
Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Pernikahan Jay dan Anna akan dilaksanakan kurang lebih tiga hari lagi. Karena itulah, Jay memutuskan untuk menjemput Anna. Jay berencana memeriksa undangan beserta pakaian yang dikenakan mereka. Akan tetapi, Anna tak menampakkan diri. Jay mondar-mandir, ia tak sabar menanti kehadiran Anna. Tak disangka, satu jam telah terlewati. Kegalauan Jay menyita perhatian Jonathan. Pria itu menyeringai sembari berjalan mendekati Jay.
"Kalau kamu tak bisa menunggu adikku, aku rasa kamu tak perlu menikahinya." Sindir Jonathan. Ia menatap tajam. Jay tersenyum.
"Oh ya, ada apa dengan tanganmu? Tangan seperti itu, mana mungkin bisa menggenggam tangan Anna dengan baik saat pernikahan? Aku pikir, pernikahan kalian harus ditunda." Ujar Jonathan, memandang bekas luka tangan Jay yang berasal dari gigitan Nathan, seekor kucing yang diselamatkan oleh Anna. Jonathan tersenyum sinis pada Jay.
"Kau terlalu perhatian padaku, Kakak Ipar. Sudah saatnya, kamu harus memikirkan dirimu sendiri." Ujar Jay sambil menatap tajam.
"Bukankah, kamu harus lebih sering mengecek gudang kesayanganmu? Agar gudangmu itu tak hancur ditanganku." Bisik Jay. Jonathan bersikap santai menghadapi Jay.
"Jangan senang dulu, Jay! Tunggu saja, permainan dariku!" Bisik Jonathan. Jay memutar otak. Ia ingin tahu segala rencana busuk Jonathan.
"Semoga beruntung!" Bisik Jonathan sambil menepuk pundak Jay. Pria itu meninggalkan Jay. Tak lama, Anna turun dari tangga. Jay menatapnya dengan senyuman. Ia menghampiri Anna sambil menuntun Anna.
"Aku bukan anak kecil yang harus dituntun!" Seru Anna, seraya menepis tangan Jay. Pria itu tersenyum. Akan tetapi, senyuman Jay perlahan memudar, ketika melihat Nathan turun dari tangga. Kucing itu mengikuti Anna dari belakang. Jay mengernyitkan dahi. Terlebih lagi, Nathan berhasil mendahului Anna hingga ia tepat berada didepan Anna. Gadis itu terkejut, saat melihat Nathan menghadangnya. Tiba-tiba ia memikirkan ide konyol.
"Aku rasa, gak ada salahnya dia bersamaku." Anna menggendong Nathan sambil tersenyum manis.
"Apa? Anna, tetapi kita..."
"Aku tak tega meninggalkannya sendirian disini." Potong Anna. Akan tetapi, Jay mengambil Nathan dari Anna. Ia meletakkan Nathan di Lantai.
"Ayo, kita pergi!" Seru Jay. Namun, Nathan menatap Jay sambil melilitkan salah satu kaki depannya pada kaki Jay. Jay jengah melihat usaha Nathan. Karena tak mau kejadian buruk menimpanya kembali. Ia menyerah. Ia memperbolehkan Anna membawa Nathan. Anna tersenyum.
******************************
Carlos berencana untuk memasuki J Group, Perusahaan milik Jay. Namun, langkahnya terhenti, ketika seseorang menghadangnya. Carlos kaget, saat ia melihat siapa orang itu.
"Tu.. Tuan Jonathan!"
"Sejak kapan kamu tahu namaku? Kamu selalu memanggilku dengan sebutan Tuan." Jonathan menatap Carlos.
"Sa..Saya..."
"Sampai kapan, kamu terus membohongiku?"
__ADS_1
"Kamu pikir, aku bodoh? Tak tahu kamu mengkhianatiku?"
"Tu..Tuan..." Carlos tak menyangka, Jonathan mengetahui pengkhianatan yang dilakukan olehnya secepat ini.
"Aku sudah curiga, sejak Jay tahu segalanya tentang gudang penyimpanan yang kumiliki. Dan dia juga tahu beberapa masalah lain, yang kau tahu." Ucap Jonathan. Kemudian, ia mengambil pistol dari dalam sakunya. Ia mengarahkan pistol tersebut kearah Carlos. Carlos mengepalkan tangan. Sudah saatnya, Carlos beraksi.
Carlos menendang pistol yang berada ditangan Jonathan, hingga mengenai wajah Jonathan. Darah segar tampak pada sudut bibir Jonathan. Ia membalas serangan Carlos. Keduanya saling beradu, mereka tak mau mengalah satu sama lain. Nafas Carlos terengah-engah. Tatapannya beralih pada pistol yang ia singkirkan tadi. Pistol itu tak jauh dari kaki Jonathan.
Carlos menarik pistol tersebut menggunakan kakinya. Dor.. Dor.. Suara tembakan memekikkan gendang telinga dalam hitungan detik. Carlos merasakan kaki kanannya terluka, sebelum meraih pistol yang berada dalam dekapan kakinya. Jonathan tersenyum. Carlos tak menyangka, Jonathan menggunakan cara licik untuk menyuruh seseorang menyerangnya dari belakang. Sepertinya, Jonathan telah memperhitungkan itu semua sejak awal.
"Turuti aku, kalau tidak, aku tidak akan memberikanmu kesempatan untuk hidup!" Ancam Jonathan. Carlos menuruti perkataan Jonathan. Ia tak menyangka, dirinya menyerah pada sosok iblis seperti Jonathan. Namun, jika ia melawan, ia tak punya kesempatan untuk membalaskan dendam kematian adiknya terhadap iblis tersebut.
"Baiklah, Tuan!" Ucap Carlos dengan terpaksa.
"Apa ini yang kuajarkan padamu?"
"Berlututlah, sekarang!" Seru Jonathan. Carlos kesal, ia tak menyangka harus berlutut pada pembunuh adiknya.
"Saya minta maaf, Tuan. Tolong, berikan saya kesempatan untuk hidup!" Ucap Carlos sambil berlutut.
"Bagus!"
"Apa itu, Tuan?"
"Singkirkan Jay!" Seru Jonathan. Carlos mengepalkan kedua tangannya.
"Baiklah." Ujar Carlos. Ia terpaksa menerima pekerjaan kotor tersebut. Jonathan memiliki rencana lain untuk memanfaatkan Carlos.
****************************
Setelah mereka mengecek undangan pernikahan, mereka memutuskan untuk menuju salah satu Butik ternama yang berada jauh dari kediaman Anna. Malam itu, tepat pukul 20:30, Anna berkacak pinggang sambil menggendong Nathan.
"Kamu lelah?" Senyuman menghiasi bibir Jay.
"Hmm." Ucap Anna datar. Ia tampak tak bersemangat.
__ADS_1
"Nathan terlihat mengantuk. Kembalilah ke Mobil bersama Nathan! Biarkan aku masuk kedalam dan mengurus segalanya."
"Tak perlu. Aku akan masuk." Ucap Anna. Gadis itu tak ingin mengakuinya. Ia tak ingin dianggap sebagai gadis yang lemah dan manja. Harga dirinya terlalu tinggi.
"Baiklah." Jay tersenyum. Lalu, mereka masuk kedalam Butik. Saat didalam, mereka mengecek gaun pernikahan yang akan dipakai Anna, jas yang akan dipakai Jay, serta hal lainnya yang telah mereka pesan beberapa hari sebelumnya. Tanpa mereka sadari, sepasang mata menargetkan salah satu diantara keduanya. Pria itu menatap tajam, sebuah pistol telah disiapkan dengan baik, akan tetapi pria itu terhenti sejenak, ketika seseorang menepuk pundaknya. Karena tak punya pilihan, ia mengarahkan pistol tersebut pada sesosok yang mencoba mengganggunya.
"Ini aku. Apa kamu sudah lupa dengan wajahku?"
"Merlyn! Kenapa kamu disini? Bukankah kamu berada di Luar Negeri?"
"Aku telah kembali, Carlos. Dan aku tak sengaja melihatmu, jadi aku berhenti disini untuk menemuimu." Ucap Merlyn sambil tersenyum.
"Kenapa kamu kembali?"
"Aku punya urusan yang belum aku selesaikan." Senyuman merekah pada bibir Merlyn.
"Lalu, kenapa kau kemari? Kamu juga memegang pistol. Apa kamu ingin membunuh seseorang?" Tanya Merlyn.
"Siapa yang ingin kau lenyapkan?" Merlyn mengamati bagian dari Butik yang bisa ia lihat dari luar melalui kaca. Carlos menggenggam tangan Merlyn, membawanya pergi dari tempat tersebut.
"Aku akan memanggilkan Taxy untukmu."
"Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan Jonathan?" Terka Merlyn. Carlos menghela nafas.
"Aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengannya. Mungkin aku bisa membantumu." Ujar Merlyn.
"Dia bukan pria yang mudah ditangani." Ucap Carlos.
"Tenang saja, Carlos. Aku punya sesuatu untuk membuatnya tak bisa berkutik."
"Tunggu dan lihat saja!" Ujar Merlyn.
"Tetapi, kamu harus berjanji padaku, berhentilah melakukan hal kotor untuknya mulai sekarang."
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Carlos.
__ADS_1
"Carlos, mengingat kita sudah berteman lama. Anggap saja, aku membantumu karena itu. Mulai sekarang, biarkan Jonathan menjadi urusanku. Aku akan menjatuhkan Jonathan." Tegas Merlyn sambil mencengkeram tali tas miliknya.
"Dan... untuk orang yang mengawasimu, aku akan membereskannya untukmu." Ujar Merlyn sambil menyeringai. Carlos tak menyangka, Merlyn menyadari seseorang telah mengawasinya. Carlos tersenyum. Ia tak bisa menghentikan apa yang dilakukan Merlyn. Carlos berpikir, kehadiran Merlyn, mempermudah jalannya untuk membalaskan kematian adiknya.