
Jay memandang wajah Anna yang pucat. Infus terpasang pada tubuh gadis itu, ia terus berada disisinya. Jay menggenggam tangan Anna, mengharapkan sebuah keajaiban datang. Ia berpikir jika Tuhan itu ada, tidak akan sesuatu terjadi pada Anna. Ia sudah menghubungi seorang Professor yang ahli dalam penanganan jantung. Ia mengantri untuk mendapatkan panggilan tersebut.
Tak terasa berjam-jam ia habiskan waktu untuk berada disisi-Nya. Kecupan ringan mendarat di kening Anna. Tak tahu apa itu rasa bersalah atau tidak, namun ia hanya ingin kesembuhan dari gadis itu. Tanpa ia sadari, Carlos membuka pintu dan masuk kedalam kamar Jay. Tepukan Carlos yang menyentuh pundak Jay, menyadarkannya sesaat. Namun, ia tersenyum masam pada Carlos.
"Bagaimana kamu bisa masuk kemari?" Tanya Jay dengan suara lemah.
"Aku adalah Carlos. Masuk kemana saja adalah keahlianku." Ujar Carlos. Jay menghela nafas.
"Kamu tidak ingin informasi dariku?"Tanya Carlos.
"Apa?" Tanya Jay agak malas.
"Kalau kamu tidak mau dengar, ya sudah aku pergi."
"Tunggu! Katakan padaku, informasi apa yang kamu dapatkan!" Kali ini Jay penasaran.
"Soal identitas Jonathan."
"Jonathan? Baiklah, katakan!" Ujar nya memutar kedua bola mata. Padahal, ia berharap mendapatkan informasi seputar Anna.
"Aku sudah mengecek setiap foto masa kecil Jonathan dimanapun, anehnya aku tidak menemukan apa-apa."
"Dan yang lebih aneh lagi, aku menemukan ini di laci kamar Jonathan. Letaknya sangat tersembunyi, sehingga tak mudah dilihat oleh orang lain ." Carlos menemukan dua buah pisau. Satu nya bertulisan 'Jay' dan satunya lagi 'Zion' "
"Kenapa ada namaku dan Zion disini?"
"Mungkin Jonathan sudah mempersiapkan hal ini sebelumnya." Terka Carlos.
"Itu artinya, dia sudah merencanakan segala sesuatu nya dengan matang dan kapan saja siap untuk melenyapkanku atau Zion." Ujar Jay.
"Carlos, coba kamu cek keberadaan Zion. Aku curiga Jonathan telah berbuat sesuatu padanya."
"Kalau aku menemukan keberadaan Zion, apa yang akan kita lakukan? Apa aku akan membunuhnya?"
"Bawa saja ke gudang itu." Ujar Jay. Carlos pun pergi. Pada waktu bersamaan, Anna terbangun dan mendengar perkataan kedua orang itu. Namun, ia tak bisa bergerak. Tubuhnya terlalu lemah. Hatinya begitu pilu mendengar Zion akan dibunuh oleh suruhan Jay. Ia tak menyangka jika Jay akan berbuat senekat itu. Anna salah mengira tentangnya. Ia berpikir, Jay memanfaatkan keadaannya. Ia ingin kabur dari tempat itu.
__ADS_1
Pikiran Anna semakin kalud, tiba-tiba Jay melihat Anna, lalu Anna menutup matanya. Jay menggenggam tangan Anna, lalu mencium tangan gadis itu dengan lembut. Ia tersenyum, lalu mengusap rambut Anna secara perlahan. Meskipun ia memiliki rasa bersalah pada gadis itu, namun ia tidak ingin membiarkan Zion merebut Anna darinya. Dan tak ada satu orang pun yang bisa memilikinya, kecuali Jay sendiri. Keegoisan yang dimiliki Jay membuat Anna semakin membencinya.. Ia bersumpah, jika sesuatu terjadi pada Zion, ia akan membunuh Jay.
****************************
Semakin lama, Zion mendapatkan pelatihan berat dari Terra. Ia tak ingin mengakui kemampuan Terra lebih hebat darinya. Ia berpikir, Terra adalah nenek sihir yang selalu menyiksa dirinya. Anehnya, Wilson tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Ia justru mengatur Zion agar sering latihan bersama Terra. Zion lelah dan merasa dirinya diperbudak oleh kakek berusia 80 tahun tersebut.
"Duh, aku nyerah." Wajah Zion terlihat letih. Ia tak tahu harus bagaimana, ia sudah berada pada batasannya. Entah berapa lama ia berlatih, ia sudah tak sanggup lagi. Energinya terkuras habis. Sebenarnya, dua jam yang lalu waktunya istirahat, akan tetapi Wilson menyuruh Zion terus berlatih. Ia ingin agar keduanya lebih dekat dan bisa saling mengakrabkan diri. Tak hanya Zion, Terra juga tampak lelah. Ia tak tahu apa alasan Wilson melakukan hal itu. Tetapi bagaimanapun juga, Terra harus bersikap profesional. Ia tidak boleh mengeluh atau menyerah. Dalam hitungan detik, ia melihat Zion yang terbaring pada rerumputan. Ada rasa iba dalam dirinya. Ia tahu jika Zion sudah bekerja keras melatih kemampuannya.
"Hei, nenek Terra, kau ingin mati kelelahan ya? Kemarilah, istirahat sejenak!" Ajak Zion.
"Kamu memang gak punya sopan santun ya, berani memanggilku dengan sebutan itu." Ujar Terra. Ia merebahkan dirinya disebelah Zion sambil meletakkan sebotol air yang ia bawa.
"Toh, kita seumuran. Buat apa saling menghormati." Ucap Zion santai.
"Kamu minta kuhajar, ya?"
"Hahaha... Kau yakin bisa menghajarku dengan keadaanmu yang sekarang?" Ledek Zion.
"Kamu pikir aku tidak bisa." Tangan Terra melingkari leher Zion.
"Hei, ka..kau ingin mem..membunuh.. ku ya?" Ujar nya terbata-bata.
"Kamu?"
"Minum saja."
"Aku tidak suka berebutan dengan wanita." Zion menyerahkan botol air Terra padanya.
"Dasar!"
"Bagaimana kalau kamu ikut aku?"
"Kemana?"
"Membeli camilan mungkin. Atau sesuatu lain yang dibutuhkan."
__ADS_1
"Bukan ide yang buruk." Zion menghentakkan kaki nya. Sedangkan, Terra merapikan rambutnya yang basah karena keringat.
"Buat apa dirapikan, toh udah kusut kayak sapu ijuk." Ledek nya.
"Zioooon! Berani mengataiku, ya!" Terra ingin menendang pria tersebut, namun Zion malah menghindar dan berlari. Terra mengejarnya. Lima orang pengawal hendak mengikuti mereka.
"Tidak perlu. Biarkan mereka berdua" Ujar Wilson tiba-tiba datang sambil tersenyum.
*******************************
Meskipun rambut dan wajah Terra terbasahi oleh keringat, namun kecantikannya tak bisa ia tutupi. Zion menggelengkan kepalanya saat melihat betapa kacaunya Terra yang tak jauh berbeda darinya. Ia tersenyum kecil. Mereka tiba disebuah minimarket. Tak disangka, tiga sosok wanita melihat Terra dengan tatapan mengejek. Mereka tampak tak suka dengannya.
"Itu Terra, kan?" Tanya seorang wanita berambut pendek pada kedua temannya, saat Terra memasuki pintu minimarket.
"Loh, iya benar itu Terra." Ucap seorang wanita berbaju kuning.
"Eh, kalian tahu tidak kalau Terra itu sudah berkali-kali dijodohkan oleh keluarganya, namun ujung-ujungnya mereka membatalkan perjodohan mereka." Ucap seorang wanita berambut merah.
"Loh, masa? Bukankah Terra cantik? Apa dia menolak lamarannya?" Tanya seorang wanita berbaju kuning, yang mulai kepo.
"Bukan. Masalahnya itu, mereka pada takut sama Terra. Kalian tahu sendiri kan, ayahnya merupakan salah satu petinggi militer. Bahkan kedudukannya sangat tinggi. Mungkin karena itu, Terra menghajar para calon suami nya." Oceh wanita berambut merah.
"Pantes saja, para pria takut padanya. Mana ada pria yang mau dengannya? Lagian dadanya rata, tidak ada satu pria pun yang tertarik dengannya." Wanita berambut pendek berbicara asal.
"Siapa bilang tidak ada pria yang mau sama dia?" Ujar Zion. Ia paling tidak suka ada orang yang bergosip tentang keburukan yang lainnya dan belum tentu akan kebenarannya.
"Hah siapa pria itu? Dia tampan." Bisik seorang wanita berambut pendek.
"Aku adalah pacarnya." Zion terlihat gentle saat mengatakan itu. Ia terpaksa mengatakannya karena untuk membungkam mulut pedas mereka. Ketiga wanita tersebut melongo karena tak mengira Terra memiliki pacar yang tampan. Sementara itu, Terra menatap Zion dalam diam.
"Ayo, kita pergi darisini, sayang." Ujar Zion. Ia menggandeng tangan Terra dan pergi meninggalkan ketiga wanita tersebut. Setelah mereka berada jauh dari ketiga wanita itu, Zion melepas genggamannya. Reaksi Terra berbeda. Ia malah menendang lutut Zion dengan keras. Zion tak membiarkannya begitu saja, tangan Zion melingkari leher Terra. Terra yang tak terima, memutar tubuhnya lalu menendang lutut Zion, akan tetapi Zion berhasil menahan serangan Terra dengan menahan kaki gadis tersebut, lalu mengunci Terra, sehingga ia tak bisa bergerak. Terra tak menyerah, ia berusaha melepaskan diri dari Zion. Lalu, ia membanting Zion. Zion merintih kesakitan.
"Kau wanita jahat menyerang pria yang menolongmu! Sepertinya tulangku ada yang patah." Keluh Zion. Terra tak sungguh-sungguh ingin melakukan hal itu padanya. Ia hanya sedikit kesal dengan kelakuan Zion terhadapnya tadi. Ia berpikir, ia melihat sisi Zion yang berbeda yang belum pernah ia lihat.
"Naiklah ke punggungku." Ujar Terra.
__ADS_1
"Heh, kau gila ya? Bagaimana seorang pria sepertiku digendong olehmu?" Tolak Zion.
"Naik atau kamu akan menyesal!" Ucap Terra. Zion menarik nafas. Ia tak punya pilihan selain mengiyakan.