Cintaku Untukmu

Cintaku Untukmu
Titik Terang (2)


__ADS_3

Zion jengah dengan segala upaya nya. Sudah berhari-hari, ia tertahan disana. Tak tahu apa alasan pria paruh baya tersebut menculiknya. Segala pikiran Zion berkecamuk, apalagi ia sangat merindukan sosok Anna. Zion ingin memeluk, menggenggam tangan, menyentil hidung, mengusap kepala, dan bibir Anna yang tak lepas dari pikiran pria tersebut. Ia memejamkan kedua mata, berharap ia masuk kedalam dunia mimpi dan bertemu dengan gadis tersebut. Tanpa ia sadari, sepasang langkah datang menghampiri Zion, ia membuka pintu. Pakaiannya terlihat seperti asisten rumah tangga. Ia membangunkan Zion secara perlahan. Zion terbangun dengan perasaan kecewa. Asisten rumah tangga itu menyuruhnya untuk menemui pria paruh baya.


"Makanlah!" Ujar pria paruh baya yang melihat kehadiran Zion.


"Tidak mau! Ini semua bukan seleraku." Ujar Zion. Sebenarnya, pikiran dan mulut nya berbeda. Dalam pikirannya, ia sangat lapar karena berhari-hari tidak makan. Namun, ia tidak boleh tergoda dengan semua makanan itu. Padahal, makanan-makanan tersebut bisa dihabiskan oleh puluhan orang.


"Baiklah. Ganti makanannya dengan cepat!" Titah nya. Empat chef pribadi langsung bertindak cepat. Mereka menghadirkan masakan lainnya yang tak kalah lezat dari masakan sebelumnya. Dalam kurun waktu tujuh menit, semua makanan yang disajikan oleh para chef, tersaji di meja.


"Bagaimana? Kau pasti suka, kan?" Tanya Wilson.


"Duh, kok ingin makan, ya. Aroma nya sangat lezat." Batin Zion.


"Tidak! Aku tidak boleh tergoda. Aku harus kuat." Batinnya lagi.


"Aku sedang tidak berselera makan. Lagian, kau kan sedang menculikku. Kenapa kamu malah memberikanku makanan seperti ini?"


"Buang semuanya!" Kata Pria paruh baya itu. Semua asisten rumah tangga yang ia miliki mengangguk dan membereskan semua masakan yang ada pada meja tersebut.


"Tunggu! Pak tua, apa ini caramu membuang makanan seenaknya yang tidak dimakan? Kamu seharusnya membagi dengan yang lainnya. Masih banyak diluar sana yang membutuhkan makanan. Mereka terbelit ekonomi, sehingga tak bisa makan. " Zion tampak kesal.


"Daripada tidak dimakan, lebih baik dibuang saja. Bukannya, kamu tidak ingin makan?" Ucap nya santai.


"Dasar, pak tua!"


"Panggil aku dengan benar, bocah! Namaku Wilson. Kau bisa memanggilku kakek Wilson."


"Nama itu terlalu bagus untukmu." Ucap Zion dengan suara pelan.


"Apa katamu? Kamu..."


"Ah, sudahlah buang semua makanannya! Kalau kucing yang makan, kucing nya juga harus dibuang." Ujar Wilson menggertak.


"Eh, jangan! Biarkan aku yang memakannya. Kasihan kan kalau dibuang. Kucing nya juga kasihan." Pada akhirnya, Zion menyerah juga. Wilson tersenyum. Hanya dalam sekian menit, Zion berhasil menghabiskan satu piring dengan lahap.


"Tambahlah lagi, jika masih kurang." Ujar Wilson. Karena Zion tak makan selama berhari-hari, selera makannya bertambah. Ia sangat menyukai cita rasa dari setiap makanan yang ada. Mereka semua sungguh lezat. Tak ada yang keasinan, atau hambar. Semuanya sempurna.


"Kamu terlihat menikmatinya. Apa enak?" Tanya Wilson.


"Biasa saja." Zion mengelak.


"Aku nambah lagi bukan karena aku suka. Itu semua karena aku tak tega melihat banyak makanan terbuang." Elak nya lagi. Setelah puas apa yang ia makan, perut Zion terasa penuh. Ia menarik nafas. Wilson menatapnya sambil tersenyum.


"Omong-omong, Pak tua, apa alasanmu untuk mengurungku disini? Apalagi memberiku makan? Atau jangan jangan, kamu ingin menjualku? Dan mencincang semua daging yang kumiliki?" Tanya Zion. Ia menyilangkan kedua tangan pada dada nya.

__ADS_1


"Hei, bocah, jangan sembarangan! Udahlah percuma mengatakannya." Wilson menghela nafas.


"Ayo ikut aku!"


"Kemana?"


"Menjualmu pada mucikari." Bualan nya.


"Hah? Yang benar saja, pak tua!"


"Kalau kamu tidak mau ikut denganku, aku bisa melakukan yang lebih parah, bocah!" Ucap Wilson. Akhirnya, Zion menuruti perkataan pria paruh baya tersebut.


Wilson mengajak Zion ke Casino miliknya, yang bersebelahan dengan kediaman nya. Casino merupakan tempat perjudian. Disana, tak sedikit orang yang mencoba peruntungan dalam waktu yang singkat. Mereka seakan tak peduli, harus menghabiskan ratusan juta. Zion tak percaya apa yang ia lihat. Ia sering melihat Casino pada banyak film. Namun, tak pernah melihatnya secara nyata.


"Ada apa dengan ekspresimu?" Tanya Wilson.


"Ini pertama kalinya aku melihat Casino. Ternyata lebih besar dari yang aku lihat di film." Ujar Zion polos.


"Hahahaha... Ini bukan apa-apa. Aku bisa menunjukkan yang lebih dari ini."


"Oh ya, apa polisi gak pernah kemari untuk menggerebek?"


"Hei bocah, bilang saja kalau kamu takut ditangkap! Kamu tidak perlu takut. Sebagai warga yang baik, patut memenuhi anjuran pemerintah. Jadi, perjudian disini legal." Terang Wilson. Zion menarik nafas lega.


"Pak tua, aku tidak sebodoh itu. Kamu pasti ingin menjerat ku lebih dalam lagi. Aku sudah hafal dengan orang-orang seperti mu di dunia bisnis." Ujar Zion.


"Kamu pintar juga, bocah. Aku kira kamu hanya bocah ingusan."


"Jangan meremehkanku, pak tua! Suatu hari, aku bisa saja menutup usaha ini."


"Hahaha. Dasar, bocah sombong! Hei Zion, selama aku hidup puluhan tahun, tidak ada yang berani bermain-main denganku. Lihat saja, apa yang terjadi, jika mengusik hidupku! Ucap Wilson. Bukannya takut, Zion malah menatap kedua mata Wilson sambil tersenyum lebar.


"Kita tidak tahu kan nanti." Ucap Zion santai.


"Apa disini ada biliard? Aku ingin bermain billiard saja."


"Billiard? Kamu datang ketempat yang tepat. Ayo!" Wilson berjalan menuju lantai atas. Zion mengikuti langkahnya bersamaan dengan lima orang pengawal Wilson.


**********************************


Jay geram pada David karena merasa dibohongi. Ia tak menyangka David berani membohonginya disaat tubuh David penuh dengan luka. Sebenarnya, David tak berbohong. Entah kenapa, saat disana, tempat itu ditempati oleh orang lain. Mereka mengatakan, jika sudah lama tinggal disana. Lalu, tiba-tiba David mengingat sesuatu.


"A...Aku ingat sesuatu." Ucap nya terbata-bata.

__ADS_1


"Apa yang kau ingat? Cepat katakan!" Seru Chris.


"Selain sebagai penyelundup, dia juga memiliki tujuan lain untuk datang ke negara ini. Kalau tidak salah, dia menemui seorang wanita."


"Kamu yakin? Tidak membohongi kami?" Tanya Chris. Ia masih memegang pisau yang diarahkan pada David. Chris tak lepas dari pisaunya.


"Na..Nama wanita itu adalah Merry. Wanita itu bekerja di sebuah perusahaan besar, tetapi aku tidak tahu nama perusahaan nya" Jawab David. Jay tersenyum puas.


"Perusahaan besar? Tidak sulit bagiku untuk menemukannya. Kamu memberikan informasi yang berguna." Ujar Jay.


"Chris! Cari tahu secepatnya!"


"Saya mengerti, tuan." Chris mengambil ponsel. Ia menghubungi teman lama, yang tak lain adalah seorang hacker. Chris menyuruhnya untuk mencari data-data di seluruh perusahaan yang berkaitan dengan nama wanita tersebut. Itu lebih cepat, dibandingkan harus mencari informasi satu-persatu perusahaan. Tak butuh waktu lama, bagi hacker untuk melacak nama 'Merry' .


"Tuan, saya sudah mendapatkan semua nama Merry yang berkaitan dengan perusahaan." Ujar Chris.


"Kerja bagus."


"Tetapi ini terlalu banyak."


"Eh, tunggu!" Tatapan mata Chris berhenti seketika.


"Ada apa? Kau menemukan sesuatu?"


"Ax Group juga memiliki seorang karyawan bernama Merry. Dan dia menjabat sebagai sekretaris dari CEO Ax Group." Ungkap Chris.


"Apa kamu bilang?" Jay kaget, saat mendengar nama itu.


"Aku yakin ini bukan kebetulan. Ini akan menjadi pertarungan yang menarik." Ujar Jay.


"Bukankah CEO Ax Group tidak mungkin melakukan hal kekanakan seperti itu, Tuan? Sangat aneh." Ujar Chris.


"Mungkin kamu benar. Tetapi, kita melewatkan satu orang." Jay tersenyum sinis. Chris berpikir siapa orang itu.


"Mungkinkah..." Chris menoleh kearah Jay, seakan tahu apa yang dimaksud dengan nya.


"Benar. Selidiki dia!"


"Baik, Tuan."


"Kalau benar itu dia, beri dia peringatan agar tak berani mengusikku lagi." Ujar nya.


"Sebesar apapun yang ia miliki, aku akan menghancurkannya seketika." Ucap Jay.

__ADS_1


__ADS_2