Marinka melihat CCTV yang berada di ujung dinding yang tak ia ketahui sebelumnya.


"Dia tahu? Jadi, ini rencananya untuk melepaskanku?"


"Bukan. Ini rencanaku."


"Apa? Kenapa kau..."


"Tuan muda hanya bilang kalau aku boleh melakukan apa yang ingin aku lakukan terhadapmu. Jadi, aku memilih untuk melepaskanmu."


"Ke..Kenapa? Aku masih tidak mengerti."


"Jangan terlalu banyak berpikir! Ingat, aku selalu mengawasimu!" bisik Darion, seraya melihat Marinka dengan tatapan tajam. "Oh, ya apa perlu kamu kuantar juga ketempat bosmu?" tanya Darion.


"Tidak perlu! A..aku masih punya kaki untuk berjalan."


Darion membiarkan Marinka pergi begitu saja. Pria itu memiliki rencananya sendiri. Tak berangsur lama, Zion datang menghampiri Darion.


"Tuan muda!" sapa Darion, ketika menyadari kedatangan Zion.


"Jadi ini keputusanmu untuk melepaskan Marinka," celetuk Zion.


"Apa alasanmu?"


"Itu karena kalau Marinka mati, dia tidak berguna bagi rencana kita. Tetapi, kalau dia hidup, wanita itu bisa menjadi senjata untuk kita agar bisa menjatuhkan Jonathan. Kita bisa mengendalikan Marinka."


"Terkadang pikiran kita sama," Zion tersenyum miring memikirkan skema apa yang akan dimainkan Jonathan selanjutnya. "Terus pantau Marinka!" seru Zion.


"Baik, Tuan muda. Saya selalu mengawasinya. Wanita itu tidak akan berbuat macam-macam karena saat ini hidupnya berada digenggaman kita." Keduanya saling tersenyum.


"Jonathan.. Aku tidak sabar menunggu kejatuhanmu," batin Zion.


°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°


Aroma parfum khas milik Jonathan tercium oleh beberapa orang di J Group. Perlahan, mereka mengetahui sedikit demi sedikit pria itu. Tak sedikit yang memberi hormat pada CEO baru itu.


Jonathan bangga dengan dirinya karena bisa merebut apa yang menjadi milik Jay sepenuhnya. Ia juga tak sabar menghadiri pemakaman Jay. Ia ingin tertawa sekaligus merendahkan Jay pada pemakaman pria tersebut.


Saat ini, Jonathan merasa sombong. Tinggal sedikit saja, ia bisa mendapatkan Anna dan semua aset perusahaan milik Robert.


Sebenarnya, Anna hanyalah pemanis untuk melengkapi rencananya. Rencana Jonathan sesungguhnya ialah mendapatkan perusahaan Robert. Ketika ia mendapatkan Anna, ia akan melenyapkan kedua orang tua gadis itu.

__ADS_1


Ia bahkan tak peduli mereka yang membesarkan dirinya sewaktu masih kecil. Menunggu waktu itu membuat Jonathan semakin tak sabar.


Suara ketukan pintu terdengar, menghilangkan lamunan Jonathan sejenak. Pria itu melihat Marinka yang menghampiri dirinya.


"Bos, maafkan saya baru bisa memberi kabar. Hp saya rusak, jadi, saya tidak bisa menghubungi Bos," kilah Marinka.


"Tak masalah. Lalu bagaimana dengan rencanamu membunuh Zion?" tanya Jonathan. Marinka tak merespon. Ia diam sejenak.


"Ada apa? Kamu gagal?" kening Jonathan berkerut. Pria itu menyiapkan hadiah jika wanita itu gagal dalam tugasnya. Ia memegang pistol yang berada didalam sakunya.


"Sa..Saya sudah berhasil membunuh Zion," ucap Marinka berbohong. Ia tak punya pilihan lain selain mengatakan kebohongannya.


"Benarkah? Kau tak berbohong padaku?" salah satu alis Jonathan terangkat, ia bimbang dengan jawaban Marinka. Wanita itu bersujud sambil menundukkan kepala.


"Saya selalu setia pada Anda, boss. Saya tidak berbohong."


"Kamu tahu kan bagaimana nasib Merlyn? Kalau kamu berbohong padaku, aku bisa membuatmu lebih menderita dibandingkan Merlyn," bisik Jonathan. Ia memposisikan dirinya sejajar dengan Marinka.


"Saya tidak pernah berbohong karena saya selalu setia pada anda. Percayalah pada saya," Ucap Marinka.


"Tetapi nada bicaramu berubah. Kemana gaya bicaramu yang seperti biasanya?" tanya Jonathan.


"I..Itu..," Marinka tak melanjutkan kata-katanya. Rasa ngilu terus ia rasakan dibalik bibirnya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membuat Jonathan percaya padanya.


Jonathan menatap sesaat, setelah itu ia menghubungi seseorang. Marinka takut kalau kebobongannya terbongkar. Tubuhnya bergetar. Biarlah takdir yang menentukannya.


Jonathan menutup panggilannya. Ia melihat datar, lalu tersenyum. Marinka semakin takut.


"Aku sempat meragukanmu, padahal kamu selalu setia padaku," ujar Jonathan.


"Apa yang terjadi? Mungkinkah Zion membantuku dan berpura-pura mati?" batin Marinka. Wanita itu tersenyum sinis.


"Karena kamu telah berhasil, aku punya sesuatu untukmu."


"Apa itu, boss?"


"Aku akan memberikan kursi direktur J Group untukmu."


"Be.. benarkah, boss?" mata Marinka terbelalak lebar tak percaya.


"Bukankah kamu bilang kalau kamu punya cita-cita mengelola perusahaan?"


"I..Itu benar, boss. Terima kasih banyak boss."

__ADS_1


"Akhirnya, selama bertahun-tahun aku bekerja untuk Jonathan, tidak sia-sia. Impianku menjadi direktur perusahaan terwujud," batin Marinka.


__ADS_2