
"Dia bukan orang spesial kan? Karena, aku selalu berharap bahwa akulah orang spesial dalam hidupmu."
-----
"Yona, lo baik kan?"
"Yona, please. Lo satu-satunya harapan gue!"
"Na, cantik deh"
"Na, please lah!!!"
"Na, temen gue ilang semua!! Lo doang yang bisa gue mintai tolong sekarang!"
Dan disinilah Yona sekarang, terjebak di kursi-kursi ruang kelas yang sudah kosong, hanya menyisakan dirinya dan seorang cowok di depannya.
"Ini gimana?" Tanya cowok itu menyodorkan buku tulis ke hadapan Yona, bertanya dengan kerlingan berbinar yang berlebihan.
Yona mendecak kecil, beranjak maju lebih dekat dan mulai menjelaskan.
"Pertama, bagian ini dikali sama ini. Nah, trus ini sama ini. Terus yang lainnya pake pola yang sama," jelas Yona sambil menunjuk deretan angka didepannya dengan telunjuk.
Cowok di depan Yona mengangguk-angguk paham, langsung menarik kembali bukunya dan segera sibuk menghitung.
Yona melirik cowok itu sekilas lalu menghela nafas lelah. Padahal, tadi Yona sudah semangat ingin segera pulang dan tiduran, tapi yang ada, cowok ini malah menghadangnya dan meminta Yona untuk mengajarinya Matematika.
"Lucas, jangan lupa sama janji lo!" Kata Yona memperingatkan dengan tajam pada cowok di depannya itu.
Lucas berdehem kecil, masih sibuk dengan bukunya. "Iya, iya. Gue inget kok," balasnya pendek tanpa menatap Yona.
Ini juga yang membuat Yona mau mengajari Lucas karena Lucas sudah menjanjikan pada Yona akan membelikan chicken pop sepulangnya nanti. Kalau saja Lucas tidak merayu Yona dengan makanan, boro-boro Yona mau mengajari Lucas, menanggapinya pun tidak akan Yona lakukan.
"Sejak kapan lo mau belajar waktu ulangan?" Tanya Yona basa-basi karena hanya ada hening sejak tadi.
"Ada lah," jawab Lucas pendek dengan suara lirih. "Setiap orang punya alasan sendiri kan?" Lanjutnya walau tetap tak mengangkat wajahnya.
Yona tersenyum miring. "Oh ya? Sejak kapan seorang Lucas punya alasan selain karena cewek?" Tanya Yona sambil terkekeh kecil mengejek. "Siapa sih ceweknya?"
Lucas mendecak kecil, melirik Yona dari sudut mata dengan tatapan tajam. "Gue heran deh. Kenapa lo selalu bisa tau sih?" Tanyanya dengan kening berkerut dan alis bertaut.
Yona tertawa singkat. "Lo tu gampang ditebak. Dan juga, kita udah satu tahun barengan kan. Gimana gue gak hafal sama tingkah lo?" Tanya Yona balik dengan senyum miring yang terlihat jelas di wajah cantiknya.
Lucas mencibir kecil. Mulutnya bergerak-gerak dengan jengkel. "Yang pasti, cewek ini gak secara langsung buat gue mau belajar gini," jawab Lucas dengan kelopak mata menurun.
Yona yang melihat perubahan ekspresi wajah Lucas, langsung membenarkan posisi duduknya, bersiap untuk mendengarkan dengan lebih seksama.
Lucas menarik nafas kecil lalu tersenyum kecil. "Dia ngajak gue tanding buat dapet nilai terbaik," jawab Lucas masih sambil tersenyum kecil. "Dan dengan bodohnya, gue mau."
Yona tersentak, matanya melebar sempurna memandang Lucas yang terlihat tertawa bodoh dengan kelakuannya sendiri. Mulut Yona tanpa sadar terbuka dengan dramatisnya saking tidak percayanya ia pada Lucas. Siapapun cewek yang membuat Lucas mau belajar seperti ini, pasti cewek itu punya pengaruh besar di hidup Lucas hingga Lucas mau saja di aj.
__ADS_1
Yona tersenyum simpul. "Yaudah, cepetan lanjutin belajarnya. Biar lo menang dari dia," kata Yona dengan nada riang menyemangati.
Lucas mengerjapkan matanya, langsung tersadar dan kembali mengambil pensilnya.
Kali ini, Yona memilih diam, memandangi Lucas yang terlihat begitu serius pada bukunya. Diam-diam Yona tersenyum memandangi Lucas. Ah, sejak kapan Lucas bisa seserius ini?
"Jangan ngeliatin gue segitunya. Ntar suka, gue gak tanggung jawab," kata Lucas tiba-tiba meski tetap sibuk pada bukunya.
Yona mengerjap dan dengan segera tangannya langsung memukul kepala Lucas dengan keras, membuat cowok tampan itu mengaduh sakit.
"Geer banget jadi orang!" Kata Yona masih kesal dengan bibir mencuat maju.
Lucas merintih, mengelus kepalanya sejenak. "Iya, iya. Maaf lah. Sensi banget sih," balasnya dengan kening berkerut samar.
Yona melengos melihat itu. Gadis cantik itu langsung memalingkan wajah dengan tak senang.
"Udah belum belajarnya? Gue mau pulang nih," tanya Yona masih memalingkan wajah.
Lucas tersenyum lebar dan berdiri sambil mengemasi alat tulisnya.
"Udah selesai kok," jawabnya sambil terus tersenyum meski Yona tetap tidak menolehkan kepalanya. "Pulang yuk!" Ajaknya kemudian.
Yona berdehem singkat, ikut berdiri dan segera menenteng tasnya kemudian mengikuti Lucas yang sudah keluar kelas.
"Na, lo ikut gue kan? Sekalian nepatin janji gue, chicken pop," tanya Lucas pelan sambil menolehkan kepalanya ke arah Yona yang berjalan pelan di belakangnya.
Yona mendongakkan kepalanya, lalu balas tersenyum singkat. "Gak usah. Gue pulang sendiri aja. Traktirnya besok ya," jawab Yona tersenyum kecil.
Yona mempercepat langkahnya, menyusul Lucas yang terhenti di depannya. Yona tersenyum lebar menatap Lucas yang kebingungan.
"Cewek itu belum pulang kan? Lo tunggu dia aja. Lumayan tuh, sekalian modus," kata Yona terkekeh kecil dan menepuk-nepuk bahu Lucas menyemangati. "Good luck, ya!"
Lucas tersentak kaget. Bagaimana Yona tahu?
"Lo tahu darimana?" Tanya Lucas menghentikan Yona yang sudah beberapa langkah didepannya. "Emang lo tau ceweknya yang mana?"
Yona berbalik, menatap Lucas sejenak yang terlihat kikuk. Yah, tentu saja Lucas pasti malu karena Yona tahu cewek yang Lucas suka.
"Daritadi lo ngelongok ke GOR melulu. Lo nungguin dia kan?" Tanya Yona balik dengan senyum samar. "Dah, ah. Gue mau balik," pamit Yona melambaikan tangannya danĀ kembali melangkahkan kakinya. Meninggalkan Lucas yang diam-diam pipinya bersemu merah menahan malu.
Yona menghembuskan nafas pelan, ia menoleh ke kanan ke kiri dengan cepat.
Yona mendecak kecil. "Gue pulangnya gimana coba? Dah sore lagi," gerutunya pada diri sendiri sambil menendang udara kosong dengan kesal.
Sebenarnya Yona bohong saat bilang akan pulang sendiri. Sudah jelas, sejak awal, Yona memang berencana pulang bersama Lucas. Tapi, bagaimana lagi. Lucas sepertinya lebih baik bersama cewek yang dia suka, dan Yona jelas tidak mau merampas kesempatan itu dari Lucas.
Tanpa sadar, Yona sudah manyun-manyun dan mencak-mencak sebal di depan gerbang sekolah, menunggu entah apa. Sampai sebuah cahaya lampu motor tidak sengaja mengenai mata Yona membuat Yona menyipitkan matanya untuk melihat sosok di atas motor itu.
"Yona?" Tanya orang di atas motor itu pelan. "Belum pulang?"
__ADS_1
Yona mengerjap, masih mencoba menyesuaikan matanya dan menatap motor hitam yang sekarang berhenti di depannya.
Ketika pandangan Yona kembali normal, Yona langsung tersentak kaget melihat sosok cowok di atas.
"Nino?" Tanya Yona tak percaya bahkan secara refleks Yona mundur ke belakang satu langkah.
Nino terkekeh singkat. "Kenapa lo? Sekaget itu? Emang gue hantu?" Tanya Nino sambil tersenyum samar menatap wajah Yona yang masih pias.
Yona mengerjap, buru-buru menggeleng dengan panik. "Enggak, maaf-maaf," katanya heboh sendiri sambil sibuk menyatukan kedua tangan meminta maaf.
Nino tersenyum lagi. "Lo belum pulang?" Tanyanya dengan kening agak berkerut. "Udah sore lho."
Yona menggigit bibir, tidak tahu harus menjawab apa. Ia mencoba menghindari tatapan Nino yang menatapnya intens.
Nino mengatupkan mulut, langsung mengerti dan menepuk jok belakang motornya.
"Bareng gue gih. Cepetan!" Perintahnya cepat dan mantap.
"He?" Yona melebarkan matanya, antara kaget dan tidak percaya.
Maksudnya.....Yona? Diboncengin Nino?
Yona tidak mimpi kan?
Ini nyata kan?
Ah, rasanya Yona hampir saja pingsan dan berguling ke belakang jika ia tidak bisa mengendalikan dirinya sekarang.
"Ayo!" Ajak Nino lagi menyadarkan Yona dari lamunan.
Tanpa basa-basi lagi, Yona langsung mengangguk semangat dan segera naik ke jok belakang motor Nino dengan senyum lebar yang begitu cerah.
Nino yang melihat tingkah Yona hanya bisa tersenyum samar, **** bibirnya ke dalam supaya senyumnya tidak makin kentara.
"Eh, Na," panggil Nino pelan sambil melirik Yona dari spion motornya. Nino masih belum menjalankan motornya, sengaja untuk menikmati waktu lebih lama dengan Yona.
"Ya?" Tanya Yona balik sambil sedikit memajukan dirinya ke arah Nino. Tak lupa, masih dengan senyuman Yona yang lebar.
"Cowok yang tadi ngobrol sama lo? Siapa?"
Yona tersentak, ia langsung memundurkan dirinya secara refleks, menjauh dari Nino.
Ketika Yona mengingat Lucas lagi, tanpa sadar, Yona langsung merasa jengkel. Entah kenapa. Yona memajukan bibirnya sedikit, lalu memalingkan wajahnya.
"Cuma cowok gak penting," jawabnya dengan nada ketus.
Nino yang terus memandangi Yona dari kaca spion motornya agak mengernyitkan kening melihat tingkah Yona.
Kenapa Yona jadi marah?
__ADS_1
Nino merapatkan bibirnya. Cowok itu berdehem pelan. "Pegangan!" Pesannya singkat dan segera menarik pedal gas, membuat motor hitamnya melaju pelan.
Yona tidak tahu, jika hati Nino sekarang terasa sesak oleh rasa yang bahkan Nino sendiri tidak paham.