
Anna menatap Zion, sesekali ia mencubit hidung Zion untuk membuktikan, itu nyata atau hanya mimpi semata. Zion menatap Anna sambil mengecup bibir Anna gemas. Pipi Anna merah, ia tak bisa menyembunyikan perasaan malu sekaligus bahagia bisa bersama orang yang ia cintai.
"Kamu gak marah, karena aku telah menggagalkan pernikahanmu?" Sindir Zion, bibirnya mengerucut.
"Dasar bodoh! Aku menikahinya itu semua karenamu." Anna membuang muka kearah jendela mobil. Ia menjauhi Zion.
"Kenapa karenaku?" Zion tak mengerti. Perlahan, ia menarik Anna dalam dekapannya.
"Kenapa sekarang malah ngambek? Kamu gak kangen denganku, sayang?" Tanya Zion.
"Pertama, kamu menghilang, lalu tiba-tiba datang disaat tak terduga, dan sekarang, kamu menculikku dari keluargaku."
"Aku hanya ingin melindungimu. Bukankah aman saat aku berada disisimu?" Ucap Zion dengan tulus. Ia membelai rambut Anna secara perlahan.
"Kamu hutang penjelasan dariku." Ucap Anna. Ia masih cemberut.
"Kamu juga belum menjelaskan tentang pernikahanmu dengan Jay." Ujar Zion, tak mau mengalah.
"Kau duluan yang cerita, kenapa tiba-tiba menghilang dariku? Kamu tahu, aku menunggumu lama. Kamu bahkan tak datang. Aku mencemaskanmu. Aku takut kamu..."
"Maafkan aku. Aku berusaha menghubungimu, tetapi tiap kali menghubungimu, nomor hp mu mati." Ucap Zion, ia membawa Anna kedalam dekapannya. Anna merasakan kehangatan yang telah lama ia rindukan. Tak terasa, ia menutup mata.
"Aku takut, sesuatu buruk terjadi denganmu dan aku tak sengaja mendengar dari seseorang kalau kamu menikah." Zion mengingat kembali hari buruknya bersama Jonathan dengan siksaan yang telah ia lewati. Tetapi, dia bersyukur, karena siksaan itulah, ia tak sengaja mendengar dari pembicaraan Jonathan tentang Pernikahan Anna. Hal itulah yang menguatkan Zion untuk bertahan. Ditambah lagi, keuletan Darion yang menemukan Zion, sehingga dirinya bisa kembali melihat Anna.
"Banyak hal yang terjadi, sayang. Kamu juga kaget, saat mengetahui aku adalah cucu dari seorang miliader. Dan juga.." Kata-kata Zion terhenti, ketika melihat Anna terlelap dalam dekapannya.
"Dasar, kau ini." Zion menyentil hidung Anna dengan kasih sayang. Setelah itu, ia mencium kening Anna dengan lembut. Zion memandang Anna tanpa merasa khawatir apa yang akan terjadi kedepannya.
"Sayang... Kali ini, tidak akan ada yang bisa menyakitimu. Karena aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." Batin Zion. Darion hanya menatap kedua orang yang kasmaran dalam diam sambil memperhatikan jalanan yang sepi.
************************************
Jonathan membuka mata, namun kaki dan tangannya diborgol. Ia tak bisa melepaskan ikatan yang menjerat anggota tubuhnya. Tatapannya beralih pada sosok wanita cantik yang menyisir rambut dengan anggun didepan cermin sambil duduk. Jonathan memperhatikan punggung tersebut karena merasa tak asing.
"Merlyn?" Terka Jonathan. Merlyn menoleh sambil tersenyum.
"Sayang, kamu sudah bangun?"
"Kamu.. Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!"
"Kamu ingin kabur dariku? Tak semudah itu, sayangku." Merlyn menyentuh dagu Jonathan sambil berkedip.
"Kamu wanita gila!"
"Kalau aku gila, lalu bagaimana dengan dirimu? Yang penting, aku tak pernah menggunakan cara kotor sepertimu untuk membunuh orang." Ucap Merlyn santai, tanpa berdosa.
"Kamu cukup disini saja, biar semua bahagia."
"Apa maksudmu?" Kening Jonathan berkerut.
"Mungkin saat ini, mereka bahagia bersama. Malam ini, akan menjadi malam yang panjang bagi mereka."
"Dan.. malam yang indah buatmu juga disini." Bisik Merlyn. Jonathan baru menyadari tentang Pernikahan Anna dan Jay. Ia berusaha keras untuk melepaskan borgol. Namun, sia-sia.
"Sayang, sudah kubilang, kalau ini akan menjadi malam yang indah buatmu."
"Kamu tak akan bisa melepaskan diri dariku, kecuali aku yang melepaskanmu." Ujar Merlyn. Ia bangga dengan dirinya karena berhasil menjerat mantan kekasihnya.
__ADS_1
"Jangan senang dulu! Kamu takkan berhasil hanya menjeratku begini. Kau akan tahu akibatnya." Ujar Jonathan seraya menatap tajam.
"Sayangku ini gak bisa bercermin, ya? Seharusnya kamu disini, untuk menyesali semua perbuatanmu pada orang-orang yang kau sakiti selama ini, bukan memikirkan bagaimana kamu membalasku." Merlyn tersenyum, ia mengusap rambut Jonathan.
"Seharusnya, kamu bertanggung jawab atas diriku." Lirih Merlyn, ia menatap sendu. Kemudian, tatapan sendunya beralih pada perutnya yang masih rata.
"Setidaknya, biarkan anak ini sampai lahir dan bisa melihat wajahmu, baru aku akan melepaskanmu."
"Hahaha..."
"Kamu tertawa setelah kamu melihat keadaanku? Kamu benar benar iblis."
"Apa itu sungguh anakku? Aku tak yakin." Jonathan menyeringai. Raut wajah Merlyn kusam, seolah ia juga tak yakin akan sesuatu.
"Lihatlah ekspresimu sekarang! Aku semakin yakin, kalau anak itu bukan anakku." Jonathan tertawa, ia menghina Merlyn sebagai wanita mura**n.
"Tutup mulutmu!" Merlyn menampar Jonathan.
"Pria breng*** sepertimu tak pantas hidup didunia ini."
"Apa kau tahu, segala kesulitan yang aku lewati karena dirimu?"
"Kau pasti tak paham, karena bagimu, hidupmu untuk dirimu sendiri. Kau tak pernah memikirkan perasaan orang yang kau lukai."
"Dan sekarang, kau bangga dengan dirimu sendiri? Aku mengutukmu, kamu tak akan bahagia dengan siapapun, hingga kamu mati."
"Bahkan jika takdir membuatmu sadar, aku adalah orang pertama yang akan menindasmu hingga kau bersujud dihadapanku." Seru Merlyn. Nafas nya tak stabil karena emosi sesaat, seraya ia pergi meninggalkan Jonathan.
"Aku berubah pikiran. Aku ingin, kamu membusuk disini selamanya." Ucap Merlyn dengan seringainya, sebelum ia meninggalkan Ruangan tersebut.
"Merlyn.. Kau pikir bisa menjatuhkanku dengan mudah? Lihat saja! Kamu akan menangis darah, nantinya." Batin Jonathan.
***********************************
"Merlyn!" Seorang pria menyapa Merlyn dengan luka pada wajahnya. Merlyn membuka mata untuk melihat siapa pria tersebut.
"Carlos!" Sapa Merlyn dengan raut wajah masam.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau kemari? Orang mengira, kau akan bunuh diri."
"Aku..."
"Wajahmu kenapa?" Merlyn cukup kaget melihat banyak lebam pada wajah Carlos.
"Biasa."
"Cih, kamu pasti berantem lagi. Tetapi.. kamu tak membunuhnya, kan?"
"Ini kebalikannya. Aku yang hampir terbunuh." Carlos menghela nafas.
"Aku tak pernah tahu orang itu, tetapi dia sangat mahir, keahliannya setingkat pembunuh bayaran." Lanjut Carlos.
"Pasti kamu cari gara-gara dulu dengannya."
"Aku hanya menjaga Pernikahan Jay berjalan dengan lancar, aku tak tahu akan begini nasibku."
"Jadi maksudmu, Jay gagal menikah dengan Anna?" Tanya Merlyn. Carlos mengangguk.
__ADS_1
"Lalu bagaimana denganmu? Wajahmu tampak pucat. Apa kamu sakit?" Tanya Carlos.
"Jonathan ada ditanganku."
"Bagus kalau begitu."
"Tetapi, aku tidak senang entah kenapa."
"Aku akan mengurus sisanya. Jangan khawatir!" Ucap Carlos.
"Apa kamu akan melenyapkan Jonathan?"
"Kenapa? Kamu tidak rela, dia mati ditanganku?"
"Aku tidak peduli dia hidup atau mati. Namun..."
"Aku..."
"Ada apa? Sesuatu pasti terjadi denganmu?"
"Aku hamil."
"A...Apa kau bilang?" Carlos tercengang, ia hampir terjatuh saking kagetnya.
"Kau.. Bagaimana mungkin? Kau bodoh sekali. Benar benar bodoh."
"Iya, aku tahu, aku sangat bodoh."
"Apa itu karena Jonathan?" Tanya Carlos, namun Merlyn terdiam.
"Jadi, itu alasannya kamu kembali dari Luar Negeri?" Tanya Carlos, Merlyn mengangguk. Carlos menghela nafas.
"Aku akan membantumu melenyapkannya."
"Jangan!"
"Kenapa? Kamu masih melindungi iblis seperti dia?"
"Bukan itu. Biarkan anak ini lahir terlebih dahulu untuk melihat wajahnya. Setelah itu, terserah apa yang kamu lakukan terhadap Jonathan. Aku tak peduli lagi."
"Baiklah. Aku pegang janjimu." Ujar Carlos.
Sementara itu, Jonathan melihat seseorang membuka pintu. Dia adalah sosok wanita cantik, pemberani, berwajah tegas, dan berdarah Rusia. Ia berjalan mendekati Jonathan. Pria itu tersenyum melihat kehadiran wanita Rusia tersebut.
"Akhirnya kamu datang!"
"Maaf, boss, aku datang terlambat." Ucap wanita tersebut sambil membuka ikatan Jonathan.
"Tetapi, siapa yang berani melakukan hal ini pada boss?"
"Merlyn."
"Merlyn? Ternyata wanita ja***g itu." Wanita itu tersenyum miring.
"Untung saja Boss selalu mengaktifkan GPS setiap waktu." Ucap wanita itu kembali.
"Tetapi aku tak bisa membiarkannya begitu saja."
__ADS_1
"Boss, jangan khawatir! Biarkan wanita ja***g itu aku yang mengurusnya. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya." Wanita itu menyeringai.
"Aku serahkan padamu, Marinka." Jonathan tersenyum sambil menatap wanita tersebut.