Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Chapter 52 Ingatan yang Kejam


__ADS_3

Suara angin yang samar menutupi wajahnya dengan rambut yang tak berhenti bergerak. Siulan pria membentuk melodi yang tak biasa dibawah sinar matahari yang redup. Sosok gadis cantik membiarkan dirinya termenung sambil berjalan. Langkahnya berhenti mengarah ke halaman belakang. Disana ia duduk, persis seperti yang ia alami dua puluh tahun yang lalu.


Semakin lama, hatinya yang meledak menjadi lebih tenang. Kenangan yang memudar, perlahan terlihat walau tak sepenuhnya. Tanpa sengaja, seorang wanita melihatnya dengan tersenyum. Ia tak mengira bisa melihat sosok yang ia tahu.


"Anna!" panggil Merlyn.


"Me..Merlyn?"Ia melihat perut Merlyn agak membuncit.


"Iya ini aku. Aku sudah lama ingin bertemu denganmu."


"Apa yang membawamu kemari?" tanya Anna.


"Tempat ini mengingatkanku akan sekolahku yang dulu," jawab Merlyn.


"Kamu pernah sekolah disini?"


"Tidak. Tetapi aku beberapa kali kesini, hanya karena mirip saja," ucap Merlyn.


"Ooo..."


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Aku pernah disini. Aku ingin mengingat kembali apa yang terjadi dimasa lalu."


"Masa lalu?"


"Ini berkaitan dengan Jonathan. Aku tahu kamu berhubungan dengannya," ujar Anna.


"Itu dulu. Tetapi sekarang tidak."


"Kenapa? Apa Jonathan mengkhianatimu?"


"Tidak. Malah sebaliknya."


"Kamu ada masalah dengannya?" tanya Anna.


"Aku sadar kalau dia hanya memanfaatkanku."


"Dia seringkali menyakiti banyak orang dan memanfaatkan mereka demi tujuannya sendiri," timpal Anna.


"Kamu benar. Tetapi kamu beruntung. Kamu dikelilingi oleh orang-orang yang kau cintai. Sementara aku? Daridulu kedua orang tuaku meninggal. Aku berusaha keras untuk menafkahi diriku. Dan saat itulah, aku bertemu dengan Jonathan. Dulu, dia adalah pria hangat, baik, dan sangat peduli denganku."


"Tidak, kau salah. Aku tidak seberuntung itu. Daridulu aku hidup dengan sakit-sakitan dan kedua orang tuaku tak menganggapku ada. Mereka lebih menyayangi Jonathan daripada aku. Entah apa yang dia lakukan terhadap mereka," Anna sedih mengingat semua itu.


"Dia itu licik. Dia pandai menipu semua orang dengan hati busuknya. Dia selalu mengatur rencana ke semua musuhnya untuk mengelabuhi mereka semua," sahut Merlyn.


"Kamu sepertinya tahu banyak soal Jonathan," ujar Anna. "Berapa lama kamu mengenalnya?"

__ADS_1


"Sejak aku umur 17 tahun hingga sekarang. Sekitar 6 tahun. Tetapi itu tak sebanding dengan dirimu, kan?"


"6 tahun itu cukup lama. Pantas kamu begitu mengenalnya," tukas Anna. Merlyn tersenyum.


"Tetapi seringkali aku tak bisa menebak rencananya. Ia tak bisa ditebak. Kamu kan adiknya. Pasti kamu lebih tahu."


"Aku bukan adik kandungnya. Dia memaanfatkan keluargaku untuk dendamnya yang aku tak tahu apa itu."


"Terkadang aku kasihan melihatnya. Ia tak memiliki mimpi, selain keinginan untuk membalaskan dendam," celetuk Merlyn.


"Kamu tahu tidak kenapa dia begitu dendam dengan keluargaku?"


"Entahlah. Aku tak begitu mengerti. Aku sempat tanya waktu itu, tetapi dia gak mau menjawabnya."


"Karena itu aku kemari. Mungkin aku tahu jika aku mengingat tempat ini," ucap Anna.


"Mungkinkah kamu dan Jonathan bertemu disini?"


"Aku rasa begitu. Tetapi sayangnya aku tak ingat apapun," wajah Anna sedih. Ia menarik nafas walau sesaat.


"Mungkinkah ada yang kamu ingat sedikit tentang Jonathan?"


"Aku tak yakin. Aku hanya ingat, aku dibully oleh sekelompok orang."


"Lalu?"


"Lalu, kamu curiga kalau Jonathan ada dibalik ini semua?"


"Benar. Andai saja aku tahu siapa orang itu."


"Aku bisa membantumu."


"Kau yakin?"


"Tentu saja. Jangankan untuk mengembalikan ingatan yang hilang, aku juga bisa mengubah ingatan seseorang," ujar Merlyn. Anna menelan ludah. "Tetapi jangan khawatir! Aku tidak mungkin melakukan itu untukmu. Aku murni membantumu," ucap Merlyn. Anna cukup ragu.


"Aku..."


"Kamu tidak percaya? Toh musuh kita sekarang sama. Buat apa aku mencoba menghalangimu?"


"Kamu benar. Tidak ada alasan kamu ingin mencobaiku. Tetapi..."


"Kenapa? Apa karena aku sedang hamil? Tenang saja. Kemampuanku tidak akan luntur karena itu."


"Bukan itu. Kalau Jonathan tahu apa yang kamu lakukan, dia tidak akan membiarkanmu begitu saja."


"Aku tahu dan aku siap menerima konsekuensinya. Jadi, gimana? Kamu mau?"

__ADS_1


"Baiklah. Jika hanya itu satu-satunya yang bisa membantuku," tegas Anna.


"Sekarang duduklah dikursi ini!" seru Merlyn. Anna mengikuti apa yang diperintahkan.


"Apa ada sesuatu yang memicu ingatanmu? Agar membantumu lebih cepat ingat."


"Ah.. Itu.. Sepertinya instrumen lagu."


"Seperti apa instrumennya? Di hp ku banyak sekali instrumen lagu untuk media hipnotisku."


"Alunan musik yang tenang, tetapi tak begitu sedih. Suara ketukannya sangat pas. Hanya itu yang aku ingat."


"Apa yg ini?" Merlyn memainkan salah satu alunan musik yang menurutnya mirip.


"Tidak. Bukan suara biola. Tetapi piano."


"Ah, piano. Tunggu sebentar!"Merlyn mencari instrumen yang cocok. "Bagaimana dengan yang ini?"


"Bagus sih. Tetapi ini sedikit lebih cepat. Kurang sedikit saja."


"Ah, aku ngerti maksudmu sekarang. Mungkin musik ini yang kamu maksud, ya?" Merlyn memainkan alunan musik yang jarang ia pakai. Meski jarang, tetapi alunannya sangat indah dan tenang.


"Benar. Ini begitu mirip walau hanya d awalannya saja yang sedikit berbeda."


"Baiklah. Kita gunakan ini saja," Merlyn memainkan kembali alunan musik tersebut. "Sekarang, fokus dan rileks! Tutup matamu! Ikutin irama alunan ini tanpa memikirkan yang lain. Cukup ikutin saja!" bisik Merlyn. Anna menutup mata. Hati, pikiran dan pendengarannya hanya untuk irama musik. Semakin lama, semakin dalam ia memasuki alam bawah sadarnya.


Anna seolah kembali ke masa lalu, dimana ia pertama kali memasuki taman anak-anak. Saat itu, gadis itu begitu gembira bertemu dengan teman-teman seusianya. Awalnya, ia bermain bersama mereka, senang bersama, serta memiliki banyak teman di Sekolahnya. Lambat laun, Anna menunjukkan tanda-tanda kelemahan ditubuhnya. Dari yang pusing hingga sering pingsan.


Teman-teman Anna perlahan-lahan mulai berjauhan. Bahkan banyak orang tua menjauhi anak mereka karena tak ingin bergaul dengan Anna. Awalnya Anna tak nyaman, tetapi seiring waktu berlalu, gadis itu mulai terbiasa diperlakukan tak adil di Sekolahnya. Ia tak pernah melawan, selalu menerima apa yang mereka lakukan terhadapnya.


Anna juga mengingat jelas bagaimana wajah mereka satu-persatu. Hingga ia bertemu dengan bocah laki-laki yang menghiburnya. Bocah itu memiliki pesona yang kuat, namun Anna tak asing melihat aura mata nya. Ingatan Anna sedikit mulai menemukan titik terang. Terlebih lagi, ia mengingat dirinya yang melawan teman-temannya.


Mereka semua adalah gadis kecil. Namun ketika, ia mulai terjatuh, sepasang sepatu mendorong tangan nya. Dan ia merasa, orang itu berbeda dari gadis-gadis yang membullynya. Ketika mengingat kembali wajah bocah itu, tubuh Anna bergetar. Merlyn menghela nafas, ia membantu Anna rileks sejenak. Merlyn mematikan irama musik. Tak lama, Anna membuka mata.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Jauh lebih baik, walau sulit."


"Sekarang apa kamu ingat siapa orangnya?"


"Bodohnya aku tak melihat wajahnya."


"Hah?"


"Tetapi ada sesuatu yang aku ingat."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Sepatu olahraga."


__ADS_2