
Ketika bulan menunjukkan auranya, disanalah kegelapan telah bangkit. Tiga malam telah terlewati dengan sempurna, walau ada sedikit kegusaran dibalik hatinya yang kejam. Pria itu menutup mata, membiarkan otaknya terisi dengan segala rencana yang ia susun. Tak ada kata bosan ataupun lelah dalam kamusnya. Tak peduli berjam-jam ia habiskan untuk rencana jahatnya. Akan tetapi, ponselnya yang berbunyi tak membuat dirinya kesal.
Ia melihat kiriman foto dari sosok yang ia kenal. Pria itu cukup puas atas apa yang dilihatnya. Ia melihat Zion yang terkapar tak berdaya dengan luka diwajah. Namun, ia melihat sesuatu yang menarik dibalik foto yang dikirim Marinka. Kenapa ia melihat bayangan seseorang dari foto itu. Buk0an berasal dari Marinka atau Zion, tetapi orang lain.
Pikirannya kalud. Banyak hal yang ia pikirkan selain itu. Karena tak mau rencananya gagal, ia meninggalkan Apartemen nya seorang diri. Pria itu memiliki firasat buruk. Akan tetapi, bukan Jonathan namanya kalau tak memiliki segala persiapan yang matang. Dua pistol dengan peluru yang banyak telah ia siapkan. Entah siapa target kali ini, namun tatapannya tak lepas dari segala ambisi yang ia inginkan.
"Kali ini, sudah saatnya aku bergerak. Sudah terlalu lama aku mengulur waktu. Aku akan mendapatkan apa yang ingin ku raih," batin Jonathan.
Jonathan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan, ia menghubungi seseorang. Lalu, keduanya bertemu. Pria yang ia temui memberikan sesuatu pada Jonathan.
"Ini yakin mirip?"
"Saya sudah mengeceknya berkali-kali Tuan. Dan saya sangat yakin, seekor semut pun tak akan tahu kalau ini bukanlah yang asli."
"Bagus. Ini imbalanmu," Jonathan memberikan sejumlah uang pada orang itu. Pria itu menarik sudut bibirnya sambil menghitung jumlah uang.
"Terima kasih, Tuan. Kalau ada perlu lagi, Tuan Jonathan bisa menghubungi saya."
"Tetapi, sayangnya... saya sudah tak memerlukanmu lagi," ujar Jonathan, menatap tajam, seraya menarik pelatuk pistol dengan keji. Jonathan tersenyum puas membunuh pria suruhannya.
"Sekarang, tak akan ada saksi atau jejak dari perbuatanku. Dengan begini, tak akan ada yang mencurigaiku," ucap Jonathan dalam hati sembari tersenyum jahat.
°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°
Awan terlihat cerah dengan warna khasnya yang memukau. Daya tariknya mengundang gerakan angin menjadi lebih lembut. Tak hanya itu, cuaca sebagus ini dimanfaatkan oleh berbagai macam media untuk meliput berita terhangat di salah satu Perusahaan ternama. Mereka membanjiri seorang pria yang datang sambil mengulas senyuman manis.
"Kenapa bisa anda kemari? Mungkinkah Ax Group telah membeli J Group dengan paksaan?" tanya reporter wanita berkacamata.
__ADS_1
"Mungkinkah anda akan menggabungan J group dengan Ax group? Bukankah banyak pemegang saham lainnya yang akan merebut kursi CEO J Group?" tanya seorang reporter lainnya.
"Tolong jelaskan pada kami agar kami mengerti bagaimana anda bisa menempatkan diri pada J Group!?" tegas reporter laki-laki tinggi berkulit sawo matang.
"Tolong tenang semuanya!" Jonathan menarik nafas sesaat. "Saya akan menjelaskan semua kebingungan kalian. Sebenarnya, saya dan CEO J Group, Jay telah berteman lama bahkan tak banyak yang tahu. Saya ikut berdukacita atas meninggalnya Jay, tetapi siapa sangka dia malah menulis surat sebelum meninggal," kilah Jonathan. Pria itu menunjukkan selembar kertas pada para wartawan.
"Jadi, CEO J Group telah memberikan perusahaannya pada anda?" tanya reporter berambut pirang.
"Benar. Dia menitipkan perusahaannya pada saya. Sebenarnya, saya tak mau dianggap sebagai manusia yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Namun, ia sering menceritakan permasalahan yang terjadi pada perusahaannya. Karena saya tak mau perusahaannya jatuh pada orang yang salah, jadi terpaksa saya mengambil alih perusahaannya sesuai dengan amanah yang ia berikan. Karena itu, saya berjanji akan mengembangkan J Group lebih luas lagi," ujar Jonathan.
"Lalu, bagaimana dengan Ax Group? Bukankah anda merupakan direktur dari salah satu perusahaan yang dimiliki Ax Group?" tanya wartawan laki-laki berkulit sawo matang.
"Soal itu, saya akan menyerahkan sepenuhnya pada adik saya."
"Mungkinkah itu nona Anna?" tanya reporter wanita berkacamata. Jonathan mengangguk.
"Benar. Tetapi saat ini Anna sudah sehat. Penyakitnya bisa disembuhkan," terang Jonathan. Beberapa reporter mengangguk mengerti. Tetapi, karena pekerjaan mereka sebagai wartawan, tak mengurangi rasa penasaran mereka. Segala pertanyaan keluar dari bibir mereka secara bertubi-tubi. Jonathan sangat tenang menghadapi orang-orang itu.
Dilain sisi, Zion tertawa saat melihat berita dan mendengarkan penjelasan dari Jonathan. Ia tersenyum sinis sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Rencana apalagi yang ingin kamu mainkan, Jonathan?" batin Zion, ia menyipitkan mata. "Tetapi, aku pastikan akan membuka semua topengmu pada semua orang. Tunggu dan lihat saja, bagaimana aku melakukannya!" batinnya lagi.
°°°°°°°°°°°°°°°°°☆☆°°°°°°°°°°°°°°°°°
Sesosok gadis cantik duduk manis sambil menikmati secangkir teh . Gadis itu melihat berita hangat yang dibicarakan hampir setiap saluran televisi. Sesekali senyumannya ia lepas. Lucu mendengar ucapan dari Jonathan.
"Aku tak menyangka, Jonathan menggunakan cara licik untuk mengambil celah menjatuhkan Jay. Aku yakin, tulisan itu dipalsukan. Mungkin saja ia menyuruh seseorang untuk meniru gaya tulisan Jay agar tak dicurigai. Yang jadi pertanyaannya disini, kalau dia ingin menghancurkan keluargaku, kenapa harus repot mengambil alih J Group? Tidak secepat itu menjatuhkan Ax Group lewat J Group. Butuh waktu lama menjadikan J Group lebih kuat dibandingkan Ax Group. Sebenarnya, apa yang ia rencanakan?" ucap Anna dalam hati.
__ADS_1
Gadis itu mencoba mengetahui rencana jahat Jonathan dibalik otaknya yang pintar. Tak butuh waktu lama bagi dirinya untuk memahami hal tersebut. Berselang sekian menit, Anna meraih ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
"Halo!"
"Sayang.. Padahal aku baru saja ingin meneleponmu, kamu malah meneleponku. Sepertinya, batin kita sudah ditakdirkan untuk menyatu."
"Kamu melihat berita, Zion?"
"Soal Jonathan?"
"Iya. Aku rasa dia menggunakan J Group untuk menutup rencananya yang asli. Sebaiknya, kita harus hati-hati," tukas Anna khawatir.
"Jangan cemas, sayang! Sepintar-pintarnya Jonathan, pasti dia terpojok juga dan akan menunjukkan sifat asli yang sebenarnya."
"Apa rencanamu?" tanya Anna.
"Tidak ada," ucap Zion enteng.
"Apa? Kamu bodoh ya? Kamu bilang kalau tidak perlu cemas, tetapi kamu malah gak memiliki rencana," Anna menepuk jidat.
"Sayang pernah dengar tidak, ada pepatah yang mengatakan kalau orang sabar disayang Tuhan?" ucap Zion.
"Lalu?" Anna tak mengerti.
"Aku tinggal lihat alurnya saja. Setelah ia menunjukkan kelemahannya sedikit, saat itulah aku akan bergerak," Zion tersenyum licik.
"Kamu benar. Selain dendam yang ingin ia lakukan, ia ingin menikahiku. Aku..."
__ADS_1
"Menikahimu? Itu tidakan akan pernah terjadi! Hanya aku yang boleh menikahimu," celetuk Zion. Pipi Anna bersemu merah mendengar ucapan Zion.