Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 47 Peringatan


__ADS_3

Aroma menyengat yang menusuk hidung Jay, ia tahan. Pria itu melihat mobil yang ditumpangi Zion terbakar habis. Hatinya pilu membayangkan betapa kejamnya itu. Ia tak peduli dengan kakinya yang sakit. Ia masuk kedalam kobaran api, akan tetapi langkahnya tertahan saat seseorang menahannya.


"Tuan, jangan sia-siakan nyawamu!" ucap seorang pria muda yang memiliki tahi lalat di pipinya.


"Biarkan aku pergi! Lepaskan aku!" Jay bersikeras melawan pria muda didekatnya.


"Jika tidak bisa menyelamatkannya, biarkan aku melihat dia. Biarkan aku...," Jay tak bisa menahan air mata. Segala kesakitan yang dirasakannya, ia tumpahkan. Sementara itu, Marinka tersenyum. Perlahan, ia menjauh darisana.


"Tuan, sebaiknya Anda tidak melakukan hal bodoh," tukas pria itu, seraya melihat sekelilingnya.


"Ikutlah dengan saya!"


"Kemana? Dan siapa kamu?" Jau mengernyitkan dahi.


"Ikut saya saja! Anda akan tahu."


"Baiklah," Jay mengikuti langkah pria itu, meski hatinya hancur berkeping-keping. Bahkan, semua kesakitan dikakinya tak sebanding dengan apa yang ia rasakan saat ini.


"Kamu ingin membunuhku?" tanya Jay. Ia tak bisa berpikir jernih.


"Kenapa harus membunuhmu? Kamu terlalu cepat untuk mati," celetuk seorang pria yang mengenali Jay.


"Zion.. Kamu.. Bukannya kamu..."


"Mati? Mana mungkin mati dengan ide bodoh seperti itu," Zion menyeringai.


"Kita sudah curiga dari awal ada yang tidak beres," ucap Anna.


"Anna, kamu...," Jay berjalan dengan pincang. Ia ingin memeluk Anna.


"Hei.. Hei.. Apa yang kamu lakukan?" Zion tak terima dengan tindakan Jay. Akan tetapi, kaki Jay kembali berdenyut hingga ia terjatuh. Kesakitan kembali menggerogotinya dalam sekejab.


"Aaaagh..," Jay berteriak histeris. Zion mengacak-acak rambutnya. Anna tak tega melihat Jay.


"Kita harus membawanya ke Rumah Sakit."


"Ba..Baiklah," Zion tak punya pilihan.


°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°


Sederet langkah kaki terekam CCTV tanpa meninggalkan suara yang memekik gendang telinga. Satu wanita dan dua pria memiliki satu tujuan yang sama. Mereka terhenti di salah satu lift. Wanita itu menggunakan kartu khusus untuk memasuki lantai atas Apartemen.


Hanya dalam hitungan menit mereka tiba. Jonathan menyeringai ketika melihat orang-orang yang ia tunggu telah datang. Pria itu membuka pintu Apartemennya.


"Bos, saya membawa dua orang untuk membantu rencana kita," tukas Marinka.


"Apa mereka berguna?"


"Boss, tidak perlu khawatir. Mereka orang terlatih," ujar Marinka, sembari melihat kedua temannya. "Apa yang kalian lakukan? Beri hormat pada boss kalian!" seru wanita itu.


"Nama saya Leon. Mulai sekarang, saya akan patuh dengan Anda, Tuan," ucapnya sambil menundukkan kepala.


"Nama saya Bryan. Saya akan bekerja sepenuhnya," ujar Bryan, ia juga melakukan hal yang sama seperti Leon.

__ADS_1


"Bagus. Aku suka semangat kalian. Tetapi.. kalau kalian bisa keluar darisini hidup hidup, aku akan menerima kalian," Jonathan mengambil pistolnya lalu menekan pelatuk kearah mereka. Marinka tersenyum miring. Leon dan Bryan tak bergeming, seolah siap mati.


"Boss lihat itu? Mereka begitu patuh," ujar Marinka.


"Kalian beruntung. Ini hanyalah senapan angin. Bukan sungguhan," Jonathan menarik salah satu sudut bibirnya.


"Pergilah kalian! Dan turuti semua apa yang Marinka katakan."


"Baik, Tuan," ucap Leon dan Bryan hampir bersamaan.


"Marinka, aku rasa peringatan yang kamu berikan pada mereka sudah cukup. Sudah saatnya, kamu melakukan hal yang serius," celetuk Jonathan.


"Boss hanya tinggal duduk manis saja. Biar aku yang menghancurkan mereka satu-persatu," tukas Marinka. Senyuman jahat tersungging dibibir Jonathan dan Marinka.


°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°


Chris menyesap kopi hangat dalam tiga kali tegukan. Lidahnya menari-nari menikmati kopi itu. Rasa pahit tanpa gula menenangkan pikirannya sesaat. Ia menarik nafas, sembari mengambil sebatang rokok yang menjadi hobinya.


Merokok bukan kebiasaan yang baik bagi semua orang, entah kenapa banyak orang menyukai benda itu, padahal tahu bahaya apa yang akan diambil. Chris tak peduli merokok memiliki dampak yang buruk bagi hidupnya. Tanpa terasa, ia menghabiskan satu kotak rokok dalam waktu tiga jam.


Ia jenuh dengan segala rutinitasnya. Hanya menunggu perintah dari Jay, tak membuatnya bersuka ria. Suara ketukan meja ia mainkan menggunakan jemarinya. Puluhan ketukan tak membuatnya berpikir jernih. Semakin lama, ia tak bisa menahan rasa bosannya.


"Apa terjadi sesuatu dengan Tuan, ya? Kenapa sampai sekarang, Tuan tidak ada kabar?" gumam Chris. Ia menghubungi Jay menggunakan ponselnya, namun nomor Jay tak aktif. Pria itu semakin gelisah. Lalu, ia menghubungi temannya yang seorang hacker.


"What's Up, babe?" sahut pria dengan suara gemulai.


"Bisa tidak mengubah panggilanmu itu? Geli tahu," celetuk Chris.


"Kan kita sudah ditakdirkan bersama, babe," ucapnya sambil tertawa.


"Sejak hati kita menyatu, babe," ucapnya tanpa rasa bersalah.


"Idih. Jijik tahu. Untung kamu temenku, coba bukan, sudah kutendang ke pluto."


"Hahaha.. Ada perlu apa memangnya, kawan? Tumben kamu telepon jam segini? Padahal ini hampir subuh," tanyanya dengan nada macho.


"Aku ingin kamu lacak keberadaan Tuan Jay. Aku tidak bisa menghubunginya."


"Dia mungkin tidur. Lagian, jam segini juga."


"Hei, aku serius. Dia berjanji akan menelepon kembali, tetapi hingga sekarang tak ada kabar sama sekali. Aku tidak tahu dimana dia sekarang," Chris menarik nafas cukup panjang. "Hei, kau dengar aku?" tanya Chris," tak ada jawaban dari temannya. Pria itu sibuk mengotak-atik program yang ia buat.


"Aku sudah menemukannya."


"Hanya dalam waktu setengah menit?"


"Salah. Dua puluh detik, sayang."


"Katakan padaku, dimana posisinya?"


"Cukup aneh," pria itu mengelus dagunya yang ditumbuhi sedikit jenggot.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Sepertinya, Tuanmu itu ada di Rumah Sakit."


"Hah? Bukannya dia sudah keluar dari Rumah Sakit?" Chris mengernyitkan dahi. "Berikanku alamat Rumah Sakitnya!"


"Baiklah. Tunggu sebentar. Dalam 5 detik akan terkirim," ia mengetik cepat lalu menekan tombol enter. "Oke. Sudah aku kirim," ucapnya heboh. Chris mendengar notifikasi WhatsApp masuk dari ponselnya. Ia memeriksa alamat Rumah Sakit itu.


"Ini berbeda dari yang sebelumnya. Bukan Rumah Sakit ini tempat ia dirawat."


"Tetapi aku tidak salah, babe. Ini sesuai yang ada di map."


"Coba cari tahu segala hal yang ada di Rumah Sakit itu. Misalnya semua nama pasien disana."


"Gampang. Tetapi.."


"Tetapi apa?"


"Jangan lupa berikan segala hatimu untukku ya!?" Pria itu melemparkan senyuman genitnya. Chris menepuk jidat.


"Terserah apa yang kamu minta. Tetapi cepetan, sekarang!"


"Baiklah, babe. Mungkin ini sedikit memakan waktu. Harap bersabar!" serunya, seraya tertawa kecil. Kesepuluh jarinya ia kerahkan dengan lincah. Mereka berselancar indah, mengitari keyboard komputer. Tak terasa, sepuluh menit berlalu, Chris menunggu tak sabar tanpa memutuskan panggilan telepon.


"Bisakah lebih cepat lagi?" ujar Chris.


"Tinggal sedikit lagi, babe. Data Rumah Sakit tak sedikit. Butuh waktu untuk memeriksanya."


"Baiklah. Cepatlah!" Chris menyentuh pelipis. Kepalanya berdenyut ringan.


"Istirahat dulu, babe. Setelah selesai, aku akan memberitahumu."


"Berama menit lagi?"


"Sepuluh detik lagi."


"Oke. Aku akan menunggu," kepala Chris bersandar pada salah satu kursi.


"Sudah kutemukan."


"Sekarang kirimkan aku detailnya!"


"Tidak, babe. Itu akan memakan waktu lama."


"Lantas?"


"Aku hanya mengirim satu data pasien untukmu. Kamu pasti terkejut. Agak sulit menemukan karena nama nya berubah. Tetapi, bukan aku namanya, kalau tak bisa menemukan hal kecil ini."


"Sebentar. Aku akan memeriksanya," Chris membuka satu data yang terkirim pada ponselnya.


"Apa ini? Kenapa disini ada foto ..."


"Aku rasa, Tuan mu itu pasien disana," sahut pria itu.


"Tidak mungkin. Ini pasti ulah Jonathan lagi," Chris mengepalkan tangan. Ia kesal.

__ADS_1


"Aku harus melakukan sesuatu," gumam Chris.


__ADS_2