Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Kebenaran (Zion)


__ADS_3

Hari terlihat petang, sesosok Kakek duduk dengan cerutu yang ia pegang. Ia menghisap cerutu itu dengan santai sambil memejamkan mata. Kakek itu duduk di kursi yang terletak di Ruangan pribadinya. Ia memegang dadanya yang sakit. Akhir-akhir ini kesehatannya kian memburuk. Zora, salah satu Asisten Rumah Tangga Wilson mengetuk pintu.


"Zora, bagaimana kamu sudah membersihkan semua bingkai fotonya?" Tanya Wilson.


"Sudah, Tuan. Tetapi masalahnya... salah satu foto itu disimpan oleh Tuan Zion."


"Apa sebaiknya..."


"Biarkan saja. Dia pasti sangat merindukan sosok itu."


"Tetapi, apa tidak sebaiknya, Tuan Wilson memberitahu tentang siapa dia sebenarnya?"


"Aku bimbang sekaligus takut. Aku hanya tidak ingin kejadian seperti dulu terulang kembali."


"Tetapi, Tuan Wilson, menurut saya alangkah baiknya memberitahu itu semua tentang identitas dia sebenarnya. Agar dia..."


"Memangnya siapa identitasku sebenarnya?" Tiba-tiba Zion tak sengaja mendengar pembicaraan keduanya. Wilson tak menjawab. Zora terlihat gugup dan tak tahu harus berbuat apa.


"Kenapa diam saja? Apa gak ada yang mau menjelaskannya padaku?" Nada Zion tampak serius.


"Zora, kau boleh pergi!" Titah Wilson padanya. Zora pun pergi meninggalkan mereka.


"Duduklah. Jangan hanya berdiri! Itu tidak sopan." Ujar Wilson. Zion menuruti perkataannya.


"Foto yang kamu simpan itu adalah ibu kandungmu. Kamu pasti bisa merasakan perasaan hangat seorang anak pada ibunya."


"Ibuku? Lalu kenapa foto itu ada padamu? Ke.."


"Jangan bilang, kalau..."


"Aku adalah kakekmu. Dan kau adalah cucuku."

__ADS_1


"Omong kosong macam apa ini? Itu tidak mungkin. Kakekku udah lama mati."


"Siapa bilang kakekmu udah mati? Orang yang berada didepanmu ini adalah kakekmu." Wilson mendengus kesal.


"Dulu setelah kematian kedua orang tuaku, aku dititipkan di Panti Asuhan, kalau kau memang kakekku, lalu kenapa aku harus hidup sendirian selama ini? Dan kenapa tiba-tiba kau datang, lalu mengurungku disini. Dan sekarang mengatakan kalau kamu adalah kakekku. Apa ini masuk akal? Aku sama sekali tak percaya." Zion tampak marah. Kemudian, ia pergi meninggalkan Wilson. Kakek itu tampak sedih melihat kepergian cucu nya. Saat Zion ingin meninggalkan kediaman Wilson, beberapa pengawal menghadangnya.


"Minggir! Minggir, aku bilang!" Teriak Zion. Akan tetapi mereka tak menggubrisnya. Mereka memasang formasi agar Zion tak mudah lepas dari tangkapan mereka.


"Kalau kamu ingin pergi darisini, kamu harus bisa mengalahkan mereka!" Seru Wilson. Zion tersenyum sinis.


Tak butuh waktu lama untuk memasang kuda-kuda. Ia melihat jumlah mereka sekitar sepuluh orang. Untuk mengalahkan mereka, tak cukup hanya membekukan tiga atau empat orang saja. Dia tak punya pilihan lain, selain memilih untuk menyerang mereka semua. Ia memanfaatkan celah, tetapi itu mustahil. Formasi mereka terlalu akurat. Sepertinya, mereka sudah memperkirakan itu semua.


Zion mengingat saat latihan bersama Terra. Gadia itu mengajari bagaimana cara membekukan lawan banyak tanpa senjata. Ia harus melemahkan satu orang terlebih dahulu sebagai umpan. Saat ia melakukannya, yang lain pasti berusaha menyerangnya. Saat itulah, ia harus menggunakan umpan tersebut sebagai tameng. Tetapi itu tak cukup untuk melumpuhkan lawan sekaligus tanpa perhitungan yang matang.


Ia harus tahu siapa lawan selanjutnya yang akan menyerangnya. Karena bisa saja salah satu dari mereka menghancurkan pertahanan yang ia miliki. Intinya, ia tak boleh memiliki celah sedikitpun untuk membiarkan lawan masuk. Zion menatap mereka dengan senyuman lebar. Ia memanfaatkan formasi mereka sebagai titik lemah mereka. Ia melakukan serangan pada satu orang dengan energinya yang cukup, sehingga orang tersebut tak bisa berkutik.


Tetapi, pengawal lainnya berusaha menyerangnya sesuai dengan perkiraannya. Ia tersenyum lebar. Zion memanfaatkan pengawal yang ia serang sebagai titik pertahanannya. Beberapa pengawal menyerang dari arah yang berbeda. Ia mengarahkan titik pertahanannya itu pada mereka, lalu perlahan ia menyerang pengawal lainnya. Zion tak pernah melepaskan titik pertahanannya itu. Tetapi saat pengawal yang lain melumpuhkan titik pertahanannya, ia terpaksa menyerang pengawal itu secara terbuka. Tergantung seberapa desakannya untuk menyerang lawan. Semakin ia sulit untuk melawan mereka, ia beralih memilih titik pertahanannya dengan cepat secara acak. Terlihat rumit, tetapi itu adalah strategi untuk memanfaatkan titik pertahanan.


Prok.. Prok... Prok.. Wilson memberikan tepukan meriah padanya. Ia merasa bangga melihat perkembangan Zion melesat.


"Ini baru cucuku!" Seru Wilson. Zion tampak tak peduli. Ia tak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan meninggalkan Wilson.


"Tuan, apa sebaiknya..."


"Biarkan saja. Dia pasti akan kembali. Suruh beberapa orang untuk mengikutinya diam diam. Jangan sampai membuatnya curiga!"


"Baik, Tuan." Ucap pengawal.


*****************************


Zion berjalan tanpa henti. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia tak peduli berapa banyak kendaraan yang melewatinya. Tatapannya kosong sama seperti isi hatinya.

__ADS_1


"Aaaaaaagh!" Teriak Zion. Ia berhenti pada salah satu Jembatan. Kemudian, ia menatap foto ibu nya sambil bersandar pada Jembatan tersebut.


"Ibu. Selama ini aku ingin tahu bagaimana wajah ibuku. Tetapi saat aku melihatmu, kenapa hatiku sangat sakit? Dan aku sangat merindukanmu." Batin Zion. Ia terus menatapnya tanpa henti. Sebongkah batu terlempar kearahnya. Zion menyadari ada sesuatu yang mendekatinya. Ia menangkap batu itu dengan satu tangan. Gerakannya sangat cepat.


"Tangkapan yang bagus!" Ujar Terra. Ia tak sengaja melihat Zion di Pinggir Jalan.


"Terra! Apa yang kau lakukan disini?"


"Justru aku yang bertanya padamu, kenapa kamu berdiri di Jembatan sambil memegang foto? Orang lain mengira kamu habis putus cinta, lalu ingin mengakhiri hidupmu."


"Dia adalah ibuku."


"Ibumu sangat cantik. Lalu apa hanya itu alasanmu kemari?"


"Aku kabur dari Rumah itu. Aku tidak menyangka dia adalah kakekku. Aku mengira dia membantuku hanya sekadar tertarik padaku lalu menjadikanku sebagai penerusnya. Tetapi ternyata bukan seperti itu. Dia juga mengurungku selama ini."


"Daridulu aku hidup tanpa mengetahui aku memiliki keluarga lain. Ibuku meninggal saat melahirkanku. Setelah itu, ayahku juga tak lama meninggal. Aku tumbuh di Panti Asuhan. Saat di Sekolah, aku iri melihat para orang tua mengantar-jemput anak-anak mereka, bahkan mereka saling tertawa, bertengkar, bahkan liburan bersama. Aku tidak bisa merasakan semua itu. Mengingat itu semua, aku sangat membencinya." Tatapan Zion tampak kesal. Terra menendang lutut Zion.


"Aw! Apa yang kau lakukan? Gimana kalau aku jatuh, nenek sihir?"


"Apapun yang terjadi, kau tak boleh membencinya. Bagaimanapun juga dia tetap lah kakekmu. Satu-satunya keluarga yang kau miliki. Kakekmu pasti punya alasan sendiri untuk melakukan itu semua."


"Apapun alasannya, aku anggap dia sudah menelantarkanku."


"Kalau dia menelantarkanmu, lalu kenapa kakekmu ingin menjadikanmu sosok pria yang kuat, kenapa juga dia harus menjadikanmu sebagai penerusnya?"


"Sebenarnya, aku tidak mau menerima seorang murid. Tetapi kakekmu memohon padaku untuk mengajarimu. Dia bahkan mengatakan kalau dia akan melakukan apapun agar aku mau mengajarimu. Segala upaya ia lakukan demi cucu nya. Dia bahkan tak peduli dengan harga dirinya. Menurutmu Kakek seperti itu lah yang menelantarkanmu?"


"Kamu tidak bohong, kan?"


"Buat apa aku berbohong. Kamu bisa menanyakannya sendiri." Ucap Terra. Zion meninggalkan Terra sendirian. Gadis itu mengerti kemana arah Zion melangkah.

__ADS_1


"Setidaknya dia pamitan dulu atau berterima kasih padaku." Batin Terra sambil menatap kepergian Zion dari jauh.


__ADS_2