
Wajah Zion kusam, ia tak tahu lagi harus bagaimana. Hatinya juga mau teriak, marah, menangis. Semua perasaannya kacau. Anna juga tak sadarkan diri.
Entah sudah berapa lama ia menunggu hingga Eveline datang sambil menangis. Wanita itu meratapi Anna dibalik pintu. Ada penyesalan tampak diwajahnya.
"Andai saja, waktu itu aku tidak meninggakannya," ujar Eveline dengan suara pelan.
"Keputusanmu tidak salah. Kalau kau tidak membawa suamimu ke Rumah Sakit, kondisi suamimu mungkin akan lebih buruk. Percayalah pada Anna, dia akan bertahan dengan sekuat apapun," celetuk Wilson menenangkan.
"Kondisi suamiku sekarang jauh lebih baik. Tetapi apa gunanya itu kalau melihat anakku satu-satunya disini? Selama ini, sikapku sudah begitu kejam. Aku tidak mau menjadi ibu yang lebih buruk lagi. Aku ingin..." isak tangis Eveline pecah. Ia tak bisa menahan segala air mata yang jatuh.
"Aku juga marah dengan anda, terlebih lagi hidupnya sudah menderita karena kalian hanya mementingkan urusan kalian sendiri. Kalian berdua sama-sama egois membuat Anna menderita. Seumur hidupnya ia kesepian. Seharusnya, ia mendapatkan kasih sayang dari kalian. Tetapi, kalian tak pernah menganggapnya ada. Apa kalian ini manusia?" timpal Zion. Eveline semakin tak bisa mengendalikan tangisannya.
"Sudahlah, itu tidak akan menyelesaikan masalah dengan mengungkit masa lalu," ujar Jay.
"Kau tidak tahu apa-apa," kesal Zion.
"Jay benar. Mereka punya kehidupan sendiri. Tidak ada seorangpun yang tidak memiliki kesalahan. Bagaimanapun juga mereka adalah orang tua Anna. Itu adalah urusan mereka. Semua tergantung keputusan Anna setelah ia bangun nanti. Kamu tidak berhak mencampuri urusan mereka," tukas Wilson.
"Ehem..."
"Carlos!"panggil Jay. Ia tak menyangka Carlos datang ke tempat itu.
"Semuanya tolong tenang! Anna tidak akan mati. Dia pasti sembuh," ujar Carlos yakin.
"Kamu... Darimana seyakin itu? Kamu punya penawarnya?" tanya Zion.
"Apa kamu sudah menemukan dimana Zeus?" tanya Jay.
"Tidak dua-duanya."
"Lalu kenapa kamu kemari dan mengatakan hal itu?" kening Zion berkerut.
"Bukan berarti aku tidak membawa hasil apa-apa. Aku membawa Merlyn."
"Merlyn? Kenapa kamu bawa? Bagaimana kalau bayinya..."
"Jay, aku tidak apa-apa. Aku tidak bisa tenang kalau diam saja," ujar Merlyn.
"Merlyn, kamu tahu sesuatu?" tanya Zion.
"Bagaimana dengan keadaan Anna saat ini?" tanya Merlyn. Zion menunduk sedih. Begitu juga dengan Jay. Pria itu tak ada bedanya sama Zion.
"Aku sudah mengerti dengan ekspresi wajah kalian. Kita tidak punya waktu lagi. Aku harus mengeceknya sendiri."
"Merlyn, apa maksudmu? Apa kamu punya penawarnya?" tanya Zion.
"Aku tidak punya."
"Lalu kenapa kau..."
"Merlyn mengenal Zeus," celetuk Carlos.
"Apa?" Jay kaget mendengar nya.
"Benar. Dan kemungkinan Merlyn tahu racun apa yang digunakan oleh Zeus."
"Itu artinya, putriku bisa di sembuhkan," ucap Eveline.
__ADS_1
"Tergantung jenis racun apa yang digunakan olehnya. Setahuku, Zeus memiliki tiga jenis racun. Itu yang selalu ia gunakan pada orang-orang. Menggunakan binatang sebagai eksprerimen nya.
"Tiga jenis racun? Aku kira dia memiliki banyak racun," gumam Jay.
"Benar. Untuk ingin lebih lanjut, aku harus menanyakan pada dokter yang memeriksa Anna. Dengan informasinya dan data yang ada padaku, aku yakin kita bisa tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan Anna untuk bertahan hidup."
"Tetapi sebelum itu, kita harus segera mencari penawarnya," timpal Zion.
"Aku tahu kelemahan Zeus. Kita bisa menggunakan itu untuk menemukannya."
"Apa rencanamu, Merlyn?" tanya Jay.
"Zeus memiliki seorang adik bernama Akiko. Tidak ada seorang pun mengenai hal ini termasuk orang itu."
"Akiko? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya,"celetuk Carlos.
"Jonathan sendiri juga tidak tahu tentang itu," ucap Merlyn.
"Baiklah. Aku akan menghubungi Darion untuk mencari informasi mengenai Akiko," celetuk Wilson.
"Kalau begitu, aku akan menemani Merlyn untuk menemui dokter," ujar Jay.
"Tidak. Biarkan aku yang menemaninya," ucap Carlos.
"Kalian ini ribet sekali sih. Ya udah, kalian berdua saja yang menemani Merlyn," ujar Zion. Merlyn sedikit tertawa melihat tingkah Jay dan Carlos. Pada akhirnya, kedua pria itu menemani Merlyn.
"Halo, tuan!" ucap Darion yang menerima panggilan dari Wilson.
"Cepat caritahu tentang Akiko! Dan jangan sampai ada yang tahu mengenai ini."
"Lepaskan aja dia untuk saat ini."
"Baik, tuan."
"Dan satu lagi, jangan sampai Marinka tahu hal ini."
"Baik, tuan," ucap Darion. Wilson mematikan panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanya Terra pada Darion.
"Sepertinya, kita harus melepaskan dia."
"Apa? Dengan susah payah kita mendapatkannya?"
"Bosmu itu tertarik denganku, ya?"
"Jangan senang dulu, kami akan selalu mengawasimu," ujar Darion, menatap tajam.
"Pergilah, biarkan aku mengurusnya," celetuk Terra. Wanita itu bisa memahami situasinya. Darion bersyukur memiliki rekan yang bisa diandalkan.
"Aku serahkan dia ke kamu," ucap Darion, sebelum ia meninggalkan mereka. Mereka saling bertatapan.
°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°
Hujan membasahi tanah. Zeus berdiri dibalik jendela sambil melihat kearah hujan. Pria itu mendapatkan kabar dari seseorang kalau Akiko akan menyusulnya.
Pria itu tak mengerti kenapa tiba-tiba Akiko menemuinya. Bahkan ia tidak bisa menghubungi Akiko. Ada sesuatu yang mengganjal dihati Zeus.
__ADS_1
Tanpa ia sadari, Jonathan datang sambil membawa pistol. Pria itu mengarahkan pistolnya tepat dikepala Zeus. Pria itu tak bergeming.
"Katakan padaku, dimana penawarnya?"
"Tuan melakukan ini demi perempuan itu?"
"Katakan padaku! Kecuali kamu tidak menginginkan nyawamu lagi," ancam Jonathan. Pria itu tersenyum.
"Tuan lupa. Kalau saya mati, orang pertama yang disalahkan atas kematian saya adalah tuan sendiri. Dan itu akan memudahkannya untuk membunuh Anna dan keluarganya."
"Apa ada misi semacam itu?"
"Semua sudah diatur olehnya. Saya hanya mengikuti apa yang dia perintahkan."
"Sial!" Jonathan menjauhkan pistol itu dari Zeus.
"Tuan jangan khawatir! Racun itu tidak mematikan. Saya sudah mengaturnya."
"Apa? Kamu tidak berbohong, kan?"
"Racun yang saya gunakan hanya type pertama. Itu tidak mematikan sama sekali. Tetapi..."
"Tetapi apa? Katakan padaku dengan jelas!"
"Kalau tidak cepat ditangani dalam tiga hari, maka perempuan itu akan lumpuh."
"Apa kau bilang? Tiga hari?"
"Benar, tuan. Dan itu dihitung dari ia terkena racun."
"Itu artinya tinggal dua hari lagi."
"Dan... Saya sedang tidak membawa penawarnya."
"Kamu sengaja melakukannya! Kamu..."
"Dia yang menyuruh saya agar tak membawa penawarnya," ujar Zeus. Jonathan mengacak-acak rambutnya. Tak lama, Zeus mendapatkan panggilan dengan nama pemanggil 'pemilik bakery'.
"Siapa?" tanya Jonathan.
"Akiko!" batin Zeus.
"Aku bilang, siapa?" tanya Jonathan lagi.
"Maaf tuan, saya harus pergi."
"Mau kemana kamu? Apa ayahku yang memanggilmu?" tanya Jonathan. Zeus tak mempedulikan Jonathan. Ia berlari dengan cepat. "Aneh," batin Jonathan.
"Siapa kamu?" tanya Zeus. Pria itu bingung karena nada suara nya bukan Akiko. Melainkan seorang pria.
"Ternyata benar, kamu kakak nya Akiko."
"Katakan padaku siapa kamu? Apa pamannya yang memerintahkanmu?"
"Ikuti kata-kata ku kalau kamu masih ingin melihatnya hidup."
"Awas saja, jika kamu menyakitinya! Aku tidak akan memaafkanmu," ujar Zeus. Sang penelepon tersenyum tipis.
__ADS_1